Gendon di Cartenz Pyramid, Jayawijaya 1998/Foto: Dok. Pribadi
|
"Cartenz Pyramid, puncak tertinggi yang sempat saya daki masa itu," kata pria kelahiran 25 Mei 1962.
Kesibukan semacam itu, ditambah lagi dengan keterlibatannya dalam unit seni rupa UGM, ia seperti kehilangan waktu untuk menggeluti bidang lain yang menjadi minatnya, yakni olahraga udara.
Minat Gendon terhadap olahraga dirgantara mulai muncul sejak pertengahan tahun 1980-an. Itu setelah ia melihat rekan-rekannya asyik bergelut dengan gantole dan payung terjun. Gendon pun berangan-angan
menjadi salah satu di antara mereka. Sayang semua itu tak pernah terwujud karena kesibukan di Mapagama dan unit kesenian UGM.
Baru akhir tahun 1989 minat dirgantaranya tersalurkan. Ia mulai berkenalan dengan paralayang. Semua itu berawal dari payung pinjaman.
"Awal mulanya saya mendengar berita bahwa Lody Manoch, teman saya, baru saja membeli payung dari seorang Perancis. Tipenya Drakkar buatan Parachute de France. Saya pinjam payung itu,"
kata Gendon. Bermodal payung pinjaman Gendon berlatih terbang di kawasan pantai Parangtritis.
Belajar menerbangan payung paralayang ternyata bukan hal mudah. Bersama Dudy Arief Wahyudi (alm.) ia harus jatuh bangun, sambil berusaha menemukan metode terbang yang sebenarnya.
"Kami belajar berdasar buku manual payung. Itu pun rupanya sulit dilakukan karena buku itu tertulis dalam bahasa Perancis. Akhirnya kami hanya belajar lewat gambar ilustrasinya," kata Gendon.
Ubah image
Sejarah mencatat, Gendon dan Dudy menjadi sosok manusia Indonesia pertama menggeluti dan mempopulerkan paralayang di Indonesia. Sebagai pionir, Gendon merasa senang melihat
perkembangan paralayang Indonesia sekarang.
"Kini perkembangannya cukup menggembirakan, terutama pada masa-masa sebelum krisis ekonomi melanda," katanya. Ia sendiri membagi sejarah perkembangan paralayang dalam beberapa
periode. Periode pertama adalah kurun waktu 1990 hingga 1991 yang lebih merupakan masa kepeloporan. Ketika itu, menurut pengakuan Gendon, para pendahulu seperti ia dan dirinya belajar terbang secara
otodidak. Selain mereka berdua, muncul peminat baru seperti David A. Teak, Ferry Maskun, Dhaweris Tahir, Bismo Prakoso dan Wien Suharjo.
Periode berikutnya adalah antara tahun 1992 hingga 1994. Gendon melihat perkembangan paralayang sudah lebih baik. Sejumlah klub bermunculan. Sistem pendidikan sudah disusun sedemikian
rupa sehingga memudahkan peminat baru belajar terbang. Tidak lagi secara otodidak.
"Sistem pengajaran itu diambil berdasar pengalaman kami sebelumnya," kata Gendon. Pada periode ini, untuk pertama kalinya paralayang mengadakan eksibisi di Gunung Haruman, Garut. Dan
untuk pertama kalinya paralayang merengut nyawa penerbang. Tahun 1993, Dudy meninggal akibat kecelakaan paralayang di kawasan Parangtritis.
Pertumbuhan pesat terjadi antara tahun 1995-1997. "Banyak sekali peminat baru." Namun krisis ekonomi yang berlangsung mulai pertengahan tahun 1997, perlahan ikut mempengaruhi
perkembangan paralayang Indonesia. Masuk tahun 1998, paralayang bagai jalan di tempat. Ini terlihat dari banyaknya jumlah peralatan baru. Bila sebelum pertangahan 1997, peminat ramai-ramai beli payung dan peralatan
baru, selama tahun 1998 kondisi itu tidak terlihat. Baru akhir tahun 1999, paralayang mulai bersemi kembali. Terlebih pada saat-saat mendekati PON XV 2000 berlangsung di mana paralayang ikut dipertandingkan
di sana.
Kini setelah sepuluh tahun hadir di Indonesia, paralayang boleh dikata bisa disejajarkan dengan cabang olahraga udara lain yang hadir lebih dulu. Bahkan kalau mau jujur, paralayang berkembang
lebih baik dari yang lain. Komunitasnya sudah semakin jelas dan diakui.
Meski demikian, berbagai kendala masih saja menghadang. Sebagai orang yang bergelut langsung dengan paralayang, Gendon melihat ada tiga kendala utama, yakni alat, lokasi, dan minat. Kendala
alat mungkin akan terpecahkan sejalan dengan peningkatan perekonomian Indonesia. Selama ini semua perlengkapan paralayang harus didatangkan dari luar negeri. Ini yang membuat olahraga ini terlihat
mahal. Peningkatan perekonomian secara keseluruhan mungkin akan mengubah kesan itu. Kesan semacam sejauh ini masih melekat kuat di mata masyarakat awam.
"Image olahraga udara masih negatif," kata Gendon. Selain melihat bahwa olahraga ini mahal, masyarakat juga merasa bahwa olahraga udara itu membahayakan. Pandangan masyarakat itu yang
menurut Gendon perlu diluruskan. Publikasi dan kegiatan yang posistif. Itu yang harus dilakukan untuk mengubah pandangan negatif masyarakat.
Selama ini diakui, bahwa organisasi paralayang masih kurang mempublikasikan diri karena keterbatasan anggaran. "Bayangkan saja, untuk mengadakan lomba dananya masih diperoleh secara
saweran," kata Gendon, Ketua Bidang Paralayang PB FASI.
Jelas keterbatasan dana itu langsung berpengaruh pada pembinaan dan program pengembangan minat masyarakat. Sejauh ini Gendon menilai, minat dirgantara masyarakat Indonesia cukup tinggi.
Sayang minat itu pupus secara perlahan setelah memasuki tahap membeli peralatan.
"Kebanyakan mundur setelah melihat harga peralatan yang mahal," kata Gendon. Dari sejumlah masyarakat yang pernah belajar terbang, hanya 20 persen yang masih bertahan. Langkah yang
sebaiknya diambil guna mengantisipasinya adalah menjaring peminat sebanyak mungkin. Setelah itu akan berlaku hukum seleksi alam di mana hanya yang betul-betul serius yang akan bertahan.
Masih bisa menyempatkan berkempul dengan istri dan anak tercinta/Foto: Angkasa/D.N. Yusuf
|
Merintis bisnis
Sosok Gendon seperti telah melekat erat dengan dunia paralayang Indonesia. Ini mungkin karena Gendon yang memperkenalkan dan mempopulerkan paralayang di Indonesia itu masih aktif
hingga sekarang.
"Saya tidak tahu sampai kapan akan aktif di sini," kata ayah Nur Bening Langit. Semula Gendon sendiri tak pernah membayangkan bahwa dirinya akan terlibat sepenuhnya di salah satu cabang
olahraga udara itu. Selulus SMA ia malah berangan-angan menjadi arkeolog, karena menurutnya lewat arkeologi ia pun bisa bertualang
bak Indiana Jones.
Lingkungan membawanya ke bidang lain. Lulus dari UGM, ia malah menjadi staf produksi di majalah remaja,
Mode. Sementara waktu, Gendon bisa mengekspresikan jiwa seninya karena pekerjaannya
itu masih berkaitan dengan masalah seni.
Tidak demikian halnya dengan jiwa petualangannya. Dua tahun bekerja sebagai staf produksi di sana, jiwa petualang Gendon berontak. Ketika itu ia seperti tersadar bahwa dirinya tidak bisa kerja
di belakang meja. "Dua tahun di sana, saya mulai beralih ke redaksi di mana saya bisa menuliskan pengalaman dan reportase untuk rubrik petualangan," katanya.
Semasa menjadi wartawan, paralayang rupanya tidak ditinggalkan. Berbagai pengalamannya di paralayang ia tuangkan sebagai tulisan. Ini termasuk salah satu usahanya mempopulerkan cabang
olahraga yang digelutinya itu, sehingga tahun-tahun itu komunitas paralayang mulai didengar orang.
Pengabdian penuh di paralayang terjadi sejak tahun 1998 tak berapa lama setelah ia meninggalkan dunia jurnalistik.
"Tahun 1998 saya memutuskan untuk sepenuhnya hidup di paralayang," kata Gendon. Praktis sejak itu hanya paralayang yang ada di pikirannya. Masa-masa peralihan itu kadang terasa berat. "Saya
sadar risikonya. Memang berat. Tekad saya sudah bulat, saya harus bisa hidup dari situ." Tapi dukungan Susan yang dinikahi setahun sebelumnya membuatnya terus bersemangat.
"Susan itu murid pertama saya tahun 1993. Saat saya memutuskan untuk turun sepenuhnya di paralayang, ia sangat mendukung keputusan itu," ungkap Gendon yang kini menjadi orang yang dituakan
di paralayang.
Gendon sepertinya tak sembarang memilih jalan hidupnya. Keputusannya tahun 1998 itu diambil setelah ia tahu dan sadar bahwa ia bisa hidup di sana. Bisnis di paralayang sudah mulai ia rintis sejak
tahun 1995, sepulang dari Perancis. Sejak itu ia merintis bisnis kecil-kecilan, yakni menjadi agen Sup Air, pabrik perlengkapan paralayang Perancis. Upaya itu pun berlangsung terus walau sempat kembang kempis.
"Awalnya memang berat, tapi rezeki itu selalu ada," kata Gendon. "Kunci utama bisnis di sini," tambahnya, "adalah mengembangkan paralayang terlebih dahulu hingga terbentuk sebuah komunitas
yang baik. Baru kemudian dipikirkan cara lain agar paralayang tak hanya digandrungi penerbangnya saja, tetapi juga masyarakat awam. Paralayang harus bisa menjadi bagian dari gaya hidup. Kalau hanya
mikirin terbangnya saja, mungkin tidak akan maju. Kita harus bisa buat sesuatu yang tidak cuma bisa dinikamati para penerbang tapi juga orang awam lain.
Gendon sendiri melihat ada banyak peluang bisnis di paralayang, seperti di bidang pendidikan. Saat ini di Indonesia hanya ada sembilan intruktur paralayang. Sementara siswa yang ingin belajar
cukup banyak. Hal itu membuka peluang mengadakan pendidikan yang dikelola mereka atau mengadakan pendidikan untuk instruktur.
Tetapi untuk menjadi profesional, seseorang sebaiknya tidak hanya memikirkan keuntungan melainkan harus mempunyai idealisme, seperti ikut mengembangkan paralayang.
"Kalau sekadar memikirkan profit, mereka nggak akan bisa. Kita lebih banyak berjuang untuk mengeksiskan cabang olahraga ini dulu, baru bisa menata diri untuk berbisnis di sini," kata Gendon.
Hal semacam ini memaksa pebisnis harus pandai-pandai memutar idenya, dan tidak hanya memikirkan masalah pendidikan atau terbang tadi. Di Indonesia, paralayang bisa dikaitkan dengan pariwisata.
Berkaitan dengan pariwisata, paralayang sangat bisa dijual. Bila sukses banyak wisatawan bakal datang dan mencobanya.
Gendon menerapkan hal yang sama. Di sela-sela mengajar siswanya, ia sempat mentandemkan sejumlah wisatawan. "Lumayan, bila cuaca cukup baik, sehari bisa tiga kali," katanya. Dan hasil
yang diperolehnya sudah cukup untuk mengepulkan dapur selama sebulan. Belum lagi dari hasil yang ia petik sebagai supplier Sup Air dan jualan pernik-pernik berbau paralayang.
(ttg)