ANGKASA N0.12 SEPTEMBER 2000 TAHUN X  

Medan, Sarang Mustang Militaire Luchtvaart


  Laporan Utama
Airline
Cakrawala
Ekonomi
Fenomena
Hobi
Kolom
Kokpit
Kisah Nyata
Liputan Khusus
Lukisan Dirgantara
Lobi
Notam
Militer
Ordirga
Origami
Opini
Profil
Seabad Kedirgantaraan
Siapa-siapa
Wawancara

Rate our site
@ SearchIndonesia

 
SEABAD KEDIRGANTARAAN  

Medan, Sarang Mustang
Militaire Luchtvaart

Kota Medan di masa perjuangan pernah menjadi sarang pesawat pemburu P-51D Mustang Militaire Luchtvaart (Angkatan Udara) Hindia-Belanda. Yang menarik, selain pilotnya amat terbatas, garis demarkasi memotong pangkalan udara sehingga bila malam hari Mustang-nya ditarik ke dalam kota supaya aman dari gangguan kaum Republik.

Fairey Firefly Militaire Luchvaart sempat pula melibatkan sejumlah pesawat pemburu Fiarey Firefly menghadapi pesawat Jepang/Foto: 40 jaar luchtvaart in Indie

Tidak kalah menarik kisah lain berkisar Perang Dunia Kedua di bumi Indonesia, adalah yang dialami awak pesawat bomber Glenn Martin Militaire Luchtvaart (ML). Setelah melaksanakan tugas membom gerak maju serbuan pasukan Jepang ke pangkalan udara Kali Jati, mata mereka membelalak, terkejut, tidak percaya di tengah kancah perang yang tengah berkecamuk tidak jauh dari Bandung, menjumpai pesta dansa di Hotel Homann, Bandung.

Pesta malam hari yang tengah berlangsung tersebut, adalah kelanjutan dari resepsi pernikahan. Mereka datang untuk mencari kamar, tapi semua kamar sudah terisi. Satu-satunya kamar kosong adalah kamar pengantin yang pengantinnya tengah hanyut dalam pesta dansa. Mereka langsung mendobrak masuk, karena amat lelah, langsung menjatuhkan diri di atas ranjang pengantin, lengkap dengan pakaian terbangnya dan tertidur pulas! (Gerard Casius/Thijs Postma, 40 Jaar Luchtvaart in Indie).

Militaire Luchtvaart baru menjejakkan kakinya kembali ke Hindia-Belanda lima tahun setelah Belanda bertekuk lutut kepada Jepang ML 9 Maret 1947 menurut Gerard Casius dan Thijs Postma kembali lagi ke bekas jajahan Belanda yang ketika itu sudah menjadi Indonesia merdeka. Banyak kendala dan rintangan dihadapi ML dalam come back-nya, tidak saja oleh perlawanan gigih pejuang Indonesia, tapi juga intern karena amat kekurangan sumber daya manusia. Pesawat banyak tapi kekurangan pilot maupun teknisi.

Pangkalan Andir di Bandung misalnya, sebagai pusat perawatan dan pemelihara kekuatan Militaire Luchtvaart, tenaganya tinggal separuh dari jumlah tenaga sebelum Perang Dunia Kedua dengan jumlah pesawat yang sama, yakni lebih dari 100 unit.

Meski serba kekurangan, kesatuan-kesatuan baru dibentuk berturut-turut bulan Maret, April dan Mei 1946 untuk menampung kedatangan 40 pesawat P-51D Mustang pesanan Militaire Luchtvaart dari Amerika Serikat. Pesawat-pesawat ini menurut buku tersebut, pada leg terakhir diterbang-ferry-kan dari Australia. Sewaktu dibentuk di Batavia (Jakarta), Skadron 122 yang berbasis di Medan, diisi dengan 12 Mustang dibawah pimpinan komandan Letnan Guus Deibel. Skadron ini mulai menempati posnya pada 14 November.

Tidak ada keterangan kenapa jumlah Mustang Skadron 122 hanya sembilan pesawat saat tiba di Medan. Mungkin karena kekurangan penerbang, yang dikirim akhirnya sejumlah tersebut. Casius dan Postma hanya mencatat kesembilan Mustang diawaki pas-pasan oleh sembilan pilot. Seharusnya perbandingannya adalah 1:2, mungkin karena kekurangan penerbangan maupun teknisi, ML tidak punya pilihan lain selain menyertakan kesembilan pilot tersebut.

Salah satu contoh "efisiensi" menghadapi serba keterbatasan yang dikemukan tadi adalah, begitu Mustang tiba di Medan, dua P-51D langsung diperintahkan menyerang posisi Republik dengan gempuran roket.

Ditembak jatuh
Meski gencatan senjata sudah berlaku, tetap saja disana-sini terjadi insiden kontak senjata dengan pejuang Republik, dan sudah menjadi kejadian sehari-hari. Sering jasa Militaire Luchtvaart dikerahkan, diminta melakukan pemboman pada posisi RI oleh pesawat pembom B-25, juga dengan Piper Cub yang melempar granat tangan.

Sementara insiden menyangkut langsung dengan pesawat terbang yang dicatat oleh kedua pengarang, adalah pendaratan darurat 2 Juli 1946 sebuah B-25 di Pekanbaru. Awaknya ditawan oleh tentara Indonesia dan dibunuh. Sebuah B-25 lainnya pada 4 Agustus ditembak jatuh di Semarang, keenam awaknya tewas. Menurut pihak Belanda, bomber itu ditembak jatuh oleh penangkis udara Republik yang diawaki oleh serdadu Jepang. Sebuah insiden lain ialah ditembak jatuhnya pesawat Piper Cub dan Auster yang rontok di wilayah RI. "Kebetulan ada gencatan senjata, awaknya diperbolehkan pulang," tulis mereka.

Menghadapi situasi ini, Legercommandant (Panglima Angkatan Bersenjata Belanda), General Spoor memutuskan Agustus 1946 untuk terbang ke negeri Belanda membahas situasi militer yang dihadapi di Indonesia. Ia menggunakan pesawat B-25 bernomor hidung N5-158 dari Skadron 18, perjalanannya memakan waktu 1,5 hari suatu prestasi sebab pesawat militer Belanda di beberapa negara tidak diterima, antara lain oleh India yang telah mengakui Republik Indonesia. Sebagai perbandingan, General Spoor butuh tiga hari untuk kembali ke Batavia. Disebut sebagai prestasi, sebab itulah untuk pertama kali sebuah pesawat Militaire Luchtvaart terbang ke Belanda. Perjalanan serupa diulangi lagi oleh Spoor pada bulan Januari 1947.

Situasi makin memburuk, ditambah lagi dengan masalah intern ML yang harus menciutkan sebagian besar skadronnya akibat kelangkaan sumber daya manusianya. Sehingga ketika Aksi Polisi Pertama dilancarkan, SDM-nya tercatat tinggal separuh untuk mengawaki kekuatan udaranya. Aksi dilancarkan pagi hari 21 Juli 1947 tapi harus dihentikan 4 Agustus atas tekan-tekan politik luar negeri. Sejumlah instalasi strategis seperti kilang minyak Plaju Palembang berhasil direbut kembali oleh Belanda.

Sebelum aksi tersebut dilancarkan, Gerard Casius dan Thijs Postma mencatat kesatuan-kesatuan ML terdiri dari bomber B-25, yakni Skadron 16 di Palembang berkuatan delapan pesawat dengan enam awak; Skadron 18 berpangkalan di Tjililitan (Halim Perdanakusuma sekarang) berkuatan delapan pesawat dengan enam awak; lima B-25 PVA (Photo Vliegtuig Afdeling/Pesawat Pemotretan Udara) yang diawaki empat orang berpangkalan di Tjililitan; Skadron 14 di Tjililitan yang diawaki 10 orang.

Pemburu P-40 Skadron 120 berpangkalan di Semarang, berkuatan 19 pesawat diawaki oleh sembilan orang. Dua skadron P-51 Mustang masing-masing Skadron 121 di Andir dengan sembilan pesawat dan sembilan awak; Skadron 122 berpangkalan di Medan berkuatan sembilan Mustang, diawaki sembilan orang.

Kesatuan 17 VARWA dengan 10 pesawat Piper Cub dengan10 awak tersebar di Padang, Medan dan Palembang; Kesatuan 6 ARVA dengan 20 pesawat Auster, tapi hanya 14 unit yang siap terbang, diawaki 14 pilot tersebar di Semplak Bogor, Surabaya, Malang, Bali, Banyumas dan Semarang. Total ML saat itu kekuatan udaranya mencapai 102 pesawat dan 80 awak.

Dengan kekuatan tersebut, Belanda berhasil menghancurkan pesawat-pesawat AURI, sebagian besar peninggalan tentara Dai Nippon dan relatif angkatan udara Republik kala itu masih muda kurang pengalaman tempur. Meski demikian sejarah mencatat masih mampu mengunjukkan gigi dengan serangan udara fajar pesawat Cureng dan Guntei terhadap posisi Belanda di Salatiga dan Ambarawa.

Jadi menurut kedua pengarang buku, praktis kekuatan udara Belanda tidak pernah terlibat pertempuran udara dengan pesawat-pesawat AURI (karena sudah dihancurkan terlebih dahulu di darat). "Itu pun dari 53 pesawat yang disiapkan, hanya 39 yang siap tempur terdiri dari enam B-25 yakni masing-masing dari Skadron 16 dan 18, sembilan dan 10 Mustang masing-masing dari Skadron 121, 122 dan delapan P-40 dari Skadron 120," tulis mereka dalam buku.

Meski terbatas, dalam 14 hari Militaire Luchtvaart tercatat melaksanakan 2.700 sorti dengan jumlah 3.400 jam terbang dalam aksinya menghadapi kekuatan Republik yang masih muda tersebut.

Mengganti Curtiss P-40
Dalam bukunya, "The North American Mustang (1979)," Michael John Hardy menyebutkan Mustang yang berbasis di Medan beroperasi untuk menumpas pejuang RI di daerah ini. Jangkauan operasinya juga merambah sampai sekitar daerah Palembang, dimana terdapat pangkalan udara bomber B-25 Mitchell. Dia tidak merinci jumlah Mustang Skadron 122, hanya menyebutkan P-51D Mustang Militaire Luchtvaart memakai nomor lambung H-300-an.

Pabrik North American menyerahkan 40 pesawat pesanan Militaire Luchtvaart yang dibeli untuk mendukung Aksi Polisional Belanda yang dilancarkan (21 Juli hingga 4 Agustus 1947) dan 19 December1948 setelah perundingan Meja Bundar PBB gagal. Operasi (kedua) tersebut berlanjut hingga Oktober 1949.

Pesanan Militaire Luchtvaart ini dimaksudkan untuk mengganti peran Curtiss P-40 Kittyhawk yang sudah menua dari Skadron 120, 121 dan 122 secara sinambungan pada Mei dan November 1946. Pada tahun 1949 Skadron 121 dihapus dan pemburu Mustang dialihkan kepada Skadron 120 yang pesawat Kittyhawk-nya tetap dipertahankan.

Sekitar 30 P-51K-NT tambahan menurut catatan Hardy diserahkan lagi oleh pabrik kepada Militaire Luchtvaart (jadi total 70 unit diserahkan pabrik ­ Red). Karena kelangkaan pilot, seri "K" ini digunakan hanya untuk mengganti Mustang P-51D yang jatuh, rusak dalam misi atau mengalami kerusakan teknis dan tidak dapat diperbaiki lagi. Seri "K" tersebut adalah satu-satunya Mustang seri ini yang diekspor pabrik setelah Perang Dunia Kedua usai.

Yang menarik Hardy adalah Mustang yang diubah oleh Militaire Luchtvaart di Jawa menjadi pemburu two-seaters, mirip dengan TP-51D tapi uniknya, penumpang duduk didepan berhadapan dengan pilot yang duduk pada bagian belakang kokpit. Hanya dua pesawat diubah dengan two-seaters unik tersebut.

Setelah kedaulatan RI diakui Agustus 1950, Militaire Luchtvaart menyerahkan sebagian besar pesawat mereka kepada Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) yang dibentuk setahun sebelumnya. Mustang yang terkenal dengan Cocor Merah-nya karena bagian hidungnya dihiasi dengan kepala dan gigi hiu, kemudian menjadi tulang punggung kekuatan AURI, ditempatkan pada Skadron 3.

Meski pemburu jet MiG berdatangan kemudian dibentuk tiga skadron baru, Mustang Skadron 3 masih tetap dipertahankan. Kelangkaan suku cadang akibat embargo Uni Soviet setelah gerakan gagal G30S PKI, memaksa AURI untuk meng-grounded seluruh pesawat yang dipasok Uni Soviet dalam era Presiden Soekarno.

Pemburu Mustang yang kemudian berperan sebagai pembom-tempur dan COIN (Counter Insurgence), jumlahnya terus menurun hingga tersisa lima pesawat, namun pada tahun 1973 Angkatan Udara RI berhasil menambah lagi jumlahnya yang diperoleh dari berbagai sumber menjadi 14 unit. Pesawat-pesawat tersebut lalu mengambil bagian dalam misi-misi COIN bersama 16 pesawat Rockwell International OV-10F Bronco Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Udara, nama baru AURI.

Hardy juga mencatat bahwa pesawat Mustang tercatat paling lama beroperasi di Angkatan Udara Indonesia dalam masa operasi nonstop 28 tahun dibanding angkatan-angkatan udara negara lain.

Kentong tradisional
Casius dan Postma dalam bukunya menggambarkan, meski Belanda memiliki banyak pesawat tempur, bomber dan pesawat lainnya total 102 pesawat terdiri dari B-25, P-51D, P-40, Piper Cub dan Auster (jumlah ini belum termasuk Firefly dan Dakota) kekuatan udara itu kurang efektif penggunaannya jika tidak mau dikatakan gagal. "Meski sejumlah obyek strategis ekonomi seperti kilang minyak Plaju di Palembang berhasil direbut kembali oleh Belanda, kenyataannya Republik tidak bisa dikalahkan," tegas mereka menyinggung tentang kekuatan udara tersebut.

Lain lagi masalahnya dalam menghadapi serangan udara Jepang pada detik-detik Hindia-Belanda ditaklukkan balatentara Dai Nippon. Kala itu bukan kelangkaan awak dan teknisi, melainkan kekurangan peralatan pendukung diantaranya alat komunikasi sehingga tanda bahaya dibunyikan terlambat. Percaya atau tidak, yang digunakan adalah kentong tradisional yang ditalu secara berantai sampai terdengar di pangkalan!

Pada akhir Januari 1942 tentara Dai Nippon berhasil menaklukkan daerah-daerah di luar Pulau Jawa. Sisa-sisa kekuatan Militaire Luchtvaart bersamaan serangan Jepang untuk menguasai daerah tersebut, ditarik mundur ke Jawa. Gerakan penarikan mundur merupakan pula suatu masalah yang pelik dihadapi mengingat misalnya, Pulau Sumatra sebelum diduduki Jepang, kebanjiran tentara dan arus pengungsi warga Inggris, Australia dan Selandia Baru.

Saat itu selain pesawat Brewster 339 Buffalo yang disiagakan di Madiun, Andir dan Medan, ML masih memiliki sekitar 40 pembom Glenn Martin dari 100 unit pada awal perang. Sebagian besar pesawat-pesawat tersebut merupakan bomber tua WH-2, Glenn Martin yang dicadangkan. Seiring dengan perawatannya yang kurang, berdampak juga pada kesiapan pesawat cadangan yang minim pula serta otomatis jam terbangnya pun rendah. Jadi tidak heran bila hanya sekitar 40 unit yang siap menghadapi Jepang.

Harapan ML tertumpu pada pesawat-pesawat baru yang dipesan dari AS. Hindia-Belanda pesan ratusan pesawat dengan syarat "aneh" yang diajukan oleh AS yaitu, ML harus terlebih dahulu membangun sejumlah lapangan udara rahasia yang tidak diketahui oleh Jepang. Pembangunannya diserahkan kepada biro khusus yang dibentuk ML, ditugaskan untuk membangunan lebih dari 100 lapangan udara. Pembangunannya hanya memakan waktu beberapa minggu saja dan dari jumlah tersebut, hanya tersisa beberapa lapangan terbang yang belum selesai karena terlanjur terjadi invasi Jepang.

Dari 162 bomber B-25 yang dipesan tahun 1941, ML sempat menerima 60 pesawat pertama sebagai tindakan darurat menghadapi serbuan Jepang. Yang menarik dari pesanan tersebut bersama 36 pemburu Curtiss P-40 Kittyhawk adalah, sudah dibayar lunas dimuka!

Pembom B-25 sejak pertengahan Februari sudah tiba di India dan Australia. Sebuah tim dari perawatan Martin dan 18 awak bomber diterbangkan dengan pesawat Lodestar milik maskapai KNILM ke Bangalore dan Brisbane untuk menjemputnya. Tetapi keburu Pulau Jawa diduduki balatentara Dai Nippon sehingga ML harus menunggu 3,5 tahun (setelah Jepang ditaklukkan) untuk menjemput pesawat-pesawat tersebut

Pada bulan Januari 1942 tersebut, terjadi peningkatan aktivitas gerakan tarik mundur pesawat Glenn Martin sejumlah pesawat ditarik dari Samarinda II ke Andir, Bandung, dari Palembang ke Semplak, Glenn Martin Samarinda II ditarik ke Kalijati kemudian setelah di-refurbish di Madiun dipindahkan ke Malang dan Tasikmalaya. Pesawat yang berada di Singapura diterbangkan ke Tjililitan, sebagian ditempatkan di Cisaoek bersama sisa pesawat dari 2 VlG (Grup Terbang) III. Glenn Martin dari tiga VlG III 27 Januari yang mengalami kerusakan di Oelin kemudian di Andir diperbaiki, lalu ditempatkan di pangkalan udara Tjileungsir.

Pesawat tempur Buffalo yang tambun dan lamban juga ditarik, memperkuat pertahanan udara di Jawa. ML tercatat kehilangan sebuah pesawat dalam pertempuran di atas rel kereta api di Singora, Thailand selatan. Pesawat Buffalo lainnya, tercatat mengambil bagian dalam pertempuran udara di Singapura dan Borneo. "Dua Buffalo ditembak jatuh pada 13 Januari sehingga jumlah tersisa tinggal sekitar 36 Buffalo yang terbagi dalam tiga kesatuan," dicatat buku 40 Jaar Luchtvaart in Indie.

Serangan udara di Jawa
Setelah menguasai daerah luar Jawa, 3 Februari 1942 Jepang mulai melancarkan serangan besar dengan sasaran menghancurkan sisa-sisa kekuatan udara Hindia-Belanda. Operasi ini dijadwalkan sudah tuntas pada akhir bulan Februari.

Seratus pesawat tempur Zero dan bomber Betty dari Angkatan Laut mengawali serangan pertama Jepang di Oost-Java (Jawa Timur). Saat itu di Jatim terdapat 12 pesawat Interceptor dari Grup Terbang (VlG) IV, delapan Hawk dan empat P-40E dari 17th Pursuit Squadron Amerika Serikat. Dengan alat komunikasi primitif "jungle telegraph" berupa kentongan, tanda bahaya baru terdengar 20 menit kemudian oleh satuan-satuan tempur. Sehingga sudah amat terlambat pesawat-pesawat gabungan Hindia-Belanda dan AS untuk menghadapi serangan Zero dan Betty Angkatan Laut Dai Nippon.

Meski demikian masih terjadi pertempuran udara di atas Pulau Madura. Pertempuran berlangsung singkat kurang dari 30 menit dari 12 fighter ML, sembilan dirontokkan pesawat Zero. Sementara pemburu Hawk tidak bernasib lebih baik dari delapan yang berhasil scramble mengudara, dua pesawat langsung mendarat kembali karena gangguan mesin (atau mungkin karena takut ­ Red), sewaktu mendarat diberondong peluru Zero dan terbakar. Sisanya waktu "melarikan diri" ke arah Surabaya, tiga diantaranya berhasil dirontokkan oleh Jepang. Hanya tiga berhasil meloloskan diri dari kejaran Zero dan mendarat selamat tanpa kerusakan di Madiun. Angkatan Laut Jepang juga menderita kehilangan pesawatnya akibat kekurangan bahan bakar untuk mencapai pangkalannya.

Dua hari kemudian, 5 Februari, serangan udara berlangsung lagi. Kali ini hanya dua Hawk dan empat Interceptor dipersiapkan menghadang serangan Zero. Tapi hanya sebuah Hawk yang siap terbang, yakni pemburu terakhir Militaire Luchtvaart sehingga hari itu merupakan hari terakhir kekuatan pesawat tempur Hindia-Belanda. Tinggal pesawat P-40 milik US Army Air Force yang masih mampu memberi perlawanan. Sebelum menghadapi Zero, para penerbang sudah menyadari akan sia-sia menghadapi pesawat tempur Dai Nippon tersebut.

Meski menyadari hal tersebut, penerbang P-40 mengandalkan kelebihan pesawatnya, yakni kecepatan tinggi menukik P-40 untuk lolos dari kejaran Zero. Ada yang masih sempat memuntahkan peluru senapan mesin terhadap bomber Betty.

Serangan besar-besaran kemudian dilancarkan Jepang 9 Februari terhadap kota Batavia. Pilot muda kurang pengalaman pesawat Buffalo Militaire Luchtvaart, bukan tandingan bagi penerbang Jepang. Ditambah lagi tidak ada cukup alat untuk memperingati datangnya serangan Jepang sehingga hanya empat Buffalo berhasil mengudara tapi tiga diantaranya sewaktu lepas landas, berhasil ditembak jatuh.

Lima Buffalo di darat menjadi sasaran empuk Zero, berhasil dihancurkan dalam serangan kilat pemburu Jepang. Kelima Buffalo adalah sisa-sisa pesawat yang digabung dalam VlG II di Tjisaoek, lapangan udara rahasia yang dibangun ML tidak jauh dari Andir.

Pesawat Jepang berhasil pula menghancurkan tiga Glenn Martin, dua FK-51 dan sejumlah pesawat tempur RAF (Angkatan Udara Kerajaan Inggris) dalam serangan 12 Februari terhadap kota Batavia.

Jatuhnya Palembang
Jepang menggunakan taktik lain untuk menguasai kota Palembang. Serangan dibuka dengan serangan dadakan penerjunan pasukan payung pada 15 Februari di atas kota Palembang. Begitu cepat berlangsung sehingga Belanda yang semula merencanakan membumihanguskan instalasi minyak Plaju, tidak sempat melakukan. Secara kilat pasukan payung Jepang berhasil menguasai kota.

Pesawat AU Kerajaan Inggris yang ditempatkan di Palembang mencoba memberi perlawanan dengan mencoba menyerang armada laut Jepang. Tapi sia-sia saja. Belanda dan pihak Sekutu memang tidak menduga serangan terhadap kota Palembang dilaksanakan oleh pasukan payung. Sebelum serangan dilancarkan Jepang, Militaire Luchtvaart menugaskan pagi hari pesawat Glenn Martin patroli udara terkadang tiga, dua atau sebuah pesawat ditugaskan. Waktu yang dipilih itu adalah untuk menghindari berhadapan dengan pesawat tempur Dai Nippon.

Serentak dengan serangan ke Sumatra Selatan ini, Jepang melancarkan serangan udara besar-besaran terhadap Pulau Jawa dimana sebagian besar kekuatan udaranya dikerahkan. Kota Batavia dan Buitenzorg (Bogor) 19 Februari 1942 digempur habis-habisan. Hanya delapan Brewster Buffalo yang berpangkalan di Semplak, Bogor memberi perlawanan yang tak sebanding. Pada siang harinya Andir mendapat giliran diserang. ML masih mampu memberi perlawasan dengan 12 Buffalo.

Penduduk Batavia (Jakarta) sempat menyaksikan pertempuran udara sengit dimana lima Buffalo dirontokkan oleh pemburu Jepang. Dalam pertempuran ini tercatat dua pilot ML gugur. Sedang di atas Andir, tiga Brewster Buffalo ditembak jatuh, sebuah rusak berat dan seorang pilot gugur. Hari itu total ML kehilangan sembilan Buffalo. Dua hari kemudian gelombang serangan Jepang datang lagi. Kali ini ML kehilangan dua Buffalo, satu ditembak jatuh dan Buffalo lainnya karena bertabrakan dengan pesawat penyerang Jepang.

Di tengah kemelut perang tersebut, Militaire Luchtvaart masih sempat menerima bantuan pesawat tempur Hurricane dari RAF. Semula direncanakan 12 unit tapi kenyataannya 39 pesawat diterima yang seluruhnya dirakit kembali di Batavia oleh tenaga ML dan KNILM. Penerbangnya direkrut dari VlG V yang ditarik dari Jawa Timur kemudian disiapkan di pangkalan udara Tjililitan.

Satuan Hurricane sejak 16 Februari mulai beroperasi di Kalijati. Dalam latihan pertempuran udara, dua pesawat jatuh. Delapan Hurricane yang diparkir, 21 Februari berhasil dihancurkan oleh serangan udara mendadak Jepang. Buru-buru 26 Februari sisa tujuh Hurricane diterbangkan ke lapangan udara rahasia Ngoro di Jombang, Jawa Timur. Ketujuh Hurricane selama tiga minggu turut memperkuat satuan tempur AS bersama sisa enam Buffalo dari VlG V di Ngoro.

Sementara satuan Brewster Buffalo di Jawa Barat diperkuat dengan sisa-sisa pesawat Interceptor yang berhasil diperbaiki. Pesawat Interceptor beroperasi dari Buah Batu, Bandung selatan yang diubah menjadi landasan pacu. Namun seperti yang terjadi di Jawa Timur, tanda bahaya kentongan yang dibunyikan, selalu terlambat terdengar sehingga Buffalo maupun Interceptor menjadi sasaran empuk pesawat Jepang.

Operasi di Jawa
Pesawat amphibi pengintai ML pada 26 Februari berhasil mendeteksi armada pendaratan pasukan Jepang ke Jawa. Operasi pendaratan pasukan dilaksanakan Jepang setelah berhasil melumpuhkan kekuatan udara Belanda/Sekutu. Pendaratan dilakukan di Barat laut Jawa (Banten) dan sebelah Tenggara laut Jawa (Gresik). Gerakan pasukan pendarat Dai Nippon tidak terbendungi lagi oleh kekuatan Sekutu.

Apalagi keesokan harinya, 27 Februari armada Sekutu berhasil dihancurkan. Meski demikian Sekutu berhasil menunda satu hari pendaratan Jepang di Pulau Jawa. Dalam kaitan ini armada kapal di bawah laksamana Belanda Karel Doorman terpaksa bertahan tanpa payung udara sementara Jepang sudah merebut keunggulan udara dan dengan leluasa mengamati gerakan armada Sekutu.

Militaire Luchtvaart hanya sekali berhasil memberi payung udara beberapa Buffalo asal Ngoro, ikut bersama pebom tukik AS Douglas A-24 mengawal armada Sekutu dalam upaya menghadang kapal pendarat pasukan Jepang. Sehari setelah kekalahan tanggal 28 Februari itu, beberapa Glenn Martin dan pembom Inggris masih mencoba menyerang kapal-kapal Jepang yang sedang melakukan pendaratan di Jawa Barat.

Pada pergantian hari dari 28 Februari ke 1 Maret 1942, tentara Dai Nippon berhasil mendarat di pantai utara Pulau Jawa, yaitu sebelah timur dan sebelah barat kota Jakarta yakni di Merak, Teluk Banten. Pendaratan kedua di pantai Eretan Wetan daerah Indramayu dan tempat pendaratan ketiga di Kragan sebelah barat kota Surabaya, Jawa Timur.

Pada operasi pendaratan tersebut di Jawa Barat, semua pesawat Glenn Martin yang ada, Blenheim Inggris dan pembom Hudson dikerahkan melakukan pemboman di atas tentara Jepang yang sedang mendarat. Dalam serangan 1 Maret diperkirakan ML mengerahkan 16 Glenn Martin. Sedang Inggris melakukan 26 sorti.

Koordinasi operasi sangat buruk kalau tidak mau disebut tidak ada sama sekali. Sebagian pesawat lepas landas dari Kalijati sekitar pukul 19.00 malam, kebanyakan atas inisiatif sendiri. Ini pula yang menyumbang kekalahan Sekutu. Glenn Martin mendarat di Andir karena di Kalijati tidak ada lampu penerangan landasan. Awaknya yang sudah amat letih mencari kamar di hotel untuk istirahat, sebaliknya mendapatkan suatu pesta dansa di Hotel Hofmann seperti yang telah dikisahkan pada awal kisah nyata ini.

Sementara penerbang Inggris mendarat di Kalijati, dimana keesokan harinya mereka harus membayar mahal diserang Jepang kemudian berhasil menguasai pangkalan Kalijati pukul 10.00 pagi. Sebelum direbut Jepang, lima Hudson berhasil lepas landas tapi tak kurang dari 21 pembom lainnya berhasil direbut. Sehingga pada 1 Maret pagi, Glenn Martin, enam Buffalo dan tujuh Curtiss Interceptor lepas landas dari Andir melakukan serangan untuk menghambat gerak maju pasukan Jepang menuju Bandung.

Ngoro
Sedang di Jawa Timur tidak ada pesawat bomber yang ditempatkan disini. Pembom berat US Army Air Force sudah ditarik ke Australia sebelum Jepang melancarkan serangan. Satu-satunya pertahanan daerah ini dibebankan kepada pesawat pemburu Hindia-Belanda dan AS yang disembunyikan di lapangan udara rahasia Ngoro.

Tercatat 1 Maret pesawat kedua angkatan dikerahkan untuk menyerang gerak maju pasukan pendarat Jepang di Kragan pesawat yang terlibat dalam serangan ini terdiri dari enam Hawker Hurricane, lima Buffalo dan sembilan P-40. Dalam serangan ini Jepang menderita kerugian besar. Salah satu Hurricane terbang begitu rendahnya, sehingga baling-balingnya menyentuh kapal pendarat Jepang.

Dalam serangan ini pihak AS kehilangan tiga P-40 dengan dua pilot gugur. Militaire Luchtvaart kehilangan tiga Hurricane dan sebuah Buffalo. Sisa pesawat penyerang ini tak lama kemudian mendarat kembali di Ngoro. Tak lama menyusul mendarat Lockheed 12 Militaire Luchtvaart yang membawa masker pesawat Hurricane. Selama itu, pilot-pilot ML menerbangkan Hurricane tanpa radio dan tanpa masker oksigen karena milik ML tidak cocok untuk pesawat Hurricane.

Lockheed tersebut tidak mengetahui bahwa selama penerbangannya dikuntit oleh sebuah pesawat musuh sehingga akhirnya Jepang mengetahui lokasi lapangan udara rahasia Ngoro. Beberapa jam kemudian, tanpa ampun Jepang mengerahkan Zero dan Betty untuk melumpuhkan Ngoro. Dalam serangan ini, tidak satu pun pesawat disisakan oleh Jepang.

Namun demikian awak AS masih bisa lolos, dievakuasi melalui pangkalan udara Malang dengan penerbangan terakhir pembom B-17 Flying Fortress ke Australia. Sisa pesawat P-40 diserahkan kepada Militaire Luchtvaart, namun tidak ada gunanya diperbaiki dari kerusakan yang diakibatkan serangan pesawat Jepang.

Kejayaan Militaire Luchtvaart di Hindia-Belanda berakhir ketika Panglima Perang General Ter Poorten menandatangani naskah penyerahan kekuasaan Hindia-Belanda tanpa syarat kepada pihak Jepang di Pangkalan Udara Kalijati, Subang, Jawa Barat 8 Maret 1942.(ds)


Laporan Utama | Airline | Cakrawala | Ekonomi | Fenomena | Hobi | Kolom | Kokpit | Kisah Nyata | Liputan Khusus | Lukisan Dirgantara | Lobi | Notam | Militer | Ordirga | Origami | Opini | Profil | Seabad Kedirgantaraan | Siapa-siapa | Wawancara |

Copyright © 1998 Majalah Angkasa. All rights reserved
Designed by
Kompas Cyber Media