B-747 Freighter Singapore Airlines/Foto: Singapore Airlines
|
Pertanyaan-pertanyaan ini sekarang sangat menggelitik. Sebab arus lalu lintas penumpang udara saja masih jauh dari pulih, sekitar 15 juta orang sebelum krisis.Tahun ini diperkirakan cuma 6,15
juta penumpang. Jumlah pra-krisis itu pun masih jauh dari bandara-bandara utama di sekitar kawasan sini. Soekarno-Hatta masih ketinggalan. Pernah disinggahi 30 maskapai asing, sekarang merosot
22 perusahaan. Sementara Changi disinggahi lebih dari 60 airlines tiap hari.
Jangankan penumpang, arus inbound
dan outbound kargo pun masih belum memberi rangsangan motivasi memutar dinamis roda bisnis kargo udara lewat pintu gerbang udara utama Indonesia itu.
"Terlalu banyak red tapes," ujar seorang
freight forwarder, "Juga terlalu banyak calo bergentayanan." Jadi, bagaimana mau bersaing dengan Changi Singapura yang bersih dan bebas dari segi kecil itu saja. Belum
lagi dari infrastruktur. Pergudangan Cengkareng misalnya, tidak efisien ditimpali lagi dengan biaya lebih tinggi, lalu regulasinya yang
ketinggalan zaman, kiranya daya saing Soekarno-Hatta tidak mampu
bersaing dengan bandara negara-negara tetangga.
Tidak perlu dibandingkan dengan layanan Changi, dengan Kuala Lumpur International Airport (KLIA) di Sepang sudah cukup sulit bersaing. MASkargo milik
flag carrier Malaysia Airlines menanam
modal berupa Advance Cargo Centre (ACC) dalam upaya menjadikan dirinya sebagai salah satu
top operator kargo dunia dan pintu gerbang udara Malaysia tersebut, sekaligus menjadi hub utama di kawasan
sini. Sarananya termasuk sembilan kandang kuda, ruang untuk binatang peliharaan, sampai ke kamar mandi untuk sang binatang. Gudangnya beroperasi 24 jam.
Kiranya hanya bandara Schiphol Amsterdam, Belanda dan Frankfurt, Jerman yang bisa menyaingi KLIA dari segi sarana melayani
live cargo. Kedua bandara Eropa tersebut juga dilengkapi dengan
"hotel transit" bagi binatang. Inilah rupanya salah satu unggulan atau layanan plus yang diberikan KLIA sebagai daya pemikat, merangkap untuk menggenjot volume kargo udara lewat hub Kuala Lumpur yang
letaknya berdekatan dengan Changi.
Bila ditarik lebih jauh lagi, apakah letak Soekarno-Hatta bisa bersaing dengan gerbang udara Sri Lanka, Colombo Airport? Kiranya itu pun menjadi pertanyaan. Colombo juga mengklaim memiliki letak
geografis yang strategis seperti Jakarta dan menjadi nilai tambahnya. Dengan pesawat jet mutakhir, letaknya di pertengahan jalan 10 jam
nonstop dari Sydney, Australia ke hampir seluruh tujuan Eropa
(Payload Asia 5/2000).
Nilai lebih inilah yang dijadikan kekuatan Bandaranaike International Airport dalam menawarkan jasa angkutan kargo udara one-stop antara Eropa dan Australia, selain jadi hub ke
Kepulauan Maldives dan India bagian selatan: Madras, Trivandrum, Bangalore dan Hyderabad. Gudang barunya sudah menangani 100.000 ton pertama tahun lalu, dan sekarang dirasa perlu menambah
cargo space, dampak dari volume inbound dan outbound kargo yang membengkak. Seiring dengan ini, flag carrier Srilankan menambah armadanya dan memesan empat Airbus A340.
Di lain sisi, dua titik geografis dinilai potensial bagi hub kargo udara Indonesia adalah Ngurah Rai Bali dan Sam Ratulangi Manado baik bagi jalur Australia-Eropa dan Amerika maupun
Australia-Jepang. Baru swasta Taiwan, EVA Air yang menggarap pasar kargo Denpasar dalam layanan rute Taipei-Denpasar-Surabaya-Taipei-nya. Menggunakan pesawat kombi MD-11, EVA menjemput kargo di Ngurah
Rai dan Surabaya, kemudian setelah transit di Taipei disebar ke tujuan AS serta tujuan lainnya.
"Saya akan meniru EVA Air. Mereka menjadikan angkutan penumpang sebagai bonus pendapatan, bukan sebaliknya seperti umumnya airline di sini," ungkap President Direktur AWAir,
Rachmat Soebakir. Dari resep swasta Taiwan itu, maskapai baru Indonesia berusia kurang dari empat bulan tersebut melihat pasar kargo udara Indonesia potensial digarap lebih intensif. "Ada pasarnya dan
baik," tambahnya. Itu sebabnya maskapai ini memilih Airbus A310 yang memiliki daya angkut 38 ton, pesawat yang sama dengan milik Singapore Airlines yang pernah melayani jalur Jakarta.
Potensi itu sekilas tergambar dalam enam bulan pertama tahun 2000 di Soekarno-Hatta melayani 138.918 ton kargo 94.093 ton di antaranya merupakan kargo internasional. Garuda Indonesia
tahun 1996 pernah mengangkut 201.500 ton kargo senilai 279 juta dollar AS. Akibat dampak krisis, tahun 1999 tonase itu anjlok tinggal 136.800 ton senilai 158 juta dollar.
Sementara sejumlah maskapai asing, KLM, Korean Air, Lufthansa dalam layanannya ke Jakarta menggunakan pesawat kombi dan
freighter mengantar dan menjemput kargo. Rata-rata lebih dari
20 ton dijemput berupa kargo pakaian jadi, elektornik, sepatu dan kerajinan tangan. Mereka mengalokasi cargo space antara 20-30 ton dari Jakarta.
Selain Cengkareng, pemerintah RI pernah berambisi untuk menjadikan Hang Nadim Batam yang dikembangkan sejak tahun 1994 sebagai hub kargo udara Indonesia. Sayangnya bandara di Pulau Batam
ini lebih diarahkan untuk menyaingi Changi yang sudah mapan, bukan sebagai bandara
complimentary menampung kelebihan kapasitas (bila ada) selain memang infrastruktur sangat minim
bagi pelayanan kargo udara.
Seberapa besar pertumbuhan kargo Indonesia pulih, sayangnya tidak disebut oleh Airport Council International. Secara global ACI menyebutkan pertumbuhan sehat yang terjadi didasarkan
oleh pulihnya kawasan Asia-Pasifik. Dan pasar kargo memegang peran penting bagi pemulihan (dari krisis) Asia. Tahun 1999 lembaga tersebut mencatat pertumbuhan tonase kargo sampai 13 persen.
Hong Kong disebut sebagai yang paling menonjol dari pintu-pintu gerbang Asia dalam fase pemulihan dengan peningkatkan 20 persen . Dengan volume kargo itu, menjadikan Chep Lak Kok bandara kargo
kedua terbesar dunia, setelah hub Memphis (AS) perusahaan FedEx
(Flight International 9-15/5).
Menyusul kemudian bandara Narita dan Haneda Jepang, Seoul, Taipei, Osaka serta Bangkok yang mencatat pertumbuhan
double digit. Efek domino keluar dari krisis tercermin dari berlombanya
proyek-proyek bandara baru bermunculan atau yang sudah ada diperluas. Ibukota Korsel, Seoul, bakal memiliki bandara modern senilai 6 milyar dollar AS pada April 2001, menggantikan peran Kimpo
yang sudah tidak memadai lagi. (AWST 3/7/2000).
Diproyeksikan pada tahun pertama beroperasi, Inchon Airport yang dijuluki "The Winged City/Kota Bersayap" akan menangani 170.000 gerakan pesawat, 27 juta penumpang dan 1,7 juta ton kargo.
Pada tahun 2020, bandara Seoul baru tersebut, bakal menangani 100 juta penumpang.
Saat ini Kimpo dengan 33,37 juta penumpang tercatat sebagai bandara tersibuk ke-18 dan ketujuh tersibuk untuk penanganan kargo dunia dengan 1,65 juta metrik ton yang ditangani tahun 1999. Menurut
ACI, setelah Inchon beroperasi, Kimpo akan tetap dipakai untuk menampung arus penerbangan domestik.
Ambisi serupa juga dihinggapi Chiang Kai-Shek (CKS) Airport, Taiwan, untuk menjadi hub Asia dengan dibangunnya Terminal 2 yang baru dengan biaya 580 juta dollar AS. Dengan bangunan
barunya ini, CKS mampu menampung 17 juta penumpang per tahun. Terminal lama yang dibangun 21 tahun silam hanya sanggup menampung 8 juta penumpang yang dicapainya pada tahun 1990.
Kandang EVA Air dan flag carrier China Airlines ini memang masih harus berjuang keras untuk mewujudkan cita-citanya. Tokyo, misalnya, sudah menjadi hub trans-Pasifik dan memiliki
penerbangan langsung ke sejumlah kota di daratan Cina. Sementara Hong Kong yang juga hub trans-Pasifik, melayani 18 kota di Cina.
Mungkin yang paling menonjol saat ini adalah Hong Kong International Airport (Chep Lap Kok), yang tidak disangkal lagi merupakan salah satu bandara tersibuk dunia. Saat ini menurut
Airport Authority Hong Kong, pengelolanya, 2,1 juta ton kargo ditangani Chek Lap Kok.
Bagaimana menggambarkan jumlah tonase besar itu? Berapa banyak pesawat yang dibutuhkan untuk mengangkutnya? Hong Kong International Airport (HKIA) menggambarkan bahwa bila satu
freighter 747 mengangkut rata-rata 140 ton
round journey, itu berarti diperlukan 15.000 jumbo 747 untuk mengangkut 2,1 juta ton kargo sekali angkut! Angka 2,1 juta ton tersebut baru merupakan dua
pertiga dari kapasitas HKIA yang dirancang mampu menangani 9 juta ton, yakni kombinasi volume lima bandara kargo tersibuk dunia.
Ini juga berarti jika 15.000 jumbo dijejerkan berurutan, ibarat antri mau lepas landas, antriannya akan memanjang hampir 1.000 kilometer hampir sama dengan jarak Hong Kong-Manila. Luar
biasa! Tapi ingat, populasi 747 di dunia hanya sekitar 1.250 pesawat sejak Boeing menggelindingkan keluar dari pabriknya tahun 1970.
Tidak saja bandara yang menggeliat menyambut pemulihan dari krisis. Juga para operator mengimbangi dengan berbagai manuver melihat peluang-peluang baru. Salah satu di antaranya adalah aliansi
usaha kargo yang ditempuh Singapore Airlines-LufthansaScandinavian Airlines System (SAS). Mereka membentuk
global cargo alliance pertama dunia yang diberi nama New Global Cargo
(Payload Asia 6/2000)
Aliansi baru ini memilih Frankfurt sebagai markasnya bagi program integrasi dan manajemen yang kemudian bakal disusul dengan
business integration. Produk aliansi baru ini akan diperkenalkan
bulan Mei 2002
Sementara itu, Dragonair dari Hong Kong memperkenalkan layanan penerbangan
full freighter barunya ke Eropa ke Manchester, Inggris dan Amsterdam, Belanda via Dubai dengan
penerbangan balik via Dubai lagi dengan penerbangan lanjutan dari Hong Kong ke Shanghai, RRC, Agustus lalu. Selain ke kedua kota itu, Dragonair yang kini langsung berhadapan dengan Cathay Pacific
Airways, juga bakal melayani Brussels, Frankfurt, Paris, Luxembourg, dan London. Total dengan sejumlah kota tujuan Asia, pesawat kargonya mengajukan permohon untuk menyinggahi 23 tujuan dunia dari
badan terkait Hong Kong.
Northwest dari America Serikat yang mendulang 70 persen pendapatan kargonya diperoleh dari kawasan Asia Pasifik, yakni kedua setelah FedEx, kini lebih meningkatkan operasinya di Asia.
Usaha lain yang ditempuhnya, kerja sama dengan flag carrier Jepang, Japan Air Lines (JAL) dan tengah menjajagi dengan China Airlines sebagai kemungkinan memperoleh pijakan lebih solid di Asia.
Singapore Airlines dan Changi Airport sebenarnya juga dalam incarannya. "Pilihan yang terbaik. Tapi dengan mereka sudah bergabung dalam aliansi New Global Cargo, kecil kemungkinan kami
bisa link-up," jelas Jim Friedel, Northwest vice president for cargo menyesali. Tahun lalu pendapatan kargonya mencapai 725 juta dollar AS 70 persen di antaranya diperoleh dari angkutan kargo udara
Asia-Pasifik.
Dari gambaran di atas, jelas Jakarta yang pernah didengungkan letaknya sangat strategis, belum diperhitungkan dalam peta jaringan global angkutan kargo udara. Meski bandara Soekarno-Hatta
sudah dijamah oleh pesawat FedEx, freighter Korean Air maupun pesawat kombi KLM dan Lufthansa serta EVA Air.