Ir Mahdi Kartasasmita, MSc, PhD/Foto: Angkasa/D.N. Yusuf
|
Kabar pemangkasan anggaran Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) hingga 60 persen tahun ini, sekali lagi telah membuat miris dunia sains di dalam negeri. Ketika segala daya difokuskan pada upaya pemulihan ekonomi nasional,
kenyataan tersebut bagaimana pun telah meluluhkan semangat ratusan pakar kedirgantaraan yang telah berjuang puluhan tahun menggali potensi nasional agar negara ini (minimal) mampu mengikuti perkembangan dunia. Bidang keantariksaan nampaknya memang masih perlu
terus-menerus dimasyarakatkan agar perhatian dan dukungan terhadapnya meningkat.
November mendatang Lapan akan genap berusia 37 tahun. Di tengah segala keterbatasannya, lembaga penelitian ini diam-diam ternyata telah memancarkan potensi yang mengagumkan. Bidang penginderaan jauh, misalnya, kini telah sampai pada
tahap pemanfaatan informasi yang bisa mendatangkan uang. Sebuah titik-terang di tengah kian redupnya anggaran yang kian seret. Demikian pula lewat penelitian iklimnya. Dan, kebanggaan itu pun akan semakin lengkap manakala institusi ini bisa 'membisniskan'
satelit buatannya sendiri. Mudah-mudahan tak akan lama lagi.
Dalam upaya memasyarakatkan dunia sains keantariksaan yang belum juga populer ini, awal Agustus lalu
Donna Ch. Asri, Roni Sontani, dan A.
Darmawan mewawancarai Ketua Lapan yang baru,
Mahdi Kartasasmita, yang untuk sementara
masih merangkap Deputi Bidang Penginderaan Jauh. Dalam memberikan penjelasannya, pakar remote-sensing ini didampingi Deputi Bidang Pengembangan Teknologi Dirgantara Dr Adi Sadewo Salatun, Deputi Bidang Administrasi Ir Wisnu P. Marsis, MEng, Kepala
Pusat Analisis Perkembangan Kedirgantaraan Drs Alfred Sitinjak, MSc, dan Kahumas Drs Cuk Hoedojo.
Wawancara mengalir di seputar rencana strategis Lapan dalam masa sulit ini, sumbangsihnya pada kesejahteraan bangsa, penelitian ilmiahnya, dan kemitraannya dengan pihak luar. Berikut petikannya:
* : Bagaimana langkah strategis Lapan lima tahun ke depan dalam keadaan ekonomi yang belum membaik seperti ini?
# : Langkah atau rencana strategis untuk lima tahun ke depan ini, secara formal, sebenarnya telah kami susun dalam bentuk Renstra 2001-2005. Merujuk GBHN, pengaruh globalisasi, Kebijakan Strategis Nasional, dan kepentingan rakyat banyak; isinya antara
lain berupa reorientasi Lapan dengan penekanan pada aspek pemanfaatan teknologi dirgantara untuk kesejahteraan bangsa. Penekanannya akan didukung penelitian demi menjamin kualitas pemanfaatan teknologi dirgantara dan pengembangan teknologi dirgantara yang
akan menjamin kontinuitas pemanfaatannya.
* : Reorientasi, maksudnya?
# : Ya, jadi menyikapi perkembangan dan situasi yang ada, Lapan selanjutnya tak lagi hanya sekadar melakukan penelitian, melainkan merubah
scope misi dan visinya ke arah pemanfaatan teknologi dirgantara untuk kesejahteraan bangsa. Hal ini akan kami galang
lewat bidang penginderaan jauh yang telah kami kuasai, juga dari bidang pengembangan iklim, dan teknologi dirgantara. Itu sebabnya langkah Lapan mendatang akan mengarah ke 'ruas darat' atau ruas pengguna.
Bahwa nantinya kami akan merengkuh pula ruas antariksa, itu sudah pasti. Hanya memang tidak dalam waktu dekat mengingat dana yang ada begitu terbatas. Hal ini sebenarnya bisa diatasi dengan menjalin kerjasama luar negeri, namun semua itu
tetap memerlukan waktu karena memang perlu penjajakan. Dalam upaya menguasai teknologi satelit mikro, misalnya, Lapan kini tengah melakukan penjajakan dengan DLR di Jerman dan Universitas Stallen Bosch di Afrika Selatan.
Masih dalam nuansa reorientasi, kami juga tengah berupaya untuk segera meratifikasi Space Treaty 1967 induk dari empat perjanjian internasional (Liability Convention-1972, Registration Convention-1975, Rescue Agreement-1968, dan Moon
Agreement-1979) yang mengatur segala hal yang berkaitan dengan keantariksaan. Indonesia pernah ingin mencoba meratifikasinya pada 1977, namun terhenti karena tidak sepakat dengan azas yang tercantum dalam Moon Agreement-1979 dan sebuah pasal dalam Space Treaty
1967 yang mengatur tentang GSO (Geo-Stationary
Orbit).
Namun belakangan, karena adanya desakan Pemerintah dan luar negeri, dan
toh Indonesia telah memiliki undang-undang khusus untuk melindungi kepentingannya pada GSO, upaya untuk meratifikasinya telah kami mulai kembali sejak 1998.
# : Lalu bagaimana halnya dengan Moon Agreement-1979?
* : Tak masalah. Proses ratifikasi Space Treaty 1967 akan jalan terus walau Indonesia sama sekali tak ingin meratifikasi perjanjian internasional yang satu ini. Letak keberatannya karena didalamnya ada beberapa pasal yang bisa merugikan negara berkembang.
Persisnya menyangkut perihal eksplorasi Bulan.
# : Berkenaan dengan kesejahteraan bangsa sendiri, upaya konkret apa yang telah dilakukan Lapan?
* : Secara umum, semua yang kami lakukan sebenarnya sudah berkaitan dengan kesejahteraan bangsa. Semasa di Kedeputian Penginderaan Jauh, misalnya, yang saya tahu,
remote sensing telah dimanfaatkan untuk pemantauan kebakaran hutan, pengembangan
pertanian, pemantauan trumbu karang, dan masih banyak lagi lainnya. Kami juga ikut memberi gambaran tentang turunnya air Danau Toba. Kesannya memang seperti diawang-awang, tapi manfaatnya sudah sampai ke 'darat'. Atau dengan kata lain, sudah berkaitan
dengan kesejahteraan bangsa.
Penelitian kami atas pola iklim juga telah menampakan hasil-hasil kongkret. Bidang yang ditangani Kedeputian Bidang Penelitian Media Dirgantara ini, sebentar lagi juga akan mengumumkan hasil kerjasamanya dengan kelompok peneliti asing perihal El
Nino, fenomena alam yang memberi pengaruh nyata pada bencana alam global. Mereka juga tengah menjalin kerjasama dalam pemantauan ozon yang amat berkaitan dengan lingkungan hidup.
Kami juga masih memantau dampak ionosfer setelah diketahui bahwa salah satu lapisan atmosfer ini mampu membelokkan gelombang radio, dimana hasil koreksinya telah kami sebarluaskan. Jadi kami ini sebenarnya sudah membumi
lho.
# : Beberapa penelitian menyangkut kepentingan global. Inikah yang menyebabkan institusi luar negeri tertarik bekerjasama?
* : Ya. Bahkan yang menarik, dalam waktu dekat fasilitas penelitian iklim Lapan di Bandung mendapat bantuan berupa dua fasilitas sistem pengamat angin atau atmosfer yang cukup canggih. Yang pertama
Equatorial Atmospheric Radar, fasilitas yang bisa
mengukur perubahan kerapatan udara, pergerakan angin,
magnitude, sekaligus arahnya, hingga ketinggian 60 kilometer. Bantuan Pusat Penelitian Radio Atmosfer, Universitas Kyoto, Jepang, ini selanjutnya akan digunakan untuk melengkapi kerja fasilitas penelitian iklim yang
telah ada.
Lalu yang kedua, mirip EAR, adalah bantuan dari CSIRO, Australia. Fasilitas yang ditempatkan di Pontianak ini berfungsi untuk mengukur trubulensi udara di wilayah ekuator. Untuk kepentingan ini, mereka akan meluncurkan 300
radio sonde pada akhir tahun.
Maksud dari semua penelitian ini adalah untuk mempelajari pola iklim di wilayah ekuator yang selanjutnya akan digunakan untuk memprediksi kehadiran El Nino. Mereka banyak membantu karena sadar posisi Indonesia amat strategis dalam struktur pola
iklim global. Letaknya yang di Benua Maritim juga turut menjadikan Indonesia penting diikutkan dalam proyek-proyek penelitian internasional.
# : Manfaatnya positif sekali. Akan tetapi untuk menggerakkan kegiatan di dalamnya sendiri, strategi apa yang ditempuh Pimpinan Lapan setelah anggaran dipangkas hingga 60 persen? Sudah adakah upaya untuk mencetak
income, misalnya lewat usaha layanan jasa?
* : Beberapa unit telah berusaha merintisnya. Misalnya dengan memberi layanan jasa penginderaan jauh. Akan tetapi karena Lapan adalah lembaga non-profit, secara umum pelaksanaannya masih terbentur peraturan pemerintah. Itu sebabnya
income tak bisa langsung digunakan, melainkan harus diserahkan terlebih dulu kepada negara. Akan tetapi, belakangan, dalam rangka reorganisasi, kami menemukan beberapa cara yang bisa dipakai untuk keperluan di atas, yakni lewat teknik swadana (DIK-Suplemen) dengan syarat harus
melalui izin Departemen Keuangan. Segalanya kini sedang diproses. Ada juga peluang lain yang sedang kami kaji, yakni dengan membangun perusahaan jawatan.
# : Bagi Depkeu nampaknya bukan suatu hal yang umum ya?
* : Umum, masalahnya hanya memang tidak ada aturan umum untuk itu. Bahkan untuk rumah sakit umum yang dikelola negara pun, Depkeu harus menelitinya lebih dulu. Dibanding BPPT, Lapan malah terbilang ketinggalan. Jadi semuanya memang harus
prosedural dan dilihat case by case.
Lahir di Purwakarta, 4 April 1946, Mahdi Kartasasmita telah menunjukkan perhatian yang mendalam pada bidang aplikasi elektroteknik sejak kuliah di ITB, Bandung. Sarjana Teknik Telekomunikasi/ Elektroteknik ini lulus tahun 1975 dengan thesis
'Susunan Antena Kolinier dengan Elemen Setengah Panjang Gelombang'. Pemahaman yang kuat dalam bidang yang sama juga yang kemudian menuntunnya sukses dalam pendidikan S2 dan S3 di University of California Davis, AS. Thesis S2-nya berjudul 'Performance
Analysis of PCM Coder Decoder' (1981), sedang desertasi S3-nya: 'Dimensionality Reduction by Linear Transformation for Pattern Classification with Application to Thematic Mapper Data' (1986).
Sejak kembali dari pendidikan doktoralnya itulah Mahdi banyak menelurkan hasil nyata bagi Lapan. Diantaranya saja, pada 1987 ia erat terlibat dalam proyek pembangunan sistem pengolahan data satelit NOAA/AVHRR untuk mendapatkan suhu
permukaan laut bagi pemanfaatan penginderaan jauh dalam bidang perikanan. Setahun kemudian ia lalu membangun sistem pengolahan data untuk pendeteksian titik panas bagi keperluan pemantauan kebakaran hutan. Yang tak kalah penting, Sistem Peringatan Dini-nya
berhasil ia tuntaskan pada tahun 1995.
Ketua Umum Masyarakat Penginderaan Jauh (1994-98) ini juga membangun sistem produksi dan pelayanan data serta produk penginderaan jauh Lapan guna meningkatkan kualitas pelayanan bagi penggunanya (1994). Hingga kini Mahdi juga ikut
mengkaji konsep pemasaran dan bisnis penginderaan jauh Lapan yang telah dimulai sejak 1998.
Ia juga dikenal rajin membina kerjasama dengan luar negeri. Berkat usahanya ini, pada 1995 Sistem Stasiun Bumi Penginderaan Jauh Parepare (di Sulsel) dan Pekayon, Jakarta, memperoleh bantuan Jepang berupa sistem penerima dan pengolah data
satelit JERS-1 yang memiliki sensor optik dan radar. Selanjutnya, lewat kerjasama dengan Kanada dan AS, ia berhasil mengirim 16 staf Lapan ke sana untuk menjalani training pengoperasian, pemeliharaan, dan pengembangan SSBPJ dengan penekanan pada aspek
alih teknologi.
Di kemudian hari, dengan cukup banyak dimanfaatkannya produk SSBPJ di sektor kehutanan, pembangunan daerah, pemetaan, pertambangan dan geologi, telekomunikasi, pengembangan daerah pantai, hankam/TNI, kebakaran hutan, dan lain-lain,
Mahdi terbilang tak saja sukses dalam upaya pembangunan segi fisik dan SDM, tetapi juga sudah berhasil menindaklanjutinya dengan upaya pengembangan pemanfaatan hasil proyek ini bagi pembangunan nasional. Berkat jasanya ini, pada Agustus 1999,
Pemerintah menganugrahinya Bintang Jasa Utama.
Kini, mitra kerja Lapan di luar negeri nampaknya akan semakin gencar dilobi Ketua Lapan yang baru ini. Maklum, dengan anggaran sudah sedemikian surut, kemitraan menjadi salah satu kunci utama menuju keberhasilan yang lain. Seperti
diutarakannya berikut ini:
# : Apakah hanya dengan upaya layanan jasa dan perusahaan jawatan Lapan bisa mengatasi problem anggaran yang telah mengecil ini?
* : Tentu tidak. Ada strategi lain yang juga sedang kami perjuangkan. Diantaranya adalah dengan kemitraan. Upaya ini kami tempuh misalnya dalam upaya penguasaan teknologi satelit-mikro. Setelah ditinjau kemampuan dana sendiri (juga nasional)
tidak memungkinkan, kami lalu berusaha menjalin kemintraan dengan luar negeri. Dua pihak kemudian berhasil kami dekati. Mereka adalah DLR, Jerman, dan Universitas Stallen Bosch, Afrika Selatan. Kemitraan kami anggap salah satu kebijakan yang harus kami
tempuh karena memberi pertolongan pada masa sulit.
Namun demikian, bagi kami, mitra tak harus sama-sama berupa lembaga penelitian. Mitra bisa jadi malah pengguna
(user). Mitra seperti inilah yang sebenarnya kami inginkan, sebab kalau pun mereka belum bisa memberikan sumber daya mereka
bisa menjadi PR (public relations) Lapan ke luar. Pasalnya, tanpa diminta mereka akan menyebarluaskan informasi bahwa teknologi antariksa itu bermanfaat. Sebaliknya, mereka juga bisa menyampaikan
'needs' yang tak terpikirkan oleh kami. Itulah sebabnya,
menjalin kemitraan merupakan strategi yang akan kami tempuh.
Keberhasilan dalam menjalinnya akan menjadi tolok ukur eksistensi kami. Semakin ke hilir, akan makin bagus, karena dari sini akan tercermin keberadaan Lapan itu benar-benar diperlukan dan bermanfaat.
Stasiun Bumi Lapan di Pare-pare Sulawesi Selatan/Foto: Angkasa/D.N. Yusuf
|
# : Sudah sejauh mana Lapan menjalin kemitraannya?
* : Bervariasi. Kedeputian Penelitian Media Dirgantara, misalnya, telah cukup baik menjalinnya. Selain dengan luar negeri, belum lama ini Departemen Eksplorasi Laut bahkan telah menawarinya bekerja-sama. Jadi peluangnya cukup banyak. Termasuk peluang
yang akan muncul jika daerah-daerah jadi diberi kewenangan dalam mengambil keputusan sendiri (otonomi daerah) untuk pengembangan atau eksploitasi potensi daerahnya. Katakan saja, dalam aspek agribisnis atau kelautan. Pada saat yang sama kami mungkin saja
akan berhadapan dengan lembaga penyedia data serupa Lapan dari luar-negeri, yang belakangan memang kian gencar menawarkan jasa dan datanya ke sejumlah Pemda. Namun semua itu adalah sesuatu yang wajar. Justru disitulah eksistensi Lapan akan diuji.
# : Bukankah pihak asing itu justru akan jadi pesaing?
* : Benar. Jadi para penyedia data citra satelit dari luar itu sesungguhnya telah cukup lama menjadi pesaing Lapan, karena Pemerintah memang tak menutup semua ini. Mereka bahkan telah memiliki agen di Indonesia. Jadi tak bisa lain, ya kita
fight saja. Dalam persaingan ini, Lapan sendiri menawarkan lebih banyak keuntungan, mengingat kami tak akan melepas pihak pengguna dalam proses interpretasi data. Dengan demikian, kasus dibuat kecewanya salah satu
user di Riau oleh penyedia data dari luar negeri beberapa
waktu lalu tak perlu terjadi. Dalam kasus ini, si pengguna merasa ditinggalkan begitu saja dengan dalih ketidakcocokan perangkat keras. Padahal ongkos yang telah dikeluarkan tak sedikit
lho.
Masalah seperti itu tak akan terjadi jika para pengguna tersebut mau menjalin kemitraan dengan Lapan. Setiap masalah akan dipecahkan, karena kami memang telah di-set untuk selalu siap menyelesaikannya. Itu karena sebagai lembaga pemerintah,
business arrangement bukanlah yang utama.
# : Dalam kaitan kerjasama dengan DLR dan Stallen Bosch, bagaimana ceritanya hingga Lapan bisa menjalin kemitraan dengan mereka?
* : Dalam upaya penguasaan satelit mikro ini, semula kami sebenarnya telah melakukan penjajakan ke Universitas Surrey, Inggris. Gayung bersambut, karena negara ini rupanya memang tengah berusaha memancing program mikrosat Indonesia lewat
grant. Kami tentu saja tertarik. Akan tetapi setelah ditimbang-timbang, ada yang timpang. Apa yang harus kami bayar ternyata tak sebanding dengan apa yang bisa kami dapat. Kerjasama ini sulit direalisasikan karena biaya yang harus dikeluarkan kelewat besar, sementara Indonesia
sendiri hanya akan kebagian jatah training untuk sembilan orang. Jadi untuk apa?
Programnya pun terpaksa dialihkan meskipun mikrosat buatan Inggris tersebut kian populer saja di Asia. Malaysia, Thailand, dan Korea Selatan, misalnya, telah tercatat sebagai pemakai setia. Karena sifatnya yang murah dan multifungsi, Korsel bahkan
telah berencana meluncurkannya hingga seri keenam.
Kami selanjutnya mendekati DLR mengingat jalinan kemintraan yang sudah berlangsung hingga 17 tahun. Ketika usul pembuatan mikrosat itu kami ajukan, ternyata mereka juga tengah mengikuti perkembangan satelit sejenis, khususnya yang tengah
digarap Universitas Stallen Bosch. Kebetulan konsep yang kami tawarkan sama dengan misi dari satelit yang mereka namakan 'Sunset' itu.
Kini kami bertiga tengah melakukan penjajakan pada kemampuan masing-masing agar hasilnya nanti bisa dikatakan sebagai hasil sebuah kerjasama. Ada usul agar Brazil diikutkan dalam kerjasama ini mengingat posisinya yang sama-sama di ekuator.
Stallen Bosch sendiri kini tengah mengupayakan dana pembuatannya.
# : Konsep apa yang diajukan Lapan untuk satelit ini?
* : Konsep yang kami ajukan ternyata sama persis dengan misi Sunset, yakni
Multi Mission Equatorial Satellite (MMES). Kontrol dan sistemnya sederhana. Seperti satelit tipe L, konsep stabilisasinya pasif. Misinya
band-piping, dimana data sewaktu-waktu bisa disimpan untuk kemudian diolah. Uniknya, Stallen Bosch telah mendayagunakan Sunset untuk kepentingan penginderaan-jauh, sesuai dengan keinginan Lapan. Selain murah, resolusi Sunset ternyata terbilang mengagumkan, mencapai 15 meter.
# : Nampaknya mereka belum berfikir komersial ya?
* : Sebenarnya tak ada yang tidak akan mengarah kesana. Masalahnya 'kan, kita baru sampai pada tahap penelitian. Kalau nanti peluncurannya bagus dan satelitnya berfungsi baik, mengapa tidak dikomersialkan saja. Apalagi satelit dengan resolusi 15 meter tergolong laku di
pasaran. Untuk itu kami telah membuat perjanjian tertulis. Akan tetapi, pertama yang terpenting bagi kami adalah penguasaan teknologinya dahulu.
# : Apa dasar kemampuan Lapan hingga berani memutuskan untuk membuat satelit sendiri?
* : Kami, persisnya Kedeputian Pengembangan Teknologi Dirgantara, telah memiliki modal kemampuan dalam hal perancangan roket peluncur dan muatan roket. Roket yang kami buat memang belum mencapai ketinggian di atas 200 kilometer sesuai kualifikasi
yang diinginkan satelit mikro. Namun, dalam hal ini yang terpenting adalah bahwa kami telah menguasai benar arsitektur dan sistematika muatan roket yang sudah mendekati arsitektur satelit mikro. Untuk mencapainya tak sulit karena berdasarkan perkembangan yang
ada, seperti halnya komputer, teknologi satelit kian lama kian mudah di dapat dan kian murah pula harganya. Apalagi untuk jenis OSCAR
(Orbiting Satellite Carrying Amateur Radio) yang tengah kami kejar.
Kami sadar bahwa jika Lapan masih akan terus-menerus menekuni teknologi muatan roket yang itu-itu saja dengan roketnya yang tak pernah beranjak dari tingkat
region air, tak akan pernah ada hasil yang konkret. Untuk itu, seraya menyikapi perkembangan
dan situasi yang ada, kami mencoba untuk sedikit berani ber-reorientasi ke arah satelit yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat. Dengan satelit ini, Lapan akan memiliki visi dan misi yang jelas. Satelit yang di luar negeri dikenal sebagai sistem telekomunikasi
di kampus-kampus ini, kelak akan dimanfaatkan Lapan untuk kepentingan penginderaan jauh, telekomunikasi, dan navigasi.
# : Lebih jauh, bagaimana dengan upaya pengembangan SDM?
* : Segalanya pasti merujuk renstra. Namun agar semuanya bisa sampai ke sasaran, yang terpenting untuk disimak oleh segenap SDM Lapan adalah bahwa mereka merupakan bagian utama dari sebuah
leading institusi dari komunitas antariksa nasional, yang dengan
sendirinya akan menjadi gerbang menuju komunitas antariksa internasional. Untuk itu penting bagi kami untuk mengembangkan sebuah sistem informasi yang berkaitan dengan posisi tersebut guna menunjang tugas-tugas kami. Untuk itu memang diperlukan SDM profesional yang
akan berdiri di belakangnya.
Dalam upaya pembinaan SDM tersebut, kini kami tengah mengupayakan sebuah langkah reposisi. Dari sebuah komunitas penelitian yang sebelumnya nampak birokratis menuju yang profesional dan kredibel. Ini penting diupayakan agar SDM Lapan selanjutnya tak
hanya bekerja untuk kepentingan institusi semata, melainkan setahap demi setahap bisa menjadi semacam
outsourcing person terhadap kegiatan di luar Lapan. Untuk itu, seperti diutarakan
sebelumnya, kami sedang bekerja keras menjadi sebuah institusi yang bisa memberikan pelayanan
bagi kepentingan masyarakat.
Namun disamping itu, ke dalam, kami juga sedang mengimbanginya dengan cara memotivasi mereka agar tak lagi bekerja untuk dirinya sendiri. Dalam hal ini, misalnya saja, seorang pakar Matahari, selanjutnya akan kami tuntut untuk mampu mengaitkan
ilmunya dengan kepentingan hidup manusia. Kami tak akan menyuruh orang lain, karena hasilnya bisa salah nanti. Kami menyadari bahwa untuk itu perlu sebuah program yag ditata secara lebih kelembagaan. Perlu seorang dirigen dan itu akan kami coba. Harapannya
sederhana saja, yakni jika semua ini terlaksana, mudah-mudahan kelak kami tidak lagi dikenal sebagai intitusi eksklusif dengan ilmu-ilmu aneh yang tak bisa menyerap ke masyarakat.