ANGKASA N0.1 OKTOBER 2000 TAHUN XI  

The Black Knights: Arrow, Arrow, Go!


  Laporan Utama
Aerobatik
Cakrawala
Ekonomi
Fenomena
Kolom
Kokpit
Kisah Nyata
Lukisan Dirgantara
Lobi
Militer
Notam
Ordirga
Origami
Opini
Profil
Peristiwa
Seabad Kedirgantaraan
Siapa-siapa
Teknologi

Rate our site
@ SearchIndonesia

 
AEROBATIK  

The Black Knights:
Arrow, Arrow, Go!

Aduhai indahnya, dua F-16 terbang mengapit empat Super Skyhawk. Berpadu-padan merah putih, menari-nari di udara. Menanjak tegak meninggalkan smoke trail, lalu meliuk membuat formasi Bonsai Burst maupun Bunga Manggar yang indah. Kehebatan tim aerobatik berlambang kuda catur hitam,The Black Knights, Singapura.

Keindahan Formasi Keindahan Black Knights terlihat dari perpaduan dua generasi jet tempur./Foto:RSAF-Black Knights

Begitulah kehebatan juga keindahan The Black Knights atau Ksatria Hitam, tim aerobatik yang memukau pada penyelenggaraan Asian Aerospace 2000. AA 2000 boleh saja berlalu tujuh bulan silam. Tapi airshow yang diselenggarakan dua tahunan oleh negeri tetangga Singapura yang pada tahun ini dikatakan sebagai airshow pembuka awal millenium ketiga itu tetap meninggalkan kenangan manis, khususnya bagi pengunjung dan penikmat aerobatik udara. Seperti sudah menjadi tradisi, bila sebuah airshow tanpa suguhan aerobatik, rasanya sungguh tidak komplit. Dan itu pula yang terjadi dalam festival akbar kedirgantaraan di tepian laut Bandara Changi Februari lalu.

Ada tiga tim aerobatik udara yang sebenarnya ikut meramaikan AA 2000. Yakni, The Roulletes dari Negeri Kanguru Australia dengan enam pesawatnya Pilatus PC-9, Patrouille de France dari Perancis dengan delapan Alpha Jet dan tentu tuan rumah dengan tim andalan The Black Knights milik kesatuan RSAF (Republic of Singapore Air Force). Tim tuan rumah menjadi sorotan, karena selain mencermin-kan jiwa semangat yang tinggi dari negara kecil, juga karena penampilannya yang menawan.

Formasi Arrow

Sambutan hangat The Black Knights di hari pertama bagi 70.000 pasang mata pengunjungnya di areal seluas 93.500 meter persegi dimulai dengan ucapan selamat datang lewat formasi khasnya, Arrow (panah). Empat pesawat A-4 SU Super Skyhawk buatan McDonnell Douglas terbang membentuk segi empat menye-rupai jajaran genjang. Di kedua sudut delta formasinya melaju dua F-16 dalam jarak yang rapat. Inilah perpaduan pertama dua jenis pesawat dalam sebuah tim aerobatik. Sungguh indah manakala mereka melintas dengan kecepatan seragam di atas hadirin. Suaranya menggemuruh me-ninggalkan smoke trail enam garis warna merah-putih.

Letkol Sham Chee Keong, Komandan Tim Kesatria Hitam dalam AA 2000 yang menunggangi kokpit Super Skyhawk no 1 (Lead) mengatakan, bahwa untuk membuat menu racikan dua jenis pesawat dalam tim Black Knights dibutuhkan waktu satu bulan. "Kami mencoba memadukan A-4 dengan F-16. Lalu kami menganalisis apakah perpaduan ini bisa menghasilkan manuver-manuver yang sinkron dan indah. Setelah satu bulan kami mencoba, baru kami mendapatkan jawabannya," ujar Keong.

Keong juga menambahkan bahwa untuk menghambat laju F-16 terhadap A-4 dalam timnya itu, sistem afterburner pada Fighting Falcon itu tidak diaktifkan. Dengan demikian kecepatannya bisa selaras dan terkontrol.

Loop and Flyby

Sinkronisasi kecepatan Karena generasi berbeda, kecepatan F-16 harus disinkronkan dengan laju A-4SU./Foto:RSAF-Black Knights

Formasi pembuka Arrow kemudian dilanjutkan dengan loop and flyby. Enam pesawat mengubah posisi dari bentuk panah ke bentuk Delta. Agak sedikit beda memang, karena Black Knights no 4 (Super Skyhawk) lebih ditarik ke belakang sehingga berada dalam posisi segaris dengan dua F-16 (Black Knights no 5 dan no 6). Tapi ini bukan perkara mudah, karena menurut keterangan, dalam melakukan loop & flyby jarak antara ujung wingtip pesawat dengan kokpit yang berdekatan hanya sekitar tiga kaki (satu meter!). Apalagi jarak ini diper-tahankan hingga melakukan barrel roll guna membentuk formasi angsa (swan) dan saat slow roll dalam menyusun bentuk layang-layang (kite formation).

Maka tidak heran kalau Keong menye-but, gerakan-gerakan ini adalah yang tersusah. "Terutama saat melakukan swan formation. Lingkarannya sangat besar, kami memutar terbalik dan benar-benar butuh 'tiga sumbu'. Kecepatan di posisi buttom yang kita butuhkan adalah 400 knot, kemudian berubah menjadi 200 knot pada posisi top, lalu kita ubah lagi secara deras ke angka 400 knot saat melakukan descent. Dalam melakukan manuver itu satu F-16 mendorong formasi ke dalam sedangkan satu lainnya menekan ke luar," jabar veteran pilot yang telah mengabdi selama 24 tahun di RSAF dan mengumpulkan 6.000 jam terbang itu.

Keindahan lintasan

Dalam durasi pertunjukan selama 15 menit yang dilakukan setiap hari dari tanggal 22-27 Februari itu, The Black Knights memperagakan 12 formasi. Meliputi Bonsai Burst, Double Cuban Eight & Berner Turns, Way of the Dragon, Twinkle Roll Diamond Flyby, Opposing Rolls Vertical Departure, Mirror Pass, Bunga Manggar, dan Roaring 2000.

Dua highlight yang perlu dicatat pula, adalah saat peragaan bonsai burst dan bunga manggar nama sejenis bunga lokal indah yang hidup di tanah Melayu. Baik bonsai maupun bunga manggar memperlihatkan keindahan lintasan smoke trail yang tercipta di udara. Kalau dilihat sepintas kedua formasi ini mirip pancaran air mancur dan buyaran kembang api pada perayaan pergantian tahun.

Sedangkan gerakan berbahaya, terjadi setelah dua F-16 melakukan split dari formasi untuk kemudian membuat Double Cuban Eight. Dua Fighting Falcon berkecepattan tinggi bertemu dalam arah berlawanan pada jarak kurang dari 30 kaki (10 meter!), lalu masing-masing membuat loop menyamping membentuk angka delapan. Jika saja komunikasi antar pener-bang kacau, tak pelak tabrakan hebat tak akan terelakkan. Model gerakan serupa (meskipun tidak persis sama) ini mungkin masih kita ingat saat menyaksikan tim aerobatik kebanggaan TNI AU, Jupiter Aerobatics Team (JAT), dalam formasi Cross Over Break, pada HUT TNI AU ke-54, Juli lalu.

The Black Knights menutup pertunjukan dengan Roaring 2000. Empat Super Skyhawk melakukan loop beberapa kali guna membuat angka dua ribu. Lalu dua F-16 membuat underline dalam low-level-pass. Formasi penutup yang mengundang decak kagum penonton hingga memberikan aplaus yang besar.

Diawali Hawker Hunter

Formasi Tersulit "Formasi Angsa termasuk tersulit yang harus diperagakan," ujar Letkol Sham Chee Keong./Foto:RSAF-Black Knights

Bila dibandingkan dengan tim-tim aerobatik dunia lainnya, terutama tim 'kelas berat' seperti Red Arrows (Inggris), Thunderbirds atau Blue Angels (AS), Frecce Tricolori (Italia), atau Patrouille de France (Perancis), mungkin The Black Knights 'masih kecil'. Tapi kalau melihat dari belahan mana ia berasal, The Black Knights tentu adalah suatu kebanggaan. Apalagi namanya sudah terdengar sejak tahun 1970-an.

Bermodalkan lima pesawat Hawker Hunter buatan pabrik Hawker Inggris tahun 1950-an, RSAF membuat tim aerobatik The Black Knights serta mempertontonkan debutnya kali pertama pada perayaan HUT AB Singapura tahun 1974, tepat setahun setelah tim itu dibentuk. Tiga puluh ribu penonton saat itu menjadi saksi bagi awal perjalanan Ksatria Hitam.

Mengapa RSAF memilih nama Black Knights? Ada filosofi yang melandasinya. Konon, Kesatria Hitam diambil dari Kuda Hitam dalam permainan catur. Kuda atau Kesatria dalam catur, mencerminkan keagresifan dan penyerangan yang jarang terduga. Ia bisa menjadi pemegang strategi utama untuk memporakporandakan per-tahanan musuh. Meloncat-loncat melewati batas namun ia tetap tampak eksotis. Tidak salah juga kalau istilah kuda hitam sering digunakan untuk menggambarkan kekuat-an di luar perhitungan. Dan itulah yang diadopsi RSAF.

Terus bersinar

Tahun 1983 kedudukan Hawker Hunter diganti oleh F-5E Tiger II. Tapi F-5 pun hanya bertahan hingga tahun 1990 setelah kemudian digeser lagi oleh A4 SU (Super Skyhawk). Penggabungan F-16 dengan A-4 SU pada AA 2000, awalnya dapat dikatakan sebuah 'kecelakaan'. Karena rencana semula yang akan di-tampilkan adalah utuh enam jet tempur Fighting Falcon. Namun ternyata, mendekati pelaksanaan pameran, F-16 yang siap hanya dua buah. Maka akhirnya empat A-4 SU itulah yang jadi 'pelengkap' tim F-16.

Tapi di tangan sang koreografer sekaligus Komandan The Black Knights, Letkol Sham Chee Keong, hal itu bukanlah suatu masalah. Apalagi ia juga pernah mengomandani The Black Knights pada pelaksanaan AA 1994 dan salah satu pionir pemrakarsa pembelian F-16 bagi RSAF tahun 1988. Hasilnya, sungguh istimewa bahkan menjadi spesial.

Ditangannya, setidaknya Skadron Demonstrasi RSAF, The Black Knights masih terus bersinar dan menunjukkan keberadaannya. Bersama lima rekan lainnya yakni Letnan Winston Teng (Right Wingman), Letnan Tay Kok Ann (Left Wingman), Mayor Vincent Chin (Slotman), Mayor Paul Sung (Lead Solo), dan Mayor Philip Chionh (Opposing Solo) berhasil membuat pengunjung terkesiap dan memberikan aplaus bagi Sang Kesatria Hitam.

Pilot-pilot The Black Knights jelas hebat, karena syarat untuk bisa terpilih menjadi anggotanya pun, sang penerbang harus sudah mengumpulkan minimal 1.000 jam terbang dengan pesawat tempur. Serta sudah pernah menerbangkan A-4 SU maupun F-16 minimal 500 jam. Arrow, Arrow, Go! Mungkin di lain waktu kita bisa menyaksikan The Black Knights bersanding dengan Jupiter Aerobatics Team dari Skadron Udara 15, kebanggaan masyarakat Indonesia. (ron)



Laporan Utama | Aerobatik | Cakrawala | Ekonomi | Fenomena | Kolom | Kokpit | Kisah Nyata | Lukisan Dirgantara | Lobi | Militer | Notam | Ordirga | Origami | Opini | Profil | Peristiwa | Seabad Kedirgantaraan | Siapa-siapa | Teknologi |

Copyright © 1998 Majalah Angkasa. All rights reserved
Designed by
Kompas Cyber Media