ANGKASA N0.1 OKTOBER 2000 TAHUN XI  

Korsa Korps Prajurit Baret Jingga

ANGKASA IKUT OUT BOUND WING I PASKHAS

MK-53 SIAGA DI KUPANG


  Laporan Utama
Aerobatik
Cakrawala
Ekonomi
Fenomena
Kolom
Kokpit
Kisah Nyata
Lukisan Dirgantara
Lobi
Militer
Notam
Ordirga
Origami
Opini
Profil
Peristiwa
Seabad Kedirgantaraan
Siapa-siapa
Teknologi

Rate our site
@ SearchIndonesia

 
CAKRAWALA  

Korsa Korps Prajurit Baret Jingga

Dengan tekad dan semangat baja
Sebagai seorang prajurit korps baret jingga
Derap langkah dan optimismu akan selalu kuharap
Dalam melanjutkan cita-cita pendahulu korps baret jingga....

Begitulah sebait dari puisi Passing In yang dibacakan di lapangan Skadron 461/Cakra Bhaskara Pasukan Khas TNI AU, Halim Perdanakusuma, pada malam hari tanggal 30 Agustus lalu.

Diiringi tembakan Sesaat ketika para pengantin berjalan diiringin tembakan salvo. Foto/Dispen AU

Lalu tembakan salvo beriringan menderedet ke udara, mengiringi langkah 42 pasang pengantin prajurit baret jingga yang berjalan menuju panggung.

"Para prajurit ini baru kembali dari medan tugas. Hampir setahun tidak pulang. Dimulai ketika dikirim ke Timtim untuk pengamanan pelaksanaan jajak pendapat, kemudian mereka diterjunkan ke Aceh ketika wilayah serambi Mekkah itu bergejolak. Saat tugas selesai dan kembali ke Jakarta, eh mereka sudah harus berpanas-panasan di seputar Gedung MPR maupun di lima pintu wilayah DKI untuk mengamankan ST MPR 2000," ujar Letkol Psk Wahyudin K, Dan Skadron Paskhas 461.

"Begitulah, maka saat menjelang keberangkatan tugas itu, banyak dari mereka yang asal cepat-cepat menikah. Pokoknya asal selamat dulu, saking terburu-burunya," lanjut Wahyudin yang disambut gerr hadirin yang terdiri dari keluarga dan kerabat pengantin serta para wartawan. " Nah, Sekarang kami ingin memberikan syukuran bagi mereka," tambahnya lagi.

Gebrakan wahyudin dalam meningkatkan korsa korps prajurit baret jingga dengan menyelenggarakan pernikahan massal itu memang boleh mendapat acungan jempol. Membekali dan memberi dorongan bagi para prajurit tentara ternyata banyak caranya. Salah satunya ya dengan menyelamatkan para pengantin yang sudah "telanjur" keburu-buru melangsungkan pernikahan sebelum berangkat tugas itu. Apalagi dengan hiburan dangdut, suasana menjadi semarak, para prajurit pun hanyut dalam kegembiraan. Melupakan sejenak tugas-tugas negara yang berat.

Yang bikin menarik lagi, karena para pengantin wanita sudah banyak yang berbadan dua, bahkan ada yang sudah tampak membuncit. "Kalau tidak buru-buru kawin, bisa-bisa begitu kembali, calon pasangan sudah digaet orang. Kan nyesel!," ujar seorang pengantin laki-laki blak-blakan sementara pengantin wanita yang mengenakan kebaya itu hanya mesem-mesem malu saja. "Wah Mbak, hebat ya suaminya, sekali jalan saja langsung tokcer," goda para wartawan. Karuan saja sang pengantin makin keder menghadapi 'gempuran' para wartawan itu.

Kalau ditinggal lagi kira-kira kuat lagi nggak? "Sudah-sudah!" ujar Wahyudin menimpali. "Kalian juga kan sama saja," ujarnya. Pokonya kalau sumai tugas, jangan dikira macam-macam lah. Bisa-bisa malah beneran," ujar Wahyudin, komandan berkumis tebal yang dikenal akrab dengan para kuli tinta, makin menjadi-jadi.

"Selamat datang dan selamat bertugas di Skadron 461 Paskhas Cakra Bhaskara," begitu kata yang diucapkan setelah pembacaan puisi. Karmanye Vadekaraste Mafalesu Kadacana. (ron)


TERBANG MALAM ATS

Malam itu, diakhir Bulan Agustus, gemuruh suara heli memenuhi udara Semplak, Bogor. Memang sih, sempat terhenti beberapa saat, lantaran hujan tiba-tiba turun. Tapi tak lama berselang, tiga heli kembali menembus kegelapan malam secara simultan. Masing-masing heli yang beraksi adalah Sikorsky S-58 Twinpac (H 3145), SA-330 Puma (H 3306), dan BO-105 (HR 1519). Nekat namun penuh perhitungan, mungkin adalah kata yang tepat. Bayangkan saja, untuk kegiatan terbang yang berlangsung hingga menjelang dini hari itu, dilakukan tanpa alat bantu semisal teropong malam. Itu belum seberapa. Sebagai petunjuk arah hanya dipakai bantuan obor. Boleh jadi kemampuan terbang malam butuh konsentrasi ekstra disamping latihan yang terjadwal. Adanya cahaya di luar kokpit dapat "mencuri" perhatian sang pilot. Oleh karenanya adaptasi dengan perubahan waktu diperlukan. Masalah ini diatasi dengan start engine yang dilakukan 15 menit setelah matahari terbenam. Alasannya tak lain adalah situasinya yang sudah gelap. Seperti layaknya sebuah operasi militer, sebelumnya diadakan breifing. Seluruh awak diberi semua informasi yang diperlukan. Mulai dari keadaan cuaca lokal, arah dan kecepatan angin sampai alternatif base, bila menjumpai keadaan darurat. "Menjaga kemampuan terbang malam tiap pilot", ujar Kolonel Pnb. B.S. Silaen, Dan Lanud Atang Senjaya (ATS) kepada Angkasa. Selain itu latihan ini juga digunakan untuk kenaikan rating, yaitu konversi dan kaptensi dari kedua skadron yang bersarang di Lanud ATS itu.(don/avi)



Laporan Utama | Aerobatik | Cakrawala | Ekonomi | Fenomena | Kolom | Kokpit | Kisah Nyata | Lukisan Dirgantara | Lobi | Militer | Notam | Ordirga | Origami | Opini | Profil | Peristiwa | Seabad Kedirgantaraan | Siapa-siapa | Teknologi |

Copyright © 1998 Majalah Angkasa. All rights reserved
Designed by
Kompas Cyber Media