REPLIKA WEL-1 RI-X - Wiweko Soepono membuat dua replika pesawat WEL-1 RI-X dengan menggunakan mesin VW Revmaster./Foto:Dok.Bambang Wahono
|
Sekitar dua minggu sebelum Wiweko meninggal, saya masih sempat menjenguknya di rumah kediamanya, Jalan Cianjur 24, Menteng Jakarta Pusat. Terbaring di tempat tidur dengan saluran infus, sekitar satu setengah jam berdua kami asyik bicara mengenai berbagai topik mulai
dari penyakit prostat yang dideritanya, peledakan bom di kediaman Duta Besar Filipina, situasi politik-ekonomi sekarang sampai pada topik bermunculan maskapai penerbangan baru bak jamur di musim hujan, serta pesawat superjumbo A3XX yang tengah dikembangkan Airbus Industrie.
Di tengah pembicaraan tersebut, terselip pula berbagai unsur lainnya membuka lembaran sejarah zaman Majapahit sampai ramalan Jayabaya yang amat terkenal tersebut salah satunya, ramalan mengenai zaman edan yang dikaitkan dengan kondisi Indonesia saat ini.
Selain penerbangan dengan liku-liku padat teknik serta
airlines yang tak pernah terlepas dari dirinya, getaran jiwanya mendalami masalah kebudayaan. Sehingga teringat kembali saat saya menginjakkan kaki di kota dirgantara Toulouse, Perancis Selatan, pertengahan Januari 1982.
Wiweko mengundang sejumlah wartawan Indonesia menghadiri penyerahan pertama pesawat Airbus A300-B4 cikal bakal pesawat dua awak
glass cockpit. "Di tanah Perancis inilah kaum Cathars berjuang," ujarnya singkat. Lalu Wiweko panjang lebar menguraikan kaum Cathars itu kepada
saya sampai ke detil-detilnya. Frits Winkelmann yang menangani penjualan pesawat kepada Garuda dan ikut
nimbrung, tak habis dibuatnya terkagum atas pengetahuan Wiweko mengenai kaum Cathars yang tak terlepas dari akar bangsa Perancis.
Tak hanya mengenal sejarahnya, tapi Wiweko dalam kunjungan berulang kali ke Toulouse antara lain ikut aktif dalam perkembangan desain Forward Facing Crew Cockpit (FFCC) B4 serta untuk memperoleh
rating A300-B4, mendatangi tanah leluhur kaum Cathars, juga
mengunjungi kastil-kastil peninggalan mereka.
Mungkin hanya segelintir orang mengenalnya sebagai seseorang yang memberi perhatian tinggi kepada kebudayaan, diantaranya pada sajak-sajak yang salah satu diantaranya Wiweko membacakannya sebagai refleksi menyampaikan kegembiraannya atas hasil yang dicapai dari kerja
sama antara Garuda Indonesian Airways dan Airbus Industrie. Sajak yang dibaca Wiweko adalah karangan Rudyard Kipling yang ditulis pada tahun 1889 berjudul "The Ballad of East and West" yang ia sedikit ubah , disesuaikan agar cocok dengan suasana penyerahan pesawat A300-B4.
"North is North, and South is South,
and never the twain shall meet.
But if two reasonable men meet
face to face,
There is neither North or South.
Through mutual understanding,
They will work together for a better
tomorrow."
Gemuruh tepuk tangan riuh membahana di hanggar Saint Martin Aerospatiale dimana Airbus A300-B4 Forward Facing Crew Cockpit (FFCC) diserahkan begitu Wiweko Soepono mengucapkan kalimat terakhir sajak tersebut pada pertengahan bulan Januari 1982.
Daisy Hadmoko dari Travel Indonesia yang mengenal sangat dekat Wiweko Soepono di Burma (Myanmar sekarang) pada tahun 1948, punya kenangan tersendiri mengenai pidato sambutan pucuk pimpinan Garuda. "Saya sudah susah payah ikut mempersiapkan pidato untuk Pak
Wiek, tapi pada detik terakhir ia tidak membacakan pidato yang disiapkan, lalu membaca yang dikarangannya sendiri (itu)."
Merendah
Almarhum Salman Hardani, General Manager Garuda Indonesian Airways yang mendahului Wiweko Februari 1999, mencatat seorang petinggi Airbus Industrie di bidang penjualan pada waktu diwawancarai memberi pernyataan :
"It was Mr. Wiweko who gave birth to the FFCC. We
are proud that this type of aircraft has come to make use of an idea originating from the mind of a son of Indonesia, combined with new and modern technology, which employs 'push button illuminated switches' and 'digital' system. The two men cockpit has become a reality, and I believe that
this "Garuda Design" could become the choice of many airlines."
Sementara, Wiweko yang dihujani pertanyaan mengenai timbulnya gagasan hingga dapat melahirkan FFCC, menjawab pertanyaan tersebut dengan nada merendah, mengatakan bahwa dia bukanlah penciptanya. Ia sekedar merangkum lalu menyitir ucapan seorang cendekiawan
Perancis yang mengatakan : "Ibarat sebuah
bouquet yang indah, manusia hanya sekedar memetik dan merangkainya. Tuhan-lah yang menciptakan bunganya."
Menjelang akhir tahun 1984 Kompas menugaskan saya ke Zurich memenuhi undangan Wiweko seusai tugasnya sebagai Direktur Utama Garuda Indonesian Airways (di kota Swiss inilah pesawat DC-10 Garuda kala itu dirawat). Setelah dua hari di kota ini menggunakan jet
eksekutif Airbus Industrie, bersama kedua putranya Yanto dan Bodi, serta humas Garuda Bambang Wibisono dan Dick Zwitser, konsultan Belanda, kami terbang ke pabrik Airbus di Blagnac, Toulouse.
"Mr. Wiweko you have the honour to fly the 'Wiweko
Cockpit" ujar Piere Baud, chief test pilot
Airbus saat kami memasuki kokpit pesawat A320, pesawat dua awak
full digital cockpit yang mengambil dasar B4 Garuda. Dengan merendah Wiweko mengatakan bahwa dirinya tidak
bisa menerbangkannya karena hanya rated untuk pesawat A300-B4 FFCC.
Dengan halus ia menolak penghargaan kokpit dua awak disebut sebagai "Wiweko Cockpit." "Kalau mau, sebut saja 'Garuda Cockpit'" ujarnya merendah. Airbus Industrie kemudian memberi nama kokpit tersebut sebagai "Garuda Design."
Tawaran "emas"
UJI COBA - Saat berdiskusi setelah melakukan uji coba RI-X di Madiun./Foto:Dok.Wiweko Soepono
|
Namun yang mengejutkan bagi saya kala memenuhi undangan kehormatan Airbus tersebut, Wiweko Soepono menolak dengan halus kedudukan di Airbus Industrie yang ditawarkan Roger Beteille, Executive Vice President/General Manager Airbus. "Terima kasih penghargaan
yang diberikan, tapi saya orang Indonesia, ingin mengabdikan diri sepenuhnya bagi bangsa Indonesia," ucapnya menolak dengan halus tawaran yang disodorkan kepadanya.
Petinggi Airbus nampak kecewa atas pernyataan Wiweko Soepono. Tidak saja kali itu, sebelumnya, dibuatnya kecewa atas dikembalikannya tawaran membuat kursi lengkap dengan
upholstery (kain pelapis) serta flooring
semua pesawat produksi Airbus Industrie. Industri Pesawat
Terbang Nurtanio ketika itu kurang tertarik atas tawaran "emas" via Wiweko tersebut karena merupakan komponen kategori
low-tech (mungkin pula karena tawaran itu tidak langsung ditawarkan kepada pabrik di Bandung). Jika itu menjadi realitas, sudah pasti industri pesawat terbang di Bandung ini
tidak akan terpuruk dalam badai krisis moneter yang menerpa Indonesia.
Tapi itulah Pak Wiek yang saya kenal. Ia tidak mau disanjung, dibesar-besarkan. Tidak ingin
publicity yang berlebihan. Cukup dikenal pada kalangan terbatas, sehingga ketika saya desak bahan untuk menulis artikel mengenai prestasinya terbang trans-Pasifik seorang diri dari
pabrik Beechcraft di Wichita via Oakland, AS (7 Des), ke Jakarta dengan pesawat mesin ganda baling-baling Beechcraft Super H-18 Desember 1965, Wiweko setengah 'mengancam':
"If you write it, you are not my friend anymore."
Penerbangan terpanjang dengan Samudera Pasifik menghampar sepanjang penerbangan adalah dari Oakland ke Honolulu, Hawaii (9 Des) prestasi yang pernah dicetak oleh Emilia Earhart di tahun 1930-an ketika ia terbang simulasi Hawaii Oakland dalam upayanya keliling dunia
yang gagal dengan pesawat Lockheed Vega. Penerbangan lanjutannya dengan lautan membentang sepanjang perjalannya adalah Hawaii - Wake Island (10/11 Des). Pesawat mampir di Wake Island untuk mengisi bahan bakar, lalu Wiweko melanjutkan penerbanganya menuju Guam (12 Des).
Karena tangki bahan bakar di perut pesawat yang didisainnya tidak bisa mendukung penerbangan langsung Guam Jakarta, Wiweko singgah di Manila, Pilipina (13 Des) untuk isi bahan bakar dan tidur semalam. Keesokan harinya (14 Des), lepas landas pukul 07.25 pagi dari Manila ia terbang
langsung dan mendarat pukul 11.30 siang di Jakarta.
Asal mula prestasi itu dicetak memang tidak direncanakan sebelumnya. Dalam mengisi kegemarannya dengan pesawat terbang, sepulangnya dari belajar di Amerika memperdalam ilmu ekonomi di Berkeley University, California, Wiweko pernah terbang
crop dusting menyemprot tembakau di perkebunan PPN di sekitar Medan. Kemudian pernah memimpin unit penerbangan Bank Indonesia untuk mengantar uang ke cabang-cabang BI di seluruh Indonesia, karena selalu tidak terangkut oleh pesawat Garuda Indonesian Airways.
One pilot operation
Bank Indonesia kemudian menugaskan Wiweko menjajagi pembelian pesawat Beechcraft Super H-18. Dengan pabrik Beech Aircraft Corporation di Wichita, Kansas, Wiweko mengusulkan agar pesawat Super H-18 mempergunakan sistem intergrity untuk one pilot operation.
Usulan Wiweko diterima, disain dibuat dan pesawat diproduksi. Pembelian dilakukan dan untuk membuktikan kepada dunia bahwa sistim tersebut dapat diandalkan, Wiweko Soepono menerbangkan sendiri pesawat tersebut dari Wichita ke Jakarta. "Dasar
integrity untuk one pilot operation saya
jadikan dasar dari disain two-man cokpit pesawat badan lebar Airbus 300-B4," Pak Wiek menjelaskan kepada saya.
Berulang kali 'ancaman' itu ia lontarkan bila didesak. Berulang kali pula Pak Wiek menyebutkan kepada saya : "Ïtu tidak penting," ujarnya merendah tentang prestasi spektakuler tersebut. Dalam sejarah penerbangan, belum ada tercatat seseorang terbang solo dari benua Amerika ke
Asia. Wiweko-lah yang pertama.
Dari pengalaman terbang solo Wichita-Jakarta inilah sewaktu mendapat kesempatan mengikuti ujicoba terbang pesawat A300 tahun 1977, timbul ide
two-man cockpit. Pilot uji Captain Piere Baud memegang kendali pesawat, kecuali Wiweko Soepono, ikut dalam penerbangan para
pejabat teras dan teknisi Airbus Industrie. Dalam pengamatan dan penelitian singkat selama penerbangan, ia menyimpulkan bahwa beban pekerjaan awak kokpit sangat minim. Rancang pesawat yang canggih tersebut, banyak mengurangi beban kerja
(work load) mereka.
Wiweko tidak menyembunyikan kekaguman atas kecanggihan pesawat yang dikemudikan ketika Piere Baud memberi kesempatan padanya menerbangkan A300.
"Who is he?" Wiweko tiba-tiba menyeletuk.
"He is the flight engineer," jawab Piere Baud. Rupanya selama penerbangan, Wiweko memperhatikan flight engineer yang selama penerbangan tidak (banyak) bekerja. Setelah mendarat, ia menghampiri Roger Beteille dan mengutarakan pendapatnya bahwa dengan sedikit
mengubah layout cockpit-nya, A300 akan dapat dikemudikan oleh dua awak, tanpa flight engineer.
"Are you serious?" tanya Beteille kepada Wiweko disaksikan oleh Captain Piere Baud. Empat tahun kemudian apa yang dibicarakan oleh Wiweko Soepono, Roger Beteille dan Piere Baud tersebut, menjadi kenyataan sejarah mencatat pesawat badan lebar pertama dunia diawaki oleh
dua orang, A300-B4 lahir.