BAPAK AEROMODELLING - Sejumlah predikat melekat pada dirinya, salah satunya ialah Bapak Aeromodelling Indonesia./Foto:Dok.Wiweko Soepono
|
Salman Hardani mencatat, dunia penerbangan dibuatnya gempar penuh dengan suara pro dan kontra atas kejutan yang dibuat oleh Garuda Indonesian Airways dan Airbus Industrie. Nadanya banyak yang menentang, termasuk di Indonesia. "Mungkin karena FFCC lahir dari
pemikiran seorang Wiweko, sehingga pesawat besar yang hanya dikemudikan dua orang akan sangat membahayakan penumpang," pernah ia utarakan kepada saya.
Media massa Indonesia ikut pula latah: "Jangan nyawa penumpang dijadikan kelinci percobaan!"
Reaksi yang paling keras datang dari persatuan pilot Belanda. Asosiasi tersebut mengajak para rekan penerbang negara tetangganya untuk mengikuti jejaknya. Sebuah harian di Hilversum tanggal 6 September 1979 menurunkan berita dengan kops besar-besar mengecam two-man
cockpit yang diprakarsai Garuda. Antara lain ditulis: Perusahaan inilah yang meminta kepada Airbus Industrie untuk melihat kemungkinan sampai dimana pesawat A300 dapat dikendalikan hanya oleh dua orang awak kokpit. Pekerjaan Ko-pilot bertambah dengan tugas juru mesin udara dan Captain
akan mengerjakan sebagian dari tugas Ko-pilot.
Begitu gencarnya kecaman terhadap awal kehadiran pesawat badan lebar two-man cockpit ketika itu, tapi dengan melajunya teknologi serta perkembangan pesat dunia, tidak saja pesawat badan lebar Boeing yang semula ikut keras menentangnya, kini menerapkan 'Wiweko
Cockpit' pada pesawat jumbojet 747!
Pengarang buku Jane's Book John W.R. Taylor yang saya temui di hotel Sari Pacific Jakarta, menulis mengenai kokpit dua awak Wiweko dalam artikel
"Wings of the Third World" di buku
Jane's Aviation Review antara lain menulis:
"For years airline pilots organisation have tried to convince their employers and the licensing authorities, that three pilots are essential on the flight deck, to ensure the safe, efficient operation of a big jet."
"That the old English author of country books, A. Street, always claimed that one boy on a farm does a boy's work, whereas two boys do half of boy's work, and three do no work at all. "
"Nobody would pretend that such a scurrilous view applies also to triplicated drivers of aircraft, but there is little to suggest that third pilot makes flying safer. With this in mind, and with long experience as transport pilot, influencing his thoughts, at least as much as did his presidency
of Garuda, Mr. Wiweko, envisaged what is now as the forward facing crew cockpit."
Kekagumannya terhadap Wiweko juga Taylor tuangkan dalam surat kepada Marsekal Muda (Purn) RJ. Salatun dalam suratnya tertanggal 9 viii 86 antara lain ia menulis:
"At the moment, I am helping with one or two projects at the Guild's London office and, while there recently, we spent
a time on discussing the pros dan cons of two-man flight decks on large airliners."
I told them of my friendship with Mr Wiweko,
the inventor of the two-man flight deck. They asked if I thought he might, one day, have the time either to give a talk on the subject to members of the Guild in London, or, perhaps, discuss the subject with their Technical Committee.
If I am unlikely to meet him at Farnborough, do you think you could ask him on my behalf? I know this would be appreciated by the Guild, as the subject is of such great importance to all its senior airline members."
Sahabat kentalnya setelah almarhum Nurtanio Pringgoadisurjo, Marsekal Muda (Purn) RJ. Salatun
trio muskeeter udara Indonesia yang ikut melepas Wiweko Soepono ke tempat peristirahatan terakhirnya, pernah menyebutkan kepada saya bahwa keberhasilan Wiweko
membangun sebuah flag carrier yang paling besar di belahan Bumi Selatan, merupakan suatu prestasi yang gemilang lainnya.
Selain prestasi tersebut, dalam wawancara tahun 1995 Salatun menjawab pertanyaan saya tentang pertama kali mengenal Wiweko 49 tahun silam sebagai berikut : "Suatu pagi hari di awal bulan Februari 1946, saya baru beberapa hari bekerja di Markas Tertinggi Tentara Keamanan
Rakyat (TKR), Jawatan Penerbangan, di Jalan Terban Taman No. 1, Yogyakarta karena diajak Nurtanio Pringgoadisurjo, datanglah seorang pemuda dari Bandung yang tinggi, kurus, memakai celana pendek dan berbahasa Belanda. Dialah Wiweko Soepono, sosok pencinta keudaraan."
Bapak aeromolling
Mereka segera menjadi akrab karena sama-sama pencinta keudaraan dan berlangganan majalah yang sama
Vliegwered (Dunia Penerbangan). Kontak pertama kedua tokoh dirgantara adalah saat Nurtanio mengirim surat kepada Wiweko sebagai pendiri merangkap pengurus
Bandungsche Jongen Luchtvaart Club. Sehingga tidak berlebihan apabila predikat Bapak Aeromodelling Indonesia melekat padanya.
Pada kaitan ini, Wiweko pernah memperlihatkan kepada saya sejumlah design plan model pesawat yang ia buat ketika masih duduk di sekolah menengah (1936-1941). Juga foto-foto yang disimpan rapi, empat cetakan duplikatnya dengan sebuah foto pesawat RI-X pesawat ringan
ia rancang dan terbang pertama kali 27 Oktober 1948 ia berikan kepada saya.
Dalam zaman Belanda, hanya segelintir orang Indonesia yang berkecimpung dalam dunia dirgantara. Dari segelintir itu, selain Komodor Udara Adisutjipto almarhum yang menjadi orang pertama menerbangkan pesawat Cureng berbendara Merah-Putih, almarhum Nurtanio dan
Wiweko termasuk segelintir manusia langka tersebut.
Duo Nurtanio-Wiweko akhir tahun 1946/awal tahun 1947 berhasil membuat pesawat luncur NWG-1 (Nurtanio-Wiweko Glider) jenis "Zogling" yang berjasa dalam seleksi calon siswa penerbang yang kemudian dididik di India. Sampai zaman globalisasi dan internet sekarang,
pesawat terbang layang tersebut belum ada tandingan dalam segi keistimewaannya 100 persen dibuat dari bahan-bahan yang tersedia di dalam negeri.
"Kayunya saya cari di Tretes," Wiweko pernah cerita kepada saya tentang enam pesawat terbang layang NWG-1 yang dibuat semasa berpangkat Opsir Udara III bersama Opsir Muda Udara II Nurtanio Pringgoadisurjo.
Biro Rencana dan Konstruksi AURI yang dipimpinnya, berhasil pula memodifikasi pembom
Guntei peninggalan Jepang, menjadi pesawat angkut dalam upaya untuk mempersiapkan bila sewaktu-waktu didirikan penerbangan niaga atau penerbangan komersial yang kita kenal
sekarang. Sekitar tiga tahun kemudian, di Burma (Myanmar) visi Wiweko menjadi kenyataan ia mendirikan maskapai penerbangan Indonesian Airways, membuka lembar pertama era penerbangan sipil/niaga Indonesia. Wiweko pun tidak pernah mimpi bakal memimpin Garuda Indonesian Airways
(1968-1984), dimana di tapuk tangannya, menjadi flag carrier paling besar di belahan Bumi Selatan yang disebut Salatun.