BERSAMA BUNG KARNO - Wiweko Soepono ketika menerbangkan Presiden Soekarno dengan helikopter Hiller 360./Foto:Dok.Dispen AU
|
Wiweko tidak berhenti di glider, ia kemudian merancang dan membuat pesawat ringan WEL-1 (Wiweko Experimental Lightplane) dengan registrasi RI-X, yakni pesawat ultraringan yang muncul beberapa dekade lebih dahulu sebelum pesawat jenis itu membanjiri dunia.
Pesawat kursi tunggal RI-X dibuat Wiweko saat berusia 25 tahun pada tahun 1948, ditenagai mesin sepedamotor bekas Harley Davidson 750 cc. Meski saya tidak
"involved" langsung seperti Pak Salatun dalam pembuatan replika WEL-1 RI-X pada tahun 1981, namun Wiweko secara
rutin mengajak saya ke Jalan Kowara, Bandung menemui almarhumYum Sumarsono sahabat lamanya yang juga maniak dirgantara dan mengikuti perkembangan membuat pesawat replika tersebut. Di sebuah garasi Jalan Kowara itulah replika WEL-1 dibuat kemudian dimuat dalam perut jet
F-28 diterbangkan ke Lanud Iswahjudi Madiun untuk uji-terbangnya sebelum diserahkan kepada museum dirgantara Yogyakarta dan replika lainnya mengisi museum Satrya Mandala Jakarta.
Seperti telah saya sebutkan di atas, sejarah mencatat karya lain Wiweko Soepono dalam masa perang kemerdekaan adalah kiprahnya dengan Indonesia Airways yang ia didirikan di Myanmar 29 Januari 1949. Kegiatannya di Myanmar meletakkan landasan dasar penerbangan niaga
yang kita kenal sekarang. Tanggal pendirian tersebut di kemudian hari dijadikan harijadi Garuda Indonesia.
Sejarah juga mencatat, bersama awak pesawat DC-3
Dakota RI-001 "Seulawah" (pesawat hasil sumbagan rakyat Aceh) Indonesian Airways, Wiweko berhasil dua kali menembus blokade udara Belanda, menyelundupkan senjata, peralatan komunikasi dan obat-obatan dari Myanmar
ke Pangkalan Udara Lhok Nga dan Pangkalan Udara Blang Bintang, Aceh.
Korupsi
"Tidak hanya zaman sekarang, tapi sejak dini zaman perjuangan korupsi sudah terjadi. Saya hanya menerima setengah dari dana sumbangan pembelian pesawat Dakota," ungkap Wiweko kepada saya dalam bincang-bincang di kantor pusat Garuda di Jalan Juanda. Itulah sebabnya
saat memegang kendali Garuda Indonesian Airways, Wiweko sangat ketat dalam menangani lalu lintas keuangan Garuda kran-kran yang mungkin terjadi kebocoran, ia segel mati. Sehingga sewaktu ia dilengserkan Presiden Soeharto, di Chase Manhattan Bank, Garuda memiliki 108 juta dollar
AS dalam bentuk tunai diluar dana taktis 4 juta dollar.
Sambil menggunting-gunting bekas kertas catatan dan fotokopi yang tidak diperlukan lagi (ia tidak menggunakan shredder) dan duduk bersila dengan kaki telanjang di kursi, Wiweko menunjukkan fotokopi dari jumlah dana yang diterimanya 60.000 straits dollar. Padahal
seharusnya yang diterima adalah sebesar 120.000 straits dollar, sesuai dengan tanda terima uang wesel. Tapi kenyataan setelah wesel tersebut diuangkan, Wiweko tidak menerima jumlah tersebut. Meski jumlahnya sudah disunat, DC-3 Dakota berhasil ia peroleh di Siam (Thailand sekarang) menjelang
akhir tahun 1948.
Dari sebuah Dakota, ia berhasil mengadakan dua C-47 (DC-3 versi militer) tambahan, salah satu RI-007 kemudian disumbangkan kepada pemerintah Burma 31 Oktober 1950 sebagai rasa terima kasih pemerintah RI selama Indonesian Airways beroperasi di Myanmar.
Berangkat dari pengalaman mengelola maskapai penerbangan di Myanmar dimana laporan keuangan rapi dibuatnya sehingga mampu mengadakan dua pesawat tambahan, secara teratur BUMN Garuda Indonesian Airways di bawah kepemimpinannya menerbitkan buku
Annual Report yang memuat posisi keuangan, rencana pengembangan perusahaan, dan informasi lain yang dapat dipergunakan menganalisa kondisi perusahaan secara menyeluruh.
Empat tahun setelah pegang kendali Garuda, Wiweko berusia 45 tahun saat diangkat Presiden Soeharto, berhasil membawa flag carrier Indonesia memasuki pasar modal internasional Garuda mendapat pinjaman komersial oleh sebuah konsorsium bank yang dipimpin oleh The
Chase Manhattan Bank untuk pembelian sebuah pesawat Douglas DC-9.
"Pinjaman ini sejak awal hingg akhir ditangani langsung oleh Garuda sendiri, tanpa jaminan pemerintah. Sebagai jaminan atas jaminan tersebut adalah pesawat terbang yang dibelinya," Salman Hardani pernah menjelaskan kepada saya.
Pesawat tersebut dibeli pada tahun 1972, yakni tahun kebangkitan Garuda Indonesian Airways di bawah kepemimpinan Wiweko Soepono. Pesawat kemudian diberi nama "Serayu" oleh Wiweko, sebuah sungai yang mengalir di sepanjang tanah leluhurnya, Banyumas.
Dari sebuah DC-9 kemudian dengan cara menghimpun pendapatan demi pendapatan untuk memperkuat keuangan perusahaan, armada bertambah menjadi 24 Douglas DC-9, 36 Fokker F-28 menjadikan Garuda operator terbesar F-28 dunia, empat jumbojet Boeing 747-200 dan
enam pesawat badan lebar Douglas DC-10 serta sembilan Airbus A300-B4.
AIRBUS - Wiweko Soepono setelah menerbangkan Airbus A300./Foto:Airbus Industrie
|
Sementara menjawab pertanyaan bagaimana cara Garuda Indonesian Airways merekrut 500 pilot yang dibutuhkan untuk mengisi armadanya, Wiweko menjelaskan kepada
Flight International : "You throw out the union, put young pilots with commercial license (but little experience) on
to F-27 flying freight. Promotion then follows rapidly. Wiweko says, that if there were an Indonesian Pilots' Union, Garuda would still have 150 expatriot pilots. His decision to become the launch customer for two crew A300 was part of a determined attempt to make local pilots go further."
Karena prestasinya itulah, Wiweko "diburu" wartawan nasional maupun internasional, antara lain oleh
Dee Mosteller dari Air Transportation
World yang menulis: "In 12 years under Wiweko's unrelenting, no compromise policies, Garuda has grown into the second largest airline, in
terms of fleet size, in Asia (JAL is first). It has an enviable financial position."
Sementara Raphael Purra dari Asian Wallstreet
Jounal (14/3/1980), khusus mengenai Wiweko ia antara lain menulis:
"He has won a maverick's reputation as one of the country's most controversial civil servants. An exacting taskmaster who brooks no interference in Garuda's
management, he has delivered the goods by insisting that Garuda pays its own way, shocking passengers with full fares for no frills transport, and plowing every rupiah profit into relentless expansion program.
"People call him stubborn, proud, and aloof, an autocrat who runs the national airline as his personal
fiefdom," tulis Purra. Memang dengan berpanampilan cenderung
arrogant, Wiweko mengundang pertanyaan apakah keberhasilannya mengelola Garuda yang tidak segan
menentang arus, karena latar belakang berpendidikan Barat di masa remajanya?
"Kenyataannya memang orang Barat lebih mudah mengenal watak dan kepribadiannya daripada orang Indonesia," Salman Hardani pernah menjelaskan. Mengenai ini, Wiweko menyangkal keras prasangka tersebut ia menguraikan bahwa pendidikan Barat yang sempat
dienyamnya, hanyalah sekadar sarana mempertajam berfikir, sebagai pelengkap.
"Saya diasuh dalam lingkungan keluarga Jawa yang menempatkan nilai moral di atas kebendaan. Semenjak kecil saya telah diakrabkan dengan rasa kebangsaan dan cinta Tanah Air. Rasa ini masih teguh karena ditempa oleh perjuangan kemerdekaan di tahun 1945. Inilah yang
membentuk watak dan kepribadian saya," ujar Wiweko (yang lahir 18 Januari 1923 di Blitar).
Pribadi keras Wiweko, pemegang 10 pilot
license mulai dari helikopter Hiller 360 sampai
rating pesawat badan lebar Airbus A300, pernah kami RB Sugiantoro dan saya hadapi sebagai wartawan
Kompas pada awal tahun 1980 akibat ia dibuat "berang" oleh kata 'sang direktur'
dalam berita Kompas mengenai aksi "resah" yang dilancarkan oleh para pilot muda Garuda yang menunjukkan sikap anti-Wiweko.
Setelah berjam-jam "dikuliahi," Wiweko mereda kemudian membeberkan kunci suksesnya memimpin Garuda Indonesian Airways. "Kuncinya adalah daya pemupukan modal," ungkapnya.
Robby Sugiantoro dalam berita yang ditulisnya keesokan harinya antara lain menulis: "Menurut pendapat Wiweko Soepono, perusahaan model yang diperlukan negara berkembang seperti Indonesia adalah perusahaan yang selalu berusaha meningkatkan daya pemumpukan modalnya.
"Dalam perusahaan semacam itu, diperlukan adanya sikap keprihatinan yang wajar dan semangat perjuangan, sekalipun tidak perlu ekstrim atau berlebih-lebihan dalam
austerity akan sikap hematnya. 'Yang penting adalah kebutuhan-kebutuhan dasar terpenuhi secara wajar. Jangan
dulu dipentingkan wants atau keinginan-keinginan ekstra' tegas Wiweko.
"Karena menurut visinya, sikap yang terlalu mementingkan wants itu, pada akhirnya dapat merongrong atau bahkan mengerosi modal dasarnya sendiri. Diibaratkan misalnya, jika masyarakat hanya menikmati hidup dengan tingkat konsumsi tinggi seperti di luar negeri dengan
dibiayai dana minyak dan melupakan pemupukan modal, maka pada akhirnya modal dasar itu akan habis. Lalu kita mau ke mana, tanya Wiweko."
Mungkin hanya suatu kebetulan
(co-incidence) saja, dengan perginya Wiweko Soepono, pesawat
two-man cockpit Airbus A300-B4 juga "menghilang" dari armada Garuda Indonesia dijual. Apakah tidak sebaiknya, salah satu diantaranya dipertahankan, dijadikan museum
terbang sebagai pesawat badan lebar pertama dunia diawaki oleh dua pilot guna mengenang pengagasnya, Wiweko Soepono, putra Jawa Timur yang lahir di Blitar 77 tahun silam di tempat yang sama Anthony Fokker, pembuat pesawat Fokker dan Bung Karno lahir.
(Dudi Sudibyo)