ANGKASA N0.1 OKTOBER 2000 TAHUN XI  

Bapak Two-man Cockpit Telah Tiada (1)

Bapak Two-man Cockpit Telah Tiada (2)

Bapak Two-man Cockpit Telah Tiada (3)

Jumat Itu, Dia Pergi...


  Laporan Utama
Aerobatik
Cakrawala
Ekonomi
Fenomena
Kolom
Kokpit
Kisah Nyata
Lukisan Dirgantara
Lobi
Militer
Notam
Ordirga
Origami
Opini
Profil
Peristiwa
Seabad Kedirgantaraan
Siapa-siapa
Teknologi

Rate our site
@ SearchIndonesia

 
KISAH NYATA  

Jumat Itu, Dia Pergi...

Marsda (Purn) RJ Salatun, seperti biasa mengisi masa sepuhnya dengan beristirahat di rumah. Apalagi bila tidak ada acara yang mengharuskan dia pergi, maka ia lebih senang tinggal di rumah sambil membaca atau mengerjakan sesuatu. Begitu pula pada Jumat, 8 September 2000. Tidak ada yang aneh atau luar biasa dalam hari-harinya. Hingga selepas melaksanakan shalat Jumat, kabar sesuatu yang menghentak tentang sobat karibnya keterima juga.

"Ibu Siwi Siswani (istri mendiang Petit Muharto Red) yang menelepon saya," cerita Salatun kepada Angkasa. "Isi kabarnya, Wiweko telah berpulang pukul 11.30 di Rumah Sakit St.Carolus."

Salatun meletakkan gagang telepon. Sejenak ia tertegun. Teringat beberapa hari lalu, saat ia menjenguk Wiweko di St Carolus. Wiweko memang menderita prostat. "Tapi saat terakhir itu ia terlihat segar dan sudah bisa berjalan-jalan di halaman kamar rumah sakit," ujar Salatun.

Belum lagi beranjak dari meja telepon, terbayang pula oleh Salatun kenangan di suatu hari tanggal 21 Maret 1966. Hari itu Wiweko menelepon dirinya. Mengabari kalau Nurtanio gugur dalam kecelakaan pesawat. " Pak Wiweko mengajak saya berangkat hari itu juga dengan pesawat Beechcraft 18D yang ia terbangkan sendiri. Di dalam pesawat dengan sedih dia bilang pada saya: Tun, sekarang kita tinggal dua-an," ujar Salatun menirukan perkataan Wiweko.

Begitulah, manusia memang harus berpulang. Tidak ada kekuasaan apapun bila Sang Khalik telah memanggil. Sama seperti ketika dia menciptakan kita dulu, tidak ada kekuasaan jua yang dapat menolaknya, melainkan Sang Khalik itu sendiri.

Banyak pelayat

Lewat pukul dua siang, Salatun tiba di rumah almarhum di Jl Cianjur 24, Jakarta Pusat. Rumah almarhum sudah penuh dengan para pelayat. Begitu pula di halaman depan rumah, berjejer bunga tanda belasungkawa. Para mantan dan jajaran direksi Garuda Indonesia tampak hadir disana. Begitu pula rekan-rekan dekat yang pernah mengenal mendiang semasa hidupnya. Marsda Purn M Sujono, Letjen Purn Kemal Idris, Kardono (mantan Dirjenhubdaryang juga mantan murid Wiweko saat masih di AURI), Hertriono, dan wartawan senior Rosihan Anwar terlihat disana.

Angkasa yang juga ada disana mengamati, suasana duka begitu terasa menyelimuti rumah seorang putra bangsa yang telah berjasa membesarkan Garuda itu. "Raut muka jasadnya sangat tenang," ujar Salatun.

Wiweko Soepono, meninggalkan tiga orang putra. Dan pada saat hari duka itu, Yanto anak tertuanya masih berada di Bali. Sementara Bodi dan Nina sudah berada disamping jasad. Kedatangan Yanto sangat jadi penentu, jenazah akan segera dikebumikan atau disemayamkan hingga esok harinya.

Saat Yanto tiba waktu menunjukkan pukul tiga lewat. Dengan tenang ia menatap raut ayahandanya untuk kali terakhir. Waktu yang makin menjelang petang akhirnya tidak lagi memungkinkan untuk dilaksanakan upacara pemakaman militer bagi Wiweko.

Pukul 17.00 petang, jenazah dikembumikan dengan khidmat dan sederhana di pemakaman umum Jeruk Purut, Cipete, Jakarta Selatan. Persis disamping makam istri tercinta, Siti Aminah (Mieke) Wiweko yang telah mendahuluinya, tahun 1998.

Suka keheningan

"Pak Wiweko itu orangnya senang menyendiri. Bahkan saking suka keheningan dia tidak suka mendengar suara musik. Bila dia sedang diam sendiri, lalu mendengar suara musik, maka ia merasa terganggu," cerita Salatun lagi.

Senada yang dikatakan Salatun, Lumenta, Dirut Garuda yang menggantikannya bertutur saat berjumpa dengan Angkasa di lain kesempatan. "Pak Wiweko pernah sekali waktu mengajak saya ke rumahnya di Jl. Minangkabau, Jakarta Selatan. Lalu katanya: Lumenta, lihat kesini. Saya punya sebuah ruangan kecil yang sengaja saya buat dengan warna gelap. Di ruangan ini saya menyendiri," cerita Lumenta mengenang Wiweko.

Yang diingat Lumenta, ruangan itu memang lain. Lebih menyerupai sebuah 'sel'. Lalu, Wiweko diam disitu tanpa ingin diganggu. Bisa hari Sabtu atau Minggu, atau di hari-hari libur saat dia ingin melakukannya. "Lebih semacam bersemedi, hingga dia bisa berhari-hari di situ" tambah Lumenta. Apakah dia tidak makan? "Ada orang yang mengantar makanan buatnya. Tapi setelah itu dia kembali menyendiri. Semacam berkonsentrasi."

Salatun, luput soal yang satu ini walau ia tahu bahwa Wiweko memang suka melakukan semacam mengkonsentrasikan pikiran. "Oh, rupanya dia itu memang benar-benar punya cara yang dia sendiri tidak mau diganggu untuk mendalamkan konsentrasinya," komentar Salatun kemudian.

Ada lagi yang diingat Salatun soal kawan dekatnya itu. "Sekali waktu Pak Wiweko pernah bicara lantang. Soalnya sebenarnya sederhana. Dia memang tidak suka keberisikan. Suatu kali dia marah mendengar suara adzan yang agak keras. "Tuhan kan Maha Besar, seharusnya yang adzan itu tidak teriak-teriak," katanya.

Tapi, Salatun pun mendapat cerita dari perawat yang merawat Wiweko di rumah sakit. Ketika Wiweko menghembuskan nafasnya yang terakhir, putra bangsa itu berulang-ulang membaca takbir. "Kalau benar demikian, berarti beliau itu mati syahid," ujar Salatun. Wallahuallam. (ron)



Laporan Utama | Aerobatik | Cakrawala | Ekonomi | Fenomena | Kolom | Kokpit | Kisah Nyata | Lukisan Dirgantara | Lobi | Militer | Notam | Ordirga | Origami | Opini | Profil | Peristiwa | Seabad Kedirgantaraan | Siapa-siapa | Teknologi |

Copyright © 1998 Majalah Angkasa. All rights reserved
Designed by
Kompas Cyber Media