Mamoru Mohri, banner Lapan, dan Menristek AS Hikam./Foto: Dok.Lapan
|
Astronot pesawat ulang-alik Endeavour asal Jepang, Dr Mamoru Mohri, mengungkap keinginannya agar negara-negara Asia bisa
berkolaborasi dan bekerja-sama di ruang angkasa. Hal ini penting mengingat hingga saat ini bangsa-bangsa Asia belum bisa memanfaatkan antariksa
seoptimal mungkin, seperti yang ditunjukkan lewat kolaborasi Eropa dan kolaborasi AS-Rusia.
"Sebagai wakil Asia yang beruntung bisa mendapat kesempatan ikut program ulang-alik AS, saya benar-benar ingin agar pada suatu saat
nanti negara seperti Korea, Thailand, dan Indonesia bisa bersatu dan berkolaborasi di sana," ujar Mamoru Mohri kepada
Angkasa usai memberi ceramah ilmiah awal September lalu di BPPT, Jakarta.
Selain memberi ceramah keantariksaan, dalam kunjungannya ke Indonesia, secara khusus Mohri juga mengembalikan
banner Lapan yang dibawanya dalam misi Space Shuttle Endeavour STS-99, Februari lalu, dalam bentuk
Official Flight Kit. Seperti dikatakan kepada
penerimanya, Menristek AS Hikam dan Ketua Lapan Mahdi Kartasasmita, serta kepada para hadirin yang umumnya adalah ilmuwan BPPT dan Lapan,
dibawanya banner itu adalah simbol perhatian Jepang terhadap tetangganya di Asia.
Di lain pihak, Mahdi Kartasasmita sendiri mengungkap bahwa perhatian Jepang terhadap Indonesia tak sebatas kepeduliannya membawa
banner Lapan. Negara ini sudah sejak lama ikut melibatkan diri serta membantu upaya pemanfaatan satelit penginderaan jauh di Indonesia. Diantara
yang terbaik adalah bantuan berupa fasilitas penerima dan pengolah data satelit JERS-1 yang sejak beberapa tahun lalu ditempatkan di Stasiun Bumi
Pare-pare, Sulawesi Selatan. Selain itu atas sponsor badan ruang angkasanya, NASDA, negara ini juga mendukung penuh upaya penelitian ozon di
Indonesia.
Dalam kaitan STS-99 sendiri, Mohri mengisahkan, misi sembilan hari sembilan jam yang diikutinya sesuai rencana telah berhasil
membawa pulang data topografi tiga dimensi yang amat berharga dari hampir seluruh permukaan Bumi. Data yang terekam dalam 330 kaset ini adalah
hasil bidikan radar topografi buatan Jet Propultion Laboratory-NASA, bekerjasama dengan Badan Pemetaan AS (NIMA), DLR-Jerman, dan Badan
Ruang Angkasa Italia.
Dari Shuttle Radar Topography Mission STS-99 ini, mingguan
Aviation Week & Space Technology (21/2/00) mengungkap, selain
untuk pemantauan lingkungan dan sumber daya alam dan pemetaan ruang; data tiga-dimensi yang amat akurat tersebut selanjutnya akan pula
menjadi pegangan penting untuk kepentingan operasi intelijen. Manusia baru berhasil mendapatkannya setelah 500 tahun melakukan upaya-upaya pemetaan.
Itu sebabnya, harus diakui, "Tak ada satu pun unit dalam Angkatan Bersenjata AS yang tak diuntungkan dengan misi ini," demikian
Direktur NIMA, Letjen James C. King, seperti dikutip AWST.
Mohri yang Spesialis Misi STS-99 adalah doktor ilmu kimia lulusan Universitas Flinders, Australia. Pada tahun 1985, atas promosi
NASDA, dirinya terpilih sebagai Payload
Specialist untuk proyek penelitian material dan mikro-gravitasi
Spacelab-J. Ia kemudian bergabung dengan
pusat pelatihan astronot ulang-alik pada 1996 dan dua tahun kemudian dipercaya NASA menjadi
Mission Specialist. Selain beruntung menjadi awak
ulang-alik, ia juga terpilih menjadi salah satu dari delapan astronot Jepang yang akan diikutsertakan dalam Stasiun Ruang Angkasa Internasional.
(adr)