|
| |
 | LAIN-LAIN
|
|
Koharmatau:
Merawat Rudal dan Senjata Sendiri
KALIBRASI - Urusan perawatan rudal secanggih Maverick juga jadi kewajiban Koharmatau./Foto:Angkasa/Sumardjo
|
Untuk mengetahui kemampuan para penerbang TNI AU khususnya pesawat tempur, adalah melihat dari hasil latihan yang selalu diadakan secara teratur khususnya di masa damai, dan hasil serangan udara di saat operasi militer. Pada zaman perjuangan fisik beberapa
puluh tahun silam, kita bisa mengetahui kemampuan para penerbang bomber B-25/B-26 dan pemburu P-51
Mustang dari hasil serangan udara yang dilakukan di berbagai tempat di Tanah Air dalam menumpas beberapa macam pemberontakan atau saat merebut Irian Barat.
Contohnya suksesnya beberapa penerbang AURI menghancurkan landasan dan beberapa pesawat Permesta di Lapangan Terbang Mapanget dan Tosuka, merusak porandakan landasan Morotai tahun 1958, serta keberhasilan penerbang bomber B-25 Pedet Soedarman membom kapal
perang Belanda sampai terbakar dan menewaskan beberapa serdadunya di Pulau Gag, Irian Barat tahun 1962.
Dalam rangka meningkatkan kemampuan pesawat, persenjataan, penerbang, awak pesawat, personil dan alat pendukungnya, TNI Angkatan Udara melancarkan program siklus latihan tembakan udara darat yang berulang tiap tiga atau empat bulan selama dua
minggu di berbagai tempat yang telah ditentukan. Beberapa medan latihan penembakan udara - darat yang sudah sering digunakan, antara lain Siabu (Pekanbaru), Pangkalan Susu (Medan), Air Strip Buding (Tanjung Pandan, Belitung), Mangole (Kendari), Pandanwangi
(Lumajang), Pulung (Ponorogo), dan Rambang (Lombok Timur). Terakhir latihan dilaksanakan Agustus lalu di Rambang, 70 km dari Lanud Rembiga (Lombok Barat) disaksikan Kasau Marsekal TNI Hanafie Asnan, sejumlah pejabat TNI AU dan undangan. Pesawat yang dikerahkan dua
F-16 Fighting Falcon langsung dari Lanud Iswahyudi pulang pergi menembakan beberapa rudal
Maverick berhulu ledak 135 kg dan bom Mk-82, tiga Hawk Mk-53 dari Lanud Ngurah Rai pulang pergi menembakkan roket FFAR
(Fin Folding Air Rocket) high speed Mk-54
dan menyemprotkan peluru 30 mm Agen Gun. Sedang tiga OV-10
Bronco take off dan landing dari Lanud Rembiga menyiramkan peluru senjata mesin ringan kaliber 12,7 mm. Gladi penembakan udara - darat ini tambah seram dengan tampilnya tiga F-5
Tiger II langsung dari Lanud Iswahjudi pulang pergi, terbang melakukan perlindungan udara
(air covering) pada ketinggian 25.000 kaki.
Latihan menembakkan rudal, bom, roket dan senjata mesin ringan, tidak hanya mencoba senjata itu masih laik digunakan dan masih tajam atau tidak. Tetapi lebih dari itu juga melatih sumber daya manusianya baik para pilot itu sendiri, kesiapan dan ketangkasan
para ground crew mendukung latihan operasi udara, peralatan pendukungnya, juga anggota lanud yang terlibat. Dengan demikian manakala suatu saat melakukan operasi udara betul, sistem yang terdiri dari beberapa satuan tugas sudah siaga semua siap melaksanakan
sebaik-baiknya.
Masyarakat awam pada umumnya menganggap keberhasilan latihan penembakan udara karena hebatnnya pilot, canggihnya pesawat dan senjata atau peluru kendali (rudal) yang digunakan. Namun jika disimak lebih jauh, suksesnya latihan penembakan udara -
darat berkat keberhasilan kerja keras suatu sistem, yang melibatkan beberapa satuan tugas, didukung latihan-latihan dan perawatan alat utama sistim senjata (alut sista) udara beberapa waktu sebelumnya. Yang dimaksud beberapa satuan tugas antara lain skadron udara
pesawat tempur, transport, helikopter, anggota beberapa Pangkalan TNI AU (Lanud) beserta fasiltasnya dan Komando Pemeliharaan Materiil TNI AU (Koharmatau).
Pesawat transpor mengangkut peralatan yang digunakan untuk mengoperasikan pesawat tempur beserta para teknisinya, pejabat dan undangan serta personil pendukung. Latihan ini melibatkan cukup banyak personil dari lanud yang ditempati latihan dan
beberapa lanud yang memberangkatkan pesawat-pesawat yang terlibat dalam latihan. Sedang helikopter disiagakan untuk tugas-tugas SAR dan lainnya.
Kemampuan merawat
PERAWATAN SIDEWINER - Rudal udara ke udara pencari panas AIM-9 Sidewinder juga dirawat oleh Koharmatau./Foto:Angkasa/Sumardjo
|
Salah satu yang paling penting dalam mendukung keberhasilan operasi udara atau latihan serangan udara termasuk penembakan dari udara - darat/laut adalah kemampuan melakukan perawatan alut sista udara mulai tingkat ringan di skadron udara bersangkutan,
tingkat sedang di skadron teknik dan tingkat berat di Koharmatau yangbermarkas di Lanud Husein
Sastranegara, Bandung. Komando Utama (Kotama) ini dalam mengemban tugasnya,
membawahi Depo Har (Pemeliharaan) 10 (pemeliharaan pesawat terbang) di Lanud Husein
Sastranegara, Depo Har 20 (pemeliharaan avionik) dan Depo Har 60 (pemeliharaan senjata dan amunisi) di Lanud Iswahjudi, Depo Har 30 (pemeliharaan pesawat mesin jet) di Lanud Abdulrachman Saleh, Depo Har 40 (pemeliharaan alat bantu navigasi) dan Depo Har 70 (pemeliharaan
peralatan Ground Suport Equipment dan Alat Pemadam Kebakaran) di Lanud Sulaiman, Bandung, Depo Har 50 (pemeliharaan radar) di Lanud Adisumarmo.
Depo Har 60 yang bertugas merawat (memelihara) persenjataan udara dan darat serta amunisi, dalam melaksanakan tugas mempunyai lima Satuan Pemeliharaan (Sathar) yaitu Sathar 61 sebagai tempat pemeliharaan senjata udara/darat, rudal, dan eksternal
store; Sathar 62 merupakan satuan pergudangan persediaan senjata (udara/ darat); Sathar 63 sebagai satuan pergudangan persediaan amunisi termasuk tempat menyimpan rudal, roket dan peluru; Sathar 64 selaku satuan dukungan pemeliharaan materiil senjata dan amunisi, dan
di Sathar ini pula tempat membuat suku cadang perlengkapan amunisi, memproduksi hulu ledak roket praktis dan GSE
(ground sport equipment) non power untuk amunisi dan senjata senjata; Sathar 65 sebagai satuan laboratorium munisi dan melakukan uji kualitas
munisi, melaksanakan kegiatan demolisi materiil senjata dan amunisi. Merawat rudal, roket, bom, senjata mesin ringan dan senjata lainnya, merupakan tugas yang berisiko tinggi. Maka faktor disiplin, keselamatan kerja dan profesionalisme harus dijunjung tinggi atau
diutamakan. Selama ini telah dibuktikan oleh anggota atau para teknisi Depo Har 60 khususnya, Koharmatau pada umumnya.
Apa yang dimaksud merawat senjata tersebut. Di Depo Har 60 ini para teknisi senjata merawat Sistem
Wapon Release (sistim perangkat untuk mengoperasikan senjata); Merawat peralatan untuk memasang senjata, bom dan rudal di pesawat
(external store); Merawat senjata-senjata yangadadi Depo Har 60.
Pada dasarnya tugas perawatan senjata apa saja dan berapa jumlahnya yang dibebankan kepada Koharmatau dalam hal ini Depo Har 60, dapat dikerjakan sesuai target. Tentu saja disertai komponen atau suku cadang yang disediakan untuk perbaikan atau
perawatan senjata tersebut.
BERKALA - Urusan pemeriksaan berkala Sidewinder juga jadi tanggung jawab Koharmatau./Foto:Angkasa/Sumardjo
|
"Tugas pokok Koharmat melaksanakan pemeliharaan tingkat berat Alut Sista udara dan pendukungannya, serta memproduksi materiil untuk keperluan Alut Sista tersebut. Pokoknya sesuai dukungan suku cadang dan anggaran yang disediakan tugas-tugas
yang dilimpahkan kepada Koharmatau akan selesai sesuai waktu yang direncanakan," demikian tutur Komandan Koharmat Marsekal Muda TNI Mashadi Mulyadi, SE didampingi WadanMarsekal Pertama TNI Mahadi SW dan Direktur Pemeliharaan Senjata Bantuan
Koharmat Kolonel Tek Dalil Suhadi di ruang kerjanya di Bandung September lalu kepada reporter
Angkasa.
Bagi Koharmatau, keterbatasan suku cadang merupakan salah satu kendala dalam menyelesaikan tugas-tugas yang dipercayakan. Kurang atau terlambatnya suku cadang yang sering memperlambat tugas-tugas Koharmat termasuk dalam perawatan senjata udara
dan darat. Dalam hal fasilitas dan peralatan unt uk perawatan, selama ini masih cukup memadai dan baik, dapat merawat alut sista udara yang dipercayakan kepada Koharmat, termasuk pula untuk merawat senjata. Selain itu bisa untuk membuat beberapa jenis suku cadang
yang membantu mengatasi ketergantungan dan menghemat biaya.
Mengenai sumber daya manusia, bagi Koharmat tidak masalah sebab para teknisi senjata kualitasnya sudah baik dan memadai. Banyak teknisi perawatan senjata di Koharmat punya lisensi dari luar negeri yang diperoleh sewaktu mengikuti pendidikan di
mancanegara tersebut. Meskipun banyak yang sudah pensiun, para teknisi dan inspektor lulusan dalam negeri sudah mampu melakukan tugas dengan baik dan dapat dipercaya. Karena dalam meniti karirnya tiap teknisi senantiasa menempa diri dengan mendapat bimbingan dari para
senior dan mengikuti kursus atau pendidikan yang ada. Pendeknya kaderisasi para teknisi senjata di Koharmat berlangsung terus menerus tidak kenal henti, sambung menyambung dari generasi ke generasi berikutnya. Satu pensiun atau pergi, yuniornya siap mengganti, di
samping penambahan dari hasil pengadaan personil baru.
"Dalam membina dan meningkatkan kemampuan, kini Koharmatau akan menyelenggarakan Pembinaan Keterampilan (Binterampil) untuk inspektor,
Structure Repair dan spesialisasi, termasuk para teknisi senjata. Sedang untuk membantu mengatasi
ketergantungan masalah suku cadang, Koharmat sudah lama dapat membuat atau memproduksi sendiri beberapa suku cadang," lulusan Akademi TNI AU tahun 1970 dan ayah dariduaorang putera ini menambahkan.
Sebetulnya amunisi ada masa usia pakainya. Namun usia pakai ini bisa diperpanjang dan digunakan dengan baik, setelah diuji ulang secara kimia antara lain di laboratorium. Ada dua macam menguji Rudal, uji statis di meja tes di suatu ruangan dan uji dinamis
yaitu dengan cara ditembakan.
Dalam upaya bertukar pengalaman dan meningkatkan kemampuan tugas melaksanakan perawatan alut sista udara, Koharmatau menjalin kerjasama dengan beberapa pihak seperti IPTN, ITB, Universitas Nurtanio, Universitas Suryadarma, Dinas Penelitian
dan Pengembangan TNI AU (Dislitbangau), Pindad dan PT Barata di Surabaya. Khusus dalam hal kerjasama masalah perawatan senjata, Kohrmatau dalam hal ini Depo Har 60, bekerjasama dengan IPTN menyangkut roket latih dan uji fungsi, dengan Pindad masalah
pembuatan bom latih, fuse bom latih dan uji fungsi. Semenyara dengan Dislitbangau antara lain mengenai
smoke catrige. Sedang bersama PT Barata juga masalah bom latih.
(mar)
|