ANGKASA N0.1 OKTOBER 2000 TAHUN XI  

Kabar Cathay Pacific

N250, Pilih Rugi atauImpas?

Koharmatau: Merawat Rudal dan Senjata Sendiri

Berlatih Senyum Tiap Hari

B-17 F Flying Fortress "Memphis Belle"

Sekali Lirik, Tembak Sajalah

Kenyamanan Penerbangan Kelas Satu

Qantas, 50 Tahun Merekat Indonesia

BMG Butuh Moderenisasi Alat

Astronot Jepang Ajak Asia Berkolaborasi

200 Juta Dollar Untuk "Cyber Cabin"


  Laporan Utama
Aerobatik
Cakrawala
Ekonomi
Fenomena
Kolom
Kokpit
Kisah Nyata
Lukisan Dirgantara
Lobi
Militer
Notam
Ordirga
Origami
Opini
Profil
Peristiwa
Seabad Kedirgantaraan
Siapa-siapa
Teknologi

Rate our site
@ SearchIndonesia

 
LAIN-LAIN  

Berlatih Senyum Tiap Hari

Pelatihan yang intensif dan mengena pada sasaran disertai disiplin diri yang tinggi, dapat dipastikan akan membuahkan hasil yang memuaskan. Kenapa belum kita lakukan?

Evakuasi Singapore Girls sedang berlatih evakuasi di laut./Foto:Angkasa/Reni

Bukan main hasil pelatihan yang intensif itu. Lihatlah, kenapa awak kabin, terutama pramugari, Singapore Airlines (SIA) memiliki senyum yang menawan, keramahan yang profesional dan gaya yang khas. Semua karena pelatihan yang betul-betul mengena pada sasaran. Jadilah pramugari SIA atau disimbolkan sebagai Singapore Girl, daya tarik tersendiri yang menjadi nilai tambah utama pelayanan SIA.

"Kami harus berlatih tersenyum tiap hari, dari mulai bangun tidur sampai akan kembali tidur. Tersenyum di depan cermin, bagaimana senyum kita terlihat. Bukan senyum-senyum sendiri, lho, itu kan lain," Dewi, salah seorang pramugari asal Indonesia yang baru tiga minggu masuk pelatihan mengungkapkan rahasianya. Bukan cuma senyum, mengucapkan good morning, good afternoon, welcome atau kata-kata sapaan lain dalam bahasa Inggris, tentunya bila bertemu orang, juga tak pernah dilupakan. Termasuk cara tertawa yang profesional, hingga yang mendengarnya tidak merasa risih.

Memang bukan main fasilitas yang dimiliki SIA untuk pelatihan karyawannya. Fasilitas gedung dan peralatan SIA Training Centre di areal seluas 50.800 meter persegi yang berlokasi di kawasan Bandara Changi itu dengan investasi mencapai 80 juta dollar Singapura (sekitar Rp 400 milyar). Di sana terdapat fasilitas tujuh simulator penerbangan, empat mock-up kabin, 46 ruang kelas, di samping fasilitas pendukung lain seperti auditorium, teater, kantin dan lounge siswa. Semua fasilitas itu didukung oleh 545 karyawan.

Di pusat pelatihan itu, selain untuk awak kabin (Cabin Crew Training Centre, CCTC) dan untuk awak penerbangan (Flight Crew Training Centre, FCTC), juga ada tempat pelatihan komputer, bagian komersial dan pusat pengembangan manajemen. Proyeksi tiap tahun yang mengikuti pelatihan mencapai 17.500 siswa. SIA menganggarkan 100 juta dollar Singapura tiap tahun untuk pelatihan seluruh karyawannya.

Sedikit menengok simulator yang dimiliki SIA, yakni dua B747-400s dan dua A310 serta masing-masing satu B 747-300, A340, B777 dan Learjet 45. Total harga simulator itu 160 juta dollar Singapura. SIA memiliki sekitar 1.000 awak kokpit dari berbagai negara. "Kami juga mendidik calon pilot di Singapore Flying College, bukan cuma pilot yang sudah jadi," kata S. Supramaniam, Assistant Manager Public Relation SIA.

Ramah profesional

Ruang Grooming Berdandan pun memerlukan pelatihan khusus bagi pramugari SIA./Foto:Angkasa/Reni

Mengamati senyum mereka, kesannya lebih ke senyum profesional. Bisa jadi lain dengan senyum ceria spontan gadis kita yang kesannya lebih alami. Memang tak dipungkiri, Singapore Girls itu pekerja profesional. Pelatihannya dan suasananya mengarah ke sana, hingga hasilnya pun profesional.

Di samping pelatihan standar untuk awak kabin, SIA memiliki laboratorium bahasa untuk mengasah keterampilan berkomunikasi. Di sini awak kabin diberi pelajaran pengucapan dan intonasi bahasa Inggris yang benar. Hasilnya, bahasa Inggris mereka umumnya terkesan prima, termasuk mereka yang asal Indonesia walau tentu saat penerimaan, kemampuan berbahasa mereka tak diragukan lagi.

Pelayanan yang juga diperhatikan betul adalah penyajian minuman anggur (wine). Mereka masuk kelas khusus agar dapat membedakan aroma dan rasa berbagai wine. Lebih dari 1,5 juta botol wine berkualitas disajikan untuk penerbangan setiap tahun.

Dewi, Mutiara, Fina, Siska dan Yuliana, adalah lima dari 20 calon Singapore Girls asal Indonesia yang saat itu, 7 September lalu, sedang berlatih memberi pelayanan makanan dan minuman di kabin. Mereka diterima akhir Maret lalu dan baru mendapat pelatihan pada pertengahan Agustus 2000. Mereka tampak ceria, walau mereka mengakui pada masa awal, masalah 'rindu rumah' sempat menyapa.

Tapi mereka memang sudah siap. Calon pramugari yang kini sebagian besar lulusan perguruan tinggi itu tampak lebih matang dan percaya diri. Mutiara yang mantan pramugari Korean Air ini, salah satunya. Dia memberi alasan, kenapa menjadi Singapore Girl, karena ingin mengembangkan karirnya di SIA yang dianggapnya sebagai airlines terbaik di dunia.

Di bagian lain, 19 pramugari sedang melakukan latihan evakuasi di air (laut). Dua instruktur memberi pengarahan dan para pramugari pun berlatih upaya penyelamatan penumpang dengan life raft dan berenang, salah satu keterampilan yang harus mereka miliki. Kain panjang khas busana Singapore Girl pun disingkap dan diikatkan di pinggang. Byurrr, satu per satu mereka masuk air yang berombak itu, dan berenang mencapai tepi kolam seluas 27 x 20 meter persegi.

Bersebelahan dengan kolam ombak tersebut, ada Cabin Evacuation Trainer (CET) yang saat itu sepi. CET seharga 2,4 juta dollar Singapura dengan mock up pesawat B747 itu digunakan untuk pelatihan awak kabin dan awak kokpit melakukan prosedur evakuasi di darat atau hutan. Kolam ombak yang juga representatif itu bernilai 200.000 dollar Singapura.

Sisi lain yang menarik, di ruang belajar berdandan (grace grooming) 15 pramugari sedang ditangani seorang konsultan kecantikan yang bereputasi dari Lancome. Di sinilah, di tempat khusus para gadis muda itu, mereka mempercantik diri dengan menggunakan warna-warna kosmetika yang sesuai warna kulit.

Demikian dengan penataan rambut yang diperhatikan betul hingga sesuai bentuk wajah. Ada yang cocok dengan gaya rambut pendek, rambut sebahu atau disanggul. Jangan heran kalau mereka pun mahir menata rambut dengan rapi. "Awalnya memang sulit dan butuh waktu lama. Tapi lama-kelamaan, menyanggul rambut dengan rapi hanya membutuhkan waktu hitungan menit di satu jari tangan," kata Rusiana Tjiu, pramugari asal Indonesia yang sudah lebih dua tahun di SIA, dalam suatu kesempatan. Betul-betul semua ditangani profesional. Tak ada lagi rambut acak-acakan saat mereka bertugas.

SIA memang tak tanggung-tanggung memberikan pelatihan bagi awak kabin yang jadi salah satu ujung tombaknya. Pelatihan calon awak kabin berlangsung empat bulan. Di tempat itu, ada 3-4 kelas dengan sekitar 20 siswa per kelas melaksanakan pelatihan tiap bulan. Rata-rata sekitar 1.100 awak kabin direkrut SIA per tahun dari berbagai negara di Asia. Dari pelatihan inilah dihasilkan para awak kabin handal yang diakui dunia penerbangan internasional.

Di antara 3.400 awak kabin SIA terdapat para gadis Indonesia (116 orang) yang patut diberi acungan jempol. Mereka bekerja profesional dan tak kalah dengan pramugari dari negara lain. Jadi, tidak benar kalau kita ketinggalan. Sebagian dari gadis-gadis kita, walau masih dalam jumlah kecil, sudah membuktikan bahwa mereka bisa berkiprah di dunia internasional berkat pendidikan dan disiplin diri yang tinggi. Pendidikan yang profesional dan disiplin diri yang tinggi merupakan kunci penting untuk menguak potensi mereka.

Kenapa kita?

Gadis Indonesia Sebagian Singapore Girls asal Indonesia yang baru memasuki training./Foto:Angkasa/Reni

Bukan membandingkan kalau kita lihat awak kabin Garuda Indonesia. Mereka tidak kalah bagus, diakui para penumpang asing. Senyum mereka alami dan ramah. Tapi kenapa citra baik mereka tidak menonjol?

Banyaknya keluhan atas pelayanan awak kabin Garuda sudah ditanggapi pihak manajemen. Diakui Direktur Operasi Garuda Capt. Rudi A. Hardono, mereka mendapat prioritas juga untuk mendapat sentuhan peningkatan dalam Tahun Pelayanan yang dicanangkan Garuda pada tahun 2000 ini. "Kami melatih mereka secara intensif dan terpadu, seperti peningkatan dalam kerja sama tim, interaksi sesama awak kabin dan interaksi dengan penumpang, juga melatih mereka untuk bisa bereaksi positif bila menghadapi situasi di luar prosedur yang ada. Pelatihan lima hari itu berlaku bagi seluruh, sekitar 2.000 awak kabin Garuda, tanpa kecuali," katanya.

Seragam baru dan konsep pelayanan yang baru pun diterapkan. "Tapi untuk konsep yang baru itu, implementasinya baru untuk kelas bisnis, untuk kelas ekonomi menyusul," jelas Rudy.

Fasilitas pelatihan di Garuda Aviation Training (GAT) Duri Kosambi sudah cukup memadai, walau belum selengkap SIA. Di GAT pula pramugari Bouraq Indonesia dan Mandala Airlines, di samping Pelita Air Service dan beberapa airline lain melaksanakan sebagian pelatihannya ­untuk pelatihan evakuasi, terutama. Hasilnya, sebagian besar tidak mengecewakan. Contoh, kita lihat pelayanan pramugari Mandala yang ramah alami dan sigap.

Tapi masalahnya kembali ke lapangan. Kenyataannya, secara umum mereka belum profesional. Bisa jadi, mental profesional dan disiplin diri awak kabin, termasuk para instrukturnya, masih belum terbina dengan baik. Padahal, inilah kuncinya! (nie)



Laporan Utama | Aerobatik | Cakrawala | Ekonomi | Fenomena | Kolom | Kokpit | Kisah Nyata | Lukisan Dirgantara | Lobi | Militer | Notam | Ordirga | Origami | Opini | Profil | Peristiwa | Seabad Kedirgantaraan | Siapa-siapa | Teknologi |

Copyright © 1998 Majalah Angkasa. All rights reserved
Designed by
Kompas Cyber Media