ANGKASA N0.1 OKTOBER 2000 TAHUN XI  

Kabar Cathay Pacific

N250, Pilih Rugi atauImpas?

Koharmatau: Merawat Rudal dan Senjata Sendiri

Berlatih Senyum Tiap Hari

B-17 F Flying Fortress "Memphis Belle"

Sekali Lirik, Tembak Sajalah

Kenyamanan Penerbangan Kelas Satu

Qantas, 50 Tahun Merekat Indonesia

BMG Butuh Moderenisasi Alat

Astronot Jepang Ajak Asia Berkolaborasi

200 Juta Dollar Untuk "Cyber Cabin"


  Laporan Utama
Aerobatik
Cakrawala
Ekonomi
Fenomena
Kolom
Kokpit
Kisah Nyata
Lukisan Dirgantara
Lobi
Militer
Notam
Ordirga
Origami
Opini
Profil
Peristiwa
Seabad Kedirgantaraan
Siapa-siapa
Teknologi

Rate our site
@ SearchIndonesia

 
LAIN-LAIN  

B-17 F Flying Fortress
"Memphis Belle"

B-17 B-17 F Flying Fortress./Foto:Angkasa/DN Yusuf

Noda oli menyelimuti sayap, terutama di sekitar keempat mesinnya. Menimbulkan jejak kehitam-hitaman dibagian atas sayap. Warna kamuflase olive drab dan dark green keluaran Tamiya terlihat sedikit mengelupas disana-sini. Pintu belakang sengaja dibiarkan agak terbuka, dengan daftar awak pesawat menempel pada pinggirnya. Sementara dua buah bomb tergantung pada cantelan dibawah sayap. Gambaran tadi adalah sosok model kit pembom B-17 F Flying Fortress berskala 1:48 keluaran Revell. Pembuatnya adalah Wawan Hermawan, seorang modeler air combat yang bermarkas di Bintaro.

Bikin struktur

Pekerjaan awal lancar-lancar saja, sesuai petunjuk yang ada. Walau sempat dempul sana-dempul sini, terutama pada sambungan badan. Kesulitan muncul saat harus merakit bagian sayap. Struktur dari pabrikan terbukti kurang kuat. Alhasil, kedua sayap miring ke bawah jadinya. Untuk mengakali kelemahan ini dibuatlah struktur tambahan yang diselipkan pada sayap. Bahan yang dipakai adalah spruce atau rangka tempat menempel bagian-bagian pesawat dalam kemasan. Dibutuhkan sekitar empat spruce untuk tiap sayap utama. Panjangnya sampai posisi antara mesin satu-dua, serta tiga-empat.

Beres di sayap, kini giliran detil bom sight. Aslinya dari pabrikan dianggap kurang mumpuni. Akibatnya Wawan juga harus "menciptakan" perangkat bidik bom ini dari spruce. "Ya aku kerik-kerik aja buatnya", Ujar Wawan kepada Angkasa. Tak hanya itu, pintu belakang yang tadinya menyatu dengan badan diamputasi habis. Dengan berbekal kabel kumparan dibuatkan semacam rel dan pasak kecil. Hasilnya pintu terkesan agak terbuka.

Tak sengaja

Teknik pengecatan dengan hasil garapan mendekati kenyataan ini di-temukan secara tak sengaja. Ketika itu Wawan menemui cat yang tak rata gara-gara ketiban air. Panik memang awalnya. Dengan bantuan angin airbrush, bagian ini dikeringkan. Tak disangka efeknya lebih nyata. Ada bagian yang rata, ada juga yang belel. "Ya sudah sekalian saja seluruh badan dikuas pakai air" cerita Wawan.

Sedang efek terkelupasnya kulit pesawat dibuat dengan mengerik bagian-bagian sambungan badan dan rivet. Kerjaan ini dilakukan dengan bantuan jarum jangka. Tapi harus pakai perasaan, supaya hasilnya tak kebesaran alias tak sesuai dengan skala. Supaya efeknya lebih muncul, sebelumnya seluruh badan pesawat disiram cat silver keluaran Tamiya (TS-30). Setelah itu baru disikat dengan warna kamuflase.

Untuk menyelesaikan pembom yang bertato "Memphis Belle" ini dihabiskan lem dan cat-cat untuk warna masing-masing sebanyak satu botol. Sedangkan waktunya selama dua bulan, plus menonton film "Memphis Belle" berulang-ulang kali. Masih ditemuinya sisa-sisa cetakan plastik pada bagian pesawat model asal Amerika ini, boleh jadi merupakan salah satu kelemahannya. (avi)



Laporan Utama | Aerobatik | Cakrawala | Ekonomi | Fenomena | Kolom | Kokpit | Kisah Nyata | Lukisan Dirgantara | Lobi | Militer | Notam | Ordirga | Origami | Opini | Profil | Peristiwa | Seabad Kedirgantaraan | Siapa-siapa | Teknologi |

Copyright © 1998 Majalah Angkasa. All rights reserved
Designed by
Kompas Cyber Media