ANGKASA N0.1 OKTOBER 2000 TAHUN XI  

Kabar Cathay Pacific

N250, Pilih Rugi atauImpas?

Koharmatau: Merawat Rudal dan Senjata Sendiri

Berlatih Senyum Tiap Hari

B-17 F Flying Fortress "Memphis Belle"

Sekali Lirik, Tembak Sajalah

Kenyamanan Penerbangan Kelas Satu

Qantas, 50 Tahun Merekat Indonesia

BMG Butuh Moderenisasi Alat

Astronot Jepang Ajak Asia Berkolaborasi

200 Juta Dollar Untuk "Cyber Cabin"


  Laporan Utama
Aerobatik
Cakrawala
Ekonomi
Fenomena
Kolom
Kokpit
Kisah Nyata
Lukisan Dirgantara
Lobi
Militer
Notam
Ordirga
Origami
Opini
Profil
Peristiwa
Seabad Kedirgantaraan
Siapa-siapa
Teknologi

Rate our site
@ SearchIndonesia

 
LAIN-LAIN  

Sekali Lirik, Tembak Sajalah

JHMCS Boeing Joint Helmet Mounted Cueing System./Foto:Boeing

Perlengkapan perang semakin canggih. Sejalan dengan program pengembangan pesawat tempur baru dan misil udara ke udara AIM-9X Sidewinder, Boeing mengembangakan Joint Helmet-Mounted Cueing System (JHMCS) sebagai alat pelengkap pertempuran pesawat tempur F-16 Fighting Falcon, F-15 Eagle, F-18 Super Hornet, dan F-22 Raptor.

Seperti yang dijanjikan pengembang teknologi itu, kombinasi antara JHMCS dan AIM-9X Sidewinder bakal merupakan senjata baru yang mematikan. Integrasi keduanya mampu mewujudkan teori firts-shoot first kill yang selama ini didengung-dengungkan produsen senjata AS.

Awalnya, JHMCS merupakan hasil nyata program pengembangan helem terbang tempur kerja sama angkatan udara dan laut AS, Boeing, dan Lockheed. Kedua pabrikan itu dilibatkan karena AS menginginkan helem itu bisa dipakai pada pesawat tempur F-15 dan F/A-18 buatan Boeing, dan F-16 dan F-22 nya Lockheed Martin. Dalam pengerjaannya, program JHMCS dikerjakan langsung oleh Vision Systems International (perusahaan patungan antara Kaiser Electronics dan Elbit System Israel) yang sukses mengembangkan dan memproduksi Dash, helem tempur untuk F-15 dan F-16 Israel.

JHMCS menerapkan sistem yang hampir sama dengan Dash. Prinsip dasar kerja kedua helem itu mirip dengan yang ada pada film perang masa depan macam Super Cop atau Robo Cop. Sensor helem dipakai sebagai pemandu sensor sistem senjata. Jadi untuk mengunci sasarannya, pilot pesawat tidak perlu lagi mengarahkan pesawat ke arah target tetapi cukup memalingkan pandangan ke arah sasaran dan sistem helem, komputer pesawat, dan sensor senjata akan bekerja otomatis mengunci sasaran.

Jelas sistem semacam itu membutuhkan teknologi dan hitungan yang rumit. Untuk bisa menggerakkan sistem sensor senjata, JHMCS dilengkapi dengan alat pelacak jejak kepala magnetis. Alat inilah yang diintegrasikan ke dalam sistem komputer dan senjata. Hasil kombinasi itu muncul berupa tampilan gambar digital pada kaca helem. Sebagian gambar itu sama dengan yang tampilan gambar HUD (head up display), sehingga pilot yang menggunakan JHMCS tidak perlu lagi melihat instrumen di kokpit saat menerbangkan pesawat.

Tampilan gambar yang lain adalah gambar sistem target yang berbeda dengan sistem target pada HUD. Sistem pencari sasaran JHMCS berbeda dengan sistem pencari sasaran pada HUD. Pencari sasaran JHMCS bekerja berdasar gerakan kepala pilot. Ini memungkinkan pilot membidik sasaran yang berada di luar radar pesawat atau sensor senjata tanpa perlu mengarahkan pesawat ke posisi target. Sebagai contoh, bila pilot melihat pesawat musuh berada tepat di kiri pesawatnya, ia cukup menoleh ke pesawat musuhnya. Sistem akan bekerja otomatis mengunci sasaran. Pilot tidak perlu repot-repot merubah arah pesawat. Yang perlu dilakukan hanya menekan pelatuk di tuas kemudi, dan melesatlah misil udara-ke-udara ke sasarannya. Dengan bantuan JHMCS, pilot mampu membidik radar, misil udara ke udara, sensor infra merah, dan misil udara ke darat.

Sekarang ini JHMCS tengah memasuki tahap uji lanjut dan integrasi pada pesawat tempur F-15 dan F-16, juga F/A-18 dan F-22 Raptor. Cukup panjang perjalanan JHMCS hingga ke tahap produksi. Pertama kali, ia harus menjalani uji kelaikan di darat dan udara. Pengujian itu antara lain uji integrasi sistem helem dengan sistem pesawat, integrasi AIM-9X dengan sistem pesawat, dan pada akhirnya mengintegrasikan seluruh sistem secara bersama-sama. Pengujiannya dilakukan sebanyak tiga puluh kali uji terbang. Setelah menyelesaikan tahap itu, JHMCS masih harus mengikuti uji terbang lain sebanyak 20 kali untuk mengetahui apakah helem bekerja sempurna dalam manuver tempur dasar. Tahap berikutnya, helem masih dikenakan 20 kali uji terbang untuk menepatkan sistem perangkat lunak yang dipakai. Setelah menyelesaikan ujian terakhirnya, barulah melangkah ke tahap produksi masal.(ttg)



Laporan Utama | Aerobatik | Cakrawala | Ekonomi | Fenomena | Kolom | Kokpit | Kisah Nyata | Lukisan Dirgantara | Lobi | Militer | Notam | Ordirga | Origami | Opini | Profil | Peristiwa | Seabad Kedirgantaraan | Siapa-siapa | Teknologi |

Copyright © 1998 Majalah Angkasa. All rights reserved
Designed by
Kompas Cyber Media