Boeing Joint Helmet Mounted Cueing System./Foto:Boeing
|
Perlengkapan perang semakin canggih. Sejalan dengan program pengembangan pesawat
tempur baru dan misil udara ke udara AIM-9X
Sidewinder, Boeing mengembangakan Joint
Helmet-Mounted Cueing System (JHMCS) sebagai alat pelengkap pertempuran pesawat tempur F-16
Fighting Falcon, F-15 Eagle, F-18
Super Hornet, dan F-22 Raptor.
Seperti yang dijanjikan pengembang teknologi itu, kombinasi antara JHMCS dan
AIM-9X Sidewinder bakal merupakan senjata baru yang mematikan. Integrasi keduanya mampu
mewujudkan teori firts-shoot first kill yang selama ini didengung-dengungkan produsen senjata AS.
Awalnya, JHMCS merupakan hasil nyata program pengembangan helem terbang tempur
kerja sama angkatan udara dan laut AS, Boeing, dan Lockheed. Kedua pabrikan itu dilibatkan karena
AS menginginkan helem itu bisa dipakai pada pesawat tempur F-15 dan F/A-18 buatan Boeing, dan
F-16 dan F-22 nya Lockheed Martin. Dalam pengerjaannya, program JHMCS dikerjakan
langsung oleh Vision Systems International (perusahaan patungan antara Kaiser Electronics dan Elbit
System Israel) yang sukses mengembangkan dan memproduksi
Dash, helem tempur untuk F-15 dan F-16 Israel.
JHMCS menerapkan sistem yang hampir sama dengan Dash. Prinsip dasar kerja kedua
helem itu mirip dengan yang ada pada film perang masa depan macam Super Cop atau Robo Cop.
Sensor helem dipakai sebagai pemandu sensor sistem senjata. Jadi untuk mengunci sasarannya,
pilot pesawat tidak perlu lagi mengarahkan pesawat ke arah target tetapi cukup memalingkan
pandangan ke arah sasaran dan sistem helem, komputer pesawat, dan sensor senjata akan bekerja
otomatis mengunci sasaran.
Jelas sistem semacam itu membutuhkan teknologi dan hitungan yang rumit. Untuk
bisa menggerakkan sistem sensor senjata, JHMCS dilengkapi dengan alat pelacak jejak kepala
magnetis. Alat inilah yang diintegrasikan ke dalam sistem komputer dan senjata. Hasil kombinasi itu
muncul berupa tampilan gambar digital pada kaca helem. Sebagian gambar itu sama dengan yang
tampilan gambar HUD (head up display), sehingga pilot yang menggunakan JHMCS tidak perlu lagi
melihat instrumen di kokpit saat menerbangkan pesawat.
Tampilan gambar yang lain adalah gambar sistem target yang berbeda dengan sistem
target pada HUD. Sistem pencari sasaran JHMCS berbeda dengan sistem pencari sasaran pada
HUD. Pencari sasaran JHMCS bekerja berdasar gerakan kepala pilot. Ini memungkinkan pilot
membidik sasaran yang berada di luar radar pesawat atau sensor senjata tanpa perlu mengarahkan pesawat
ke posisi target. Sebagai contoh, bila pilot melihat pesawat musuh berada tepat di kiri pesawatnya,
ia cukup menoleh ke pesawat musuhnya. Sistem akan bekerja otomatis mengunci sasaran. Pilot
tidak perlu repot-repot merubah arah pesawat. Yang perlu dilakukan hanya menekan pelatuk di
tuas kemudi, dan melesatlah misil udara-ke-udara ke sasarannya. Dengan bantuan JHMCS, pilot
mampu membidik radar, misil udara ke udara, sensor infra merah, dan misil udara ke darat.
Sekarang ini JHMCS tengah memasuki tahap uji lanjut dan integrasi pada pesawat tempur
F-15 dan F-16, juga F/A-18 dan F-22 Raptor. Cukup panjang perjalanan JHMCS hingga ke
tahap produksi. Pertama kali, ia harus menjalani uji kelaikan di darat dan udara. Pengujian itu antara
lain uji integrasi sistem helem dengan sistem pesawat, integrasi AIM-9X dengan sistem pesawat,
dan pada akhirnya mengintegrasikan seluruh sistem secara bersama-sama. Pengujiannya
dilakukan sebanyak tiga puluh kali uji terbang. Setelah menyelesaikan tahap itu, JHMCS masih
harus mengikuti uji terbang lain sebanyak 20 kali untuk mengetahui apakah helem bekerja
sempurna dalam manuver tempur dasar. Tahap berikutnya, helem masih dikenakan 20 kali uji terbang
untuk menepatkan sistem perangkat lunak yang dipakai. Setelah menyelesaikan ujian terakhirnya,
barulah melangkah ke tahap produksi masal.(ttg)