|
| |
 | LAIN-LAIN
|
|
Kenyamanan Penerbangan Kelas Satu
Untuk kenyamanan, SIA menyiapkan deretan pelayanan yang aduhai./Foto:SIA
|
Mister Leksono, what would you like for your breakfast ? We have ommelette, prawn noodle, and beef with potatoes
?," begitu tanya seorang pramugari Singapore Airlines dalam
penerbangan kelas satu SQ 405 dari Johannesburg ke Singapura awal September lalu. Tawaran itu disampaikan setelah layanan makan malam diberikan.
Berdasar pertanyaan itulah awak kabin dapat mempersiapkan permintaan yang berbeda-beda dari penumpang yang duduk di kelas satu. Sekitar dua setengah jam sebelum pesawat tiba
di Singapura, lampu kabin yang semula dimatikan dinyalakan. Dan tak lama kemudian deretan panjang acara makan pagi pun dimulai: dari aneka jus, lalu muncul roti dan
croissant (roti khas Perancis) dengan mentega dan selai, lalu teh atau kopi, aneka buah segar, juga tawaran sereal, dan akhirnya baru menu yang ditawarkan tadi malam...Sungguh sarapan yang besar dan royal. Untuk makan
siang siang atau malam, jamak penumpang mendapat hidangan lezat seperti lobster thermidor, aneka minuman, hingga anggur dan sampanye. Soal hidangan ini, maskapai penerbangan
lazimnya membanggakan, bahwa menu yang disediakan disiapkan oleh juru masak
(chef) dari restoran terkenal di Sydney, atau kota ternama di dunia lainnya. Hidangan itu sendiri dibanggakan dimasak
segar, tidak hanya sekadar dihangatkan.
Penumpang sendiri saat itu mungkin baru bangun dari tidur yang lelap di ketinggian 33.000 sampai 35.000 kaki. Yang ini mungkin sama dengan penumpang kelas lain. Yang tidak sama
adalah posisi tidurnya, karena di kelas satu penumpang bisa tidur dengan posisi berbaring lurus di kursi yang telah diubah menjadi kasur empuk. (Lihat foto)
Kabin kelas satu yang biasanya terletak di hidung pesawat jumbo 747 ini tampak sangat lapang, dengan kursi penumpang yang kelihatan sedikit saja, di SIA hanya 12. Memang untuk maskapai berbeda, juga untuk jenis pesawat yang berbeda, tata letak dan fasilitas yang ada berbeda-beda. Misalnya saja, sama-sama untuk 747, jumlah kursi kelas satu
di British Airways 14, Qantas 14, Cathay 18, Air France 13.
Selain jumlah kursi, masih ada angka-angka pembanding lain, seperti konfigurasi, jarak antar kursi
(pitch), seberapa derajat ke belakang kursi bisa direbahkan
(recline), lebar kursi itu sendiri (dari 19 inci sampai 21 inci), rasio awak dengan penumpang ( dari 1 banding 4 hingga 1 banding 12), rasio toilet (dari 1 banding 4 hingga 1 banding 14), pilihan hidangan (dari 2,3 hingga 7), dan
layar TV per kursi.
Sebelum membahas hal-hal di atas lebih rinci, bisa juga ditambahkan, bahwa perbedaan kelas satu sudah mulai dirasakan saat penumpang
check-in. Lazimnya, penumpang bisa
menelepon lebih dulu staf bagian check-in saat penumpang menuju bandara. Setelah usai proses yang cepat karena adanya konter khusus, bila tak ingin lihat atau belanja, penumpang bisa menikmati
lounge atau tempat tunggu khusus, dimana disediakan sofa empuk dengan aneka minuman dan makanan, bacaan yang banyak jumlahnya, dan sekarang, plus akses Internet. Fasilitas lain di
lounge bandara Changi Singapura antara lain juga kamar mandi dan tempat tidur. Di Bandara Chek Lap Kok Hongkong malah ada Spa. Sambil menunggu saat keberangkatan, penumpang juga bisa menyelesaikan
pekerjaan yang tertunda.
Di dalam pesawat, perbedaan pelayanan tentu saja terus berlanjut. Bila di kelas ekonomi rata-rata satu awak melayani 30 penumpang, di kelas satu satu awak hanya melayani 6
penumpang. Karena jumlah yang dilayani lebih sedikit, awak kabin pun bisa melayani penumpang dengan lebih rileks, hingga senyum pun lebih murah diberikan.
Bayangkan kenyamanan yang dijanjikan di kabin Kelas Utama ini./Foto:SIA
|
Selanjutnya, kursi di kelas satu itu sendiri benar-benar harus didefinisikan kembali, karena begitu ia direbahkan ia menjadi tempat tidur sempurna. Memang tidak seluruh
maskapai menyediakan kursi kelas satu yang bisa direbahkan 180 derajat (seperti Qantas, Cathay Pacific, SIA, dan British Airways), karena kursi Continental Airlines hanya bisa dimiringkan ke belakang
sejauh 7,5 inci, dan Thai 33 inci.
Dalam hal konfigurasi, di sini yang ditawarkan tidak lain adalah
privacy atau kenyamanan pribadi. Di 747 British Airways misalnya, tiga deret kursi pertama hanya diisi satu kursi saja.
Desain ini, menurut jurnal perjalanan Holiday
Asia memungkinkan mitra atau rekan bisnis yang terbang bersama bisa saling ngobrol, tetapi
privacy tetap bisa dijaga karena adanya partisi. Kursi
pengunjung juga disediakan dalam tiap kabin pribadi ini, sehingga pembicaraan bisnis atau santap bersama dengan sesama penumpang bisa dilakukan secara privat.
Bandingkan itu dengan kelas ekonomi, dimana penumpang dijejal sampai sesak, sehingga untuk menaruh tangan di sandaran pun harus rebutan, apalagi kalau penumpang sebelah
punya lengan subur.
Penumpang kelas satu dapat pula menikmati fasilitas hiburan dengan pilihan yang sangat beragam. Dengan layar berukuran 10,4 inci - tergolong "besar" - yang bisa diatur-atur
posisinya, penumpang bisa memilih aneka kanal film video. Di Cathay,
personal film ini jumlahnya 30, dan terus-menerus diperbarui. British Airways malah menyediakan 45 film, dan di Qantas 60 film,
mulai dari film klasik sampai yang baru saja dirilis.
Semua itu sungguh kenikmatan yang mewah, hidangan lezat, kenyamanan penerbangan, dan sebagainya. Tetapi sebelum orang yang akan bepergian memesan tiket kelas satu,
sebaiknya memang harus bertanya lebih dulu "berapa harganya". Bukan rahasia lagi, bahwa harga tipikal tiket kelas satu adalah sekitar empat kali harga tiket kelas ekonomi. Sekadar gambaran, harga tiket
kelas satu pergi pulang Hongkong-Sydney-Hongkong dengan Qantas (sebelum 31 Maret 2000) adalah HK$20.930, sementara harga tiket ekonomi HK$5.290. Ya, memang itulah hukumnya: ada rasa
ada harga. Tetapi bila memang seseorang merasa ada kebutuhan untuk memilih kelas satu, dan mampu membiayainya, pilihan itu adalah haknya.
(nin)
|