Pesawat pertama Qantas mendarat di Kemayoran./Foto:Istimewa
|
Sampai saat ini Qantas Airways tetap setia melayani jalur Australia-Indo-nesia. Dalam kurun lima puluh tahun, yang jatuh tanggal 30 Agustus 2000, Qantas sudah menjalani ber-bagai
pasang surut penerba-ngan antar dua negara. Tak heran kalau perayaannya kali ini menuntut perhatian lebih, dengan menyandang tema "Linking Indonesia with the World for 50 Years". Bahkan
Qantas mendatangkan paduan suara anak-anak The Austra-lian Girls Choir and The National Boys
Choir untuk membantu mengumpulkan dana bagi masyarakat Indo-nesia.
Qantas merupakan salah satu maskapai paling tua di dunia tepatnya kedua tertua di dunia setelah KLM yang lahir 7 Oktober 1919. Tak di-pungkiri kalau KLM, maska-pai Belanda itu
yang pertama terbang ke Indonesia sebagai experimental
flight 1 Oktober 1924 dan penerbangan reguler mulai September 1929. Tapi Qantas yang berdiri 16 Nopember 1920 memang
maskapai penerbangan pertama di dunia yang menggunakan bahasa Inggris.
Perjalanan Qantas di Indonesia rupanya menjadi daya tarik. Apalagi bila masyarakat mengaitkannya dengan kondisi politik antar kedua negara. Dalam tiga tahun terakhir, terutama, bila
situasi kemudian mengait ke masalah Timor Leste dan krisis ekonomi dan politik Indonesia yang berkepanjangan. Turis yang lalu lalang antar kedua negara, termasuk juga pelajar dan pebisnis, turun
drastis selama periode gonjang-ganjing itu. Apalagi sampai saat inipun pihak kedutaan Australia belum membuka ke-mudahan memperoleh visa, sebagaimana sebelumnya.
Mengenai hal tersebut, seperti diungkap Qantas General Manager Indonesia John Campell, pihaknya hanya bisa memberi masukan pada pemerintah Australia. Lebih-lebih bila kemudian
arus penumpang turis dan pelajar kembali marak. Dan hal tersebut sudah mulai menampakkan gambaran positif dengan meningkatnya
load factor 30 persen penumpang Qantas saat krisis menurun
sekitar 30 persen.
Pada pertengahan 1990-an, sebelum tahun-tahun krisis, Qantas terbang ke Indonesia didampingi Ansett Australia. Namun Ansett menarik diri, tak lagi terbang ke Jakarta dan
Denpasar. Sedangkan Qantas terus setia dengan frekuensi saat ini dalam seminggu 12 kali penerbangan dari Jakarta dan 13 kali dari Denpasar ke Australia dan Singapura menggunakan B747-300 dan B767-300.
"Sejarah Qantas di Indo-nesia bisa dicatat: Dari awal terbang dengan
sea plane ber-kapasitas hanya dua
seat, kini terbang 25 kali seminggu dengan pesawat berkapasitas 400 seat.
Kami menerbangkan sekitar 100.000 penumpang Australia ke Indonesia dalam setahun," kata Alan Loke, Qantas General Manager North Asia.
Namun Alan tidak meng-gambarkan arus penumpang Indonesia yang diangkut Qan-tas ke Australia dan negara-negara lain. Namun seperti juga tema perayaan kali ini, Qantas ingin
menjadi peng-hubung Indonesia dengan dunia. Hal ini diakui Menteri Kebudayaan dan Pariwisata I Gde Ardika, yang begitu an-tusias memberi dukungan bagi peningkatan arus wisa-tawan ke
Indonesia, terutama kepada airline.
"Qantas memberi kontri-busi yang luar biasa untuk menghubungkan kedua negara. Hubungan yang sangat penting, dan bukan cuma di bidang penerbangan tapi hubungan dua bangsa
yang bertetangga dan bersahabat. Pariwisata salah satu yang berkaitan erat dengan hak asasi manusia, terdapat budaya universal di sana," papar Ardika.
Dalam kesempatan lain, Deputy Menteri Kebudayaan dan Pariwisata untuk Pengembangan Produk Acep Hidayat meng-ungkapkan bahwa ketergantungan kepariwisataan kepada
pener-bangan atau akses udara masih paling tinggi, yakni 55-60 persen. Untuk tujuan dan dari Australia, selain Qantas ada Garuda Indonesia dan Merpati Nusantara, keduanya maskapai nasional.
Merpati terbang ke Darwin dan Garuda ke tujuh kota, yakni Sydney, Melbourne, Perth, Cairns, Brisbane, Adelaide dan Darwin. Merpati terbang satu kali seminggu dengan rute
Denpasar-Kupang Darwin dengan F-28 dan Garuda terbang 25 kali seminggu yang kesemua rutenya melalui Denpasar dengan A330-300. Tapi jangan pula dilupakan, penumpang Australia juga terbang
dengan Singapore Airlines ke Singapura, lantas melanjutkan penerbangannya ke Jakarta atau Denpasar.
Berdasarkan data dari Ditjen Imigrasi, selama tahun 1999 turis asing yang datang dari Australia 519.500 orang dari Selandia Baru 40.845 orang. Target pada tahun 2004, untuk turis
dari kawasan Oceania tersebut sebesar 759.000 orang. Maka selama tahun 1999 itu, turis melalui udara lebih dari 300.000 orang.
(nie)