Untuk meningkakan kinerja, BMG memerlukan komputer hi-performance./Foto: Angkasa/A. Darmawan
|
Berkaitan dengan meningkatnya tuntutan atas ketersediaan informasi cuaca dan iklim yang akurat, Badan Meteorologi dan Geofisika
kembali mengajukan permohonan moderenisasi peralatan kepada pemerintah. Seperti diajukan kepada Wapres Megawati Soekarnoputri dalam
peresmian gedung operasionalnya yang baru Agustus lalu, untuk kesekian kalinya BMG mengajukan pengadaan seperangkat komputer
hi-performance mengingat komputer yang selama ini ada sudah tak mampu lagi melakukan perhitungan terhadap data yang dikirim secara reguler dari 165
stasiun pengamatannya.
Selain itu berkaitan dengan meningkatnya permintaan dan kebutuhan atas pelayanan informasi cuaca sesaat di wilayah Jakarta dan
sejumlah kota besar lainnya, BMG juga berharap pemerintah bisa meluluskan pembelian 13 radar cuaca yang diajukannya. Seluruh radar cuaca senilai
26,5 juta dollar AS ini selanjutnya akan dikerahkan mendukung 12 radar cuaca lainnya yang selama ini dioperasikan bersama dengan sejumlah
bandara dan otoritas Batam.
"Jika saja peralatan tersebut terpenuhi, kami akan mampu memberikan pelayanan terbaik dan optimal, serta setahap demi setahap lepas
dari ketergantungannya terhadap sejumlah instansi serupa di luar negeri. Sebagai contoh saja, untuk perhitungan model iklim, kami masih tergantung
dari kebaikan badan meteorologi Australia," demikian lebih kurang ungkap Kepala BMG Ir Sri Diharto, MSc, kepada wartawan usai
menyampaikan Laporan Prakiraan Musim Hujan 2000/2001 Indonesia, akhir September di Jakarta.
Pentingnya komputer berkinerja tinggi tersebut, ungkap Sri Diharto, adalah karena untuk melakukan prediksi iklim, komputer yang
sekarang ada tak mampu lagi melakukan perhitungan matematis hingga 10 pangkat 25. Data yang akan diolahnya ini adalah kombinasi parameter
atmosfer, kelautan, dan daratan. Jika saja piranti itu ada, dilain pihak BMG juga akan menjadi pusat studi sejumlah instansi dan perguruan tinggi terkait
khusus untuk masalah-masalah iklim dan cuaca. Badan meteorologi Singapura, Thailand, Malaysia, dan Filipina sudah memilikinya, karena mereka
telah sadar betul cuaca dan iklim adalah masalah nasional dan global yang saling kait-mengkait dimana perubahannya bisa mempengaruhi segenap
sektor kehidupan.
"Kami sudah mengajukannya sejak tahun 1997. Bappenas pun sudah mengkajinya. Namun berbagai gelombang politik dan krisis
ekonomi berkali-kali telah mementahkannya. Dahulu harganya sekitar 19,5 juta dollar AS, dan saya yakin sesuai perkembangan komputer, kini
harganya sudah lebih murah. Itu sebabnya, beberapa waktu lalu kami berani mengajukannya kepada Wapres," ujarnya.
Akan halnya radar cuaca sendiri, Sri Diharto mengidamkan BMG bisa mengoperasionalkan 25 unit untuk memenuhi kebutuhan
informasi cuaca sesaat (now-cast) di sejumlah kota besar. Sayangnya, dalam kaitan ini, wilayah Jakarta dan sekitarnya yang selama ini telah dinaungi
radar milik PT Angkasa Pura II di Bandara Soekarno-Hatta, empat bulan terakhir
'blank' karena rusak. Kerusakan akibat tak berfungsinya
magnetron seharga Rp 500 juta ini disayangkan tak juga diperbaiki mengingat pentingnya juga piranti ini dalam pelayanan informasi cuaca bagi
keselamatan penerbangan yang akan masuk serta keluar dari Jakarta, terutama dalam musim hujan yang diprakirakan akan mulai terjadi per September 2000 ini.
Hujan normal
Berdasarkan telaah sejumlah badan meteorologi cuaca luar negeri (yakni NCEP/NOAA-AS, IRI-Filipina, ECMRWF-Inggris) dan
kelompok kerja prakiraan musim nasional (BMG, ITB, Lapan, BPPT, dan Puslittanak) sendiri, secara umum curah hujan periode Oktober 2000-Maret
2001 diperkirakan akan berlangsung dalam kisaran normal. Normal artinya akumulasi curah hujan yang terjadi di suatu daerah prakiraan musim
selama musim hujan berada di sekitar rata-ratanya selama 30 tahun.
Dikemukakan, musim hujan 2000/2001 akan diawali pola sirkulasi global atmosfer dan lautan yang sampai Juni 2000 masih
memperlihatkan kondisi episode dingin (La
Nina). Akan tetapi sejak awal Maret 2000 beberapa indeks atmosfer dan laut telah memperlihatkan kondisi La Nina
yang mulai melemah. Nilai anomali suhu muka laut (SST,
sea surface temperature) negatif di Pasifik tengah sekitar equator semakin menurun dan
Indeks di Nino 3,4 dan Nino 4 menaik.
Dalam hal ini, selama dua bulan berikutnya, yakni Juni dan Juli 2000, seperti ditunjukkan nilai Indeks Osilasi Selatan-nya (-5,57 dan
-4,16), kondisinya memang seperti mengarah pada gejala
El Nino. Namun, perkembangan pada suhu muka laut di wilayah Pasifik equator pada
bulan Agustus tiba-tiba saja kembali menanjak menuju nilai IOS yang positif. Karena, gejala El Nino adalah manifestasi kondisi IOS yang lebih
rendah dari 10, dengan melambungnya nilai tersebut pada Agustus 2000, berarti ancaman El Nino yang sering membawa musibah akibat kemarau
yang berkepanjangan di sejumlah wilayah serta-merta telah luruh kembali.
Secara umum, dari 101 daerah prakiraan musim di Indonesia sendiri: tujuh daerah akan mulai mengalami musim hujan pada dasarian
I-III September 2000; 42 daerah mulai dasarian I-III Oktober 2000; 38 daerah pada dasarian I-III November 2000; dan 14 daerah lainnya pada dasarian
I-III Desember 2000. (adr)