ANGKASA N0.1 OKTOBER 2000 TAHUN XI  

Rieke Diah Pitaloka: Bawa Gue Terbang


  Laporan Utama
Aerobatik
Cakrawala
Ekonomi
Fenomena
Kolom
Kokpit
Kisah Nyata
Lukisan Dirgantara
Lobi
Militer
Notam
Ordirga
Origami
Opini
Profil
Peristiwa
Seabad Kedirgantaraan
Siapa-siapa
Teknologi

Rate our site
@ SearchIndonesia

 
LOBI  

Rieke Diah Pitaloka:
Bawa Gue Terbang

Rieke Diah Pitaloka Foto:Angkasa/Roni Sontani

Hari Sabtu tanggal 26 Agustus lalu mungkin akan menjadi bagian hari indah yang tidak akan terlupakan begitu saja di kemudian hari bagi Rieke Diah Pitaloka (26). Mengapa? Karena di hari itu, pemeran berbagai iklan yang mencuat karena melafalkan kata "Meooo...ng" di TV beberapa waktu lalu itu, diwisuda sebagai Sarjana Sastra Belanda di kampus kuning Universitas Indonesia.

Hiruk pikuk Balairung UI tempat prosesi wisuda yang di-banjiri ribuan wisudawan serta keluarga sungguh sangat terasa. Udara menjadi amat panas dibuatnya. Di luar Balairung, ratusan mobil terus memadati pelataran parkir hingga akhirnya 'tumpah-ruah' di pintu gerbang menjelang fakultas sastra di kampus seluas 312 hektar itu. Kalau sudah begitu jelas sulit memasti-kan wajah seseorang meski sebelumnya ia sering terlihat di TV dalam berbagai iklan maupun sinetron. Utamanya lagi karena para wisuda-wati menge-nakan toga dengan topi dan rambut disanggul.

Tapi, "Hai..!!!" teriak Keke atau Neng, sapaan akrabnya, seraya melambaikan tangan. Pukul satu siang, setelah para wisudawan kembali ke fakultas masing-masing, Neng yang bungsu dari enam bersaudara kelahiran kota dodol Garut, 9 Januari 1974 itu berbincang kepada Roni Sontani dari Angkasa seputar kegiatan juga kecintaannya pada TNI AU. Berikut petikannya.

g : Setelah lulus ini apa yang ingin Anda raih selanjutnya?

g : Meneruskan ke S-2. Ini memang sudah menjadi rencana lama saya. Saya ingin jadi dosen, ini pula yang jadi keinginan ibu saya. Bidangnya mungkin politik atau hukum. Sejak kecil, di rumah, saya memang sudah 'terganggu' oleh hal-hal yang berkaitan dengan hukum, politik atau kenegaraan. Ayah saya kan pengacara, jadi obrolan di rumah hampir berkutat pada soal-soal itu. Begitupun tumpukan buku-buku yang ada, kebanyakan soal itu. Maka waktu SD saya sudah baca Dibawah Bendera Revolusi hingga buku-buku Niccolo Machiavelli. Lainnya saya baca kisah petualangan karya Alexandre Dumas seperti The Count of Monte Cristo. Akhirnya hobi saya jadi membeli buku. Sekarang, sambil menunggu ke S-2, saya masih menyelesaikan kuliah extension Filsafat S-1, di STF Driyakara, Jakarta.

g : Jadi faktor itu pula yang menyebabkan Anda ikut berdemo di gedung MPR saat ST MPR lalu?

g : Begini, akhirnya memang saya memutuskan untuk masuk ke dunia politik. Persisnya ketika kampanye partai-partai dimulai setahun lalu. Saya pilih PKB karena menurut saya programnya jelas, bagus, dan memberi kesempatan kepada generasi muda. Di Dewan Koordinasi Nasional (DKN) saya jadi ketua salah satu garda PKB. Awalnya saya sendiri yang perempuan. Tapi sekarang sudah banyak teman lain. Kami yang perempuan merasa dihormati. Kalau waktu ST MPR itu, saya melakukan demo bersama dengan mahasiswa UI lainnya.

g : Kalau bicara soal kedirgantaraan, kira-kira apa yang menjadi perhatian Anda?

g : Saya kasihan sama TNI AU. Saya memang cinta militer, terutama angkatan udara. Dari yang saya baca dan dengar, katanya pesawat tempurnya kini tidak memadai. Sudah begitu yang bisa terbang cuma sekian. Harusnya TNI AU kita kuat. Lalu, yang menyedihkan lagi waktu ada tuduhan TNI AU terlibat dalam pembunuhan Dewan Jenderal di Halim. Secara logika, itu kan fitnah yang konyol. Masak membunuh orang lalu membuang mayatnya di rumah sendiri? Tapi sudahlah. Eh, sampein salam saya buat TNI AU. Boleh nggak saya ikut mencoba terbang dengan pesawat tempurnya?

g : Anda pernah punya nostalgia ingin naik pesawat?

g : Iya. Apalagi waktu kecil. Lucu sekali. Setiap ada suara pesawat lewat, saya langsung lari keluar rumah. Ternyata di luar sudah ada teman-teman lain. Kami teriak: Kapal minta duit! Lalu agak gedean dikit saya bilang: Eh, lihat tuh pilotnya ganteng! Padahal boro-boro kelihatan kan? Saya juga teriak: Kapal, bawa gue terbang! Tahun 1995 akhirnya keinginan itu terwujud juga setelah mulai membin-tangi iklan. Senang Sekali. Ke Makasar, terus ke Malaysia hingga sekarang sering naik pesawat, dibayarin lagi. Tinggal naik pesawat tempur itu!



Laporan Utama | Aerobatik | Cakrawala | Ekonomi | Fenomena | Kolom | Kokpit | Kisah Nyata | Lukisan Dirgantara | Lobi | Militer | Notam | Ordirga | Origami | Opini | Profil | Peristiwa | Seabad Kedirgantaraan | Siapa-siapa | Teknologi |

Copyright © 1998 Majalah Angkasa. All rights reserved
Designed by
Kompas Cyber Media