|
| |
 | MILITER
|
|
Skadron Udara 3 TNI AU:
Menguji Kemampuan di Korat
Agustus lalu para penerbang tempur F-16 Skadron Udara 3 TNI AU kembali menguji kebolehannya dalam latihan bersama rekan-rekannya dari Skadron Udara 103 RTAF (Royal
Thai Air Force). Latihan reguler bernama Elang Thainesia ini mengambil lokasi di wilayah Wing 1, Pangkalan Udara Korat, 150 kilometer sebelah timur laut Bangkok. Berikut laporan Kapten
Pnb. Agung 'Sharky' Sasongkojati, salah seorang peserta yang juga kontributor
Angkasa.
Latihan bersama sangat membantu keamanan regional./Foto:Agung Sasongkojati
|
Pada pagi yang cerah tanggal 20 Agustus 2000 empat jet F-16 TNI AU lepas landas dari
runway 17 Lanud Iswahjudi, Madiun, Jawa Timur. Sesuai rencana, dipimpin Komandan Skadron Letkol Pnb
M. Syaugi, kami akan terbang menuju Thailand untuk menjalani latihan bersama dengan para penerbang Negeri Pagoda itu di sana. Tujuan cukup jauh, melintas laut dan dua negara, itu sebabnya kami harus
transit di beberapa tempat.
Tujuan pertama adalah Medan untuk transit. Untuk mengangkut personel pendukung dan peralatan pendukung, kami didampingi C-130
Hercules. Pesawat transpor berbadan gemuk
ini lepas-landas sejam lebih awal. Personel ini juga yang sedianya akan menyambut kami di tempat latihan. Karena hanya butuh dua-setengah jam untuk mencapai Polonia, kami masih sempat menikmati suasana pagi hari Kota
Medan. Cuaca cukup cerah dan dari ketinggian mata kami sempatkan untuk memandang Puncak Sibayak. Rimbun gunung angker di sebelah selatan Medan yang pernah 'menelan' sebuah Hercules TNI AU ini
nampak jelas sekali. Dari kokpit bubble F-16, kami juga menyaksikan kabut asap menyelimuti beberapa tempat, fenomena umum Medan pada pergantian musim. Di kota yang udaranya cukup panas ini bergabung
pula sebuah C-130 lainnya, yang esok hari akan bersama-sama melawat ke Korat.
Esoknya, yakni tanggal 21 Agustus, kami bergegas menuju Thailand. Sesekali kami menyempatkan untuk menikmati cat baru jet handal TNI AU ini. Warna abu-abu millennium kehijauan
dengan lambang petir merah pada vertical
stabilizier-nya benar-benar indah, terlebih saat diterpa cahaya matahari pagi. Namun keindahan ini sayangnya tak bisa menyertai kami selalu. Sesaat setelah menerima
foto satelit cuaca dari Dinas Meteorologi Polonia, untuk jalur yang akan kami lewati, kening segera mengerut. Bukan main kacaunya cuaca yang akan kami jelajahi. Khususnya di atas Laut Cina Selatan.
Nampak daerah bertekanan rendah yang cukup luas dengan kondisi udara yang sudah mulai membentuk badai tropis. Ekornya yang nampak berupa awan-awan putih tebal akan menghadang kami. Hingga
memasuki Teluk Thailand pun, kami masih akan disambut awan-awan tebal. Penerbangan yang melelahkan pun sudah
mulai terbayang.
Namun demi tugas, semua itu kami anggap bukan apa-apa. Usai
briefing, dengan ucapan Bismillah, serentak mesin-mesin pacu turbofan buatan Pratt & Whitney kami hidupkan.
Falcon Flight ini dipimpin langsung Letkol M. Syaugi
'Wild Geese'. Keluar wilayah teritorial Indonesia, kami akan melintas Selat Malaka, Suratthani propinsi paling selatan Thailand, lalu Tanah Genting Kra yang
terkenal itu. Belum lagi setengah perjalanan dilalui, awan-awan tebal memang kerap menghadang.
Uniknya, begitu mencapai Bangkok, cuaca berubah cerah. Kota yang terkenal dengan penari cantiknya ini begitu padat, mirip Jakarta. Dari kejauhan kami menyaksikan pula Bandara
Internasional Don Muang dengan runway kembarnya. Benar-benar mirip Jakarta, Ibukota Thailand ini juga diselimuti kubah polusi yang menyesakkan.
Meninggalkan Bangkok, Falcon Flight
Leader menuntun ke arah Timur Laut untuk kemudian mengurangi ketinggian begitu memasuki jarak 80 mil laut dari Korat. Komunikasi dalam VHF
(very high frequency) pun diubah ke UHF
(ultra high frequency), dan penerbangan sepenuhnya dikendalikan radar approach Korat. Falcon Flight diarahkan menuju final runway 24. Landasannya cukup panjang, sekitar
3 kilometer dengan lebar 40 meter, namun permukaannya tidak rata. Begitu pun secara umum pangkalan ini terbilang lengkap dan rapi. Shelter-shelter berderet di sisi selatan lengkap dengan pelindung bom. Dari
kokpit juga bisa Scramble Shelter untuk empat pesawat lengkap dengan senjata aktif untuk tugas-tugas intersepsi udara. Sedang di sebelah utara ada bunker-bunker terpisah untuk pesawat-pesawat yang dilengkapi
arresting cable dan barrier (jala pengaman) di kedua ujung landasan. Jalur hijau yang terletak di antara taxiway dan runway sebetulnya bukan tanah biasa, melainkan rumput yang tumbuh di atas lempengan baja berlubang
yang merupakan landasan darurat jika landasan utama dihancurkan lawan. Pangkalan yang dibangun AU AS ini, alkisah, pernah dijadikan markas pembom B-52
Stratofortress dan jet tempur F-104 Thunderchief
AU AS pada masa Perang Vietnam.
Tepat pukul 11.30 waktu setempat (10.30 WIB) keempat F-16 TNI AU mendarat selamat di Lanud
Korat. Usai memarkir pesawat kami langsung disambut kalungan bunga dan ucapan selamat datang
dari tuan rumah. Terakhir F-16 Skadron Udara 3 melawat ke Korat pada 1993, yakni untuk sebuah latihan rutin
air combat mengunakan peralatan ACMI (Air Combat
Manouvering Instrumentation). Sekarang peralatan seperti ini sudah dimiliki Indonesia, yakni di Pekanbaru yang disebut ACMR
(Air Combat Manouvering Range). ACMI RTAF sendiri sudah dua tahun tidak digunakan dan rencananya akhir tahun
ini akan diganti dengan peralatan semacam ACMR, namun buatan Israel.
Dihadang badai
Menguji keandalan penerbang kedua angkatan udara./Foto:Agung Sasongkojati
|
Elang Thainesia adalah sebuah latihan bersama yang secara bergantian diseleng-garakan oleh dua negara, Republik Indonesia dan Kerajaan Muangthai. Kerjasama regional serta latihan yang
diselenggarakan merupakan kepentingan yang strategis dari kedua negara. Meningkatkan kemampuan pelaksanaan Operasi udara gabungan dari AU kedua negara serta menguatkan kerjasama dan meningkatkan hubungan
kedua negara. Komandan dari kedua Skadron yang terlibat ditugaskan untuk menjamin tercapainya tujuan latihan dengan tingkat keamanan yang tinggi. Sehingga diharapkan semua pihak yang terlibat memperoleh
tambahan pengetahuan dan pengalaman yang cukup banyak dari latihan ini. Bertindak selaku Direktur Latihan Elang Thainesia XI adalah Group Captain Winai Plengwittaya dari RTAF dan sebagai wakilnya adalah
Kolonel Pnb. Edy Harjoko dari TNI AU.
Objektif latihan sendiri antara lain untuk membiasakan staff latihan dengan pembuatan
Standing Order dalam sebuah Combined Air Task
Force serta meningkatkan kapabilitas dan efisiensi
staf latihan dalam merencanakan operasi udara. Disamping itu melatih para penerbang yang terlibat dengan prosedur operasi udara bersama. Diadakan pula evaluasi dan pengembangan dalam
pembuatan Standing Order latihan agar dapat diaplikasikan dalam situasi sesungguhnya. Semua latihan harus dilaksanakan dengan aman sesuai batasan yang ditetapkan.
Latihan Elang Thainesia XI tidak melibatkan urusan politik internasional, dan terfokus pada latihan operasi udara dengan satu tingkat latihan tanpa adanya simulasi ancaman aktual. Semua
pengendalian tersentralisasi dengan desentralisasi dalam pelaksanaanya. Jenis latihannya sendiri adalah
Tactical Intercept, BFM (Basic Fighter Manouver),
ACT (Air Combat Tactic), serta CFT (Combined Forces
Task).
Pada tanggal 22 Agustus dilaksanakan upacara pembukaan di apron depan Tower ATC Korat. Yang mengagumkan bahwa panitia dari RTAF memasang umbul-umbul dengan bendera-bendera
Thailand dan Indonesia memenuhi jalan utama menuju tempat upacara. Kalau dihitung lebih dari empat puluh bendera Indonesia dikibarkan termasuk yang dikibarkan pada upacara bersama bendera Thailand.
Upacara berjalan singkat dan praktis, dengan kedua lagu kebangsaan dimainkan korps musik RTAF pada saat penaikan bendera kedua negara.
Siangnya dilaksanakan latihan CPX (Command Post
Exercise) dimana diadakan simulasi briefing terbang antara penerbang F-16 kedua negara. Dilanjutkan dengan pertukaran akademis dari
pihak TNI AU, dimana penulis mendapat kesempatan memberikan ceramah dengan topik CFWIC
(Combined Fighter Weapon Instructor Course) yang diselenggarakan oleh TNI AU bekerja sama dengan
RSAF (AU Singapura). Untuk itu pada akhir paparan disampaikan pula ajakan agar RTAF tertarik bergabung dalam Sekolah Weapon Instructor yang diselengarakan di Singapura dan Pakanbaru itu. Pada
petang harinya diadakan pesta selamat datang dimana segenap anggota Wing 1 yang terlibat termasuk anggota Skadron 103 "Lightning" menjamu anggota Skadron Udara 3 dan Staff latihan dari TNI AU di
gedung serbaguna Wing 1. Pada siang hari itu juga segenap peserta latihan sudah mengetahui dari CNN dan data meteorologi bahwa malam itu juga badai yang terletak diselatan Taiwan akan memasuki daratan
asia, dan ekornya yang penuh dengan awan hujan akan melewati Korat. Benar juga pada pukul sembilan malam hujan yang sangat lebat mengguyur Korat, dan hujan ini turun tidak berhenti sampai hari
Kamis malam.
Pagi tanggal 23 Agustus langit Korat yang biasanya cerah dipenuhi awan gelap yang dibawa oleh badai. Hujan cukup lebat, sehingga peserta latihan hanya bisa berdiam digedung yang
dijadikan Markas Komando Latihan. Pagi itu dilaksanakan latihan CPX untuk pelaksanaan Latihan Penyerangan gabungan pada akhir latihan. Penerbangan tidak bisa dilaksanakan karena hujan, bahkan
pesawat-harus diikat kuat agar jangan terguling karena angin kencang. Ini tidak mengada-ada, apalagi setelah kami disuguhi atraksi alam dimana beberapa pohon dalam pangkalan tumbang dihempas angin.
Dari pemberitaan koran lokal diketahui bahwa propinsi Nakhon Ratchasima dengan ibukotanya Korat mendapat musibah banjir yang merata. Untung saja posisi Wing 1 cukup tinggi, sehingga selamat
dari terjangan air. Meski begitu nasib barak-barak militer yang ada disekelilingnya berikut perumahan penduduk tak mujur. Mereka terendam air yang cukup tinggi. Musibah alam ini selanjutnya
dipecah pertandingan voli antar kedua skadron di dalam hanggar skadron teknik. Saling
smash di antara pesawat F-16 dan L-39 pun membuat kehangatan tersendiri sementara di luar hujan hebat nan dingin
masih saja mengguyur.
Perbedaan lintang Bumi memang membawa masalah tersendiri. Seperti juga negara-negara di tepi laut, yang namanya terjangan badai memang bisa sampai berhari-hari. Hingga hari ketiga
latihan yang semestinya kami sudah menguji ketrampilan di udara, hujan deras masih saja mengguyur. Tak pelak di tengah kebosanan menunggu kembalinya cuaca cerah kami berusaha menyibukkan diri di
tempat lain. Untuk itu para penerbang lebih memilih mengutak-atik komputer yangterhubung dengan LAN
(local area network). Untuk kepentingan Elang Thainesia ini tuan rumah menyiapkan lebih dari
30 komputer yang dipasang di ruang-ruang peserta, baik di bagian perencanaan, logistik, operasional, ruang protokol dan lain-lain, termasuk diruang planning Skadron Udara 3 dan Skadron 103 RTAF.
Semua data yang dibutuhkan dan informasi latihan bisa diakses oleh peserta yang berhak dari komputer-komputer tersebut termasuk data cuaca. Komputer yang digunakan cukup lumayan karena
dikendalikan prosesor Pentium III/500.
Jika pagi hingga siang merupakan acara mengutak-atik komputer, sore harinya kami kembali berhamburan ke hanggar untuk tanding voli dan sepakbola. Agar menyisakan kenangan,
pertandingan indoor ini pun kami tutup dengan pertukaran cindera mata.
Bertarung imbang
Karena pesawat sejenis, koordinasi lebih mudah bagi kedua AU./Foto:Agung Sasongkojati
|
Jum'at, 25 Agustus hujan tiba-tiba berhenti begitu saja dan matahari bersinar cerah di atas Korat. Tak mau membuang waktu, kami pun, Skadron 3 dan Skadron 103, segera menyiapkan jet-jet
tempur yang sama untuk kemudian memulai latihan yang sesungguhnya. Acara pertama adalah latihan Tactical Intercept, dua lawan satu dan dua lawan dua. Hari itu jadwal terbang cukup padat karena
harus mengejar sorti latihan selama dua hari yang tertunda. Kami penerbang kedua skadron saling bergantian peran, sekali menjadi target, sekali lain menjadi interseptor.
Segala teknik penyergapan digunakan, mulai dari
baseline intercept (dari samping) hingga
vertical intercept (tepat dari bawah atau atas). Selesai latihan intercept dilanjutkan latihan terbang
instrument dengan menggunakan peralatan TACAN
(Tactical Air Navigation). Dalam latihan ini, sejumlah penerbang diajak 'jalan-jalan' melintasi dataran rendah Korat yang terendam air banjir akibat hujan
selama tiga hari.
Dianggap belum memenuhi target akibat hambatan hujan, hari Sabtu yang menurut rencana libur tak pelak masih dijadikan ajang berlatih. Kali itu kami berlatih duel udara dua lawan dua yang biasa
disebut ACT (Air Combat Tactic). Masing-masing pihak dibantu pengendalian oleh radar GCI yang mempunyai nama
"Dressy Lady". Secara bergantian kedua pihak bertindak selaku
"Sweep" dan selaku "CAP"
(Combat Air Patrol). Belakangan kami baru tahu bahwa radar ini terletak 40 mil laut sebelah selatan Korat. Macam-macam taktik digunakan oleh kedua belah pihak.
Latihan dinilai berkembang karena baik RTAF maupun TNI AU sama-sama mengerahkan dua penerbang berkualifikasi
Fighter Weapon Instructor. Fighter Weapon Instructor atau Instruktur
Taktik/Senjata Fighter adalah penerbang yang dididik untuk menguasai secara lebih dalam mengenai (pengetahuan) persenjataan, penggunaannya serta aplikasi dan taktik pertempuran udara modern. Dia juga
harus selalu mampu meng-upgrade kemampuan diri dan skadronnya agar senantiasa siap menghadapi semua ancaman yang dihadapi dalam pertempuran udara. Dalam kemampuan rata-rata kekuatan kedua
pihak seimbang, namun untuk kemampuan GCI mereka nampak sangat profesional dan terlatih. Kelebihan ini nampaknya adalah hasil dari keikutsertaan RTAF yang secara teratur dalam latihan perang
udara berskala besar seperti Cobra Gold, yang melibatkan negara-negara seperti Amerika Serikat, Australia, Singapura, dan New Zealand. Hebatnya, dalam sekali periode latihan latihan seperti ini
bisa mengerahkan lebih dari 50 pesawat yang beraneka jenis, baik sebagai pihak
"Blue Force" atau pihak "Red
Force". Ini adalah bukti bahwa latihan memang amat menunjang profesionalisme dan
skill.
Hari Minggu hari santai, sebagian besar rombongan TNI AU mengunjungi kota Bangkok untuk berjalan-jalan 'menikmati'
traffic jam yang terkenal itu. Dari pengamatan sekilas, Bangkok
sendiri sudah nampak 'bergairah' kembali setelah beberapa tahun lalu seperti juga yang dialami sejumlah negara di Asia dihantam badai krisis ekonomi. Itu sebabnya barang-barang atau cinderamata yang
dahulu sempat dijajakan dengan harga yang cukup murah kini sudah kembali naik. Bagi orang Indonesia, menjulangnya harga-harga ini juga dipengaruhi melonjaknya kurs Bath terhadap rupiah, dari yang
semula hanya 70 rupiah menjadi 200 rupiah untuk setiap Bath-nya.
Senin, 28 Agustus barulah latihan menginjak fase
Combined Force Task. Latihan ini lebih dalam maknanya karena merupakan ajang OCA
(Offensive Counter Air) melawan DCA (Defensive
Counter Air). Pada latihan pertama, empat pesawat F-16 gabungan kedua negara dengan
mission commander dari RTAF dan dikawal oleh dua F-16 RTAF sebagai
escort melaksanakan penyerangan dengan
ketinggian rendah dengan misi menghancurkan sasaran simulasi berupa runway di "Chandy Range". Misinya sendiri cukup sulit karena setelah itu mereka dihadang dua pesawat F-16 TNI AU yang
tengah melaksanakan Combat Air Patrol untuk melindungi obyek vital "Chandy Range" tersebut. Kedua pihak mendapat dukungan radar GCI "Dressy Lady" dengan operator yang berbeda. Selama
pelaksanaan briefing sebelum terbang pemaparan perencanaan dilaksanakan dengan teliti melibatkan semua pihak, termasuk pihak lawan. Hanya rute dan taktik tidak boleh diketahui lawan. Latihan ini bisa
dikembangkan untuk pelaksanaan misi serangan udara yang melibatkan jumlah puluhan pesawat, dalam manajemen perencanaan dan pelaksanaan dibutuhkan seorang mission commander dan stafnya yang
benar-benar profesional dan berpengalaman.
Pada siang harinya tiba giliran penerbang F-16 TNI AU menjadi mission commander dan missi bisa terlaksana dengan baik meski cuaca memburuk di beberapa bagian rute. Semua
penyerang berhasil masuk dan menghancurkan sasaran serta melakukan serangan terhadap pesawat
air defence lawan. Mereka semua bisa dimentahkan dan dihancurkan oleh
escort dari TNI AU.
Selanjutnya, pada Selasa, 29 Agustus atau pada hari terakhir latihan dilakukan
Combined Forces Task yang dipimpin penerbang RTAF. Pertempuran dimulai tatkala pesawat-pesawat
gabungan RTAF/TNI AU menerobos masuk FEBA yang melintasi daerah latihan. Sedangkan untuk pengawalan obyek vital Chandy Range dilaksanakan penerbang TNI AU. Pertempuran udara yang sengit terjadi
karena kedua pihak dibantu pengendalian radar GCI "Dressy Lady". Bagi pesawat yang
killed atau terbunuh bisa hidup lagi setelah kembali ke daerahnya dan melewati garis " Rege line"
(Regenerate).
Saat latihan berlangsung rupanya KSAU Marsekal TNI Hanafie Asnan dan rombongan dari Mabes TNI AU mendarat di Korat menggunakan pesawat F-28 TNI AU. Mengawali kunjungannya,
KSAU menyempatkan diri untuk meng-inspeksi Detasemen TNI AU dan Markas Komando Latihan Elang Thainesia. KSAU nampak puas dengan hasil latihan yang sudah terselenggara. Dalam kaitan ini
Marsekal Hanafie Asnan berpesan agar prestasi ini tetap dipertahankan hingga latihan berakhir dan kembali ke Kandang Naga di Iswahjudi.
Secara umum, dalam latihan ini F-16 TNI AU melakukan penerbangan total sebanyak 30 sorti. Demikian pula yang dilakukan F-16 RTAF. Malamnya, di ballroom Hotel Dusit Thani yang
terkenal megah itu, tuan rumah menggelar acara perpisahan. Acaranya cukup meriah, terutama karena diselingi dendang bersama dengan lagu-lagu yang lagi
hit di Negeri Gajah Putih ini. Tembangnya enak,
tapi syairnya itu lho: susah dimengerti.
Tanggal 31 Agustus dengan segala kenangan dan kegembiraan selama latihan Elang Thainesia XI , ke-empat pesawat F-16 TNI AU dengan dua C-130 pendukungnya meninggalkan Thailand
untuk selanjutnya menuju Kuantan, Malaysia. Selamat tinggal Korat.
Sawat dee Khrap! (*)
|