Sebelum pulang mereka menyempatkan mampir ke sarangnya MiG-29 AU Malaysia./Foto:Agung Sasongkojati
|
Semula kami
agak terpana sesaat setelah roda-roda si Elang Besi menjejak
'Home of Fighter' Malaysia ini. Keadaannya sepi sekali. Selidik punya selidik ternyata pada tanggal 31 Agustus tersebut, sebagian besar
kekuatan Kuantan, akni MiG-29 Fulcrum dan Hawk 200 sedang melakukan
fly-pass di Kuala Lumpur. Kami baru tahu bahwa hari itu adalah Hari Kemerdekaan Malaysia. Mereka baru kembali sore
harinya. Mereka, umumnya adalah para penerbang yang sudah lama kami kenal sejak masih duduk dalam kokpit F-5
Tiger.
Kenangan demi kenangan pun melintas. Itu karena kami sering berlatih bersama dalam ajang latih Elang Malindo, latihan tempur rutin antara RI-Malaysia. Sebagai penerbang F-5, ketika
itu kami mendarat di Butterworth, yang juga merupakan basis F-18
Hornet dan F-5. Sedang sebaliknya mereka mendarat di Polonia, Medan. Kini, sejak beberapa tahun lalu, pesawat-pesawat itu
sudah diubah. Tidak lagi F-5 yang bermain, namun Hawk 200.
Dalam Airman to Airman Talk ini, kami mendapat penjelasan bahwasanya dalam struktur tugas TUDM, Skadron 17 memiliki peran sebagai OCU
(Operational Conversion Unit) sedang Skadron 19 berperan sebagai Skadron Operasional. Semua jet tempur MiG-29 mereka sudah menggunakan panel instrumen berbahasa Ingris, bahkan INS (Inertial Navigation System)-nya yang
buatan Rusia-pun sudah bisa di-update oleh peralatan GPS Amerika. Simulator MiG-29 milik TUDM yang buatan CAE Kanada itu juga cukup impresif. Baik yang berfungsi sebagai simulator
emergency maupun yang berfungsi sebagai full mission
simulator. Yang menariknya Full Mission Simulator-nya menggunakan teknik mutakhir dimana gambaran dunia luar diproyeksikan langsung ke
semacam kacamata di helmet penerbang seperti yang digunakan dalam teknologi ruang angkasa. Image yang ditampilkan pun sangat tajam bagi penerbang. Sementara itu, di lain pihak, dalam AAT ini
kami mendapat kesempatan untuk memaparkan hasil perekrutan penerbang F-16.
Bagi kami, perbedaan F-16 dan MiG-29 baru nampak jelas jika sudah dijajarkan. F-16 nampak lebih rapi ketimbang MiG-29 yang
hand-made itu. Tapi, disimak dari kemampuannya
MiG-29 haruslah diperhitungkan. Terutama karena telah ada berbagai revisi teknis. Mesin misalnya saja. Dari yang semula hanya tahan hingga tak lebih dari 500 jam, kini sudah bisa melewati batas 2.000
jam. Demikian pula dengan perlengkapan Helmet Mounted Display-nya, ia bisa menjadi pembunuh berbahaya mengingat yang ditentengnya adalah rudal AA-11
Archer rudal jarak pendek terbaik di
dunia saat ini, serta AA-12 Adder tandingan AMRAAM buatan AS.
Selesai 'bertamu' ke Malaysia pada 2 September, kami masih harus mengunjungi 'karib' lainnya, yakni rekan-rekan fighter di Lanud Paya Lebar, Singapura. Sayang perjalanan muhibah
yang dipimpin Mayor Pnb. Fachri 'Oryx' Adamy ini tak begitu menyenangkan. Falcon Flight dihadang cuaca buruk di tengah jalan. Lebih dari itu, F-16 yang dipiloti seorang rekan, yakni Kapten
Pnb. Hanafie 'Jaguar', sesaat setelah lepas-landas dari Kuantan tiba-tiba mengalami kerusakan pada sistem pendingin avioniknya. Sebuah kerusakan yang mengharuskannya terus menempel ketat pada
F-16 lainnya mengingat sebagian peralatan seperti radar dan INS harus dimatikan.
Namun demikian ke-empat pesawat akhirnya berhasil juga mendarat dengan selamat di Lanud Paya Lebar markas jet tempur F-5 Au Singapura. Di sini, kami disambut para penerbang
Skadron 140 (F-16 A/B/C/D) dari Lanud Tengah. Sebagian besar penerbang Skadron Udara 3 sudah kenal akrab dengan mereka mengingat telah seringnya melaksanakan latihan bersama atau
saling kunjung. Di Singapura kami menyempatkan diri membicarakan program keselamatan terbang dan kerja antara kedua skadron. Kunjungan ini berakhir pada 4 September dan kami pun kembali
ke markas. (Sharky)