ANGKASA N0.1 OKTOBER 2000 TAHUN XI  

Skadron Udara 3 TNI AU: Menguji Kemampuan di Korat

MUHIBAH KE KUANTAN DAN PAYA LEBAR

"Striker" Asal Ceko


  Laporan Utama
Aerobatik
Cakrawala
Ekonomi
Fenomena
Kolom
Kokpit
Kisah Nyata
Lukisan Dirgantara
Lobi
Militer
Notam
Ordirga
Origami
Opini
Profil
Peristiwa
Seabad Kedirgantaraan
Siapa-siapa
Teknologi

Rate our site
@ SearchIndonesia

 
PESAWAT MILITER  

"Striker" Asal Ceko

Penggabungan teknologi Barat-Timur merupakan konsep lahirnya L-159. Berbekal konsep ini, Aero coba mengincar pasaran internasional. Walau awalnya hanya untuk memenuhi kebutuhan AU Ceko sendiri.

L-159 PENEMPUR RINGAN - Cekoslovakia coba menghadirkan penempur ringan. Hasilnya adalah L-159./Foto:Aero Vodochody

Bubarnya Pakta Warsawa berpengaruh juga pada pola industri kedirgantaraan-nya. Kerja sama dengan pihak manapun tak lagi diharamkan. Demikian juga dengan soal pemasaran, tak harus kepada sesama negara Blok Timur atau negara sealiran. Alhasil pangsa pasar internasional kini yang di incar.

Perubahan juga menyentuh pada Cekoslovakia. Dengan dipunggawai Aero Vodochody, mantan anggota Pakta Warsawa ini ikut meramaikan kelas jet tempur ringan (light fighter). Andalannya adalah L-159 yang tak lain berbasis jet latih lanjut L-39 Albatros. Penghematan waktu serta ongkos pengembangan yang jadi alasan mengapa Aero memilih jalan ini.

Warisan PD I

Menengok sejarah yang dilalui, Aero boleh dibilang bukan "anak kemarin sore" dalam urusan pesawat terbang. Tepatnya mulai tahun 1919 pabrikan Aero mulai aktif berdiri. Atau hanya setahun setelah Cekoslovakia resmi berdiri. Tak hanya Aero, dua pabrikan lain juga muncul. Masing-masing adalah AVIA dan LETOV. Ketiga pabrikan tadi awalnya memang hanya mengurusi pesawat-pesawat Perancis yang tertinggal di Ceko semasa PD I.

Tapi antara era tahun 1920 hingga 30-an keadaan mulai berubah. Produksinya tak hanya dipakai di dalam negeri saja. Negara-negara seperti Finlandia, Rumania, Yugoslavia dan kawasan sekitar Baltik juga ikutan memakai. Dua pesawat, yaitu pembom Bloch tipe 200 dengan lisensi Perancis serta pembom tempur SB/2 asal Rusia yang jadi andalan. Sementara untuk penerbangan sipil hasilnya adalah pesawat bersayap tunggal (monoplane) A 35/42.

Berkecamuknya PD II berakibat Aero diwajibkan membuat pesawat-pesawat tempur bagi keperluan perang Nazi Jerman. Setelah PD II berakhir, industri pesawat Ceko lebih banyak berkutat dengan mengurusi pesawat-pesawat bantuan dari Sekutu. Pengalaman membuat jet militer diawali ketika MiG-15 Fagot mulai dibuat Cekoslovakia. Hal yang berlanjut sampai seri MiG-21 Fishbed. Loncatan jauh terjadi saat Aero menciptakan jet latih bertampang polos, L-29 Delfin pada tahun 1961. Selain merupakan jet asli pertama Ceko, jet yang dikodei Maya oleh NATO ini jadi pesawat latih standar Pakta Warsawa. Termasuk bagi keperluan AU Soviet. Sukses ini diteruskan dengan lahirnya L-39 Albatros pada tahun 1968 dan kemudian L-59 di tahun 1986.

Permintaan AU

Aero L-59 - Aero merombak L-59 Albatros, jadi pesawat tempur ringan./Foto:Aero Vodochody

Proses lahirnya L-159 sendiri tak bisa lepas dari permintaan AU Cekoslovakia akan kebutuhan jet tempur ringan (Advance Light Combat Aircraft-ALCA). Soalnya setelah Pakta Warsawa bubar, AU Ceko berancar-ancar komposisi kekuatan udaranya akan berjumlah 100 pesawat tempur. Sejumlah 24 pesawat merupakan jet tempur utama supersonik berteknologi tinggi. Sedang sisanya bakal diisi dengan jet-jet tempur ringan buatan dalam negeri.

Untuk menjawab kebutuhan itulah Aero kemudian menelurkan L-159, Striker terbang asal Ceko. Dari sosoknya pesawat ini nyaris tak berbeda dengan pendahulunya L-39/59. Hanya saja untuk L-159 A, kursi belakang digusur guna menempatkan perangkat avionik dan elektronik tambahan. Sedang bagian hidung tampak lebih gemuk lantaran dijejali radar penjejak sasaran. Itu baru sosok luarnya.

Begitu melongok ke dalam kokpit tak tampak sama sekali kesan pesawat asal Blok Timur. Era digital telah merambah pesawat ini. Tak ada lagi tombol-tombol manual yang bertebaran. Dua layar tampilan multi fungsi serta HUD (Head Up Display) mendominasi panil kokpit. Yang jelas semuanya tertata dengan rapi. Setara dengan F-16 Fighting Falcon atau F/A-18 Hornet versi awalnya.

Gambaran tadi bukan hanya pajangan. Simak saja, sebagai tulang punggung kemampuan tempur adalah radar Grifo L. Perangkat pengendus keluaran FIAR, Italia ini berkemampuan multi misi. Masing-masing delapan sasaran udara dan sepuluh sasaran darat dapat sekaligus ditandai. Kelengkapan lain adalah penangkap gelombang radar lawan (RWR) Sky Guardian-200 buatan GEC-Marconi. Untuk menghadapi perang elektronik, L-159 juga dilengkapi dengan sistem anti-jamming Vinten Vicon 78 plus chaff atau flares. Dengan perangkat elektronik ala Barat ini maka otomatis berbagai senjata dari Barat pun sanggup digotong. Sebanyak tujuh cantelan siap membawa AGM-65 Maverick atau rudal udara-udara AIM-9 Sidewinder. Demikian juga dengan camera pod bagi tugas-tugas pengintaian. Tak hanya elektronik dan senjata, untuk urusan mesin, L-159 memakai turbofan ITEC F 124-GA-100 buatan Honeywell , Amerika. Berbekal mesin ini L-159 bisa digeber hingga kecepatan 800 kilometer perjam. Itupun dengan jarak jangkau hingga 800-an kilometer.

Secara ringkas, mitos masih rendahnya teknologi yang dipakai boleh jadi tak berlaku lagi bagi L-159. Pasalnya Aero menggandeng beberapa pabrikan asal Barat untuk mendandani produknya. Dimulai pada tahun 1996, Boeing resmi jadi rekanan Aero. Langkah ini kemudian disusul dengan Allied Signal, Fiar, GEC-Marconi, dan terakhir Honeywell. Tak dapat disangkal, Ceko berhasil menggabungkan airframe asal Blok Timur yang terkenal "badak" dengan teknologi Barat yang mumpuni.(avi)



Laporan Utama | Aerobatik | Cakrawala | Ekonomi | Fenomena | Kolom | Kokpit | Kisah Nyata | Lukisan Dirgantara | Lobi | Militer | Notam | Ordirga | Origami | Opini | Profil | Peristiwa | Seabad Kedirgantaraan | Siapa-siapa | Teknologi |

Copyright © 1998 Majalah Angkasa. All rights reserved
Designed by
Kompas Cyber Media