|
| |
 | NOTAM
|
|
AUSTRALIA PAKAI ADATS
Pangkalan Udara AU Australia (RAAF) Williamtown di Newcastle sekarang telah sepenuhnya mengoperasikan sistem ADATS (Australian Defence Air Traffic System). Pengoperasian sistem ini merupakan yang kedua di Australia. Setelah sebelumnya perangkat
yang sama juga telah beroperasi di Lanud Darwin pada Bulan Mei lalu. Adalah pabrikan Raytheon Company yang ketiban rejeki dalam program ini. Seperti yang dijelaskan dalam
Defence System Daily (7/9), Darwin merupakan sasaran utama program ADATS. Tapi
Williamtown merupakan kemajuan besar dalam pewujudan program ini. Tingkat kerumitan tinggi jadi alasannya. Lantaran sistem yang telah diterapkan di Lanud itu beragam jenisnya. "ADATS merupakan proyek sistem integrasi terumit yang pernah dilakukan di Australia", ujar
Andrew Goldman, Presdir Raytheon. Secara ringkas ADATS merupakan sistem yang menggabungkan aktivitas lalulintas udara
(air traffic) sipil dan militer. Jadinya kedua kegiatan tadi dapat berjalan secara simultan dalam satu lokasi bandara atau lanud. Tambahan lagi,
penggunaan sistem ini tidak merombak sistem yang telah ada sebelumnya. Negara-negara yang berwilayah luas dianggap cocok menggunakan sistem kendali ini. Walau tak dijelaskan secara rinci, Negeri Kanguru itu nantinya berencana bakal menerapkan sistem sejenis pada 12
lokasi lainnya.(avi).
SINGAPURA BELANJA ONDERDIL
Pemerintah Singapura sedang berusaha mendapatkan beberapa jenis suku-cadang bagi kepentingan AU-nya (RSAF). Suku-cadang yang sedang diincar antara lain adalah kanon M61-A1 kaliber 20 milimeter,
GPS(Global Positioning System), alat tes
penerbangan (flight test instrumentation), dan beberapa perangkat pendukung logistik lainnya. Sejumlah 20 unit kanon dan 22 unit GPS bakalan dibeli dari Amerika. Menurut
Defence System Daily (11/9), Singapura telah mengalokasikan dana sekitar 81 juta dollar AS untuk
menggolkan program ini. Rencananya kanon-kanon dan GPS tadi akan dipasang pada armada jet tempur F-16 D
Fighting Falcon, Blok 52 yang sedang dipesan Singapura. Sedang suku-cadang lainnya digunakan untuk operasi harian yang bakal dilaksanakan oleh F-16 tadi.
Sebagai pemborong utamanya ditunjuk Lockheed Aeronautics Corp. Menurut pabrikan yang berbasis di Forth Worth, Texas, tak ada kendala teknis yang bakal ditemui oleh Singapura dalam menangani suku cadang pesanannya. Tak ada perjanjian
offset dalam program ini.(avi)
DUA MILIAR DARI ARAB
Arab Saudi berniat membeli perangkat militer dari Amerika. Untuk keperluan itu Arab telah menganggarkan dana sebesar dua milyar dollar AS. Sebesar 690 juta dollar AS akan dikeluarkan pada fase pertama. Dana tadi dipakai untuk pengadaan suku-cadang,
fasilitas modifikasi/perawatan, pelatihan teknisi, serta perangkat pendukung bagi armada F-15
Eagle-nya. Fasilitas perawatan digunakan AU Saudi Arabia (Royal Saudia Air Force-RSAF) untuk membedah F-15, komponen demi komponen. Untuk kemudian menandainya apakah
layak terbang atau tidak. Menurut Defence System
Daily (11/9), belum ada kontraktor yang ditunjuk menjalankan proyek fase pertama ini. Nantinya kontraktor ini akan menjalankan tugasnya sampai tahun 2008. Selain itu Arab Saudi juga berniat membeli simulator F-15. Dana
yang dianggarkan adalah 1,6 milyar dollar AS. Sedang sisa dana sebesar 416 juta dollar AS digunakan untuk membeli rudal darat ke darat TOW 2A plus perangkat komunikasi canggih. Rudal-rudal ini akan dipakai untuk menambah inventaris rudal TOW milik Pengawal
Nasional Arab Saudi (Saudi Arabian National Guard-SANG). Untuk proyek yang terakhir ini dua perusahaan telah ditunjuk untukk menanganinya. Masing-masing adalah General Motors of London dan Raytheon
Corp.(avi)
RAF KEKURANGAN PILOT
Saat ini AU Inggris (RAF), mengalami krisis pilot terlatih. Kenyataan ini terjadi gara-gara jumlah pilot yang dihasilkan departemen pertahanan negeri itu sedikit. Sekitar 45 orang pertahunnya atau hanya 18 persen dari jumlah yang sebenarnya dibutuhkan.
Buntutnya, berpengaruh pada pilot jet tempur yang siap diterjunkan dalam operasi yang sekarang bejumlah 100 orang. Menurut
Defence System Daily (14/9), krisis ini bakalan berlanjut hingga tahun 2012. Bahkan bila RAF berhasil mendapatkan pilot-pilot
anyar sesuai dengan target tiap tahunnya. Sebenarnya kebutuhan pilot baru bagi AB Inggris mencapai 250 orang pertahunnya. Kebutuhan ini makin meningkat di tahun 2001 yang mencapai 290 orang. Pemerintah Inggris kemudian menuding skadron pendidikan RAF (RAF Training Group Defence
Agency) yang tak becus bekerja. Hal lain yang turut berpengaruh adalah lamanya jenjang karir yang dijalani. Dibutuhkan waktu lima setengah tahun bagi seorang pilot militer Inggris untuk mencapai kualifikasi sebagai pilot garis depan
(front line pilot). Padahal sebelumnya waktu
yang dibutuhkan hanya selama tiga tahun saja. Kenyataan di atas juga mencerminkan kurangnya jumlah instruktur dan pesawat latih yang ada. Untuk mengatasi masalah ini, beberapa pihak menganjurkan untuk merombak sistem pendidikan yang ada sekarang. Mulai dari
proses penerimaan sampai tahap masuk pada jet latih lanjut. Semua proses latihan termonitor dengan rapi. Masukan-masukan ini dipertimbangkan serius oleh pihak departemen pertahanan. Maka tak tertutup kemungkinan dimasa datang urusan pendidikan akan dilimpahkan ke
swasta. Agar manajemen dapat dilakukan lebih
profesional.(avi)
|