ANGKASA N0.1 OKTOBER 2000 TAHUN XI  

SIA Cargo Corporatisation

AUSTRALIA PAKAI ADATS

F-15 UNTUK EROPA TIMUR

AS GANTI RUDAL JELAJAH


  Laporan Utama
Aerobatik
Cakrawala
Ekonomi
Fenomena
Kolom
Kokpit
Kisah Nyata
Lukisan Dirgantara
Lobi
Militer
Notam
Ordirga
Origami
Opini
Profil
Peristiwa
Seabad Kedirgantaraan
Siapa-siapa
Teknologi

Rate our site
@ SearchIndonesia

 
NOTAM  

AS GANTI RUDAL JELAJAH

AU Amerika (USAF) bermaksud untuk mengganti armada rudal jelajah konvensional yang diluncurkan dari udara (Conventional Air Launched Cruise Missiles-CALCM). Hal ini dilakukan sehubungan dengan alokasi dana bagi pengembangan yang disediakan oleh kongres sebesar 40 juta dollar AS. Lebih sedikit dibanding dengan proposal yang diajukan USAF yang besarnya 86 juta dollar AS. Proyek rudal jelajah baru ini akan dinamai ERCM (Extended Range Cruise Missiles). Menurut Flight (19/9), ERCM merupakan pengembangan lebih lanjut dari LRCM (Long Range Cruise Missiles). Rudal jelajah berkecepatan tinggi yang diluncurkan dari darat. Beberapa pabrikan menyatakan bersedia ikut dalam proyek ini. Seperti Boeing yang menawarkan CALCM yang diperpanjang jarak tempuhnya. Kemudian Lockheed Martin yang melakukan modifikasi JASSM (Joint Air-to-Surface Standoff Missile) agar mampu menempuh jarak 1.850 kilometer. Sedang Raytheon menggelar seri canggih rudal penjelajah (Advanced Cruise Missiles). USAF sendiri sebenarnya telah mengumumkan data teknis yang diinginkan. Minimal jarak tempuh ERCM adalah dua kali CALCM yang berdaya jelajah 970 kilometer. Hulu ledak konvensional dengan sistem "pecahan" (fragmentation) Sekitar 618 ERCM rencananya akan di beli USAF pada fase pertama. Untuk itu dana yang disediakan adalah sebesar 700 juta dollar AS pada tahun fiskal 2007 sampai 2008. Lebih dari 1.000 rudal jelajah baru nantinya bakal memperkuat USAF.(avi)


SENJATA UNTUK OSPREY

Divisi persenjataan General Dynamics terpilih jadi kontraktor utama bagi Pabrikan Bell-Boeing. Proyek ini meliputi pengadaan kubah senapan mesin yang akan dipasang pada pesawat hybrid V-22 Osprey. Secara resmi program ini baru akan dimulai pada awal tahun 2001. Seperti yang diberitakan pada Defence System Daily(14/9), kontrak ini akan bernilai sekitar 45 juta dollar AS. Nilai ini baru untuk biaya pengembangan, produksi, pengadaan suku cadang serta uji coba pada tiga buah V-22 yang telah dilengkapi dengan kubah senjata. Bila langkah awal ini sukses, maka General Dynamics bakal ketiban rezeki sebesar 250 juta dollar AS untuk melengkapi semua armada Osprey. "Kita sangat senang dapat memenuhi kebutuhan senjata untuk peasawt-pesawat milik Marinir itu", ujar Linda Hudson, Presdir Divisi Senjata General Dynamics. Kubah senapan mesin ini nantinya akan terdiri dari sistem laras putar (gatling) GAU-19/A kaliber 12,7 milimeter, sistem pasok amunisi, dan magasinnya. Diharapkan V-22 nantinya akan memiliki kemampuan serbu disamping sebagai alat bela diri. Sampai saat ini baru pihak Marinir AS saja yang menggunakan V-22 bagi keperluan operasinya. Sedang bagi AU AS, Osprey masih dalam masa percobaan operasional.(avi)



Laporan Utama | Aerobatik | Cakrawala | Ekonomi | Fenomena | Kolom | Kokpit | Kisah Nyata | Lukisan Dirgantara | Lobi | Militer | Notam | Ordirga | Origami | Opini | Profil | Peristiwa | Seabad Kedirgantaraan | Siapa-siapa | Teknologi |

Copyright © 1998 Majalah Angkasa. All rights reserved
Designed by
Kompas Cyber Media