SIA - Pramugari SIA asal Indonesia / Foto : Agus Wahyudi
|
BULAN silam terbetik kabar, bahwa maskapai penerbangan NovAir Swedia telah memanfaatkan jasa pilot Garuda yang
bisa menerbangkan pesawat Airbus A330. Para pilot Indonesia ini diminta untuk menerbangkan pesawat jalur Stockholm-New
York. Selain untuk mengawaki jet badan lebar dengan
glass cockpit dan fly-by-wire ini, Garuda juga diminta untuk mempersiapkan
pilot-pilot Swedia yang nantinya akan mengawaki pesawat tersebut.
Bisa saja itu dilihat sebagai berita biasa, tetapi sebaliknya pun juga bisa. Ketika negara dilanda berbagai kesulitan dan
krisis kredibilitas di berbagai aspek, berita tersebut memberi nuansa kebanggaan. Bagaimana tidak, bila dengan itu pilot kita
mendapat kesempatan baik di luar negeri, baik untuk menimba pengalaman lebih lanjut maupun mendapatkan penghasilan lebih baik. Dari satu
sisi, berita itu juga mengandung semacam pengakuan, bahwa dari segi kemampuan, pilot Indonesia memenuhi standar internasional.
Beberapa waktu lalu, sejumlah pilot Indonesia juga mendapatkan
job di maskapai perusahaan Korea Selatan dan Taiwan.
Ini tentu perkembangan menarik, karena beberapa tahun silam kita sebaliknya sering mendengar pengumuman dari kokpit diberikan
oleh pilot yang lafalnya bukan asli Indonesia. Itu artinya, kita kelangkaan pilot, sehingga perlu "mengimpor" pilot.
Tetapi apa pun juga, kedua perkembangan di atas - "mengekspor" maupun "mengimpor" pilot - memperlihatkan, bahwa
sumberdaya manusia (SDM) di era globalisasi ini benar-benar sangat mobil, mudah berpindah-pindah. Boleh jadi, apa yang kini berlangsung
di Teknologi Informasi, khususnya yang berkaitan dengan Internet, bisa dijadikan ilustrasi. Di bidang ini, tenaga ahli - yang
sangat dibutuhkan untuk menopang bisnis 'Ekonomi Baru' (atau ekonomi yang memanfaatkan teknologi Internet) - diburu-buru hingga
ke tempat yang tidak lazim untuk mendapatkan tenaga kerja, seperti di kafe.
Di sini terlihat, bahwa sejumlah bidang - seperti Internet - memang tumbuh pesat, sehingga kelangkaan SDM amat
dirasakan. Kelangkaan ini bukan saja dalam lingkup perusahaan/kantor, tetapi juga bahkan dalam lingkup negara, sehingga pihak
yang membutuhkan terpaksa harus outsourcing (mencari dari luar) ke luar negeri.
Tetapi hukum pasar juga berlaku, bahwa meski kebutuhan tinggi, yang berpeluang mendapatkan kesempatan luas adalah
mereka yang memang siap, secara intelektual memenuhi, ketrampilan teknis menguasai. Ini pun juga diamati pada pemuda Indonesia
ahli komputer yang mendapat greencard (ijin tinggal dan bekerja) di Jerman beberapa waktu lalu.
Ini menyampaikan pesan, bahwa sesungguhnya peluang dan kesempatan - di dalam negeri atau juga di luar negeri - masih terbuka
lebar. Tetapi untuk bisa merebut kesempatan tersebut, peminat harus lah 'mengerjakan PR (pekerjaan rumah)' lebih dahulu. Terus
belajar menguasai bidang profesi, terus membaca menambah pengetahuan, dan ini yang tidak kalah penting: terus-menerus meningkatkan
kemampuan berbahasa asing khususnya Inggris, adalah PR yang wajib dikerjakan oleh setiap orang yang ingin maju.
Baik karena Indonesia masih krisis, sehingga keadaan di dalam negeri tidak menawarkan penghasilan menarik, maupun oleh
terus berlangsungnya globalisasi, generasi muda Indonesia memang harus menambah lagi satu pandangan hidup penting, yakni
berorientasi terbuka, dengan wawasan internasional. Kepribadian yang mudah bergaul dengan orang asing, menaruh minat terhadap
perkembangan dan masalah internasional, jelas akan memberi nilai plus, baik untuk yang baru mencari pekerjaan maupun yang ingin
mendapatkan kesempatan kerja lebih baik.
Lihat lah maskapai penerbangan Singapura (SIA), Hongkong (Cathay Pacific), Emirate (Uni Emirat Arab), merekrut
gadis-gadis muda Indonesia untuk menjadi pramugari, sementara SIA juga melatih insinyur muda Indonesia untuk mendukung layanan
teknik operasional maskapai tersebut di Indonesia...Semuanya itu sungguh kesempatan yang menantang.
Seperti halnya pilot Garuda yang akan bekerja di maskapai Swedia, berbagai peluang yang telah diraih oleh pemuda-pemudi
Indonesia di maskapai dan perusahaan asing tersebut telah mengubah selamanya peta bumi lapangan kerja di Tanah Air. Hal ini
menurut pandangan kita, sebaiknya memang dilihat sebagai tantangan yang bisa disambut oleh kalangan di Indonesia secara
lebih luas lagi. (nin)