Pendidikan Terbang Layang angkatan XVIII yang berlangsung 24 Juli sampai 24 Agustus 2000 di Lanud Kalijati ditutup oleh KSAU
Marsekal TNI Hanafie Asnan selaku Ketua Umum PB Federasi Aero Sport Indonesia (FASI). Dari 82 oarang yang dididik, 27 berasal dari pelajar,
mahasiswa dan swasta, belajar sampai selesai. Sisanya terdiri pejabat/perwira tinggi dan menengah TNI AU mengikuti selama tiga hari.
Pendidikan terbang layang kali ini cukup istimewa, sebab diikuti sejumlah pejabat/Pati dan Pamen TNI AU. Diharapkan dampaknya
bisa memberi daya tarik sendiri bagi para anggota TNI AU lainnya, dan masyarakat pada umumnya supaya mau bergabung berlatih terbang
layang. Alangkah baiknya bila yang berlatih tak hanya perwira dan pejabat TNI AU dari Jakarta dan Jabar tapi juga daerah atau Fasida lain terutama
luar Jawa. Supaya perwira TNI AU yang sudah mengikuti Diklat Terla bisa mengajak masyarakat di daerah masing-masing. Kegiatan
menggalakkan terbang layang tidak hanya dipelopori anggota TNI AU, tapi juga masyarakat luas.
Wajar dan perlu jika terbang layang sebagai cabang olahraga dirgantara tertua di Indonesia, dikembalikan kejayaannya seperti 1960 -
1970-an atau ditingkatkan dan diperluas kegiatannya sampai ke beberapa daerah. Sebetulnya sejak didirikan Pusdiklat Terla di Kalijati 1987 dan
dibukanya Diklat Terla I tahun 1988, sampai sekarang sudah banyak lulusannya. Banyak di antaranya dari pelajar, mahasiswa dan masyarakat
namun kebanyakan hanya dari Jawa. Sayangnya setelah kembali ke daerahnya teristimewa yang di luar Jawa amat kurang bahkan ada yang tidak
mendapat pembinaan.
Jauh-jauh membuang waktu, biaya, meninggalkan bangku kuliah dan pekerjaan untuk belajar terbang, namun sayang seperti mubazir saja,
kalau kurang atau tidak ada pembinaan lebih lanjut di daerahnya. Apa yang didapat di Kalijati hanya jadi pengetahuan dan tinggal kenangan belaka.
Sayang memang tapi kenyataan memang begitu. Tujuan Diklat Terla, mencetak kader dan meratakan terbang layang ke pelbagai daerah. Tapi akhir-akhir
ini kebanyakan peserta diklat dari Jawa saja, Jabar dan Jakarta. Kebetulan dalam satu dasa warsa belakangan ini paling banyak Diklat Terla
dibanding diklat cabang-cabang ordirga lain.
Kita menghadapi dilema yang rumit jika berbicara ingin terus melestarikan terbang layang. Di satu pihak harus meningkatkan kualitas
dan penyebarluasan terbang layang, salah satu jalan yang ditempuh menyelenggarakan Diklat Terla, walaupun akhir-akhir ini dari dalam Jawa. Pihak
lain, hanya di pulau Jawa yang ada kegiatan terbang layang, lantaran yang punya glider dan pesawat penarik hanya Fasida yang ada di Jawa.
Setelah 1985-an Fasida luar Jawa tak ada yang melakukan kegiatan terbang layang berhubung tidak hanya peralatannya. Lucu juga, daerah
disarankan mengirim orang untuk dididik di diklat tapi di daerahnya tidak ada kesempatan berlatih dengan cara misalnya mendatangkan glider dan
pesawat penariknya dari pusat.
Peranan Fasida
Dalam rangka mencetak bibit atlet baru olahraga dirgantara, tugas PB FASI antara lain menyelenggarakan diklat dan menyediakan fasilitas
serta peralatan. Setelah lulus pembinaan selanjutnya di tangani Fasida-Fasida. Berarti peranan Fasida besar dalam membina klub-klub yang ada
di wilayahnya, antara lain mengadakan kegiatan yang bisa menarik masyarakat agar bergabung dalam ordirga.
Tugas membina tak hanya mengkoordinir dan mengadakan latihan klub-klub yang sudah ada, tapi juga harus melakukan kegiatan yang
memberi peluang timbulnya klub-klub baru. Yang tak kalah penting lagi, Fasida perlu bisa merangkul, melibatkan pejabat Pemda setempat, para sponsor
dan masyarakat, untuk diajak bersama-sama menggalakkan ordirga, sebagai bagian menyebarluaskan minat dirgantara, memasyarakatkan olahraga
dan mengolahragakan masyarakat. Kini makin tampak peranan ordirga mendukung kegiatan pariwisata. Oleh sebab itu Fasida, Pemda dan
masyarakat diharap mau menggalakkan ordirga, agar ordirga dan pariwisata bersama-sama maju dan bergairah.
(mar)