ANGKASA N0.1 OKTOBER 2000 TAHUN XI  

Messerschmitt Me 262 A-1


  Laporan Utama
Aerobatik
Cakrawala
Ekonomi
Fenomena
Kolom
Kokpit
Kisah Nyata
Lukisan Dirgantara
Lobi
Militer
Notam
Ordirga
Origami
Opini
Profil
Peristiwa
Seabad Kedirgantaraan
Siapa-siapa
Teknologi

Rate our site
@ SearchIndonesia

 
ORIGAMI  

Messerschmitt Me 262 A-1

Foto:Angkasa/DN Yusuf

Menjelang saat-saat terakhir jatuhnya Nazi Jerman, gelombang pemboman pesawat sekutu semakin membabi buta. Hampir seluruh pusat-pusat industri militer dan kilang minyak Jerman beran-takan disikat gerombolan B-17 Flying Fortress maupun B-24 Liberator. Belum lagi oleh rombongan bomber RAF (AU Inggris), Lancaster maupun Halifax di malam hari. Pemburu-pemburu yang ada kala itu seperti Messerschmitt Me 109 maupun Focke Wulf FW-190 tak mampu lagi mengatasinya. Apalagi pemboman dilakukan dari ketinggian tinggi.

Intinya, dibutuhkan pesawat pencegat cepat, mampu terbang tinggi untuk meng-halau pembom sekutu sebelum mendekati sasaran. Daya hantam yang dahsyat, alias berkanon kaliber besar merupakan inti kedua. Tak perlu berkali-kali mengham-burkan peluru. Cukup sekali incar, musuh berantakan! Lengkap sudah syarat sebagai penjagal bomber sekutu.

Awal perjalanan Me-262 sebenarnya dimulai pada tahun 1938. Tak langsung jadi memang, karena berbagai kendala menghadang. Mulai dari konfigurasi badan, sambungan sayap sampai pilihan mesin jet yang ada, yaitu antara BMW dan Jumo. Oleh karenanya saat uji airframe pada tahun 1942 sebuah mesin propeller dipasang pada hidung. Bersamaan juga dengan dua mesin jet di kanan-kiri sayap. Setelah melalui berbagi pengujian akhirnya terpilih turbojet Jumo 004 B sebagai dapur pacu Me 262. Pada tahun 1943 Luftwaffe (AU Nazi Jerman) tertarik oleh pesawat ini. Sebanyak 100 buah merupakan pesanan awalnya.

Pesanan ini tak berjalan mulus. Pasal­nya sekutu keburu memporak-porandakan Regensburg. Lokasi pusat pengembangan jet tempur Messerschmitt pun akhirnya dipindahkan ke Oberammergau, sekitar Bavaria. Apesnya lagi, Messerschmit juga kekurangan tenaga ahli gara-gara pem­boman itu. Masalah yang sama juga dihadapi pada pasokan bahan dasar seperti alumunium dan bahan bakar. Akibatnya produksi masalpun terlantar selama ber­bulan-bulan.

Walau demikian, Me-262 akhirnya diterjunkan juga dalam kancah PD II. Dipergoki pertama kali oleh de Havilland Mosquito RAF (AU Inggris) yang berhasil lolos dari sergapan pada bulan Juli 1944 disekitar Munich. Sejak saat itu kehadiran Me-262 menjadi momok bagi pemburu-pemburu sekutu yang kala itu belum mampu mengimbanginya dari segi kecepatan. Buktinya saat PD II berakhir, hitung punya hitung ada 100-an pesawat sekutu baik pembom maupun pemburu yang jadi korban.

Jumlah korban di atas sebenarnya bisa bertambah, kalau saja Hitler tak merombak Me-262 jadi pembom-tempur (Me 262 A-2a). Dengan perubahan ini berarti cantelan bom seberat satu ton harus ditambahkan pada bagian tengah badan. Kelengkapan ini otomatis mengurangi kelincahan Me-262.

Sebanyak sembilan versi sempat dilahirkan Messerschmitt sebelum Jerman akhirnya bertekuk lutut. Salah satunya adalah Me 262 A-1a yang merupakan pemburu murni (pure fighter) tanpa adanya cantelan bom. Empat buah kanon Rheinmettal-Borsig kaliber 30 milimeter jadi andalan. Sekitar 100 pelor adalah jatah bagi kanon bagian atas. Sedangkan untuk bawah hanya diisi 80 peluru saja. Versi lainnya adalah Me 262 B-1a/U1 yang merupakan pemburu malam (night fighter) bertempat duduk ganda. Dua buah antena radar Nuptune V menempel di ujung hidung pesawat. Selain itu sebuah kanon BK 5 berkaliber 50 milimeter pernah juga dicobakan pada versi A-1. Sayangnya versi yang dijuluki heavy bomber destroyer ini tak jadi diproduksi massal. Total sekitar 1.433 Me-262 kemudian pernah dibuat.(avi/sy)



Laporan Utama | Aerobatik | Cakrawala | Ekonomi | Fenomena | Kolom | Kokpit | Kisah Nyata | Lukisan Dirgantara | Lobi | Militer | Notam | Ordirga | Origami | Opini | Profil | Peristiwa | Seabad Kedirgantaraan | Siapa-siapa | Teknologi |

Copyright © 1998 Majalah Angkasa. All rights reserved
Designed by
Kompas Cyber Media