|
| |
 | PROFIL
|
|
Dr. Ir. Djoko Sardjadi:
Ahli Pesawat dari Lereng Gunung Merapi
"Ayah ingin saya menjadi dokter karena menurutnya hidup dokter lebih sejahtera dari yang lain. Namun saya katakan kepadanya, Ayah, masa depan ini punya saya. Walau
nanti saya miskin, itu adalah risiko dan tanggung jawab saya."
Semasa kecil Djoko sudah menggemari bidang penerbangan./Foto:Angkasa/Rono Sontani
|
Bagi Djoko Sardjadi dirgantara bukanlah sebuah bidang yang bakal membosankan. Teknologi dirgantara menurutnya merupakan ujung tombak teknologi secara global. Orang
yang menggeluti bidang ini tidak akan merasa bosan karena selalu akan ada teori dan konsep baru. Lebih dari 15 tahun menggeluti dirgantara, Djoko menyatakan dirinya akan terus berada di sana. Satu
hal yang kini tengah dirintisnya adalah mengimplementasikan teknologi dirgantara ke tengah-tengah masyarakat. UAV (pesawat tanpa awak) dan terowongan angin menjadi dua contoh awal
program implementasinya.
"Terowongan angin telah kami tawarkan pada sejumlah perguruan tinggi, terutama yang mempunyai fakultas teknik. Bahkan, dalam waktu dekat ini kami akan mengerjakan terowongan
angin pesanan Malaysia," kata Djoko. Untuk kepentingan lain, ia menghadirkan UAV
made in Indonesia ke tengah masyarakat.
Upaya semacam penting dilakukan sejak dini mengingat saat ini masyarakat Indonesia belum yakin benar bahwa negara dan bangsanya mampu mengembangkan teknologi dirgantara
seperti halnya negara-negara maju. "Apresiasi masyarakat Indonesia terhadap karya cipta teknologi buatan sendiri masih rendah," katanya.
Teknologi UAV itu misalnya. Sejauh ini sebagian besar masyarakat Indonesia mengenal AS, Israel, atau sejumlah negara Eropa sebagai negara produsen UAV. Hanya sebagian kecil saja yang yakin
bahwa Indonesia pun bisa membuatnya. Djoko dengan UAV-nya
berusaha mengubah cara pandangan yang demikian itu.
"Nanti kalau sudah tumbuh kesadaran bahwa teknologi UAV membawa dampak positif bagi masyarakat, apresiasi yang lebih tinggi terhadap teknologi dirgantara Indonesia secara global bakal
muncul dengan sendirinya. Meningkatnya nilai apresiasi itulah yang bakal mendukung perkembangan bisnis industri dirgantara Indonesia."
Bagi kalangan bisnis, peluang berbisnis berkaitan dengan pengoperasian pesawat tanpa awak terbuka luas. Banyak ide-ide baru bakal muncul sejalan dengan kehadiran UAV di Indonesia.
UAV bisa dipakai sebagai sarana penunjang foto udara. Berawal dari sini, bakal lahir ide lain.
"Dalam waktu dekat kami akan membuat kursus bersertifikat bagi mereka yang berminat mengembangkan bisnis foto udara. Kami mengharapkan keterlibatan peserta dari daerah. Jadi
nanti kalau ada daerah yang ingin mengadakan kegiatan foto udara, mereka tidak perlu jauh-jauh memanggil kami dari Bandung," kata Djoko. Lebih jauh lagi, dalam kursus itu para peserta akan
memperoleh pengetahuan tentang bagaimana menerbangkan dan mereparasi pesawat, mengintegrasikan sensornya sekaligus mengolah data, hingga membuat tender. "Itu program yang kami sebut dengan
transfer teknologi, sebuah kegiatan yang saya pikir bakal langsung terasakan manfaatnya."
Djoko sadar, upaya mengapresiasi dan mengimplementasikan konsep semacam itu bukan hal yang mudah. Butuh waktu dan dana yang cukup besar. Langkah pertama yang perlu
dilakukan adalah memasyarakatkan teknologi itu sendiri, antara lain dengan mensosialisasikannya ke tingkat masyarakat yang tingkat pendidikannya lebih rendah, bukan ke kalangan tertentu saja.
Raih S-1 di Belanda
Djoko dan keluarga ketika berada di Belanda./Foto:Dok.pribadi
|
Lulus dari SMA di Boyolali tahun 1976, Djoko mendaftar di tiga perguruan tinggi, Universitas Gajah Mada-Yogyakarta, Institut Pertanian Bogor, dan Institut Teknologi Bandung. Ketika
itu lulusan SMA masih bebas memilih dan mendaftar ke perguruan tinggi mana saja yang menjadi favoritnya. "Ayah ingin saya menjadi dokter karena menurutnya hidup dokter lebih sejahtera dari
yang lain. Tetapi saya tidak setuju dan memilih mempelajari ilmu pengetahuan dan teknologi."
Hari-hari pertama pengumuman penerimaan, Djoko mendengar kabar dirinya diterima di Jurusan Listrik UGM.
"Saya sangat senang dan mendaftar di sana." Tiga hari kemudian IPB memanggilnya. "Saya juga senang mendengar berita itu, tapi saya masih memilih UGM.
Panggilan dari ITB seakan meresmikan keterlibatan Djoko dalam dunia teknik penerbangan. Begitu mendengar Jurusan Mesin ITB menerimanya, Djoko meninggalkan UGM dan berangkat
ke Bandung. "Di sana saya mengambil spesialisasi teknik penerbangan. Padahal ayah menginginkan saya menjadi dokter."
Tidak seperti umumnya mahasiswa perguruan tinggi di Indonesia, melalui program beasiswa IPTN Djoko menyelesaikan skripsi S-1nya di TU Delft Belanda. Ia meraih gelar insinyur
(setara dengan gelar S-2 di TU Delft) tahun 1984.
"Setelah menyelesaikan S-1 tahun 1984, sebenarnya saya ingin kerja di IPTN. Namun waktu itu IPTN meminta saya menjadi dosen saja dengan alasan IPTN membutuhkan lulusan
teknik penerbangan cukup banyak," kata Djoko.
Tahun 1989, juga di TU Delft, Djoko mempertahankan thesis berjudul
Enhanced Conformal Mapping Method for Airfoil Design and
Analysis dan berhak menyandang gelar S-3. Pulang
ke Indonesia, ia kembali menjadi dosen di ITB walau di hati kecilnya masih ingin bekerja di IPTN.
Peran militer Limabelas tahun bekerja sebagai tenaga paruh waktu di IPTN, Djoko melihat kegagalan IPTN itu bukan murni kegagalan IPTN, tetapi merupakan kegagalan yang melibatkan
seluruh masyarakat Indonesia. Secara interen IPTN telah membuat kemajuan besar dan berarti. Sayangnya, masyarakat Indonesia secara kolektif belum mampu mengapresiasi dan mengimplementasikan
produk IPTN dalam kegiatan perekonomian nasional. Masyarakat Indonesia belum percaya bahwa industri dirgantara mampu berdiri sebagai salah satu pilar ekonomi.
Pandangan itu Djoko bukan tanpa alasan. "Saya melihat alasan kegagalan itu dari sudut horisontal
partnership." Selama ini ia mengamati bahwa belum ada jalinan hubungan yang kuat
antara pemerintah, kalangan industri (dalam hal ini industri dirgantara), pengguna, dan penyandang dana. Padahal jalinan hubungan semacam itulah yang sangat dibutuhkan dalam mengembangkan
industri dirgantara nasional. Jelas semua itu harus diubah. Dan yang sekarang perlu dilakukan adalah memasyarakatkan kesadaran berindusti lewat masyarakat yang berkompeten, tidak lagi lewat jalur
instruksi seperti dulu.
Meski tidak perlu memulainya kembali dari nol, semua harus kembali ke awal. Langkah pertama adalah mensosialisasikan minat berindustri kepada kalangan peneliti, industri itu sendiri,
dan pihak-pihak yang mungkin sebagai pengguna produk itu. Mereka itu, patut duduk satu meja, bersama-sama menyusun strategi industri dirgantara nasional. "Strategi itu jangan hanya menjadi
monopoli satu kelompok kecil, melainkan harus menjadi milik masyarakat Indonesia."
Melihat kemampuan IPTN sekarang, Djoko yakin semua itu bakal terwujud. IPTN mampu membuat pesawat latih lanjut yang dalam suatu kondisi tertentu bisa berfungsi sebagai
pesawat tempur ringan, tetapi kemampuan itu tidak ada artinya bila tidak ada penggunanya. Siapa yang mau menjadi pengguna produk IPTN? Sebagai ahli sekaligus pengamat teknologi penerbangan,
Djoko melihat bahwa industri dirgantara internasional berkembang karena didukung oleh militer.
"Militer menyumbang andil besar dalam perkembangan industri semacam ini." Itu bisa saja terjadi di Indonesia karena menurut perhitungan Djoko, dalam kurun waktu lima tahun
mendatang, Indonesia membutuhkan paling sedikit 100 buah pesawat latih tempur baru. Kalau militer memesan 100 pesawat ke IPTN, itu tidak akan membuat IPTN rugi. Minimal, pesanan itu mampu
menutupi biaya operasional dan produksi pesawat. Setelah berhasil pada tahap itu, Indonesia bisa mulai melangkah lebih jauh dengan membuat pesawat tempur misalnya. "Nah itu yang saya maksud dengan
menumbuhkan horisontal partnership yang pada akhirnya akan membuat industri dirgantara kita maju," kata Djoko.
Tak bakal bosan
Meski sibuk Djoko masih sempat bercengkrama dengan istri dan ketiga anaknya./Foto:Dok.pribadi
|
Bicara tentang partner, Djoko menemukan pasangan hidupnya, Hartini, ketika menginjak usia 21 tahun.
"Isteri saya orang Boyolali. Saya mengenalnya tahun 1979. Kami menikah tahun 1982," kata Djoko kelahiran Desa Deles di lereng Selatan Gunung Merapi. "Saya tidak tahu apakah di desa
itu ada Mak Lampir, tapi di situlah cerita misteri Gunung Merapi mengambil tempat."
Bagi Djoko dan isterinya, Deles merupakan desa bersejarah. Di desa itu mereka pertama kali berjumpa. "Setelah pertemuan itu gadis itu tidak pernah lepas." Pribadi Djoko mengatakan,
Deles merupakan desa yang paling mengesankannya. Di sana masa kecilnya ia habiskan, di sana pula ia menjumpai lingkungan alam yang amat indah dan bersih. Bersama teman mainnya, ia panjat
pohon yang ada atau turun ke lereng dan lembah yang menganga.
Masa anak-anak yang indah itu berakhir tahun 1970 ketika Djoko memutuskan meneruskan ke SMP di Boyolali. "Kerelaan orang tua melepas saya merupakan sesuatu yang sangat
berarti. Sedikit banyak semua itu menolong saya mengembangkan sikap mandiri," kata Djoko, anak pertama dari tujuh bersaudara itu.
Pertama kali meninggalkan Deles, Djoko mengalami kesepian yang luar biasa karena harus berpisah dengan orang tua dan teman-teman mainnya. Djoko sadar, butuh waktu
untuk menyesuaikan diri. Lingkungan baru memaksanya menyesuaikan diri lebih cepat. Nama Djoko pun segera beredar di Boyolali.
"Kelas dua SMP saya menjadi rujukan teman dan guru, bahkan sempat membawakan siaran radio dalam bahasa Inggris. Itulah alasan mengapa saya menganggap Boyolali sebagai
kampung halaman kedua setelah Deles," kata ayah Johar, Angistu, dan Khalilan.
Ketertarikan Djoko terhadap dirgantara, mulai terlihat sejak masa remaja. Saat itu ia sudah menyukai pergerakan benda-benda alam. Terbawa oleh rasa ingin tahu akan gerakan angin
ia membuat kincir angin yang ia hubungkan dengan dinamo sepeda. "Ketika itu saya cuma ingin melihat gerakan angin yang memutar dinamo itu menyalakan lampu itu," kata Djoko.
Keingintahuan akan teknologi saat itu terbawa sekarang. Cukup banyak hasil karya Djoko berkaitan dengan penerapan teknologi. Tapi dengan rendah hati ia mengatakan, "Sepertinya
saya tidak punya karya yang membuat saya bisa menepuk dada. Saya sudah cukup senang ikut terlibat mengembangkan teknologi dalam spektrum luas."
Sebagai dosen di ITB, Djoko terlibat dalam upaya pengembangan kurikulum pendidikan, peralatan laboratorium, teknologi dan industri pesawat terbang tanpa awak, dan terowongan
angin. Yang terbaru, ia juga terlibat dalam pengembangan HAPS
(high altitude platform system) yang bertujuan menciptakan stasiun setinggi 20 kilometer di atas wilayah udara Indonesia untuk
kepentingan telekomunikasi data dan suara. Ia kebagian jatah membuat balon raksasa berukuran 100.000 meter kubik yang mampu mengakat beban hingga 1.000 kilogram. Jelas ini merupakan hal baru
dalam perkembangan teknologi balon udara di Indonesia, yang tentu saja membuat Djoko Sardjadi, ahli pesawat dari lereng Gunung Merapi itu, tak bosan menggeluti dunianya
sekarang.(ttg)
|