ANGKASA N0.1 OKTOBER 2000 TAHUN XI  

Lebih Jauh, Tinggi, dan Cepat

New York-Paris dalam 33 jam 39 menit


  Laporan Utama
Aerobatik
Cakrawala
Ekonomi
Fenomena
Kolom
Kokpit
Kisah Nyata
Lukisan Dirgantara
Lobi
Militer
Notam
Ordirga
Origami
Opini
Profil
Peristiwa
Seabad Kedirgantaraan
Siapa-siapa
Teknologi

Rate our site
@ SearchIndonesia

 
SEABAD KEDIRGANTARAAN  

Lebih Jauh, Tinggi, dan Cepat

Sejarah mencatat masa-masa awal perkembangan pesawat terbang (1903-1930-an) sebagai era emas penerbangan. Pada kurun waktu itu, aviator dari berbagai negara seakan berlomba terbang lebih jauh, lebih tinggi, dan lebih cepat.

Vimy di Lampung Pembom Vimy McMillan dan Lang Kidby saat mendarat darurat di Lampung, 1994/Foto:Angkasa/DN Yusuf

Berbagai rekor terbang tercetak dan terpecahkan pada masa itu. Flyer buatan Wright menjadi pesawat terbang pertama yang mampu mengudara dengan baik selama 12 detik. Walaupun demikian, penerbangan itulah penerbangan pertama di dunia yang membawa manusia ke udara dari satu titik ke titik lain yang sama tinggi. Pada penerbangan tahun 1903 itu Orville dan Wilbur melakukan tiga kali terbang secara bergantian, di mana setiap kali terbang tercetak rekor baru untuk durasi terbang pesawat bermesin. Pada penerbangan terakhir, Wilbur berada di udara selama 59 detik dengan menempuh jarak 260 meter.

Berkat Orville dan Wilbur, Amerika terkenal sebagai negara pertama pengembang pesawat terbang. Selama lima tahun pasca keberhasilan Wright, hingar-bingar kehebatan pesawat terbang di Amerika seakan menghilang. Amerika mulai kembali ramai dibicarakan pada tahun 1908, di mana kedua Wright itu mempromosikan Flyer baru mereka keliling Eropa. Tujuannya adalah mencari pabrikan yang bersedia mengembangkan Flyer di Eropa dengan lisensi.

Bagi Eropa, kisah perjalanan Flyer itu justru melahirkan pabrik pesawat baru yang 'benar-benar' Eropa. Sekali lagi, suara deru mesin pesawat Amerika seakan menghilang dari muka Bumi. Pesawat-pesawat buatan Eropa merajalela. Ada yang khusus dibuat untuk pesawat transpor, ada yang didesain untuk pesawat terbang militer, dan ada pula yang lahir sebagai hasil dari berbagai lomba penerbangan yang diadakan oleh kalangan berduit Eropa dan Amerika pada saat itu.

Surat kabar Daily Mail London (sebut saja DML) menjadi institusi yang getol mengiming-imingi para penerbang pemberani meyuguhkan tontonan mendebarkan. Tahun 1909 DML menawarkan hadiah sebesar 1.000 pound bagi siapa saja yang mampu terbang menyeberangi Terusan Inggris. Tantangan itu dijawab Louise Bleriot (Perancis) yang menerbangkan Bleriot tipe XI-nya. Keberhasilan itu sekaligus menempatkan Bleriot sebagai orang pertama yang berhasil menerbangi Terusan Inggris. Sebelumnya, menggunakan pesawat yang sama, Bleriot melakukan terbang cross country Etampes-Chevilly sejauh 42 kilometer. Pasca dua pencapaian itu, pabrik pesawat Bleriot kebanjiran pesanan. Pasca keberhasilannya itu Bleriot menerima pesanan 100 pesawat Bleriot tipe XIX.

Rekor-rekor baru kembali tercetak dalam pertemuan pelopor penerbangan yang pertama di Reims (Perancis), 22-29 Agustus 1909. Pada pertemuan (airshow) yang melibatkan 38 pesawat terbang (23 di antaranya sempat melakukan demo terbang sebanyak 120 kali), Bleriot dan Glen Curtiss mengukir rekor kecepatan terbang, masing-masing 75 dan 77 kilometer per jam. Pesawat monoplane Antoientte membukukan rekor ketinggian terbang 155 meter. Henry Farman mencetak rekor terbang jauh 180 kilometer yang ditempuh dalam waktu 3 jam 5 menit.

Cetak dan pecahkan rekor

Jagad penerbangan tumbuh dari para pemimpi dan pemberani. Keberanian Bleriot menyeberangi Terusan Inggris melahirkan pemimpi dan pemberani baru. Untuk pertama kalinya pesawat terbang memakan korban manusia pada 7 September 1909. Sekadar informasi, sejak awal abad XIX enam orang tewas dalam kecelakaan terjun payung, dua orang saat menerbangkan pesawat glider eksperimen, dan beberapa menggunakan balon udara. Tak kurang, hingga tahun 1910 terhitung ada 32 kecelakaan fatal.

Balap  udara Balap udara berkembang pada masa-masa emas penerbangan./Foto:Leading Edge

Kecelakaan yang menimpa pada pemberani itu tidaklah sia-sia. Pertemuan penerbangan menyangkut keberhasilan dan kegagalan penerbangan berulang kali terjadi. Paling tidak, pada tahun 1910 saja sudah ada 20 kali pertemuan yang berlangsung di Eropa, Amerika, dan Mesir. Beberapa sukses tercapai. Untuk pertama kalinya, penerbangan malam terjadi pada tahun itu. Baroness de Laroche menjadi wanita penerbang pertama. Hon C. S. Rolls, pendiri pabrik mobil Rolls Royce, menjadi manusia pertama yang menerbangi Terusan Inggris dalam sehari. Rolls pula yang menjadi salah seorang korban pesawat terbang, ketika Wright Flyer buatan Perancis yang diterbangkannya jatuh dalam sebuah pertemuan penerbangan di Bournemouth, 12 Juli 1910.

Pencapaian selama tujuh tahun pertama membuat dunia penerbangan menjadi sangat populer di mata masyarakat. Tahun 1911, untuk pertama kalinya lomba balap udara diselenggarakan. Pierre Prier menjadi orang pertama yang mampu terbang tanpa henti London-Paris sejauh 402 kilometer. Waktu tempuhnya pun terbilang fantastis waktu itu, kurang dari empat jam.

Sepuluh tahun pertama hingga tahun 30-an Eropa dan Amerika menjadi ajang menarik bagi para penerbang pemberani. Di Amerika, Calbraith P. Rodgers menerbangkan pesawat buatan Wright menyusur pantai sejauh 6.437 kilometer selama 49 hari yang terbagi dalam 82 jam terbang. Selama penerbangan Calbraith mengalami 19 kali kecelakaan. Keberhasilan Calbraith tak lepas dari dukungan tim daratnya berupa sebuah kereta api khusus yang mengangkut teknsisi, suku cadang pesawat, serta isteri dan ibunya. Penerbangan ini sebenarnya bertujuan untuk memenuhi tantangan William Randolph Hearst yang menawarkan hadiah sebesar 50.000 dollar. Sayang mesti berhasil mencapai kota tujuannya, Calbraith gagal meraih hadiah yang dijanjikan karena menyelesaikan penerbangan di luar waktu yang ditetapkan, yakni 30 hari perjalanan.

Seperti halnya penerbangan tiga kali yang dilakukan Orville dan Wilbur Wright pada akhir tahun 1903 yakni perbaikan rekor lama penerbangan, antara tahun 1912-1913 rekor kecepatan mengalami perubahan hingga 10 kali. Antara lain dilakukan oleh dua penerbangan Perancis Jules Vedrines dan Maurice Prevost. Keduanya silih beganti mencetak dan memecahkan rekor kecepatan. Menggunakan Deperdussin, pesawat balap khusus, Vedrine mencetak rekor terbang cepat 145 kilometer per jam. Setahun kemudian rekor baru tercetak. Prevost terbang secepat 203 kilometer per jam.

Dua penerbangan terhebat tahun 1913 adalah terbang melintas Mediterania dan terbang menaklukkan rute Perancis-Mesir. Dalam penerbangan melintas Mediterania, Rolland Garros yang menerbangkan Morane-Saulnier mencatatkan diri sebagai orang pertama yang mampu terbang melintasi kawasan tersebut dari Perancis ke Tunisia sejauh 729 kilometer. Ia hanya membutuhkan waktu tak lebih dari delapan jam. Sementara itu Vidrines tercatat kembali dalam sejarah penerbangan dunia sebagai orang pertama yang menerbangi rute Perancis-Mesir dalam beberapa etape.

Meski sempat memasuki masa vakum sejalan dengan pecahnya Perang Dunia I, era menjadi yang terjauh, tertinggi, dan tercepat tidak behenti begitu saja setelah perang berakhir. Semasa perang pun era pencapaian semacam masih terus berlangsung walau tak sebanyak pada masa sebelum perang.

Perang mempengaruhi masa-masa emas penerbangan di Eropa, namun tidak demikian halnya di daerah seperti Amerika Selatan yang terbilang jauh dari konflik. Di wilayah ini sempat tercetak dua rekor.

Penerbang militer Argentina Teniente Candelaria menjadi pemegang gelar orang pertama yang terbang melintas Andes dari Timur ke Barat, dan terbang setinggi 3.960 meter. Pilot Chili, Teniente Goody terbang melintasi kawasan yang sama dari arah sebaliknya menggunakan Bristol sayap tunggal.

Ramai-ramai seberangi Atlantik

Deperdussin Deperdussin menjadi pesawat yang beberapa kali mencetak dan memecahkan rekor kecepatan./Foto:Leading Edge

Era kepeloporan yang berlangsung pada masa awal abad XX memberikan arti penting bagi perkembangan penerbangan selanjutnya. Iming-iming hadiah yang cukup besar melahirhan pengetahuan baru berkaitan dengan dunia penerbangan, seperti kunci keberhasilan sistem kemudi pesawat, struktur pesawat, aerodinamika, dan pembuatan mesin pesawat.

Penawaran hadiah semacam itu sudah terjadi sejak zaman sebelum perang dunia antara lain seperti tersebut di atas. Lewat penawaran hadiah semacam itulah lahir antara lain pesawat dan penerbang pemberani baru.

Iming-iming hadiah besar berkembang kembali pada masa setelah perang berakhir hingga memasuki masa perang berikutnya (PD II). Penawaran semacam tidak hanya menyuguhkan pesawat berteknologi lebih maju kepada masyarakat Eropa, Amerika, atau daerah lain yang sudah mengenal pesawat terbang, tetapi juga membawa pesawat terbang ke mata manusia yang tak pernah menyaksikannya sekali pun, seperti kawasan Timur Kanada yang sebelumnya tak pernah melihat langsung jati diri pesawat terbang.

Demam pesawat terbang mulai melanda kawasan ini pada musim panas tahun 1919, yakni sewaktu lomba terbang jauh melintas Atlantik dari Inggris ke Amerika berlangsung. Daily Mail yang menjadi sponsor utama lomba terbang jauh itu menawarkan hadiah uang sebesar 10.000 pound (belakangan menjadi 50.000 dollar) bagi siapa saja yang berhasil melintas Atlantik dalam waktu kurang dari 72 jam.

Ketika itu, Atlantik seakan menjadi favorit para pelopor penerbangan. Upaya gencar berlangsung berkaitan dengan hadiah yang ditawarkan. Menggunakan Vicker Vimy yang telah mengalami modifikasi pada sistem tanki bahan bakarnya, John Alcock dan Arthur Whitten Brown terbang menaklukkan rute tersebut. Modifikasi yang dikenakan pada pesawat mereka membuat laju terbang pesawat sangat lambat.

Ketika akan tinggal landas pesawat seperti ngeden tak mau terbang. Meski demikian Alcock dan Brown pun berhasil mengudara. Mereka terbang memasuki awan dan pesawat berguncang hebat, sampai-sampai pilot tak mampu lagi mengendalikan pesawatnya. Vimy pun mengalami spin dan baru kembali ke posisi normalnya beberapa meter dari atas permukaan laut.

Pengalaman buruk Alcock dan Brown melintas Atlantik tak hanya itu saja. Semasa dalam penerbangan, suhu udara yang sangat rendah membuat para penerbang menggigil kedinginan. Beberapa bagian pesawat dan cerobong hisap mesin pun sering terlapisi es. Untuk membersihkannya, awak pesawat harus merangkak di sela-sela sayap.

Kejadian membahayakan lainnya terjadi di Irlandia, yakni ketika Alcock dan Brown memutuskan untuk mendaratkan pesawatnya di sebuah lapangan yang ternyata berkontur lembek. Vimy pun terjungkal. Tapi bagaimanapun juga Alcock dan Brown telah melakukan penerbangan nonstop pertama melintas Atlantik sejauh 3.041 kilometer dalam waktu 16 jam 28 menit.

Rekor baru melintas Atlantik pergi-pulang tercetak sebulan kemudian ketika sebuah airship Inggris R.34 yang diterbangkan Mayor G. H. Scott (seorang penerbang RAF) berhasil menerbangi Atlantik dari Scotlandia ke Amerika dan mendarat kembali di Inggris dalam waktu 75 jam 3 menit. Memiliki panjang 202.69 meter, R.34 merupakan benda terbang terbesar yang pernah singgah di Amerika. Jadi dalam dua bulan, Atlantik telah ditaklukkan selama empat kali tanpa sekalipun memakan korban jiwa.

Atlantik memang telah menjadi sirkut kegemaran para pencetak rekor terbang. Selain karena hadiahnya menggiurkan juga karena tantangan berat yang harus dihadapi. Tapi rupanya bukan cuma Atlantik yang menjadi incaran para tukang iming-iming hadiah dan pencetak rekor. Rute lain di kawasan Amerika, terbang Inggris-Australia, atau pun terbang keliling dunia juga menjadi ajang mencetak rekor.

Tahun 1924, sebuah Vimy dipakai untuk memenuhi tantangan terbang jauh berhadiah 10.000 pound dari Hounslow-Inggris ke Darwin-Australia sejauh 18.175 kilometer. Upaya menerbangkan Vimy ke Darwin oleh Ross dan Keith Smith gagal setelah pesawat itu jatuh di sekitar Brooklands, 13 April 1924. Ross Smith tewas dalam kecelakaan itu.

Meski sempat beberapa kali mengalami kecelakaan Vimy rupanya masih menjadi pilihan beberapa penerbang. Pierre van Ryneveld dan Christopher Quintin Brand menggunakannya saat berusaha menaklukkan rute Brooklands-Afrika Selatan pada awal tahun 1920. Bahkan mungkin saking hebatnya si Vimy, ketika Vimy pertama mereka jatuh, pemerintah Afrika Selatan menggantinya dengan yang baru untuk melanjutkan penerbangan. Dalam perjalanan selanjutnya, Vimy pemberian pemerintah Afsel itu pun mengalami kecelakaan di Bulawayo.

Kali ini tak ada Vimy lagi. Ryneveld dan Quintin Brand mau tak mau harus melanjutkan penerbangan dengan de Havilland DH-9 hingga mencapai Cape Town, ibukota Afrika Selatan. Keberhasilan itu menempatkan Ryneveld dan Quintin Brand sebagai manusia pertama yang menerbangi rute Inggris-Afrika Selatan. Mereka pun berhak atas hadiah senilai 5.000 pound.

Berlanjut pasca PD I

Voyager Penerbangan Voyager (1969) seakan menutup era emas penerbangan./Foto:Milestone of Aviation

Di Amerika balap udara mulai ramai dibicarakan pasca PD I, terlebih dengan ada-nya kelebihan stok pesawat terbang. Sebagian besar penerbangan dilakukan oleh para penerbang militer. James H. Doolittle menjadi orang Amerika yang mampu terbang menyusur pantai Timur Florida ke San Diego, Kalifornia dalam sehari dengan sekali mengisi bahan bakar di kawasan Texas.

Pada penerbangan yang berlangsung 4 September 1922 itu, Doolittle membukukan waktu 21 jam 19 menit untuk menempuh jarak sejauh 3.480 kilometer. Menyusul keberhasilan Doolittle, bulan Mei 1923 dua penerbang AD Amerika lainnya, Letnan O. G. Kelly dan J. A. MacReady menerbangkan Fokker T2 monoplane dari Long Island ke San Diego sebagai salah satu upaya mencetak rekor terbang nonstop menyusur pantai Amerika. Mereka menyelesaikan jarak 4.050 kilometer dalam 26 jam 50 menit.

Beberapa waktu berselang mereka kembali melakukan penerbangan menggunakan pesawat yang sama untuk menempuh jarak sejauh 4.052 kilometer. Kali ini mereka membutuhkan waktu 36 jam 5 menit. Rekor lain tercetak pada bulan Agustus, ketika dua penerbang AD lain, Captain L. H. Smith dan Letnan J. P. Richter menerbangkan DH-4B. Menggunakan teknik pengisian bahan bakar di udara mereka mampu terbang selama 37 jam 15 menit.

Berbekal pengalaman sebelumnya, tahun 1924 penerbang-penerbang angkatan darat Amerika mulai melakukan penerbangan keliling dunia. Empat pesawat penjelajah Douglas berkokpit terbuka bersayap ganda bermesin tunggal, dipakai untuk mencetak jarak sejauh 42.398 kilometer dalam 363 jam 7 menit. Dalam menyelesaikan penerbangan para awak harus menghadapi beberapa kali cuaca buruk dan permasalahan teknis pesawat mereka.

Sukses dengan penerbangan keliling dunianya, pada tahun 1927 para penerbangan militer Amerika kali ini diwakili oleh Letnan Albert F. Hegenburger dan Letnan Lester J. Maitland kembali mengudara menempuh rute menyusur pantai Barat Amerika terus ke Hawaii sejauh 3.874 kilometer.

Menggunakan Fokker C-2 bermesin tiga, mereka menyelesaikan penerbangan dalam waktu 25 jam 50 menit. Pada tahun yang sama kembali terjadi penerbangan melintas Atlantik, kali ini melalui jalur selatan. Menerbangkan Breguet XIX Dieudonne Costes dan Joseph Le Brix (Perancis) menerbangkan Breguet XIX dari Senegal ke Brasil sejauh 3.420 kilometer dalam 19 jam 50 menit.

Perjalanan panjang menaklukan rute-rute panjang hingga menyeberang lautan berlangsung hingga tahun 1930-an. Para penerbang pemberani tak lagi mengincar rute yang telah ditaklukkan sebelumnya. Rute-rute baru mereka terbang untuk menjadi yang pertama.

Tahun 1931, menerbangkan Bellanca, Pangborn dan Hugh Herndon melakukan terbang pertama tanpa henti Jepang-Amerika. Mereka menyelesaikannya dalam waktu 41 jam 13 menit. Amelia Earhart melakukan penerbangan wanita seorang diri pertama menyeberangi Atlantik Utara menggunakan Lockheed Vega (1932). James Mollison (1932), menerbangkan de Havilland Puss Moth ia mencatatkan diri sebagai penerbang pertama melintas Atlantik dari Dublin ke New Brunswick.

Tahun 1933, Amy Johnson (Inggris) menjadi wanita pertama yang melakukan terbang solo dari Inggris ke Australia. Isteri James Mollison ini sempat pula terbang bersama suaminya menyeberangi Atlantik Utara menggunakan pesawat bermesin ganda DH Dragon. Perjalanan panjang menjadi yang terjauh, tertinggi, dan tercepat seakan berakhir ketika tahun 1969 Dick Rutan dan Jeana Yeager menerbangkan Voyager sejauh 42.934 kilometer selama 9 hari 3 menit, 44 detik nonstop. Penerbangan Voyager pun seakan mengakhiri masa-masa emas penerbangan.(ttg)



Laporan Utama | Aerobatik | Cakrawala | Ekonomi | Fenomena | Kolom | Kokpit | Kisah Nyata | Lukisan Dirgantara | Lobi | Militer | Notam | Ordirga | Origami | Opini | Profil | Peristiwa | Seabad Kedirgantaraan | Siapa-siapa | Teknologi |

Copyright © 1998 Majalah Angkasa. All rights reserved
Designed by
Kompas Cyber Media