Sersan Mayor Basuki Santoso
|
Seringkali timbul kesan menarik kalau melihat para teknisi sedang sibuk mengutak-atik pesawat terbang. Demikian kesan yang timbul saat menengok hanggar Satuan Pemeliharaan (Sathar) 15 di bawah Depo 10, Komando Pemeliharaan Materil (Koharmat) di Lanud Husein Sastranegara
Bandung. Saat itu, pertengahan September lalu, ada tiga pesawat C-130
Hercules sedang overhaul yang ditangani sejumlah teknisi. Mereka terlihat cekatan.
Salah seorang teknisi, Sersan Mayor Basuki Santoso terlihat naik turun tangga memeriksa dan mengutak-atik mesin Hercules. Dia seorang
engine inspector berpengalaman dan dalam tugas merawat pesawat angkut berat itu bertanggung jawab menangani mesin.
Lelaki kelahiran Bandung 25 Mei 1961 ini sejak tahun 1981, dari pangkat Prajurit II sampai sekarang, hanya mengabdi di Sathar 15 untuk merawat Hercules. Tapi untuk menambah pengetahuan dan keterampilannya, ia tidak cuma berkutat di Bandung. Dia pernah mendapat pendidikan
D-2 Teknik di Wing Pendidikan Teknik dan Perbekalan di Lanud Kalijati Subang, di samping pendidikan kualifikasi khusus inspektor. Sekitar setahun (Agustus 1985-Juni 1986) ia sekolah di Australia untuk belajar tentang engine pesawat. "Tiga bulan pertama saya belajar bahasa Inggris di
Melbourne, lantas belajar teknik di RAAF Base Waga-Waga di New South Wales," jelasnya.
Apa tak jenuh setiap hari berkutat dengan engine pesawat? "Tidak juga, justru saya makin cinta," katanya, seraya menambahkan, "Bukan main senang dan bahagia bila melihat pesawat yang selesai dirawat dapat terbang dengan gagah. Sebaliknya bila kerusakan yang terjadi tak bisa
kami temukan dengan cepat penyebabnya, kami jadi gelisah dan sedih. Makan saja jadi tak tenang. Makanya, kami sering kerja lembur."
Rupanya cucuran atap jatuhnya ke pelimbahan juga. Kecintaan Basuki pada bidang perawatan pesawat menurun dari ayahnya yang sama-sama anggota Koharmatau dan pernah menjadi anggota Depo Har 60 yang merawat persenjataan dan amunisi di Lanur Iswahjudi Madiun.(mar)