Jumlah Hercules yang siap terbang hanya lebih sedikit dari sepuluh./Foto:Angkasa/DN Yusuf
|
Intinya, tentu bukan bermaksud 'mengemis-ngemis' kalau Kepala Staf Angkatan Udara mengatakan, seharusnya Amerika
tidak melihat sebelah mata kejadian bertubi-tubi yang belakangan menimpa Indonesia, khususnya tragedi Atambua dari sisi negatifnya
saja. Hingga negeri adidaya itu akhirnya tega mengetukkan vonis penundaan
loan suku cadang Hercules.
Padahal seperti dijabarkan KSAU Marsekal TNI Hanafie Asnan, fungsi angkatan udara setiap negara tidak hanya menjalankan
fungsi pertahanan negara, melainkan pula melakukan tugas yang tidak kalah mulia yakni
civic mission, seperti yang dilakukan Hercules.
Kalau saja kasus Atambua diangkat menjadi titik terlemah untuk memukul Indonesia di Forum Internasional, sebenarnya terasa
tidak adil juga. Apalagi tragedi itu terkesan sebuah konspirasi yang sengaja dilakukan pihak-pihak tertentu yang memanfaatkan kehadiran
Presiden Abdurachman Wahid dalam Konferensi Tingkat Tinggi Millenium PBB di New York saat itu yang dihadiri 150 pemimpin negara dunia.
Kuba, Irak, Libya
Memang, dalam catatan beberapa politikus hubungan internasional, sikap moderat Presiden Gus Dur juga dinilai mulai tidak
disukai Amerika. Gus Dur misalnya, terlihat telah begitu "bermesraan" menjalin hubungan dengan Kuba, Irak, dan Libya. Padahal
notabene negara-negara ini ada dalam daftar hitam "tidak disukai" Paman Sam. "Sikap-sikap ini bisa saja menimbulkan antipati Amerika
terhadap pemerintahan sekarang," ujar Dr Riza Sihbudi kepada pers dalam wawancara khusus soal embargo yang diberlakukan AS terhadap
Indonesia, dua hari setelah kasus Atambua, 6 September 2000.
Kalau kedoknya soal menjunjung HAM dan masalah kemanusiaan, mengapa Amerika tiba-tiba melakukan kecaman dan
peringatan kepada Perancis atas penerbangan B-737-800 yang dilakukan Perancis menuju Irak 22 September lalu, dimana misi pesawat
adalah memberikan bantuan medis dan pengobatan? Jelas disini terlihat, Amerika tidak mau melakukan kompromi dengan negara-negara
yang mencoba melakukan hubungan dengan negara yang masuk dalam daftar tidak disukainya itu.
Kondisi yang diakibatkan sikap Gus Dur sekarang ini, masih menurut para pengamat, tidak beda dengan peristiwa yang
menimpa Iran beberapa tahun lampau. Saat Iran berada di bawah kepemimpinan Syah Iran Reza Pahlevi, sama sekali tidak ada
tekanan-tekanan yang dilakukan Amerika terhadap negeri itu. Namun begitu tampuk kepemimpinan bergeser ke tangan Khomeini, semua berubah total.
Pun yang terjadi dengan Indonesia, selama 32 tahun kepemimpinan Soeharto, tak pernah ada ultimatum embargo terhadap
Indonesia. Padahal dalam masa itulah kalau kita mau bicara soal pelanggaran HAM yang dijadikan dasar tuduhan Amerika, paling sering terjadi.
Kesimpulannya, seperti pendapat yang dikemukakan Dr Syarifuddin dari LP3IAS, bahwa Indonesia tidak perlu takut
menghadapi berbagai ancaman yang dilontarkan Amerika. "Tunjukkanlah bahwa kita adalah negara berdaulat. Bahkan bila PBB telah
mengintervensi dengan mengirimkan pasukannya tanpa seizin bangsa, itu sudah dapat dimasukkan kedalam kategori penjajahan terselubung," ujarnya.
Tak urung, ketua MPR Amien Rais pun dengan lantang mengatakan, jika Amerika tidak mengindahkan ancaman embargo
terhadap Indonesia, pemerintah harus segera menutup tambang emas Freeport yang telah jadi mesin uang sejak lama bagi Amerika.
Semua penting
Memang, seperti diakui para politikus, saat ini diperlukan sikap keberanian dan suara bersatu untuk mereformasi PBB oleh
negara-negara berkembang. Namun permasalahannya tidak semua negara-negara dunia ketiga punya visi yang sama kearah itu. Masih
banyak juga yang terlena dengan enaknya menikmati berbagai fasilitas bantuan di bawah sayap AS dan bahkan secara perlahan
beramai-ramai 'mendaftar' menjadi sekutunya. Padahal hal ini jelas bisa menjadi bumerang di kemudian hari.
Ini pula yang dialami Indonesia akhirnya. Dimana sejak 32, tahun begitu besar tingkat ketergantungannya terhadap IMF
dan Amerika. Sehingga di saat posisi negara terjepit oleh berbagai masalah pelik, ruang gerak bangsa secara otomatis menjadi langkah mati.
Tapi harus diakui pula bahwa pada saat ini, Indonesia memang sedang berada dalam posisi yang tidak baik soal retaknya persatuan
dan kesatuan bangsa. Pun demikian dengan masalah ekonomi. "Sebenarnya bila faktor internal kuat dan basis ekonomi kita baik, tidak akan
begitu hirau menghadapi ancaman embargo," ujar Riza.
"Toh, negara-negara seperti Irak dan Libya yang jelas-jelas diembargo sejak lama
bahkan cenderung diisolasi masih tetap bisa
survive."
Menurut Riza, sekarang tidak ada jalan lain lagi, dalam menghadapi ancaman embargo yang terbaik adalah sebisa
mungkin menghindari terjadinya embargo itu sendiri. "Bahwa Cohen datang ke Indonesia lalu melakukan ancaman-ancaman, itu memang
tipikal kolonial. Yang lebih penting bagi kita adalah melakukan lobi-lobi tingkat tinggi yang lebih serius sehingga kita bisa membeberkan
kasus Atambua yang menewaskan tiga pekerja UNHCR itu secara proporsional," ujarnya.
"Lalu kita jangan semata-mata percaya pada janji-janji yang diberikan negara Barat, tapi kita juga harus melakukan tekanan-tekanan
agar diplomasi kita bisa diterima mereka. Bila Gus Dur melakukan
pendekatan-pendekatan ke negara lain yang tidak disukai Amerika, kita harus
bisa menjelaskan bahwa hubungan dengan negara lain pun penting artinya bagi kita," tambah Riza.
Yang terbaik tentu mulai saat sekarang secara perlahan kita sudah harus bisa menunjukkan sikap ketidaktergantungan kepada kekuatan
satu negara saja. Yang harus diingat bahwa Amerika juga tidak akan pernah berkeinginan melepaskan Indonesia yang menjadi salah satu
pasar terbesar di kawasan Asia. Begitupun bagi Indonesia, secara jujur Amerika tetap dibutuhkan sebagai mitra dalam banyak hal. Pemikiran
yang sempit dan terburu-buru tentunya hanya akan menyebabkan permasalahan menjadi rumit dan tidak berakhir.
Semua ini memang menjadi tugas berat pemerintah sebagai ujung tombak dan bangsa Indonesia pada umumnya. Bagaimana
kita bisa belajar menyelesaikan persoalan dengan baik. Milisi pro-Jakarta telah meletakkan senjata tanggal 24 September. Berarti niat
baik memang telah ditunjukkan oleh para pro-integrasi itu.
Kembali ke masalah pokok soal suku cadang Hercules, mudah-mudahan Amerika terketuk hatinya. Bagaimanapun
pembinaan hubungan baik yang telah dijalin angkatan udara sejak tahun 1960 lewat pembelian Hercules hingga pembelian si canggih jet tempur
F-16 awal tahun 1990, menunjukkan bahwa sebenarnya tidak ada persoalan dalam tubuh angkatan bersenjata kedua negara.