ANGKASA N0.1 OKTOBER 2000 TAHUN XI  

Ketika "Putra Dewa" Mulai Keletihan

Mestinya, Hati Amerika Terketuk

Embargo, Dilema Bagi TNI AU

Herky Bird Memang Paling Hebat

Hening Sehari-hari di Depohar 10


  Laporan Utama
Aerobatik
Cakrawala
Ekonomi
Fenomena
Kolom
Kokpit
Kisah Nyata
Lukisan Dirgantara
Lobi
Militer
Notam
Ordirga
Origami
Opini
Profil
Peristiwa
Seabad Kedirgantaraan
Siapa-siapa
Teknologi

Rate our site
@ SearchIndonesia

 
LAPORAN UTAMA  

Embargo,
Dilema Bagi TNI AU

Dilema Masalahnya tinggal kesiapan dana untuk membeli suku cadang./Foto:Dok.KOMPAS

Tiga tahun sudah, kon- disi politikdan ekonomi Indonesia sangat tidak mendukung pembangunan bidang pertahanan dan keamanan (Hankam). Berbagai peristiwa di dalam negeri, secara langsung telah menyeret TNI/Polri ke dalam pusaran problema yang pelik. Sayangnya, keterlibatan TNI/Polri ini dengan melihat beberapa kasus, berdampak negatif terhadap eksistensinya di mata dunia internasioanal.

Peristiwa Atambua pada minggu pertama bulan September, misalnya, merupakan contoh kasus yang merugikan citra Indonesia. Ujung-ujungnya, TNI/Polri kembali disudutkan. Mereka dituding bertanggung-jawab terhadap segala kejadian dan pelanggaran HAM di beberapa tempat. Termasuk kerumitan sebelum lepasnya Timor Timur.

Akibat rentetan peristiwa tersebut, negara-negara Barat yang dimotori Amerika Serika (AS), Belanda, dan Inggris, menutup pintu pasokan perdagangan peralatan militer dan suku cadang untuk Indonesia. Pembatasan ataupun penghentian perdagangan peralatan militer ini, dengan segera berdampak serius bagi TNI AU dan TNI AL sebagai komponen Angkatan Perang yang berbobot teknologi tinggi. Bahkan jika pembatasan/pelarangan perdagangan ini cakupannya meluas, bukan hanya peralatan tempur yang terkena dampaknya, tapi akan termasuk semua peralatan yang digunakan demi kepentingan militer. Seperti pesawat angkut, helikopter, maupun pesawat latih non combat.

Perjalanan sejarah perjuangan TNI AU membuktikan, beberapa peristiwa politik nasional yang berdampak internasional telah membawa akibat embargo kepada TNI. Komando Trikora yang dicanangkan dalam rangka membebaskan Irian Barat dari cengkeraman Belanda, sebagai contoh, tidak lepas dari politik embargo negara Barat. Sehingga dalam persiapannya, muncul banyak halangan. Tapi kita tidak menyerah begitu saja saat itu.

Berbagai langkah diambil untuk melepaskan diri dari keterkungkungan. Maka dari tahun 1957, pemerintah mengambil keputusan berani. Hubungan diplomatik yang mesra dengan negara-negara Eropa Timur Uni Soviet, Cekoslovakia, Polandia memberi keuntungan besar. Selain membeli peralatan militer dan suku cadang, ratusan personil pun dikirim ke negara-negara ini untuk mendapat pelatihan. Karena itu, armada pesawat tempur serta sistem pertahanan udara TNI AU waktu itu sebagian besar berasal dari negara-negara Blok Timur. Pengadaan kekuatan udara TNI AU ini berlangsung sampai kampanye Komando Dwikora.

Akibatnya langsung bisa ditebak. Amerika dan Sekutu mempersulit pembelian peralatan militer. Tapi sebaliknya setelah peristiwa G-30S/PKI. Giliran negara Blok Timur yang mengembargo. Dengan demikian, kesiapan operasi pesawat-pesawat TNI AU yang nota bene berasal dari Timur, seperti puluhan MiG-17, MiG-21, Tu-16, radar, serta peluru kendali SA-75, mengalami penurunan kesiapan drastis yang akhirnya melumpuhkan.

Nah, peristiwa yang terjadi saat ini merupakan rangkaian tindakan embargo yang secara perlahan-lahan menutup kran pengadaan suku cadang peralatan militer produk AS. Sebagai konsekuensi, tindakan AS ini merambat ke negara-negara Eropa khususnya Belanda dan Inggris. Celakanya, peristiwa berdarah di Dili pada 11 November 1991, kembali diungkit-ungkit dan dikait-kaitkan pula.

Pada kesempatan ini, penulis ingin menyampaikan beberapa pemikiran sebagai langkah yang mungkin dapat diambil dalam upaya mengatasi kelangkaan suku cadang dan penggunaan aset pesawat terbang secara efektif dan efisien.

Permasalahan suku cadang memang merupakan urat nadi yang menentukan hidup matinya kesiapan operasional armada udara. Biasanya pada tahap-tahap awal dapat diatasi dengan cara pinjam-pakai (kanibal) antara pesawat yang disiapkan untuk penerbangan dengan pesawat dalam pemeliharaan. Namun cara ini tidak dapat dipertahankan terus menerus.

Disamping akan mengurangi jumlah kesiapan pesawat yang operasional, setiap suku cadang mempunyai usia pakai, baik dihitung dalam jam pemakaian maupun yang akan mengalami batas waktu pemakaian. Sepanjang menyangkut suku cadang pesawat non combat seperti C-130 Hercules, Fokker F-27/F-28, C-212/C-235, dan berbagai tipe helikopter, pasaran suku cadang di dunia penerbangan masih memungkinkan untuk disediakan. Tergantung kemampuan daya beli calon pemakai.

Hubungan antar negara yang baik dan erat melalui atase militer/atase udara, juga dapat dimanfaatkan untuk mencari alternatif pengadaan suku cadang pesawat non combat. Di beberapa negara sahabat seperti Singapura, Malaysia, juga Taiwan, pernah pesawat-pesawat Hercules TNI AU mendapat pemeliharaan. Walau hubungan baik bisa menyelesaikan untuk sementara tapi tetap kita dipusingkan untuk menyiapkan kebutuhan suku cadang dalam rangka pemeliharaan tingkat awal dan kebutuhan-kebutuhan mendadak yang sulit ditebak.

Kemampuan ekonomi negara yang mantap disamping anggaran belanja tahunan bagi TNI AU yang mencukupi, juga akan sangat membantu pengadaan suku cadang yang dibutuhkan. Tentu saja harus disertai perencanaan anggaran yang konsisten, dan mengalirkan anggaran sesuai skala prioritas.

Dari sisi lain, masalah pengaturan penggunaan pesawat (non combat) seperti Hercules yang merupakan aset strategis TNI/TNI AU, perlu mendapatkan perhatian lebih seksama. Misalnya, masih perlukah angkutan udara VIP menggunakan Hercules. Karena jika ditinjau dari jumlah VIP yang dibawa, jarak yang tempuh dikaitkan dengan waktu penerbangan, untuk jarak yang relatif pendek, tidaklah menguntungkan.

Perlukah mengangkut kargo/barang harus dengan Hercules. Mengapa tidak menggunakan CN-235 atau Fokker F-27 bila volume yang diangkut maupun beratnya dapat ditampung oleh tipe pesawat selain Hercules. Masih perlukah DAUM/PAUM flight dipertahankan. Mengingat hampir seluruh bandara dan lanud ditingkat ibukota propinsi telah dihubungkan dengan dan oleh maskapai penerbangan nasional-swasta Indonesia. Penerbangan DAUM/PAUM kiranya cukup secara rutin dilayani dengan pesawat setingkat F-27/CN-235, sesuai kebutuhan administrasi logistik yang ada.

Optimalisasi penggunaan pesawat-pesawat angkut militer seperti F-27/F-28 untuk penerbangan VIP, penggunaan pesawat CN-235/F-27 untuk penerbangan angkutan personil dan kargo maupun kepentingan-kepentingan yang bersifat civic mission, dapat mengurangi penggunaan jam terbang Hercules yang sangat padat. Sehingga dapat menghemat penggunaan suku cadang yang terkena embargo.

Taktik dan teknik penerbangan operasional untuk pesawat sejenis setingat Hercules, semestinya perlu mendapat peninjauan kembali. Seperti, perlukah pesawat Hercules masih mempertahankan penerbangan formasi, atau penerbangan formasi yang bagaimana yang masih layak untuk tugas-tugas operasi militer sesuai dengan perkembangan kesenjataan dewasa ini. Masih banyak lagi pertanyaan serta renungan perlu mendapatkan kesempatan untuk dibahas menyongsong masa depan teknologi penerbangan.(Suakadirul, Marsda purnawirawan, mantan Komandan Skadron 31, 1972-1976).



Laporan Utama | Aerobatik | Cakrawala | Ekonomi | Fenomena | Kolom | Kokpit | Kisah Nyata | Lukisan Dirgantara | Lobi | Militer | Notam | Ordirga | Origami | Opini | Profil | Peristiwa | Seabad Kedirgantaraan | Siapa-siapa | Teknologi |

Copyright © 1998 Majalah Angkasa. All rights reserved
Designed by
Kompas Cyber Media