Pukul sebelas siang, tidak ada pemandangan lain ketika
Angkasa berkunjung ke Sathar (satuan pemeliharaan) 15, Depo 10, Koharmatau Bandung, bulan lalu. Kecuali situasi hening di
dalam hanggar dan udara terik yang menyengat di luar.
Suasana yang benar-benar kontras. Di
dalam hanggar tiga pesawat Hercules tergolek membujur. Dua buah sedang menjalani
ageing check, sementara satu lainnya tinggal menunggu mesin yang tengah di
overhaul di Depo 30 Malang berikut beberapa perbaikan terakhir.
Sekitar 15 orang bintara teknik terlihat mengurusi pesawat itu. Yang terdengar hanya suara
tak-tuk tak-tuk kecil. Keheningan mulai pecah manakala gemuruh generator untuk menguji
hidraulik landing gear mulai memenuhi ruang hanggar. Namun areal itu memang terpisah dari areal
publik. Sehingga tidak terlihat keliaran orang-orang sekitar di sana. Lebih-lebih untuk masuk
kedalamnya perlu menggunakan kendaraan.
"Sehari-hari ya beginilah," ujar seorang bintara. Tak salah bila kunjungan menjadi hiburan
bagi para punggawa hanggar yang semuanya laki-laki. Bagi mereka makna rasa kebagahagian
dalam pekerjaan diakui terasa, manakala melihat sang Hercules bisa menggelinding lagi ke ujung
landasan, lalu terbang menelusuri nusantara untuk kembali lagi suatu saat.
Para punggawa itu, tentunya adalah pahlawan juga. Karena berkat tangan-tangannyalah,
Hercules bisa mengantarkan beribu-ribu dus mie instan, telor, beras, dan pakaian yang masih layak
bagi para korban bencana alam dan para pengungsi di seluruh pelosok negeri tercinta, bahkan juga
hingga ke luar negeri.
Hercules pertama Indonesia tercatat tiba 1 Maret 1960. Sebagai negara pertama
pengguna Hercules di luar Amerika, Indonesia mengoperasikan 13 C-130B, tiga C-130H, lima C-130H-30,
dua C-130 HS, sebuah C-130MP, serta sebuah lagi L-100-30. Tahun 1990-an, TNI AU mendapat
hibah lima L-100-30 dari Pelita Air Service. Pesawat eks Pelita tersebut, saat ini telah mengantungi
18.000 lebih jam terbang. Sementara yang "asli" TNI AU, paling tinggi 11.000. Khusus tipe B, juga H,
telah program mengalami perpanjangan usia rangka
(service life extention program) 10 sampai
20 tahun kedepan.
Bagaimana sekarang? Yang siap operasi hanya 11 pesawat. Selain sebagian besar
nongkrong karena kekurangan suku cadang, tiga diantaranya
crash masing-masing di Serawak (1965),
Sibayak Medan (1985), dan Condet (1991).