ANGKASA N0.1 OKTOBER 2000 TAHUN XI  

Ketika "Putra Dewa" Mulai Keletihan

Mestinya, Hati Amerika Terketuk

Embargo, Dilema Bagi TNI AU

Herky Bird Memang Paling Hebat

Hening Sehari-hari di Depohar 10


  Laporan Utama
Aerobatik
Cakrawala
Ekonomi
Fenomena
Kolom
Kokpit
Kisah Nyata
Lukisan Dirgantara
Lobi
Militer
Notam
Ordirga
Origami
Opini
Profil
Peristiwa
Seabad Kedirgantaraan
Siapa-siapa
Teknologi

Rate our site
@ SearchIndonesia

 
LAPORAN UTAMA  

Hening Sehari-hari
di Depohar 10

Pukul sebelas siang, tidak ada pemandangan lain ketika Angkasa berkunjung ke Sathar (satuan pemeliharaan) 15, Depo 10, Koharmatau Bandung, bulan lalu. Kecuali situasi hening di dalam hanggar dan udara terik yang menyengat di luar.

Suasana yang benar-benar kontras. Di dalam hanggar tiga pesawat Hercules tergolek membujur. Dua buah sedang menjalani ageing check, sementara satu lainnya tinggal menunggu mesin yang tengah di overhaul di Depo 30 Malang berikut beberapa perbaikan terakhir.

Sekitar 15 orang bintara teknik terlihat mengurusi pesawat itu. Yang terdengar hanya suara tak-tuk tak-tuk kecil. Keheningan mulai pecah manakala gemuruh generator untuk menguji hidraulik landing gear mulai memenuhi ruang hanggar. Namun areal itu memang terpisah dari areal publik. Sehingga tidak terlihat keliaran orang-orang sekitar di sana. Lebih-lebih untuk masuk kedalamnya perlu menggunakan kendaraan.

"Sehari-hari ya beginilah," ujar seorang bintara. Tak salah bila kunjungan menjadi hiburan bagi para punggawa hanggar yang semuanya laki-laki. Bagi mereka makna rasa kebagahagian dalam pekerjaan diakui terasa, manakala melihat sang Hercules bisa menggelinding lagi ke ujung landasan, lalu terbang menelusuri nusantara untuk kembali lagi suatu saat.

Para punggawa itu, tentunya adalah pahlawan juga. Karena berkat tangan-tangannyalah, Hercules bisa mengantarkan beribu-ribu dus mie instan, telor, beras, dan pakaian yang masih layak bagi para korban bencana alam dan para pengungsi di seluruh pelosok negeri tercinta, bahkan juga hingga ke luar negeri.

Hercules pertama Indonesia tercatat tiba 1 Maret 1960. Sebagai negara pertama pengguna Hercules di luar Amerika, Indonesia mengoperasikan 13 C-130B, tiga C-130H, lima C-130H-30, dua C-130 HS, sebuah C-130MP, serta sebuah lagi L-100-30. Tahun 1990-an, TNI AU mendapat hibah lima L-100-30 dari Pelita Air Service. Pesawat eks Pelita tersebut, saat ini telah mengantungi 18.000 lebih jam terbang. Sementara yang "asli" TNI AU, paling tinggi 11.000. Khusus tipe B, juga H, telah program mengalami perpanjangan usia rangka (service life extention program) 10 sampai 20 tahun kedepan.

Bagaimana sekarang? Yang siap operasi hanya 11 pesawat. Selain sebagian besar nongkrong karena kekurangan suku cadang, tiga diantaranya crash masing-masing di Serawak (1965), Sibayak Medan (1985), dan Condet (1991).



Laporan Utama | Aerobatik | Cakrawala | Ekonomi | Fenomena | Kolom | Kokpit | Kisah Nyata | Lukisan Dirgantara | Lobi | Militer | Notam | Ordirga | Origami | Opini | Profil | Peristiwa | Seabad Kedirgantaraan | Siapa-siapa | Teknologi |

Copyright © 1998 Majalah Angkasa. All rights reserved
Designed by
Kompas Cyber Media