MODAL VENTURA - Star Air modalnya disediakan oleh tiga travel biro./Foto: Angkasa/Suryolelono
|
Sejak Lion Airlines berdiri tahun 2000, beberapa perusahaan penerbangan baru yang berlatar belakang biro perjalanan mulai bermunculan. Sebut saja Star Air dan Jatayu Air setelah ganti pemilik keduanya berdiri tahun 2001, serta yang terakhir berdiri
awal 2002, Batavia Air. Kenapa mereka tertarik untuk mendirikan perusahaan dengan margin rendah dan memiliki risiko tinggi itu?
Adalah ketidakpuasan mereka sebagai perusahaan jasa yang melayani para penumpang pesawat terbang, yang menjadi alasan mereka mendirikan sebuah perusahaan penerbangan atau
airlines. Berbagai usulan yang dikemukakan mereka untuk menerbangi kota
tujuan tertentu, misalnya, kata mereka, kadangkala tidak menjadi perhatian perusahaan penerbangan yang ada.
Lion, misalnya, ketika masih bergerak di biro perjalanan, pernah mengusulkan kepada airlines untuk terbang ke kota-kota di India. "Pasarnya cukup menjanjikan," kata Rusdi Kirana, Direktur Utama Lion Airlines. Namun, usulannya itu tidak diwujudkan
para operator yang ada saat itu. Rusdi pun tidak tahu, alasan apa yang menjadi kendalanya. Maka, tak heran Lion sekarang ingin membuka rute Medan-Madras di India.
Tak jauh berbeda alasan Presiden Direktur Batavia Air Yudiawan yang 25 tahun berpengalaman mencarter pesawat di bawah bendera PT Setia Sarana (Ramantha Tour & Travel). Dia menyatakan, terkadang sulit meminta airlines terbang ke tempat-tempat
yang menurutnya potensial. Alasan lain, menjelang AFTA dan persaingan ketat di masa depan memperkuat tekadnya mendirikan airlines. "Tak ada pilihan untuk efisiensi karena situasi dan kondisi yang memaksakannya," tambahnya.
Kenapa baru sekarang? Menurut mereka, sangat sulit mengajukan izin perusahaan penerbangan sebelum era reformasi. Pada saat itu, peraturannya ketat sehingga tidak sembarang investor dapat mendirikan perusahaan penerbangan, terutama untuk operasi
berjadwal. "Sekarang, dengan adanya keterbukaan, menjadikan keinginan itu terwujud," kata Yudiawan.
Apa alasan Star Air, perusahaan penerbangan yang modalnya semacam konsorsium dari tiga perusahaan, yakni Anta Tour, Vaya Tour, dan Ramada Bintang Bali, itu? Direktur Utama Star Air Ale Soegiarto mengatakan, keinginan pihaknya mendirikan airlines
untuk lebih memperkaya penerbangan nasional. Bisa jadi, latar belakang perusahaannya yang mengetahui kondisi pasar, lebih tahu bagaimana cara meraihnya.
Jatayu Air, yang sejak pertengahan tahun lalu dimiliki pengusaha berlatar belakang biro perjalanan terbesar di Sumatera Utara, walau ditegaskan bahwa pengelolaannya sendiri-sendiri, juga beralasan yang hampir sama dengan Star Air. Pemilik Jatayu
mengungkapkan keprihatinannya melihat kondisi daerah yang dulu kaya objek wisata. Tak salah jika pihaknya ingin kembali menjaring wisatawan-wisatawan itu, terutama dari negeri jiran.
Kurang pengawasan
Mengamati kondisi airlines nasional akhir-akhir ini, mantan Dirjen Perhubungan Udara Zainudin Sikado menilai bahwa peraturan yang ada kurang diindahkan dan pengawasan makin tidak efektif. Adanya perang harga di lapangan, serta makin banyaknya
maskapai dan frekuensi di suatu rute, katanya, merupakan faktor-faktor yang mencerminkan kurangnya pengawasan di lapangan.
"Coba, ada itu penerbangan yang menjual tiket dengan harga rendah sekali, dan pada
peak seasons menjual tinggi," paparnya.
Menurut Sikado, tidak sulit untuk mengawasi kondisi tersebut, dan menindak mereka yang melanggar aturan. "Sekarang, apa mereka mau?" tegasnya.
Sikado juga menyayangkan jika airlines baru yang bermunculan itu beroperasi dengan tidak mengikuti aturan-aturan di bisnis penerbangan. "Hanya dengan satu pesawat? Terus, bisa sampai kapan?" ujarnya.
Menanggapi banyaknya airlines berlatar biro perjalanan, Sikado hanya tersenyum masam. Dia, katanya, belum pernah mengetahui ada airlines besar di dunia berlatar belakang biro perjalanan. Namun, ia mengakui bahwa di Indonesia, peran biro perjalanan
begitu besar dalam bisnis penerbangan, sejak dua dekade lalu.
Dari pengamatan, boleh jadi hampir semua airlines nasional sangat tergantung pada biro perjalanan. Sebut saja Merpati Nusantara di era sebelum krisis, tidak pernah memiliki data sebagian besar para pelanggannya secara personal. Direktur Niaga Merpati Yoyo
W. Basuki pun mengakui, ketiadaan data itu menjadikan Merpati tidak pernah memberikan apresiasi secara personal, yang ada apresiasi bagi biro perjalanan. Jika demikian, bagaimana sebuah airlines tahu pasarnya secara nyata di lapangan?
Dapat dimaklumi, jika biro perjalanan yang lebih mengetahui pasar, memegang "kartu As" untuk menjaring penumpang dan kargo bagi sebuah airlines. Dapat dimengerti pula, jika sekarang ini biro perjalanan yang besar "berani" mendirikan airlines sendiri.
Namun yang dipertanyakan Sikado, sejauh mana pemerintah dapat menegakkan peraturan dengan benar dan mengawasi secara ketat kegiatannya di lapangan.
(nie)