ANGKASA N0.5 FEBRUARI 2002 TAHUN XII  


  Laporan Utama
Airline
Buku
Cakrawala
Ekonomi
Fenomena
Kisah Nyata
Kokpit
Lobi
Lukisan Dirgantara
Notam
Opini
Ordirga
Origami
Pendidikan
Peristiwa
Profil
Pesawat Model
Pesawat Militer
Pesawat Sipil
Siapa-siapa
Teknologi
Wawancara

Rate our site
@ SearchIndonesia

 
RESENSI BUKU  

Pengabdian
Sri Mulyono Herlambang

Otobiografi Sri Mulyono Herlambang Pengabdianku Hanya Untukmu Negara dan Bangsaku

Judul: 
Otobiografi Sri Mulyono Herlambang 
Pengabdianku Hanya Untukmu, 
Negara dan Bangsaku

Penulis: 
Yusroni Henridewanto dkk.

Penerbit: 
RA Media Specialist, 2001

Tebal: 
xxv + 260 halaman

Harga: 
RP 30.000

Sesuai prosedur penerbangan, bagi pesawat yang akan masuk Jakarta harus dari arah barat laut, maka pesawat Jetstar yang saya tumpangi dengan pilot Mayor Udara Wage Moeljono terbang overhead NDB "Bravo-Bravo" yang terletak di Pulau Edam, Teluk Jakarta, kemudian heading ke PAU Halim Perdanakusuma. Selagi merendah, pesawat kami ditembaki oleh pasukan Artileri Pertahanan Udara Angkatan Darat, tapi tidak mengenai sasaran (hal.102). Ketika pesawat terbang menghindari dengan mengambil heading Pasar Minggu, kembali mereka mendapat tembakan ketika berada pada ketinggian 2.000 kaki persis di atas Tebet. Kala itu, AD memiliki kanon S-60 kaliber 57 mm dan kanon kaliber 37 mm.

Dijelaskan Marsda (Pur) Sri Mulyono Herlambang dalam bukunya Otobiografi Sri Mulyono Herlambang Pengabdianku Hanya Untukmu, Negara dan Bangsaku, bahwa hari itu 1 Oktober 1965, dia beserta Dr. Soebandrio dalam perjalanan menggunakan pesawat kepresidenan dari Medan ke Jakarta. "Tentu ada persoalan penting hingga dijemput dengan pesawat kepresidenan," jelas Sri Mulyono kepada Soebandrio yang masih berada di Aceh dan dimintanya untuk bergegas ke Medan agar bisa segera ke Jakarta. Sebagaimana diketahui, hari itu Indonesia digegerkan oleh terbunuhnya beberapa jenderal AD oleh sebuah gerakan revolusioner yang menamakan dirinya G30S/PKI. Dalam kapasitasnya sebagai Menteri Negara Diperbantukan kepada Presiden dan Wakil Kepala Staf KOTI, tentu presiden sangat mengharapkan kehadiran Sri Mulyono di Jakarta ketika negara berada dalam keadaan genting.

Selain lantas terlibat dalam masa-masa genting itu di tingkat elit, Sri Mulyono pula yang kemudian memerintahkan Pasukan Gerak Tjepat (PGT) AURI untuk menyandang senjata, tetap tinggal di pangkalan dan tidak memperlihatkan sikap permusuhan dengan pasukan mana pun. Sempat Sri Mulyono berdialog dengan Mayor CI Santosa, Komandan Batalion 1 RPKAD yang mendapat perintah dari Kolonel Sarwo Edhi Wibowo ­yang juga diperintahkan Pangkostrad Mayjen Soeharto­ untuk menguasai Halim. "Apa misi mayor di sini?" Mayor CI Santosa menjawab, "Misi kami menguasai pangkalan untuk memastikan agar pesawat tidak digunakan untuk pemboman." (hal. 103). Entah siapa yang mendalangi, saat itu beredar isu bahwa markas Kostrad akan dibom pesawat AURI.

Pensiunan perwira tinggi AURI yang pernah ditunjuk menjadi KSAU pada 15 Oktober 1965 hingga Maret 1966, merupakan penerbang jebolan Sekolah Penerbang TALOA, California 1951. Dalam sejarah TNI AU mungkin tidak akan pernah terulang di mana satu lichting melahirkan tiga KSAU dan se-abrek jenderal penting seperti Wisnu Djayengminardo, Andoko, IG Dewanto dan Leo Wattimena.

Sebagai mantan penerbang pembom (pembom B-25 Mitchell dan B-26 Invader), Sri Mulyono kelahiran Solo, 9 Nopember 1930 ini sudah kenyang asam garam operasi udara mulai dari menumpas gerakan Daud Beureuh, PRRI/Permesta, Kampanye Trikora sampai menjadi penerbang pesawat kepresidenan Il-14 hibah Uni Soviet yang oleh Presiden Soekarno diberi nama 'Dolok Martimbang'. Sri Mulyono yang waktu kecil akrab dipanggil Nano pun sempat menerbangkan pesawat jet tempur pertama AURI de Havilland F.1 Vampire buatan Inggris pada Februari 1958.

Yang menarik juga dibaca adalah pengalaman Sri Mulyono memimpin tim penjemputan pesawat pembom Tupolev Tu-2 (sekelas B-25) berjumlah 36 orang ke Cina. Selain harus direpotkan masalah bahasa baik selama di kelas maupun saat penerbangan hingga menurut Sri Mulyono ketika bertandang ke Angkasa bersama Omar Dhani, Andoko dan Wisnu Djayenminardo beberapa waktu lalu untuk mendapatkan landing clearance mereka hanya menggunakan isyarat lampu hijau, juga soal membawa pulang pesawat ke Indonesia. Pasalnya, penerbang RRC tidak berpengalaman menerbangkan pesawat melintasi samudera. "Makanya penerbang yang saya bawa adalah orang-orang nekad seperti Pedet Soedarman," aku Sri Mulyono di hadapan staf redaksi yang disambut tawa.

Seusai dipensiundinikan pada 1 April 1967, Sri Mulyono dikenal aktif di berbagai organisasi di antaranya Ketua Umum ASITA (Association of the Indonesia Tours and Travel Agencies), Ketua Umum Perhimpunan Peternak Unggas, Ketua Umum INFFA (International Freight Forwarder Association) periode 1980-1990 dan Anggota MPR (1988-1993 dan 1999 ­ sekarang), dan Ketua Perhimpunan Purnawirawan AURI. Secara lengkap, perjalanan hidup Sri Mulyono sebagai "orang sipil" juga dikupas habis dalam buku.(ben)



Laporan Utama | Airline | Buku | Cakrawala | Ekonomi | Fenomena | Kisah Nyata | Kokpit | Lobi | Lukisan Dirgantara | Notam | Opini | Ordirga | Origami | Pendidikan | Peristiwa | Profil | Pesawat Model | Pesawat Militer | Pesawat Sipil | Siapa-siapa | Teknologi | Wawancara |

Copyright © 1998 Majalah Angkasa. All rights reserved
Designed by
Kompas Cyber Media