Judul:
Otobiografi Sri Mulyono Herlambang
Pengabdianku Hanya Untukmu,
Negara dan Bangsaku
Penulis:
Yusroni Henridewanto dkk.
Penerbit:
RA Media Specialist, 2001
Tebal:
xxv + 260 halaman
Harga:
RP 30.000 |
Sesuai prosedur penerbangan, bagi pesawat yang akan masuk Jakarta harus dari arah barat laut, maka pesawat
Jetstar yang saya tumpangi dengan pilot Mayor Udara Wage Moeljono terbang
overhead NDB "Bravo-Bravo" yang terletak di Pulau Edam, Teluk
Jakarta, kemudian heading ke PAU Halim Perdanakusuma. Selagi merendah, pesawat kami ditembaki oleh pasukan Artileri Pertahanan
Udara Angkatan Darat, tapi tidak mengenai sasaran (hal.102). Ketika pesawat terbang menghindari dengan mengambil heading Pasar
Minggu, kembali mereka mendapat tembakan ketika berada pada ketinggian 2.000 kaki persis di atas Tebet. Kala itu, AD memiliki kanon
S-60 kaliber 57 mm dan kanon kaliber 37 mm.
Dijelaskan Marsda (Pur) Sri Mulyono Herlambang dalam bukunya
Otobiografi Sri Mulyono Herlambang Pengabdianku
Hanya Untukmu, Negara dan Bangsaku, bahwa hari itu 1 Oktober 1965, dia beserta Dr. Soebandrio dalam perjalanan menggunakan
pesawat kepresidenan dari Medan ke Jakarta. "Tentu ada persoalan penting hingga dijemput dengan pesawat kepresidenan," jelas Sri
Mulyono kepada Soebandrio yang masih berada di Aceh dan dimintanya untuk bergegas ke Medan agar bisa segera ke Jakarta.
Sebagaimana diketahui, hari itu Indonesia digegerkan oleh terbunuhnya beberapa jenderal AD oleh sebuah gerakan revolusioner yang
menamakan dirinya G30S/PKI. Dalam kapasitasnya sebagai Menteri Negara Diperbantukan kepada Presiden dan Wakil Kepala Staf KOTI,
tentu presiden sangat mengharapkan kehadiran Sri Mulyono di Jakarta ketika negara berada dalam keadaan genting.
Selain lantas terlibat dalam masa-masa genting itu di tingkat elit, Sri Mulyono pula yang kemudian memerintahkan Pasukan
Gerak Tjepat (PGT) AURI untuk menyandang senjata, tetap tinggal di pangkalan dan tidak memperlihatkan sikap permusuhan dengan
pasukan mana pun. Sempat Sri Mulyono berdialog dengan Mayor CI Santosa, Komandan Batalion 1 RPKAD yang mendapat perintah dari
Kolonel Sarwo Edhi Wibowo yang juga diperintahkan Pangkostrad Mayjen Soeharto untuk menguasai Halim. "Apa misi mayor di sini?"
Mayor CI Santosa menjawab, "Misi kami menguasai pangkalan untuk memastikan agar pesawat tidak digunakan untuk pemboman." (hal.
103). Entah siapa yang mendalangi, saat itu beredar isu bahwa markas Kostrad akan dibom pesawat AURI.
Pensiunan perwira tinggi AURI yang pernah ditunjuk menjadi KSAU pada 15 Oktober 1965 hingga Maret 1966, merupakan
penerbang jebolan Sekolah Penerbang TALOA, California 1951. Dalam sejarah TNI AU mungkin tidak akan pernah terulang di mana
satu lichting melahirkan tiga KSAU dan
se-abrek jenderal penting seperti Wisnu Djayengminardo, Andoko, IG Dewanto dan Leo Wattimena.
Sebagai mantan penerbang pembom (pembom B-25
Mitchell dan B-26 Invader), Sri Mulyono kelahiran Solo, 9 Nopember 1930
ini sudah kenyang asam garam operasi udara mulai dari menumpas gerakan Daud Beureuh, PRRI/Permesta, Kampanye Trikora
sampai menjadi penerbang pesawat kepresidenan Il-14 hibah Uni Soviet yang oleh Presiden Soekarno diberi nama
'Dolok Martimbang'. Sri Mulyono yang waktu kecil akrab dipanggil Nano pun sempat menerbangkan pesawat jet tempur pertama AURI de Havilland F.1
Vampire buatan Inggris pada Februari 1958.
Yang menarik juga dibaca adalah pengalaman Sri Mulyono memimpin tim penjemputan pesawat pembom Tupolev Tu-2 (sekelas
B-25) berjumlah 36 orang ke Cina. Selain harus direpotkan masalah bahasa baik selama di kelas maupun saat penerbangan hingga
menurut Sri Mulyono ketika bertandang ke
Angkasa bersama Omar Dhani, Andoko dan Wisnu Djayenminardo beberapa waktu lalu
untuk mendapatkan landing clearance mereka hanya menggunakan isyarat lampu hijau, juga soal membawa pulang pesawat ke
Indonesia. Pasalnya, penerbang RRC tidak berpengalaman menerbangkan pesawat melintasi samudera. "Makanya penerbang yang saya bawa
adalah orang-orang nekad seperti Pedet Soedarman," aku Sri Mulyono di hadapan staf redaksi yang disambut tawa.
Seusai dipensiundinikan pada 1 April 1967, Sri Mulyono dikenal aktif di berbagai organisasi di antaranya Ketua Umum
ASITA (Association of the Indonesia Tours and Travel
Agencies), Ketua Umum Perhimpunan Peternak Unggas, Ketua Umum INFFA
(International Freight Forwarder
Association) periode 1980-1990 dan Anggota MPR (1988-1993 dan 1999 sekarang), dan Ketua
Perhimpunan Purnawirawan AURI. Secara lengkap, perjalanan hidup Sri Mulyono sebagai "orang sipil" juga dikupas habis dalam
buku.(ben)