ANGKASA N0.5 FEBRUARI 2002 TAHUN XII  


  Laporan Utama
Airline
Buku
Cakrawala
Ekonomi
Fenomena
Kisah Nyata
Kokpit
Lobi
Lukisan Dirgantara
Notam
Opini
Ordirga
Origami
Pendidikan
Peristiwa
Profil
Pesawat Model
Pesawat Militer
Pesawat Sipil
Siapa-siapa
Teknologi
Wawancara

Rate our site
@ SearchIndonesia

 
PENDIDIKAN  

Sekolah Tempur Pekanbaru,
"Top Gun"-nya Indonesia

Selama tiga bulan mulai September hingga November 2001, beberapa penerbang dan instruktur terbang tempur TNI AU melakukan pendidikan bersama di Lanud Payalebar, Singapura dan Lanud Pekanbaru, Riau. Program bernama CFWIC (Combined Fighter Weapon Instructure Course) ini dapat di sebut sebagi "Top Gun"-nya Indonesia.

30 Pesawat TN-AU dan RSAF - Telah dua kali melakukan latihan instruktur penerbang tempur.

CFWIC bertujuan mencetak instruktur fighter weapons handal, yang mampu merancang serta memberi pelatihan bagi para penerbang tempur di skadronnya hingga mencapai tingkat yang lebih tinggi. CFWIC bukan pendidikan penerbang tempur biasa, karena menuntut siswa lebih dari sekadar aman dan mahir mengendalikan pesawat sebagai sistem senjata. Program kerjasama TNI AU-RSAF (AU Singapura) ini telah bergulir dua kali. Pertama dilaksanakan di Pekanbaru tahun 1999.

Siswa CFWIC dipilih dari para instruktur berkualifikasi Flight Leader dari skadron tempur. Mereka dilatih agar berkemampuan tinggi dalam merencanakan misi operasi udara (mulai penyerangan, pengintaian, penyekatan, dan pertahanan udara), memimpin, serta memenangkannya dengan tingkat efisiensi dan efektifitas setinggi mungkin. Siswa digembleng agar bisa memanfaatkan semua aset udara yang diberikan oleh pimpinan. Mulai dari memilih penerbang, senjata yang digunakan, taktik operasi udara, taktik navigasi, hingga rute operasi koordinasi dengan unsur terkait. Tujuannya, menimbulkan kerugian sebesar mungkin di pihak lawan.

Konversi

Sebelum latihan, siswa dan para Fighter Weapon Instructure (FWI) TNI AU yang bukan penerbang Hawk-200 melaksanakan konversi dan refreshing di Skadron Udara 12 Pekanbaru, mulai 5 Agustus 2001. Konversi dilakukan bagi mereka yang belum punya rating Hawk-200, sementara refreshing bagi mereka yang telah memiliki rating di pesawat ini.

Dua FWI F-16 (Letkol Pnb. Syaugi dan Mayor Pnb. Agung) dan seorang siswa penerbang Hawk-200 (Mayor Pnb. Bowo yang sedang bertugas di Sekbang Yogyakarta) melaksanakan refreshing. Dua Instruktur lainnya (Mayor Pnb. Imran dan Mayor Pnb. Henry) serta seorang siswa (Mayor Pnb. Kustono) tidak perlu refreshing karena aktif sebagai penerbang Hawk-200. Sedangkan tiga siswa lain (Letkol Pnb. Dodi A-4 Skyhawk, Mayor Pnb. Andi F-16, dan Mayor Pnb. Rizal F-5) melakukan konversi. Selama refreshing dan konversi, para penerbang juga berlatih pengisian bahan bakar di udara pada awal bulan September.

Persaingan Keras PERSAINGAN KERAS - Sudah ada yang mengantongi 3.000 jam terbang.

Mulai 15 sampai 29 September para siswa dan instruktur berada di Payalebar AFB, Singapura untuk melakukan kegiatan Ground School CFWIC. Disini Instruktur dan siswa TNI AU bertemu counter part-nya dari RSAF. Yakni lima siswa dan tiga FWI pesawat F-5 ST serta empat siswa dan tiga FWI pesawat A-4 SU (Super Skyhawk).

Siswa mendapat pelajaran dari para FWI dan pakar menyangkut aneka senjata udara, teori perhitungan, maupun penggunaanya. Diajarkan pula teori dan taktik perang elektronika, pengendalian perang udara dengan bantuan radar, teori, dan taktik berbagai jenis operasi udara, serta kelebihan maupun kekurangan berbagai jenis pesawat.

Pelajaran meliputi dua bagian, teori Air to Air dan Air to Ground. Para pakar dan FWI adalah para veteran berbagai latihan operasi udara raksasa seperti Red Flag, Green Flag, Cope Thunder (USA), Cobra Gold (Thailand) dan berbagai latihan bilateral antara RSAF dengan negara lain termasuk Indonesia. Detasemen skadron udara mereka secara rutin berlatih di tiga lokasi di Amerika Serikat (F-16), Perancis (A-4), Thailand/Australia (F-16/F-5/A-4), Filipina, Brunai, Indonesia, dan negara lain. Detasemen RSAF di Pekanbaru cukup besar untuk menampung satu skadron lengkap dengan Markas, Shelter, dan peralatan pendukungnya.

Para FWI A-4 SU dan F-5 ST RSAF sebagian besar juga penerbang F-16 dan lulusan Fighter Weapons Course di Arizona. Salah satu FWI F-5 RSAF termashur adalah Mayor Maharaj "BigMac". Dia adalah teman satu kelas Letkol Syaugi "Wild Geese" di Weapon Course khusus bagi pilot F-16 milik Air National Guard USA pada tahun 1995. Pendidikan ground school yang diikuti lima siswa TNI AU dan sembilan dari RSAF, ditutup dengan ujian esai yang cukup berat.

Air Combat

Pelaksanaan latihan terbang di Lanud Pekanbaru dimulai setelah kedatangan lima pesawat F-5 ST dan lima pesawat A-4 SU, mulai tanggal 4 Oktober 2001. Selama latihan, semua pergerakan pesawat dimonitor menggunakan peralatan ACMR (Air Combat Maneuvering Range). Setiap pesawat membawa sebuah pod mirip rudal Sidewinder di satu wingtip-nya. Di wingtip lainnya dipasang rudal AIM-9 Sidewinder Captive (hanya sensor Infra merah yg berfungsi namun tidak bisa ditembakkan).

Pod ACMR memancarkan data-data pesawat di udara di monitor layar ruangan Teater ACMR. Di sinilah pertempuran udara bisa di lihat dari berbagai sisi. Dari kokpit, dari atas, dari bawah, dan samping, serta bisa di- zoom maupun dilihat dalam pandangan lebar layaknya sebuah game Air Combat. Karena ACMR hanya bisa memonitor satu latihan pada satu waktu maka penjadwalan waktu sangat ketat. Setiap latihan diberi waktu 20-30 menit saja. Selanjutnya harus meninggalkan area ACMR agar flight yang lain masuk.

Peserta PESERTA - Instruktur dan siswa berfoto sejenak.

Fase Latihan terbang air to air dimulai 3 Oktober 2000, yakni dengan duel udara satu lawan satu antara instruktur dan siswa dalam BFM (Basic Fighter Maneuver). Disini siswa harus mem-brief instrukturnya dan langsung melaksanakan penerbangan satu lawan satu dengan manuver offensive, defensive dan neutral engagement. Siswa bertindak sebagai leader sementara instruktur sebagai wingman. Setelah beberapa sorti, BFM dilanjutkan dengan ACM (Air Combat Maneuver). Yakni latihan dua lawan satu. Di sini dua pesawat berlatih dengan secepat mungkin menghabisi satu pesawat menggunakan taktik kerjasama di udara.

Seperti halnya BFM, latihan ACM masih menggunakan visual set-up. Pesawat memulai duel udara dalam jarak 2-4 mil laut dengan posisi yang sudah diatur. Setelah itu ACT atau Air Combat Tactic, yakni latihan duel udara dua lawan dua. Dimulai dari jarak 30­40 mil laut menggunakan bantuan pengendali radar GCI (Ground Control Intercept) di ruang teater ACMR.

Sebelum terbang, siswa mem-brief IP (Instruktur Penerbang) dan GCI soal taktik yang akan digunakan, lalu berkoordinasi dengan penerbang lawannya. Waktu total briefing bisa mencapai tiga jam, sementara waktu terbang hanya satu jam. Para GCI melalui monitor ACMR dan sarana radio UHF dengan frekwensi yang ditentukan mengendalikan penerbang pihaknya. GCI juga memberi tambahan situation awareness pada penerbang. Disamping itu penerbang juga tetap melihat radar pesawatnya untuk mengatur taktik.

Penembakan rudal simulasi juga ditampilkan di layar ACMR. Bila tepat maka pesawat lawan akan terbungkus kotak, atau disebut coffin (peti mati). Rudal yang digunakan adalah Sidewinder All Aspect yang bisa ditembakkan dari arah depan.

Untuk mengelabui radar dan rudal penerbang juga menggunakan chaffs dan flares. Selewat fase ACT yang masih melibatkan satu jenis pesawat saja langsung masuk fase DACT (Dissimilar Air Combat Tactic) di mana pesawat yang berbeda jenis diadu di udara. Misalnya dua Hawk-200 melawan dua F-5 ST, atau dua A-4SU. Demikian pula dua A-4SU melawan dua F-5 ST. Ini yang sangat ramai, karena sudah melibatkan teman dari skadron lain.

Persaingan tidak hanya antar penerbang beda negara, melainkan antara penerbang A-4 dan F-5 pun berusaha mengembangkan taktik perang terbaik. Taktik menghindar atau menyerang. Para GCI dari TNI AU dan RSAF masing-masing mengendalikan rekan senegaranya. Tahap ini melatih kepadaian mengatur taktik perang udara. DACT meliputi 2 vs 2, 4 vs 2 , 4 vs 2 + 2 (Hawk-200 + A-4) dan 4 vs 4. Makin banyak pesawat yang berseliweran makin repot mengatur waktu keberangkatannya. Waktu mulai pertempuran, keamanan latihan dan waktu pendaratan. Inilah yang harus dipecahkan para siswa.

Dalam fase ini pula ada kesempatan DBFM (Dissimilar BFM) di mana siswa dari ketiga jenis pesawat berlatih BFM melawan IP dari jenis pesawat lain dengan posisi set up latihan berhadapan dari jarak 5-7 km. Selanjutnya bertempur bebas dengan menggunakan kemampuan pesawat, senjata dan skill yang dimilikinya. Di sinilah kesempatan siswa berusaha menundukkan para IP-nya yang notabene seorang FWI. Padahal para FWI ada yang punya jam terbang lebih dari 3.000 jam dengan jet tempur. Latihan ini pernah kita saksikan dalam film Top Gun.

Hari-hari latihan berlangsung mulai pukul 07.00 pagi hingga 05.00 sore. Mereka hanya mendapat kesempatan beristirahat selama seminggu dalam course break di akhir bulan September. Para penerbang RSAF pulang ke Singapura sedangkan penerbang TNI AU kembali ke Skadronnya masing-masing.

Menghancurkan Siabu

Padat PADAT - Latihan yang padat dilakukan semua penerbang.

Awal November 2001 latihan kembali dilanjutkan. Para fighter menyebutnya "Fight's On". Fase air to ground ini dimulai dengan pelajaran menghitung berbagai parameter penembakan sasaran darat. Baik pengeboman konvensional seperti pemboman tukik (dive bombing) dari ketinggian rendah atau tinggi serta latihan yang lebih sulit seperti pengeboman datar (level bombing) dengan bomb hambatan tinggi (High Drag Bomb). Juga pengeboman melambung (pop up attack) dan pemboman lontar ( loft bombing). Lokasi pemboman adalah daerah AWR (Air Weapon Range) Siabu berjarak 40 km dari Pekanbaru.

Minggu terakhir November latihan masuk ke fase tempur (war phase). Latihan melibatkan seluruh aset udara untuk melakukan misi penyerangan. Sasarannya Tactical Range, Siabu, berupa pangkalan udara tiruan di tengah hutan Siabu. Terdapat landasan satu kilometer dilengkapi hanggar tiruan, markas besar, shelter, pesawat, dan pertahanan udara. Misi ini disebut OCA (Offensive Counter Air) atau Blue Force. Siabu dipertahankan oleh DCA (Defensive Counter Air) atau disebut Red Force.

Markas besar memerintahkan para siswa melakukan penyerangan dengan memperhitungkan semua kekuatan pertahanan udara dan pesawat tempur lawan. Siswa kemudian merancang misi penyerangan dengan beberapa flight. Mereka juga mengatur pesawat mana yang menjadi striker, sweeper, atau escorter. Semua dikoordinasikan dengan GCI dan pesawat tanker.

Selama lima hari, penyerangan dilakukan dengan rute berbeda. Secara bergantian siswa dari tiga jenis pesawat ditunjuk sebagai Mission Commander, Flight Leader dan Elemen Leader. War phase sangat ramai karena melibatkan lebih dari selusin pesawat yang semuanya dikendalikan pihak yang berbeda. Total keseluruhan pesawat yang mendukung pelaksanaan CFWIC kedua ini sendiri mencapai 30 unit. (Mayor Pnb. Agung Sasongkojati, penerbang tempur dan instruktur CFWIC)

Foto-foto: Mayor Pnb. Agung Sasongkodjati



Laporan Utama | Airline | Buku | Cakrawala | Ekonomi | Fenomena | Kisah Nyata | Kokpit | Lobi | Lukisan Dirgantara | Notam | Opini | Ordirga | Origami | Pendidikan | Peristiwa | Profil | Pesawat Model | Pesawat Militer | Pesawat Sipil | Siapa-siapa | Teknologi | Wawancara |

Copyright © 1998 Majalah Angkasa. All rights reserved
Designed by
Kompas Cyber Media