|
| |
 | KISAH NYATA
|
|
Kisah Lain Petualangan
ALLAN POPE
Kisah tertembaknya Allan Pope pada era pem-berontakan Permesta (1958) seperti ditakdirkan untuk tetap misterius. Meski TNI AU dan TNI AL masing-masing mengklaim, Pope tak pernah bisa memastikan peluru siapa yang
berhasil menjatuhkannya. Dalam edisi Desember 2001,
Angkasa memuat kesaksian Harry Rantung, yang betapapun tak lengkap harus dianggap sebagai masukan berharga bagi pemerkayaan sejarah. Masih dalam semangat serupa, berikut kami muat tanggapan
dan tulisan Julius Pour, wartawan Kompas, yang melihat peristiwa tersebut dari sisi lain.
Lukisan karya Noordono yang menggambarkan tertembaknya Allan Pope./Dok.Dispen AU
|
Begitu selesai menjatuhkan bom terakhir, Allan Pope segera menambah kecepatan pesawatnya agar bisa menanjak. Ia sadar, saat itu posisi pesawat pembom B-26 AUREV yang sedang diterbangkannya sangat rawan. Oleh karena sebelumnya dia terpaksa harus
memperlambat laju pesawat ketika mencari posisi untuk membom. Tetapi dengan terkejut dia kemudian juga sempat melihat rentetan nyala peluru meluncur secara cepat, susul-menyusul dari bawah, diikuti bunyi ledakan sangat keras.
Beberapa menit kemudian sebelum situasi di atas berlangsung, Kapten Udara Ignatius Dewanto melihat manuver sebuah pesawat pembom sedang berusaha menyergap konvoi kapal pemerintah pusat. Nalurinya sebagai penerbang pemburu berbicara. Dewanto
(28) segera mengejar serta menempatkan pesawatnya persis di belakang pembom tersebut. Tangannya menarik picu, dengan beriringan tiga roket meluncur mulus. Sayang, ketiga-tiganya melenceng dari sasaran. Oleh karena itu dia berganti kepada senapan mesin,
persenjataan standar pesawat Mustang.
Dewanto, penerbang tempur dari Skadron III AURI, langsung menembak ke arah pembom yang sedang melayang dalam gerak pelan tersebut. Dari serangkaian tembakan, dia melihat salah satu pelurunya menghantam sayap kanan pesawat lawan. Bersamaan
dengan ini, rentetan peluru dari bawah juga mulai menghajar perut pesawat Pope.
Adegan pertempuran udara tersebut dilukiskan secara menarik dalam buku
Feet to the Fire, CIA Covert Operations in Indonesia 1957-1958.
Karya bersama Kenneth Conboy dan James Morrison, diterbitkan oleh Naval Institute Press (1999) di Annapolis,
Maryland, AS. Buku tersebut mengungkapkan keterlibatan pemerintah Amerika Serikat dalam membantu pemberontakan PRRI/Permesta.
Dukungan kepada pemberontak, dengan pelaksana CIA
(Central Intelligence Agency), dinas rahasia AS, tidak hanya dalam bentuk dukungan dana, bantuan persenjataan, pemberian latihan berikut pengiriman tim pendamping untuk membantu pertempuran
darat. Tetapi juga mengirim pesawat terbang, lengkap dengan amunisi berikut sejumlah penerbang. Salah seorang diantaranya bernama Allan Pope (30), eks penerbang USAF (AU Amerika Serikat), penerima tanda jasa
Distinguished Flying Cross dalam Perang Korea.
Kembali ke pesawat Pope.
Begitu ledakan terdengar, dalam waktu sekejap, lidah api mulai menjilati kokpit. Berpacu dengan waktu, lewat interkom Pope meminta Jan Harry Rantung, satu-satunya rekannya, agar meninggalkan pesawat. Dari balik payung udara yang membawa tubuh
penerbang nahas tersebut turun perlahan ke bumi, dia masih sempat menyaksikan pesawatnya terbakar dan meluncur cepat, tenggelam masuk laut.
Siapa si penembak
Kapten Udara Ignatius Dewanto/Foto: Dispen AU
|
Drama pada hari Minggu pagi tanggal 18 Mei 1958 di atas Teluk Ambon, Maluku ini selalu diperdebatkan. Permasalahan yang memicu perbantahan adalah, siapa sebenarnya yang hari itu menembak jatuh pesawat B-26 Angkatan Udara Revolusioner
(AUREV)? Apakah para anggota ALRI di kapal? Atau, Dewanto, pilot pesawat AURI yang sedang memburu B-26.
Dalam Angkasa edisi Desember 2001, Muhammad Saleh Kamah, pensiunan wartawan
Antara melukiskan pengalaman Rantung, eks bintara AURI yang membelot dan bergabung dengan AUREV serta mengaku saat itu hanya berperan sebagai operator radio.
Rantung sama sekali tidak menyebut keberadaan pesawat Dewanto. Ia mengatakan, pembom AUREV baru selesai menyerang landasan pesawat terbang Ambon serta menghancurkan obyek-obyek militer di darat. Sebelum tanpa sengaja mereka melihat konvoi armada ALRI berlayar
di Teluk Ambon.
Kesaksian Rantung, sebagaimana dikutip Kamah menyebutkan, "Pope dengan pengalaman tempurnya menukik serta mulai menjatuhkan bom. Sasarannya kapal Sawega, yang penuh pasukan dan tank-tank pendarat. Namun meleset, hanya beberapa meter dari
buritan kapal." Sesudah menghamburkan peluru ke atas geladak kapal, Pope berputar untuk bisa naik pada satu ketinggian. Kedua orang di dalam pesawat pembom tersebut kemudian merasakan sebuah goncangan keras. "Kita kena tembak, pesawat terbakar, segera lapor ke
Manado," demikian perintah Pope kepada Rantung.
Saleh Kamah salah seorang dari sedikit wartawan Indonesia yang mempunyai pengalaman tempur. Ia wartawan (tulis) pertama yang diizinkan ikut pasukan ABRI ketika menyerbu Timor Portugis (Timor Timur). Pengalamannya sempat dituangkan dalam
buku Operasi Seroja, diterbitkan di Palu, Sulawesi Tengah, dengan uang pribadinya.
Tetapi, ketika mengemukakan salah satu versi penembakan Pope, sebuah koreksi perlu disebutkan. Sesuatu yang bisa dimaklumi, oleh karena pertemuannya dengan Rantung berlangsung tahun 1963. Artinya sudah 38 tahun lebih. Sehingga catatan tertulisnya
(kalau ada) mungkin sudah tidak lengkap dan menyebabkan ketidakcermatan penulisan. Semakin diperburuk dengan tidak ada koreksi dari editor
Angkasa, untuk hal-hal yang sesungguhnya sangat gampang.
Disebutkan misalnya, Jaksa Agung AS Robert Kennedy untuk menyelesaikan nasib Pope diutus menemui Presiden Sukarno sambil membawa surat Presiden Eisenhower. Secara logika saja hal tersebut tidak mungkin. Robert Kennedy baru diangkat menjadi
Jaksa Agung sesudah kakaknya, John Kennedy terpilih sebagai Presiden AS menggantikan Eisenhower yang telah habis masa jabatannya. Bagaimana mungkin Kennedy muda membawa-bawa surat dari Presiden yang sudah lengser. Apalagi kalau kita tahu, justru pada
masa pemerintahan Eisenhower (dan juga atas perintahnya) campur tangan CIA serta petualangan Pope berlangsung.
Dukungan kepada AUREV
GO HOME - "Just go home, hide your self, and we'll forget the whole thing," pesan Soekarno./Foto: Dok.Dispen AU
|
Peristiwa tertembaknya pesawat AUREV yang sedang diterbangkan Pope memang telah ikut mengubah perjalanan sejarah. Pada satu sisi peristiwa tersebut membuktikan campur tangan pemerintah AS dan juga CIA dalam mendukung pemberontakan
PRRI/Permesta. Terbukti dengan mengirim pilotnya untuk melakukan penyerangan terhadap sebuah negara berdaulat. Pada sisi lain, sesudah pesawatnya tertembak dan Pope diringkus, sehari kemudian AS langsung mencabut dukungan. Sedangkan tanpa ada AUREV sebagai pelindung
serta membantu pemboman, hari-hari akhir petualangan para pemberontak sudah bisa dihitung.
Dukungan AS kepada PRRI/Permesta memang serasi dengan kebijakan politik luar negerinya masa itu. Eisenhower, mantan Panglima Besar Pasukan Sekutu di Eropa selama Perang Dunia II, tahun 1952 terpilih sebagai Presiden AS. Kita tahu, AS
berhasil menaklukkan pasukan Nazi Jerman tetapi kecolongan oleh karena begitu perang usai, sebagian Jerman, Eropa Timur dan Cina daratan malah dikuasai komunis.
Eisenhower kemudian merumuskan kebijakan politik luar negeri partisan, yaitu keinginan menumpas pengaruh komunis di belahan dunia mana pun. Langkah tersebut memperoleh dukungan dari dua bersaudara Dulles. John Foster Dulles, Menteri Luar Negeri
serta Allen Dulles, Direktur CIA. Ketiga orang tersebut memberikan dukungan kepada PRRI/Permesta, ketika sejumlah kolonel petualang dan politisi gagal di Indonesia mencoba menantang pemerintahnya sendiri.
Kebijakan untuk menggoyang Indonesia dirumuskan Washington oleh karena mereka menilai pemerintahan Presiden Sukarno terlampau akrab dengan komunis. Sehingga ketika dihadapkan kepada pilihan, membiarkan Indonesia tetap utuh tetapi
dengan kemungkinan jatuh ke pengaruh komunis. Eisenhower justru memilih alternatif kedua. Menggoyang Indonesia agar terpecah belah tetapi sebagian wilayahnya diharapkan bisa di bawah pengaruh AS.
Dalam kerangka kebijakan ini, CIA merekrut para penerbang tempur serta mengirimkan sejumlah pesawat terbang untuk melaksanakan misi pemboman ke Indonesia. Misi tersebut dikelola dari landasan udara Mapanget, Sulawesi Utara, yang dikuasai
pemberontak. Lahirlah AUREV (Maret 1958), dipimpin Petit Muharto dan Hadi Supandi, dengan dukungan penerbang dari aneka macam kebangsaan; Polandia, Taiwan, Filipina, AS. Sementara jenis pesawat yang dipakai, pesawat angkut C-47
Dakota, pemburu P-51 Mustang dan
pembom B-26 Invader.
Dengan kehadiran AUREV, kemampuan tempur pemberontak semakin meningkat. Apalagi ketika pemerintah pusat (dan juga AURI) masih sibuk melakukan operasi penumpasan pemberontakan di wilayah Sumatera. AUREV menguasai wilayah udara di
seluruh Indonesia bagian Timur. Morotai, Ambon, Palu, Donggala, Makassar dan Balikpapan, terus-menerus dihujani bom. Tidak hanya terbatas pada landasan udara, tetapi juga kapal dagang asing, tanker dan KRI Hang Tuah sempat mereka hancurkan.
Untuk menjawab tantangan AUREV tersebut, tanggal 13 Mei 1958 AURI melancarkan Operasi Nunusaku di bawah pimpinan Mayor Penerbang Ismail. Dari tiga pangkalan udara (Ambon, Liang serta Amahai), meluncur empat pembom B-25 dan lima pemburu
P-51 AURI dengan misi utama, menyergap pesawat terbang pemberontak di Mapanget dan Kawaliran.
Pengamatan AURI menunjukkan, kebiasaan AUREV melakukan serangan pada tengah hari. Oleh karena itu, pesawat-pesawat AURI dirancang sampai di titik sasaran seiring munculnya matahari pagi, sebelum AUREV sempat tinggal landas. Serangan fajar
tersebut terbukti meraih sukses besar. Kesembilan pesawat AURI selamat kembali ke pangkalan. Sementara itu hampir seluruh pesawat pemberontak bisa dihancurkan langsung di sarangnya.
Asap hitam masih mengepul di atas Mapanget ketika menjelang tengah hari Pope mendaratkan B-26 yang baru saja dia terbangkan untuk menyerang Ambon. Ternyata, saat AURI menyerbu Mapanget dan Kawaliran, secara bersamaan Pope sedang membom
Ambon. Tetapi suksesnya menjadi tidak berarti, oleh karena AUREV rontok dan tinggal memiliki dua pesawat; pemburu P-51 dan pembom B-26. Pesawat lainnya hancur berantakan di landasan tanpa mampu melakukan perlawanan. Untuk secepatnya bisa memulihkan
kekuatan AUREV, dua hari sesudah serangan AURI tersebut, datang bantuan sebuah B-26 dari Pangkalan Udara Clark, Filipina.
Tidak terbang sterile
Pukul 03.00 dini hari tanggal 18 Mei 1958, Pope kembali ke kokpit B-26. Hari itu dia bertekad untuk membalas kekalahan AUREV dengan sekali lagi menyerang Ambon. Sementara rekannya, Connie Seigrist, dengan B-26 yang baru tiba sehari sebelumnya dari
Clark AFB, akan menyergap Amahai, sebelum nantinya membantu Pope di Ambon. Mereka berdua telah menerima laporan intel, mengenai konvoi ALRI yang sedang berlabuh di wilayah sasaran.
Sesuai kelaziman dalam operasi rahasia, semua pelakunya harus
sterile pada saat menjalankan misi. Dengan demikian, tidak akan pernah ada bukti, seandainya lawan berhasil menangkap mereka. Tetapi hari itu Pope sama sekali tidak sterile. Ia membawa
lisensi penerbang, kartu anggota milik USAF, daftar delapan penerbang CIA lainnya di Indonesia dan juga mata uang dolar.
Apakah Pope berlaku bodoh dengan membawa barang-barang yang bisa membahayakan dirinya?
"Justru dia cerdik sekali," komentar Thomas Fosmire, sesama anggota CIA. Ia menunjuk pengalaman dua rekannya yang ditembak jatuh pasukan komunis Cina tahun 1952 dalam misi rahasia dengan menggunakan pesawat angkut C-47. Mereka berdua terbang
sterile, sehingga CIA langsung menyatakan tidak pernah tahu menahu tentang misi tersebut dan juga menolak mengakui mereka anggotanya. Akibatnya, keduanya harus meringkuk di penjara Cina selama puluhan tahun, tanpa ada yang memperhatikan nasibnya. Mereka berdua
baru dibebaskan sekitar tahu 1971, sesudah Cina mungkin bosan menahan lebih lama.
Nampaknya, Pope tak mau dianggap tidak punya jejak. Dengan demikian ketika pesawatnya tertembak jatuh dan dia berhasil mendarat memakai payung udara di Pulau Hatala, arah barat Ambon, dengan segera jati dirinya memang langsung terbongkar. Oleh
karena identitas dan semua surat-suratnya lengkap. Sehingga tidak ada lagi peluang bagi pemerintah AS dan CIA untuk mengelak, bahwa mereka memang telah melakukan campur tangan.
Minggu sore 18 Mei 1958 di markas besar CIA di Washington DC, sesudah berita hilangnya pesawat Pope mulai diketahui. James Glerum langsung melapor kepada Direktur CIA Allen Dulles, "Pope tidak sterile, dia membawa catatan nama semua pilot kita."
Mendengar laporan mengejutkan tersebut Allen langsung menelpon saudaranya, Menlu Dulles, "Foster, begini situasi kita di sana" Sesaat kemudian mata Allen Dulles menatap Glerum sambil berkata,
"We're pulling the plug, kita harus segera cabut."
Awal tahun 1960, setelah dua tahun pesawatnya tertembak jatuh, Pope diajukan ke depan pengadilan militer di Jakarta. Hakim akhirnya menjatuhkan hukuman mati. Oleh karena dia terbukti melakukan beberapa kali misi pemboman. Misi tersebut dilaksanakan
atas perintah CIA oleh karena semua dokumen yang dibawa Pope dengan jelas menunjukkan keterlibatan CIA dan juga pemerintahan Eisenhower. Hubungan Indonesia-Amerika kemudian mulai berubah menjadi baik ketika John Kennedy tampil menggantikan Eisenhower.
Sampai akhirnya dengan jiwa besar, Bung Karno pada tanggal 22 Agustus 1962 siang mengatakan,
"Just go home, hide yourself, and we'll forget the whole
thing"
Kembali menjadi penerbang
Tanpa publikasi, pada malam itu juga Pope dibebaskan. Ia langsung terbang kembali ke Miami, Florida, AS tempat kelahirannya serta melanjutkan karirnya sebagai penerbang. Kali ini dalam sebuah perusahaan lokal Southern Air Transport. Sesuai dengan
janjinya kepada Bung Karno, dia memang selalu tutup mulut serta menghindar dari segala macam bentuk publikasi.
Selama sidang peradilan militer untuk mengadili Pope, pihak AURI dan ALRI dengan segala macam argumentasinya saling mengklaim bahwa tembakan mereka yang berhasil merontokkan pesawat AUREV. Tanggal 11 Juni 1997, ketika menjawab
pertanyaan Conboy, salah seorang penulis buku Feet to the Fire, Pope terus terang mengatakan tidak pernah tahu dengan persis. "Saya tidak berani memastikan, tembakan datang dari siapa."
Pengakuan Harry Rantung bahwa dia hanya operator radio dan tak melihat (menurut Saleh Kamah) pesawat Dewanto, juga perlu dikoreksi. Tempat duduk Rantung dalam pesawat B-26 adalah di bagian ekor. Ia memang harus berada di sana, sebab tugasnya
adalah sebagai penembak senapan mesin, seandainya pesawat tersebut dikejar lawan. Oleh karena itu dia memang juga menyaksikan, ketika sebuah Mustang (yang diterbangkan Dewanto) AURI melakukan pengejaran. Pengakuan tersebut juga dikemukakan oleh Rantung
dalam persidangan Pope.
Tetapi tembakan siapa yang menjatuhkan pesawat Pope, sampai sekarang memang masih tetap misteri.
Meskipun demikian, sumbangan Dewanto dalam menghancurkan AUREV cukup bermakna. Pada tanggal 18 Mei tersebut, sejak pagi dia memang sudah mempersiapkan diri di Pangkalan Udara Liang, bagian utara Pulau Ambon. Sehingga begitu mendengar
laporan lewat radio tentang terjadinya serangan AUREV ke landasan udara Ambon, Dewanto segera meloncat ke pesawat Mustang yang telah disiagakannya.
Inilah sebabnya, dia masih sempat melihat ketika pesawat Pope sedang akan melepas bom terakhir (semua bomnya sudah dijatuhkan di Ambon) dengan sasaran konvoi armada ALRI.
Inspektur Polisi Nurdin Baso di atas Kapal Sawega melihat dengan jelas sebuah Mustang berada di belakang B-26 yang sedang menyerang kapalnya. Secara otomatis dia memastikannya pesawat AUREV. Oleh karena ketika di Ambon, Nurdin Baso sudah pernah
dua kali diserang pesawat serupa. Bersama teman-temannya di Sawega, mereka ramai-ramai langsung menembaki Mustang tersebut, dan memaksa Dewanto harus terbang menjauh.
Ketika sedang menghindar, Dewanto tanpa sengaja justru bertemu dengan pesawat B-26 AUREV yang diterbangkan Connie Seigrist yang baru saja selesai menyerang Amahai. Mereka berdua kemudian melakukan
dogfight dengan saling menembakkan senapan mesin. Keterbatasan bahan bakar menjadikan pertempuran udara tersebut berlangsung singkat oleh karena kedua-duanya kemudian saling menjauh.
Dewanto kembali ke Liang dan Seigrist pulang ke Mapanget. Selama penerbangan pulang, Seigrist berkali-kali memanggil Pope tanpa pernah ada jawaban. Ia mulai khawatir rekannya tertembak, sehingga dengan perasaan galau Seigrist berusaha
mendaratkan pesawatnya secara mulus.
Sayang, pendaratannya gagal. Pesawatnya melenceng, dan ambruk di pinggir landasan. Seigrist tidak sadar, salah satu peluru Dewanto ternyata telah menghancurkan roda kiri pesawatnya. Sehingga B-26 tersebut langsung rontok sebab tidak sanggup melandas
dengan sempurna. Dengan demikian, sejak hari itu AUREV praktis lumpuh, oleh karena para pemberontak PRRI/Permesta sudah tidak lagi mempunyai pesawat terbang untuk bisa dioperasikan. Apalagi karena satu-satunya pesawat AUREV lain, P-51 Mustang sudah lebih
dulu diungsikan ke Pangkalan Militer Clark di
Filipina.(*)
|