ANGKASA N0.5 FEBRUARI 2002 TAHUN XII  


  Laporan Utama
Airline
Buku
Cakrawala
Ekonomi
Fenomena
Kisah Nyata
Kokpit
Lobi
Lukisan Dirgantara
Notam
Opini
Ordirga
Origami
Pendidikan
Peristiwa
Profil
Pesawat Model
Pesawat Militer
Pesawat Sipil
Siapa-siapa
Teknologi
Wawancara

Rate our site
@ SearchIndonesia

 
PESAWAT MODEL  

B-25 PEDET SOEDARMAN

B-25 PEDET SOEDARMAN

Kagum akan kepahlawanan, ternyata bisa memicu kreatifitas seseorang. Setelah membaca kisah heroik dari Buku Pedet Soedarman, Pengalaman Heroik Penerbang Bomber akhirnya Rachman Ramadya, modeller asal bilangan Bantar Jati, Jakarta Timur ini bertekad untuk membuat model pembom B-25 yang jadi primadona TNI AU saat menumpas gerakan Permesta. Untung saat ide ini muncul, Rachman tak perlu lagi kerepotan mencari model kit B-25 Mitchell, lantaran di rak telah nongkrong sebuah kit sejenis berskala 1:72 keluaran Airfix yang dibelinya enam tahun yang lalu.

Bukan modeller namanya kalau tak membuat model kit mirip dengan aslinya. Alhasil untuk memenuhi kriteria itu, selain literatur, Museum Satria Mandala juga disanjangi guna mendapat data selengkap mungkin. Sempat bingung saat harus memilih varian B-25 antara pembom (berhidung kaca) atau straffer (berhidung solid). Akhirnya pilihan jatuh pada varian straffer setelah merujuk bahwa penyerangan landasan AUREV Permesta di Mapanget melibatkan versi ini.

Buatan tahun 1964

B-25 PEDET SOEDARMAN

Begitu kemasan dibuka terbukti untuk urusan sambungan (fitting) dan detil panel beraliran rised (muncul) dianggap kurang baik. Maklum saja produk ini merupakan daur ulang dari produksi tahun 1964. Namun demikian inovasi macam aileron, rudder, pintu bomb bay dan pintu roda pendarat yang bisa digerakkan, patut diacungi jempol.

Agar pesawat sesuai dengan yang pernah dimiliki TNI AU, beberapa bagian tubuh pesawat ada yang dirombak. Kubah senapan mesin bagian atas dan gunner samping mesti dihilangkan walaupun untuk itu berarti akan ada lubang mengaga. Pengaplikasian full-dempul jelas bukan solusi terbaik. Maka setelah sempat pusing tujuh keliling akhirnya potongan gelas plastik plus sedikit pendempulan jadi resep mujarab mengatasi masalah tadi.

Urusan melabur cat nyaris tak ada kendala, lantaran model ini hanya memakai dua warna saja. Warna Flat Black untuk hidung serta Flat Alumunium keluaran Tamiya pada sekujur tubuh.

Babak akhir penyelesaian B-25 adalah menempelkan marking pada badan pesawat. Salut untuk urusan paling akhir ini. Pasalnya semua tanda segi lima, nomor registrasi yang menempel benar-benar asli kerajinan tangan dengan mengandalkan masking. Jadi bukan decal seperti model kit pada umumnya. Hebatnya lagi lambang Skadron 1 lengkap dengan kijangnya dilukis dengan freehand pada bagian depan. Padahal bisa dibilang model ini tak masuk dalam kategori skala besar. Jadi terbayang deh bagaimana rumitnya membuat lambang ini. (Rahman/avi)



Laporan Utama | Airline | Buku | Cakrawala | Ekonomi | Fenomena | Kisah Nyata | Kokpit | Lobi | Lukisan Dirgantara | Notam | Opini | Ordirga | Origami | Pendidikan | Peristiwa | Profil | Pesawat Model | Pesawat Militer | Pesawat Sipil | Siapa-siapa | Teknologi | Wawancara |

Copyright © 1998 Majalah Angkasa. All rights reserved
Designed by
Kompas Cyber Media