|
| |
 | PESAWAT MODEL
|
|
B-25 PEDET SOEDARMAN
Kagum akan kepahlawanan, ternyata bisa memicu kreatifitas seseorang. Setelah membaca kisah heroik dari Buku
Pedet Soedarman, Pengalaman Heroik Penerbang
Bomber akhirnya Rachman Ramadya,
modeller asal bilangan Bantar Jati, Jakarta Timur ini
bertekad untuk membuat model pembom B-25 yang jadi primadona TNI AU saat menumpas gerakan Permesta. Untung saat ide ini
muncul, Rachman tak perlu lagi kerepotan mencari model kit B-25
Mitchell, lantaran di rak telah
nongkrong sebuah kit sejenis berskala 1:72 keluaran Airfix yang dibelinya enam tahun yang lalu.
Bukan modeller namanya kalau tak membuat model kit mirip dengan aslinya. Alhasil untuk memenuhi kriteria itu, selain
literatur, Museum Satria Mandala juga disanjangi guna mendapat data selengkap mungkin. Sempat bingung saat harus memilih varian B-25
antara pembom (berhidung kaca) atau
straffer (berhidung solid). Akhirnya pilihan jatuh pada varian straffer setelah merujuk bahwa
penyerangan landasan AUREV Permesta di Mapanget melibatkan versi ini.
Buatan tahun 1964
Begitu kemasan dibuka terbukti untuk urusan sambungan (fitting) dan detil panel beraliran
rised (muncul) dianggap kurang baik. Maklum saja produk ini merupakan daur ulang dari produksi tahun 1964. Namun demikian inovasi macam
aileron, rudder, pintu bomb
bay dan pintu roda pendarat yang bisa digerakkan, patut diacungi jempol.
Agar pesawat sesuai dengan yang pernah dimiliki TNI AU, beberapa bagian tubuh pesawat ada yang dirombak. Kubah
senapan mesin bagian atas dan gunner samping mesti dihilangkan walaupun untuk itu berarti akan ada lubang mengaga. Pengaplikasian
full-dempul jelas bukan solusi terbaik. Maka setelah sempat pusing tujuh keliling akhirnya potongan gelas plastik plus sedikit
pendempulan jadi resep mujarab mengatasi masalah tadi.
Urusan melabur cat nyaris tak ada kendala, lantaran model ini hanya memakai dua warna saja. Warna
Flat Black untuk hidung serta Flat
Alumunium keluaran Tamiya pada sekujur tubuh.
Babak akhir penyelesaian B-25 adalah menempelkan marking pada badan pesawat. Salut untuk urusan paling akhir ini.
Pasalnya semua tanda segi lima, nomor registrasi yang menempel benar-benar asli kerajinan tangan dengan mengandalkan masking. Jadi
bukan decal seperti model kit pada umumnya. Hebatnya lagi lambang Skadron 1 lengkap dengan kijangnya dilukis dengan
freehand pada bagian depan. Padahal bisa dibilang model ini tak masuk dalam kategori skala besar. Jadi terbayang
deh bagaimana rumitnya membuat lambang ini.
(Rahman/avi)
|