Fitrie Noegroho/Foto: DN Yusuf
|
Musibah terenggutnya jiwa pramugari Santi Anggraeni dalam kecelakaan B-737-300 GA-421 di Sungai Bengawan Solo,
Desa Serenan, Juwiring, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah (16/01) tentu sangat memilukan semua pihak. Apalagi, pada pemberitaan pertama
di koran-koran sempat disebutkan, Santi tewas setelah meloncat dari pintu pesawat untuk menyelamatkan diri. "Sungguh pemberitaan
yang terlalu terburu-terburu," ujar pramugari senior Garuda,
Fitrie Noegroho (31), teman seprofesi Santi (alm) kepada
Angkasa bulan lalu.
"Rasanya mustahil ya pramugari berbuat seperti itu. Kami sudah diajari, dalam keadaan apapun, apalagi dalam kondisi sangat
kritis, keselamatan penumpang adalah nomor satu. Pramugari baru boleh keluar setelah semua penumpang berhasil diselamatkan,"
tambah pramugari VVIP yang menjadi model iklan Garuda ini.
Pernah beberapa kali terbang bersama Santi Anggraeni, Fitrie kelahiran Jakarta 17 Desember 1969 dan menjadi pramugari
Garuda sejak tahun 1990 ini mengungkapkan, rekan juniornya yang tewas tersebut adalah pramugari yang baik. "Santi orangnya lebih
pendiam, tidak banyak omong. Kerjanya baik, shalatnya juga rajin, makanya begitu saya tahu dia yang menjadi korban, saya nangis. Tidak
tega," lanjut isteri juru kamera ANteve, Eko Saputro Lukito, dan ibu dari Dhafira Naurah Rengganis Putri (3,2 tahun) ini kepada
Roni Sontani dan DN Yusuf.
T : Apa yang menjadi catatan Anda dari pendaratan darurat GA-421 di Sungai Bengawan Solo?
J : Beberapa hari sebelum kejadian saya terbang dengan pesawat Boeing 737-300 yang naas itu ke Singapura. Akhir-akhir ini
cuaca memang sedang jelek. Penerbangan Jakarta-Singapura yang seharusnya cuma satu jam sepuluh menit, menjadi dua jam lebih.
Mengerikan sekali. Di kabin bagian belakang saya sampai pegangan tangan sama kru lain. Saya banyak-banyak berdoa saja kepada Allah, pasrah.
T : Bagaimana harusnya pramugari menghadapi situasi darurat seperti itu?
J : Soal teknis, kami semua sudah tahu dan siap. Apalagi setiap satu tahun sekali kami selalu latihan lagi. Melatih ulang
semuanya, baik itu simulasi pendaratan darurat di darat maupun di laut. Kemudian melakukan evaluasi atas kecelakaan-kecelakaan yang
terjadi. Mempelajari dan mempraktekkan kembali alat-alat emergensi di pesawat. Baik cara penggunaannya maupun fungsinya. Tidak
ada masalah, kami tinggal bersiap-siap mengikuti aba-aba dari captain pilot, dan berdoa. Soal selamat atau tidak itu kehendak Tuhan.
Bahkan, pilotnya sendiri mengatakan, yang mendaratkan pesawat itu di Sungai Bengawan Solo bukan lagi dirinya, tapi Tuhan.
T : Ada faktor traumatis bagi pramugari?
J : Pasti ada, meskipun kadarnya beda-beda. Seperti setelah kejadian jatuhnya A-300-B4 Garuda GA-152 di lembah
gunung kedalaman 500 meter di Sibolangit, Medan 27 September 1997 (222 penumpang dan 12 awak pesawat
tewas-Red). Beberapa hari pramugari merasa takut untuk terbang. Tidak dapat dipungkiri. Yang saya ingat, seminggu sebelum kejadian itu, saya juga
mengalami trouble dengan pesawat tersebut. Di Ujung Pandang (Makassar), roda pesawat tidak mau keluar. Captain pilot sudah
memerintahkan persiapan untuk pendaratan darurat di landasan. Semua sudah diberikan briefing. Pikiran sudah pasrah. Tapi
alhamdulillah, pada detik-detik terakhir roda pesawat berhasil dikeluarkan.
T : Segi safety mana lagi yang kira-kira perlu ditingkatkan, terlebih menyangkut tugas pramugari?
J : Mungkin soal baju pramugari senior. Rok panjang agak menyulitkan untuk kondisi emergensi. Untuk kondisi normal
memang kelihatan lebih anggun. Apalagi sosok wanita Indonesia terlihat lebih luwes kalau pakai rok panjang (kebaya) itu. Namun dari segi
safety rok pendek lebih leluasa atau bahkan celana panjang.