ANGKASA N0.5 FEBRUARI 2002 TAHUN XII  


  Laporan Utama
Airline
Buku
Cakrawala
Ekonomi
Fenomena
Kisah Nyata
Kokpit
Lobi
Lukisan Dirgantara
Notam
Opini
Ordirga
Origami
Pendidikan
Peristiwa
Profil
Pesawat Model
Pesawat Militer
Pesawat Sipil
Siapa-siapa
Teknologi
Wawancara

Rate our site
@ SearchIndonesia

 
MILITER  

MiG-23 Flogger
Cemeti dari Blok Timur

Menandingi kemunculan pesawat tempur-pembom segala cuaca F-4 Phantom menjelang awal tahun 1960-an, Soviet buru-buru membuat pemburu MiG-23 Flogger. Penerus MiG-21 Fishbed ini berkecepatan lebih dahsyat lagi, Mach 2,35. Konsep sayap sayungnya merupakan yang pertama diterapkan pada konfigurasi jet tempur ringan pemburu.

MiG-23 ML SAYAP AYUN - Prototipe pertama, Model 23-01, dilengkapi dua mesin liftjet./Foto: Soviet Wings

Memasuki tahun 1960-an, negeri Beruang Merah Soviet sebagai pilar utama kekuatan Blok Timur, panas-dingin melihat munculnya sebuah pesawat tempur (kemudian menjadi tempur-pembom) baru berkemampuan segala cuaca (all weather assault fighter) yang dibuat oleh pabrik pesawat McDonnald Aircraft Co. Pesawat baru pesanan AL AS yang perancangannya dilakukan sejak akhir Perang Korea (1953) itu ditenagai dua mesin turbojet berkemampuan supersonik, sekitar Mach 2. Dapat dibayangkan betapa gusarnya jajaran petinggi AU Soviet (VVS) mengetahui kenyataan tersebut. Lebih-lebih, bahwa pemburu nomor satu mereka pada era itu, MiG-21 Fishbed, harus segera punya penerus guna menghadapi perkembangan lebih maju.

Namun, tunggu dulu. Persaingan belum kelar. Kemunculan F-4 Phantom, penempur berkursi ganda yang digelindingkan AS pada 27 Mei 1958 di St Louis itu, bukan berarti boleh melenggangkangkung sendirian tanpa tandingan. Militer Udara Soviet segera berkumpul dan merundingkan garis-garis pokok bagi penerus Fishbed.

Spesifikasinya antara lain, harus bisa melesat (terutama pada ketinggian rendah) dan punya daya tanjak dahsyat melebihi MiG-21, serta berukuran lebih besar agar mampu menenteng senjata lebih banyak. Pesawat harus punya jarak jangkau dan kemampuan terbang lebih lama. Mampu mendarat dan lepas landas dari landasan kasar dan pendek, punya radar mumpuni, dan dilengkapi rudal-rudal jarak menengah. Yang terakhir, harus nyaman bagi si pilot pada saat terbang rendah berkecepatan tinggi.

Syarat yang terbilang banyak memang. Namun bukan lagi Mikoyan-Gurevic OKB kalau tidak bisa mewujudkannya. Meskipun, karena berbagai kendala, VVS ternyata perlu menunggu waktu tidak kurang tujuh tahun sebelum akhirnya pabrik Mikoyan-Gurevic (MiG) mengeluarkan seri "jiplakan" F-4 Phantom yang lebih "hebat" ini. Dia adalah MiG-23, terbang perdana 3 April 1967.

MiG-23 dirancang oleh V.A Mikoyan, kemenakan langsung dari Mikoyan. Kemunculan pertamanya dimuka umum baru diketahui dua bulan kemudian pada saat dilangsungkannya pameran kedirgantaraan Domododevo, Juni 1967. NATO menamai pesawat keluaran baru Blok Timur ini dengan kode Flogger (Pencambuk).

Bentuk adonan

MiG-27 Flogger-J India MiG-27 Flogger-J India - Pesawat ini juga diproduksi di India melalui lisensi oleh HAL dan diberi kode lokal Bahadur ('Valiat')./Foto: Soviet Wings

Selain untuk menyaingi F-4, MiG-23 juga ternyata punya gawe utama dari VVS sebagai pencegat (interceptor) garis depan. Tugas ini penting guna menangkal berbagai kemungkinan serangan pesawat-pesawat yang sudah menjadi ancaman saat itu seperti Convair F-102 Delta Dragger, F-106 Delta Dart, dan Dassalut Mirage III.

Kalau melihat tampilannya, banyak yang mengatakan MiG-23 adalah adonan pesawat serang darat (attack) dengan fighter. Hal ini tersirat dari badannya yang berupa bulatan panjang menyerupai selongsong (seperti MiG-21), namun dua lubang masukan udaranya berbentuk kotak memberi kesan rigid. Lubang ini mengalirkan udara ke satu mesin di perutnya dan keluar melalui satu cerobong buangan (exhaust). Hidungnya menjulur ke depan juga berbentuk bulatan. Sedangkan kanopinya kecil dan menurun tajam.

Konstruksi sayapnya meruncing ke belakang. Satu yang dibanggakan biro Mikoyan, karena konstruksi sayap sayungnya (variable geometry wing) yang dapat ditekuk pada tiga sudut 16, 45, dan 72 derajat merupakan yang pertama diterapkan pada jet tempur ringan (lightweight fighter) di dunia. Saat akan mendarat/lepas-landas, sayap ini dibentangkan selebarnya. Dengan begitu jarak pendaratan/lepas-landas pun jadi pendek. Resep ini sangat penting terlebih saat pesawat ditugasi membawa seabrek persenjataan. Sebaliknya bila ingin mencapai kecepatan terbang maksimum, sayapnya dikuncupkan ke belakang. Konstruksi fleksibel ini memungkinkan MiG-23 punya keunggulan bermanuver.

Pada prototipe pertama (Model 23-01), MiG sempat iseng. Pesawat dipasangi dua mesin liftjet di bawah badannya. Entah nyontek apa tidak, karena saat itu Inggris juga lagi bikin kerjaan yang sama pada P.1127 Kestrel-nya. Prancis pada Dassault Balzac-nya, dan Jerman lagi bikin konsep Zell (Zero Length Launch) untuk diterapkan pada F-104-nya.

Liftjet bisa mempercepat gaya angkat dan pendaratan pesawat. Namun, pikir punya pikir, rupanya penggunaan liftjet ternyata tidak lebih efektif. Selain mengurangi bobot muat senjata dan menguras bahan bakar, juga sangat riskan bila perangkat itu tiba-tiba ngadat. Bukannya pesawat terangkat, malah akan stall karena perhitungan gaya dorong terhadap berat pesawat tidak nyambung lagi. Sejak itulah MiG mengganti liftjet dengan sayap yang bisa dilipat-lipat.

Chiborashka

MiG-23 masuk ke dalam jajaran VVS pada tahun 1971. Di kalangan AU Soviet pesawat ini tenar dengan nama Chiborashka (kartun heroik Soviet) atau Krokodil (buaya). Berbagai versi dibuat, dari MiG-23 S, M, hingga produk canggih MLD atau Flogger K. Bagaimana dengan kemampuan "gebuknya"? MiG-23 S yang merupakan produksi pertama untuk militer Soviet, memang rada belum sangar. Pesawat bermesin Tumanskii bertenaga 10.000 kg ini hanya dilengkapi empat rudal udara-ke-udara AA-2 Atoll, dan dua kanon putar 23 mm. Harusnya, MiG-23 S memang bisa ngegondol rudal SARH AA-7 Apex. Namun, gara-gara produksi radar BVR (beyond visual range) Saphhire-nya mengalami persoalan, akhirnya cuma radar RP-22 Jay Bird yang dipasang.

Pada versi M yang dikerjakan tahun 1972, radarnya mulai menggunakan BVR. Rudal pun ditingkatkan menjadi AA-8 Aphid. Versi MLD lebih hebat lagi, versi ini bisa disebut paling canggih dari famili MiG-23. Rudal-rudal yang dibawanya AA-10 Alamo dan AA-11 Archer yang diklaim banyak pihak lebih trengginas dari AIM-9 Sidewinder.

Selain itu, MiG-23 dikembangkan kedalam versi ground attack (serang darat) atau fighter-bomber (pembom-tempur), dikenal sebagai si hidung bebek (ducknose) MiG-27. Dalam bahasa Rusia istilah ini disebut Utkanos. Di dalamnya terdapat radar navigasi sistem penyerangan darat, yakni PrNK Sokol 23S. Juga dilengkapi autoflight, thermal jammer, dan laser range finder. Versi-27 dilengkapi berbagai gun pod. Antara lain UPK-23 buat dua kanon 23 mm (Twin-barreled GSh-23L), atau SPPU-22. Keduanya mampu menyangga amunisi sebanyak 250 atau 260 putaran untuk strafing pada level flight. MiG-27 juga mampu menenteng 4.000 kg ekstra warload (muatan ledak) yang dicantelkan pada tujuh gantungan (pylon). Opsi lain, kanon 23 mm bisa diganti dengan gatling 30 mm, GSh-6-30.

Belum cukup dengan itu, MiG-27 juga mampu membawa roket-roket yang didudukkan pada pod maupun tidak, mulai kaliber 57 mm hingga 240 mm. Berbagai macam bom dari 50 kg hingga 250 kg. Juga cluster dan dispenser yang ditaruh dalam enam drum. Drum ini bisa dilepaskan setelah bomnya dimuntahkan. Rudal udara daratnya adalah AS-10 Karen, AS-12 Kegler, dan AS-14 Kedge. Lebih hebat lagi, MiG-27 juga dirancang membawa muatan nuklir.

Perbandingan tempur

Apakah dengan semua spesifikasi yang dibuat menjadikan Flogger lebih unggul dari F-4? Tak serta-merta gampang dijawab. Pasalnya, semua bergantung pada pembuktikan di medan laga. Istilah gamblangnya, sebuah pesawat harus punya rekor membunuh (kill) bila mau dikatakan hebat atau legendaris. Sering suka jadi kontroversi karena biasanya data "kill" acapkali berbeda antara klaim satu pihak dengan klaim yang lain. Tak heran, dalam berbagai buku banyak versi berbeda pula menyangkut keunggulan sebuah pesawat.

MiG-27 FLOGGER-D
(DUCKNOSE)
Fungsi: Serang darat (attack)
Panjang: 17,8 m
Tinggi: 5,00 m
Bentang sayap penuh : 13,97 m
Radius tempur rendah : 540 km (tiga drop tank)
Berat maksimum Take Off : 20.300 kg
Mesin : Satu MNPK Tumanskii R-29B-300 Turbojet 112,77 kN (afterburner)
Kecepatan level maksimum : 1.350 km/jam ( 26.245 feet)
Persenjataan : Cannon GSh-6-30-30 mm (260 putaran), 4.000 kg muatan (roket, rudal udara-ke-darat), dan muatan nuklir

Lepas dari hal itu, jangan dilupakan pameo klasik yang menyatakan Man behind the gun. Artinya kemenangan pesawat dalam suatu pertempuran sedikit banyak dipengaruhi oleh skill pilotnya. Pameo ini masih tetap berlaku dalam berbagai pertempuran manapun hingga saat ini.

Namun demikian, bila dilihat dari seringnya turun dalam pertempuran, F-4 bisa dibilang punya prestasi lebih baik dari MiG-23. Ia pun memakan lawannya lebih dulu. Tanggal 17 juni 1965 merupakan sejarah pertama dimana F-4 berhasil menggasak habis sebuah MiG milik Soviet di dekat Hanoi. Kejadian itu dilakukan oleh Letkol Louis Page dan Letnan John C Smith Jr. dengan F-4B-nya yang terbang dari USS Midway. Di Medan Perang Vietnam boleh dibilang, pesawat tempur buatan AS ini berhasil merontokkan MiG Vietnam Utara meliputi MiG-17,-19, dan MiG-21. Tidak salah, F-4 mendapat julukan sebagai MiG killer. Pesawat yang digunakan di 20 Skadron Tempur AL AS ini berhasil diproduksi sebanyak 5.200 dan laku keras diekspor ke berbagai negara. Antara lain ke Jerman (175 buah).

Rekor pahit

MiG-23 LEMAH - Kelemahanya terletak pada avionik dan radarnya yang masih kuno./Foto: MiG Dynasty

Bagaimana dengan MiG-23? Kisah kesuksesan F-4 di awal kiprah operasi tempurnya, ternyata terbalik sebagaimana dialami sang Flogger. Bukannya menjatuhkan musuh duluan, malah ketiban apes digasak lawan. Peristiwa itu dimulai ketika MiG-23 AU Suriah bertempur habis-habisan di lembah Bekaa pada Juni 1982. Sebanyak 40 MiG AU Suriah (36 diantaranya MiG-23!) berhasil dirontokkan pesawat-pesawat tempur generasi keempat milik AU Israel (IDF/AF) seperti F-15 Eagle dan F-16 Fighting Falcon.

Rekor pahit memang. Namun, kekalahan ini juga lebih karena kelemahan sistem avionik pada generasi ekspor pertama MiG-23MS. Lemahnya radar dan tidak dipersenjatainya pesawat dengan rudal-rudal BVR, membuat MiG-23 AU Suriah mati kutu dan terperangkap di lembah Bekaa. Untuk urusan taktik, Israel memang lebih jeli. Mengetahui miskinnya avionik pesawat musuh, AU Israel segera men-jamming wilayah lembah Bekaa yang membentang dari Rayak 60 kilometer dari Beirut hingga Dataran Tinggi Golan (Golan Heights). Diantaranya dengan mengerahkan pesawat E-2C Hawkeye, RF-4E Phantom, dan Boeing 707 Surveillance yang dilengkapi radar side looking dan alat-alat pen-jamming.

Selain bertumpu pada kekuatan armada tempur udara, tentara Suriah memang bergerilya di bawah lembah dengan memasang situs-situs rudal antipesawat (SAM). Namun inipun tidak menjadi kunci kemenangan karena AU Israel meluncurkan rudal-rudal pintar antiradar dari pesawatnya mulai dari AGM-65 Maverick, AGM-45 Shrike, dan AGM-78 Harm.

AU Suriah mengaku kehilangan 60 pesawat dan 30 situs SAM dalam pertempuran yang clash-nya dimulai tahun 1979. Sedangkan menurut versi Israel, 92 pesawat terdiri dari pesawat tempur dan lima heli Gazelle.

Apakah tidak satupun MiG-23 berhasil menjatuhkan pesawat AU Israel? IDF/AF memang menyatakan 19 pesawatnya hilang. Lalu, dalam sebuah majalah keluaran Soviet (Rusia) disebut, meski banyak rontok bukan berarti MiG-23 tidak berhasil menjatuhkan musuh. Antara tanggal 6 hingga 11 Juni 1982, sebuah MiG-23MS berhasil merontokkan lima pesawat tempur Israel termasuk didalamnya F-16. Lalu, ketika versi MiG-23 ML digunakan, pesawat itu berhasil mencocor tiga buah F-15 dengan rudal R-24-nya.

Terbanyak

Dalam kancah perang Iran-Irak (1980-1988), MiG-23 AU Irak juga berhasil menyumbangkan perannya. Kemudian, pada Perang Teluk 1991, MiG-23 berhasil menembak pembom-tempur Panavia Tornado dekat Baghdad. Di Angola, penempur ini juga berhasil menembak jatuh Mirage F-1 Afrika Utara. MiG-27 berkiprah pertama kali dalam Perang Afghanistan-Soviet (1979-1989) saat pesawat ini dikirim ke Kandahar 31 Oktober 1988. Namun, hanya empat bulan bertugas kemudian ditarik lagi karena dinilai kurang cocok.

Kelemahan mendasar MiG-23 versi awal memang terletak pada bagian avionik dan radarnya. Namun, ini bukan barang baru, karena "kekurangan" industri militer Soviet memang sering terjadi pada bagian ini. Pada Su-27 Flanker sekalipun, masalah ini terjadi juga.

Selain oleh Soviet, Chiborashka digunakan oleh negara-negara Pakta Warsawa. Antara lain Polandia, Hungaria, Bulgaria, Jerman Timur, Rumania, Republik Cek, dan Slovakia. Kemudian Libya, Suriah, Mesir, India, Kuba, Aljazair, Irak, Afganistan, dan Korea Utara. Termasuk Cina, Angola, Ethiopia, Nigeria, Sudan,Yaman, dan Vietnam.

Sebanyak 4.500 MiG-23 atau 6.000 buah dengan versi-27 berhasil dibuat. Prestasi ini menjadikannya jet tempur terbanyak yang dibuat dalam 10 tahun. India merupakan salah satu pemakai terbanyak MiG-23. Negeri ini menggunakan 95 MiG-23BN dan 15 MiG-23UB (latih) sejak tahun 1980. MiG-23 ini dibuat untuk menggantikan HAL HF-24 Marut/Ajeet dan Su-7. India juga membuat dalam bentuk lisensi, yakni MiG-23MF Rakshak (pelindung) dan MiG-23M Bahadur (berani). (ron)



Laporan Utama | Airline | Buku | Cakrawala | Ekonomi | Fenomena | Kisah Nyata | Kokpit | Lobi | Lukisan Dirgantara | Notam | Opini | Ordirga | Origami | Pendidikan | Peristiwa | Profil | Pesawat Model | Pesawat Militer | Pesawat Sipil | Siapa-siapa | Teknologi | Wawancara |

Copyright © 1998 Majalah Angkasa. All rights reserved
Designed by
Kompas Cyber Media