Sungguh menggembirakan, bahwa dalam beberapa tahun terakhir telah terbit sejumlah karya yang bernuansa kedirgantaraan,
baik yang berfokus pada sosok yang pernah mengemban tugas di bidang keudaraan sipil maupun militer -, maupun yang
berupaya menjelaskan duduk perkara satu peristiwa.
Sekadar contoh, ada "Menyingkap Kabut Halim
1965", lalu tahun 2001 lalu terbit
"Tuhan Pergunakanlah Hati, Pikiran, dan Tanganku: Pleidoi Omar
Dani". Yang terakhir, 17 Januari 2002 lalu, terbit
"Dari Blitar ke Kelas Dunia Wiweko Soepono
Membangun Penerbangan Indonesia". Dekat dengan itu juga muncul otobiografi mantan KSAU Sri Mulyono Herlambang, dan sebelumnya juga
telah terbit buku lain, seperti "Pelangi
Dirgantara" dan "Pedet Soedarman Pengalamanan Heroik Penerbang
Bomber".
Selain oleh tokohnya yang menuturkan riwata hidupnya, buku-buku tersebut juga ditulis oleh penulis profesional, wartawan
atau profesi lain yang banyak berurusan dengan bidang tulis-menulis. Ambil contoh buku Wiweko Soepono, penulisnya adalah JMV
Soeparno yang mantan Kepala Dinas Penerangan TNI-AU dan Dudi Sudibyo, wartawan senior
Kompas dan Pemimpin Redaksi Angkasa.
Mungkin saja di masa lalu banyak orang yang merasa "kurang PD (percaya diri)", dengan bertanya, apakah dirinya cukup
pantas untuk ditulis. Ini lah juga sikap yang rendah hati, apalagi pada umumnya memang selama ini hanya kisah orang-orang besar saja
yang lazimnya dibiografikan. Maklum saja, di dunia penulisan sering dimunculkan istilah
"names make news, big names make big
news".
Tetapi seiring dengan perkembangan zaman, makin banyak orang yang berpandangan, bahwa tulisan tentang riwayat hidup
seseorang tidak harus muncul bila orang tersebut pernah memegang jabatan penting, berpangkat tinggi, atau kaya raya sekali. Kini semakin
banyak riwayat hidup orang biasa yang muncul. Tahun silam misalnya, terbit buku yang mengisahkan pengalaman seorang wanita istri
seorang general manager maskapai penerbangan asing terkemuka - yang berhasil mengatasi penyakit kanker.
Pengungkapan pengalaman hidup orang biasa, tetapi ditulis dengan baik, akan bisa menggerakkan perasaan banyak
orang, membangun rasa empati memahami dan merasakan penderitaan yang dialami orang lain.
Tetap disadari, perubahan kecenderungan ini juga tidak lalu membuat semua orang bisa menerbitkan riwayat hidupnya, karena
meski riwayat hidup menarik, tetapi untuk menerbitkannya tetap membutuhkan dana yang tidak sedikit. Selain itu, untuk mewujudkannya
dalam sebuah buku, diperlukan pengetahuan dan keahlian menulis.
Dalam hal penyusunan satu riwayat hidup, memang kenyataannya dibutuhkan kerja sama intensif antara penulis dan sang tokoh
yang akan ditulis. Tantangan lebih besar lagi bila sang tokoh telah tiada, karena itu berarti penulis harus berusaha mencari saksi-saksi
hidup, teman-teman dekat sang tokoh, sebagai nara sumber.
Perspektif baru
Lepas dari teknis penulisan dan lain-lainnya, dalam hal kedirgantaraan, sekali lagi kita bergembira, bahwa kecenderungan
akhir-akhir ini dengan makin banyaknya penerbitan riwayat tokoh dan peristiwa kedirgantaraan, masyarakat luas mendapat kesempatan lebih
besar untuk mengetahui kejadian masa lalu yang mungkin relevansinya lebih luas dan mendalam daripada sekadar bidang kedirgantaraan.
Dengan terbitnya "Menyingkap Kabut Halim
1965" dan "Pleidoi Omar Dani", masyarakat dapat mendapat perspektif baru yang
sulit atau mustahil diperoleh selama era pemerintahan Orde Baru. Dengan itu, para sejarawan juga mendapat sumber informasi baru
untuk menyusun kembali sejarah dan kejadian-kejadian masa lalu secara lebih obyektif.
Sekali lagi, membaca riwayat hidup dan peristiwa penting masa lalu pertama-tama akan membuat orang bertambah pengetahuan
dan wawasan. Sebagai orang yang belajar, kita ingin memetik pelajaran dari pengalaman orang lain. Kita juga ingin mendapatkan
inspirasi dari pengalaman hidup dan kejadian masa lalu. Sekiranya ada yang kurang, dapatlah kita memperbaiki, dan sebaliknya, bila ada
nilai positif seperti kepahlawanan, kepeloporan, kecerdasan, kepedulian pada sesama bagaimana kita bisa meneladaninya.
Lalu, khususnya mengenai riwayat-riwayat kedirgantaraan, terbitnya buku-buku baru di bidang ini kita pandang sebagai satu
upaya pendidikan umum bagi pengembangan air-mindedness atau semangat cinta dirgantara, satu semangat dan kecintaan yang akan terus
kita butuhkan selama-lamanya, lebih-lebih bila kita masih ingin melihat negara bangsa Indonesia tetap seperti sekarang ini, dan bahkan
ingin mencapai kebesaran dan kejayaan lebih lanjut.
Dalam kaitan ini pula, kita ingin mendorong lebih lanjut tumbuhnya penulisan dan penulis-penulis riwayat kedirgantaraan yang
akan membantu lahirnya cerita dan pemahaman baru guna memicu lahirnya inspirasi baru dari bidang kedirgantaraan yang kita cintai
ini. (nin)