|
Gemuruh Latihan di Pulau Terdepan
Latihan puncak gabungan Jalak Sakti dan Trisula Perkasa tahun 2007 usai digelar di Lanud Ranai, Natuna, Kepulauan Riau. Gelegar rudal QW-3 jadi "menu" pelengkap.
Penulis: Roni Sontani/Angkasa
Penerjunan 256 Tim Satuan Tempur Korps Paskhas menggunakan empat C-130 di atas DZ (droping zone) Lanud Ranai, Kepulauan Riau (13/8) melengkapi gemuruh latihan puncak gabungan Jalak Sakti dan Trisula Perkasa tahun 2007. Kedua sandi latihan masing-masing adalah latihan puncak Komando Operasi TNI AU I dan latihan puncak Korps Paskhas TNI AU.
Usai Tim Satpur mendarat, simulasi pertempuran mengambil-alih pangkalan dari penguasaan musuh pun digelar. Korps baret jingga terlibat baku-tembak dengan pasukan musuh yang bergerak di antara ledakan-ledakan bom yang telah ditanam sebelumnya oleh tim penyusup.
Sebelum itu, serangan udara langsung (SUL) dilaksanakan oleh satu flight Hawk 109/209 dengan meluncurkan roket-roket FFAR ke sasaran-sasaran strategis yang telah dipilih. Satu tim pengendali pangkalan kemudian diterjunkan untuk menghidupkan kembali fasilitas-fasilitas vital yang ada di pangkalan sehingga operasi air landed C-130 menurunkan persenjataan antiserangan udara bisa dilaksanakan.
Tim SAR Tempur tidak ketinggalan perannya melakukan evakuasi udara terhadap penerbang yang disimulasikan bail out. Para pejabat negara yang menjadi sandera sembilan teroris, berhasil diselamatkan oleh Tim Aksi Khusus Bravo Paskhas melalui sebuah operasi pembebasan sandera (Basra). Singkat kata, pangkalan pun berhasil direbut dari penguasaan musuh.
Batas profesionalitas Menyimak pelaksanaan latihan puncak Jalak Sakti dan Trisula Perkasa yang baru pertama kali digabung, timbul juga rasa bangga. Di tengah era kesulitan anggaran, TNI AU masih menunjukkan semangat membara untuk maju.
Meskipun demikian, dari semua rangkaian latihan yang dilaksanakan, evaluasi tetap penting dilakukan agar profesionalisme prajurit tetap terbina. Dan hal ini telah diagendakan karena pelaksanaan latihan diawasi oleh tim penilai yang telah ditunjuk.
Pengerahan lebih 700 personel gabungan Koopsau I dan Korps Paskhas berikut alutsista di Lanud Ranai, bisa dilihat sebagai satu kekuatan deterens riil dari sisi kuantitas. Apalagi Ranai memiliki letak geografis sangat strategis. Lanud yang berada di bawah naungan Koopsau I merupakan lanud paling utara di wilayah barat Indonesia berhadapan dengan Malaysia, Singapura, Filipina, Brunei Darussalam, Sarawak, Vietnam, dan Kamboja.
Komandan Lanud Ranai Letkol Pnb Tyas Nur Adi mengakui kalau wilayah Ranai dan sekitarnya yang kaya dengan sumber daya alam, menjadi daya tarik tersendiri bagi pihak-pihak asing. Tak pelak, wilayah ini mendatangkan potensi kerawanan berupa illegal logging, illegal fishing, pelarian melalui laut dan lainnya. "Nah, oleh karena itu sangat strategis bila di sini dilakukan banyak latihan sekaligus dalam rangkaian pengamanan tadi," kata Tyas.
Dapat dipahami, latihan di sisi pulau terdepan memberikan deterens yang cukup kuat. Latihan juga akan dipandang internasional sebagai upaya bangsa ini mempertahankan dan mengamankan negaranya.
Dari tahun ke tahun, materi latihan puncak di lingkungan TNI AU sebenarnya nyaris tidak banyak beda. Penerjunan pasukan, operasi perebutan pangkalan, pengendalian, Combat SAR, hingga mengembalikan pangkalan ke fungsi operasionalnya dari simulasi penguasaan musuh. Memang di situlah salah satu main area yang diemban TNI AU sebagai kekuatan matra udara.
Latihan memang jelas beda dengan perang sesungguhnya. Perang bersifat keras dan tak mengenal kompromi. Tetapi tidak berarti kalau dalam latihan banyak hal yang boleh ditoleransi. Peningkatan kemampuan harus terus dilaksanakan, entah itu dalam hal kemampuan terjun, penembakan sasaran, hingga ke pertempuran di daratnya sendiri. Inilah kajian ke depan yang akan menjadi pekerjaan rumah Markas Besar TNI AU.
Asisten Operasi KSAU Marsda TNI Edy Harjoko sebagai peninjau latihan menyatakan kepuasannya menyaksikan materi latihan secara keseluruhan. Walaupun begitu ia mencatat ada beberapa hal yang masih harus dibenahi tanpa merinci lebih detail.
Tujuan latihan ini, kata Asops, adalah meningkatkan kemampuan prajurit pada bidangnya masing-masing. Bagi Lanud Ranai sendiri, lanjut Asops, merupakan latihan kesiapan sebagai pangkalan operasi dan pertahanan bilamana suatu waktu dibutuhkan.
Asops tak lupa menggarisbawahi, peralatan TNI AU masih perlu ditambah. Baik dari sisi kesiapan pesawat hingga ke persenjataan organik perorangan serta meriam/rudal pertahanan vertikal. "Latihan ini diharapkan bisa menjadi ajang pemanasan menuju latihan puncak TNI AU Angkasa Yudha dan Latgab TNI tahun 2008," ujarnya. Kita tunggu bersama pelaksanaan latihan berikutnya. (*) Marsma TNI T. Djohan Basyar Direktur Latihan Jalak Sakti 2007:
"Penggabungan latihan puncak kali ini bertujuan agar tercapai efisiensi. Juga agar koordinasi dan sinkronisasi antara Koopsau I dengan Korps Paskhas lebih baik lagi. Toh waktu pelaksanaan latihan keduanya hampir bersamaan. Jadi kenapa tidak kita gabung saja? Faktor keselamantan dalam latihan saya tekankan sebagai yang utama. Kepada masyarakat kami juga melakukan sosialisasi jauh hari sebelum pelaksanaan. Dalam latihan kali ini kami turunkan tujuh Hawk 109/209, lima Hercules, dua CN-235, dua Fokker-27, dan tiga helikopter." (*)
Kolonel Psk Harpin Ondeh Direktur Latihan Trisula Perkasa 2007:
Dalam setahun 12 pendidikan beragam dilaksanakan secara terprogram di Wing III/Diklat Paskhas. Kami juga melaksanakan pendidikan di luar program wajib atas permintaan dan rekomendasi dari pimpinan. Perlatan pendukung yang ada di Wing III dioptimalkan semaksimal mungkin. Memang kita masih butuh beberapa peralatan modern. Misalnya NVG, GPS, senjata organik dan lainnya. Dalam latihan ini kami menurunkan lebih 500 personel Paskhas. Penerjunan Tim Dalpur mundur dari rencana karena ada awan aktif disertai hujan yang cukup berbahaya. (*)
Sengatan Dahsyat QianWei-3 Di luar materi latihan puncak Jalak Sakti dan Trisula Perkasa 2007, TNI AU menggelar uji penembakan dua rudal antipesawat QW-3 (Vanguard-3) buatan Cina. Uji arsenal pertahanan vertikal ini dilaksanakan di perbukitan Pantai Tanjung Senumbing, Natuna (13/8). Uji merupakan yang kedua setelah uji pertama dilakukan Okotober 2005 di Pantai Pacitan, Jawa Timur. Dua rudal yang diluncurkan tepat mengenai target berupa flare. Acungan jempol buat TNI AU! (*)
Skenario Penembakan Penembak dan observer rudal QW-3 bersiap di tempat. Di dekat mereka berdiri Duty Pilot yang bertugas melakukan komunikasi dengan pilot di pesawat Hawk yang akan melepaskan flare. Duty pilot berkoordinasi dengan Komandan Satuan Penembakan (Dansatbak) yang akan memutuskan kondisi sudah aman bagi pelepasan flare. Duty Pilot memberikan clearance kepada pilot Hawk untuk masuk area dan melepaskan flare. Flare dilepas dari ketinggian 7.000 kaki lalu menyala pada ketingian 4.000 kaki. Pada saat itulah rudal QW-3 dilepaskan. Suara ledak tembakan rudal menggetar. Selang beberapa detik target berhasil dihancurkan. Suara menggelegar kedua pecah di udara. (*)
Order of Fire - Sudut penembakan: 40 dejarat - Daerah steril: Seperempat lingkaran radius 10 km, tinggi 15.000 kaki. - Target: Flare - Pesawat pelepas flare: 2 Hawk 109/209 - Dukungan komunikasi: 1 Commob/VCP - Kecepatan laju pesawat: 300 knot - Ketinggian flare dilepas: 7.000 kaki - Ketinggian flare menyala: 4.000 kaki - Ketinggian flare mati: 1.500 kaki - Radius ledakan: 500 meter - Jarak penembakan: 2 mil laut - Jarak tembak sudut 40 derajat: 4,2 km - Tracking time: 6 detik - Max time: 14 detik (meledak sendiri pada jarak 8,2 km)
QW-3 Penggasak Pesawat Dari Cina Rudal panggul permukaan ke udara ini muncul pertama kali tahun 2002 di pameran Zhuhai Air Show. Rudal dilengkapi penjejak semi-active laser guidance, cocok untuk menggasak pesawat maupun rudal lain dalam ketinggian rendah. Memiliki bobot 23 kg dan kecepatan maksimum 750 km/jam. (*)
|